Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Menemani


__ADS_3

Saat melihat Indra sedang berbincang bincang dengan Kinan, sang Mama pun mendekat.


"Indra??" sapa Mama.


"Ehh, Ibu." Indra segera mencium tangan mertuanya itu.


"Kok bisa ada disini?? Apa lagi ngantar Komandan??"


"Siap, tidak Ibu. Saya kesini memang mau bertemu dengan Kinan."


"Jauh jauh kesini cuma mau ketemu sama Kinan??" Mama heran.


"Siap, Ibu." jawab Indra tersenyum.


"Ehm, ya udah kalo gitu ikutan masuk yukk. Makan di dalam." ajak Ibu.


"Siap, tidak Ibu. Saya menunggu disini saja." tolak Indra.


"Ayoo ikutan masuk." imbuh Kinan.


"Nggak Dek, Mas disini saja."


"Kenapa??"


"Mas kan nggak termasuk tamu undangan."


"Tapi Mas kan suaminya Adek, kalo Adek di undang kan otomatis Mas harus nemenin." ucap Kinan.


Sejenak Indra berfikir.


"Tapi kalo nggak mau ya nggak apa apa juga sih, tapi jangan marah kalo nanti ada yang godain istrinya." lirih Kinan dengan nada yang mengancam.


Mata Indra tiba tiba tertuju tajam pada sang istri. Namun Kinan hanya tersenyum nyengir. Kinan paham, jika Indra tidak akan mau meninggalkan dia berada di tengah tengah banyak pria.


Akhirnya Indra pun mengikuti Kinan masuk ke dalam gedung.


Awalnya Kinan menyuruh Indra untuk mengambil makan, namun Indra menolak dengan alasan dia malu karena bukan termasuk tamu undangan. Sebagai istri yang peka, Kinan pun mengambilkan makan untuk Indra.


"Mas suka acar nggak??"


"Suka."


"Ehmm, mau nasi putih apa nasi goreng??"


"Terserah Adek aja." jawab Indra tersenyum.


"Suka capjay nggak??"


"Suka."


"Mau minum es yang mana?? Es jeruk apa es buah??"


"Terserah Adek aja." jawab Indra.


Indra yang melihat pemandangan tersebut jadi tersenyum.


"Mas suka ikan atau daging sapi??"


"Suka."


"Suka yang mana??"


"Suka kamu." goda Indra.


"Ihh, apaan sih??" Kinan jadi malu.


Begini ya rasanya kalo punya istri. Gumam Indra sembari tersenyum.


"Duduk disana saja yukk??" ajak Kinan menunjuk sebuah kursi yang berada di pinggir spot foto.

__ADS_1


Melihat sang istri yang kerepotan membawa makanan, Indra pun dengan sigap mengambil alih piring yang ada di tangannya.


"Sini, biar Mas saja yang bawa." ucap Indra. Kinan yang melihat suaminya berlalu ikut tersenyum.


Mereka duduk berdampingan di kursi pinggir.


"Adek masih lama disini??" tanya Indra sembari menyantap makanan yang tadi Kinan ambil.


"Emangnya kenapa Mas??"


"Nanti pulangnya sama Mas aja ya." ajak Indra.


"Iya."


"Tapi Mas bawa motor." ucap Indra saat melihat sang istri mengenakan baju kebaya.


"Ya udah nggak apa apa nanti Adek bonceng miring." Kinan santai.


"Maaf, Mas masih belum bisa beli mobil buat Adek."


"Ngapain coba ngomong kayak gitu??" kesal Kinan.


"Adek nggak pernah nyuruh Mas untuk beli mobil. Lagian Adek kan udah punya mobil, jadi kita nggak perlu beli mobil lagi."


"Tapi sepertinya Mas ini masih belum pernah ngasih apa apa ke Adek."


"Siapa bilang?? Mas kan mau belikan Adek rumah, nih ATMnya ada disini." jawab Kinan seraya menunjukkan tas kecil yang sedari tadi dia bawa.


"In Shaa Allah dalam waktu dekat ini kita akan punya rumah. Kita akan bangun rumah kecil kita dengan penuh kebahagiaan ya Mas." senyum hangat Kinan yang membuat hati Indra meleleh.


Mendengar itu, Indra tersenyum. Dia sangat bahagia memiliki perempuan secantik Kinan. Bukan hanya rupanya, namun juga cantik hatinya.


Perempuan sederhana yang bisa menerima Indra apa adanya. Perempuan yang tidak pernah banyak menuntun, perempuan yang bahkan bisa membuatnya tak bisa tidur siang dan malam.


"Terima kasih ya, sayang." ucap Indra menggenggam tangan Kinan.


"Udah, makan dulu gih. Gimana mau makan kalo pegangan tangan kayak gini." sindir Kinan.


"Ihh, nggak malu apa di lihatin banyak orang??"


"Ngapain malu?? Orang istrinya Mas sendiri kok, bukan istrinya orang." cuek Indra.


"Udah nggak usah drama, buruan makan gih. Keburu malam nanti pulangnya, takut kehujanan." saran Kinan. Indra pun menuruti Kinan dan melanjutkan makannya.


Sepulang dari acara resepsi, Kinan pulang bersama Indra. Sebelumnya dia sudah meminta ijin dulu pada sang Mama, dan tentunya sang Mama mengijinkan. Bagaimana tidak, mau tidak mau Indra adalah suami Kinan. Mau di bawa kemana pun Kinan, dia adalah seorang istri yang harus menuruti kata kata suami.


"Adek mau langsung pulang??"


"Iya, langsung pulang aja Mas. Lagian kan sekarang Adek pake baju kebaya, malu kalo mau jalan kemana mana."


"Ya udah kalo gitu beli baju aja dulu, abis itu kita jalan jalan." tawar Indra.


"Nggak usah deh Mas, kita langsung pulang aja."


"Adek nggak pengen jalan jalan dulu??"


Indra berharap masih bisa berlama lama dengan Kinan. Dia sepertinya tidak rela jika harus memulangkan dan terpisah lagi dengan Kinan.


"Emangnya Mas pengen jalan jalan??" tanya Kinan balik.


"Ya..., kalo Mas sih terserah Adek aja." jawa Indra ragu.


Dia tidak ingin memaksa Kinan atas apa yang dia kehendaki. Indra selalu berusaha membuat Kinan nyaman saat berada di sisinya.


Namun Kinan paham jika suaminya itu masih ingin berlama lama dengannya.


"Ya udah kalo gitu kita pulang ganti baju dulu, abis itu baru deh jalan jalan. Kita pulang ke rumahnya Nenek aja, lebih dekat." jawab Kinan.


Mendengar jawaban itu, hati Indra berbunga bunga. Seketika sebuah senyuman merekah di kedua pipi Indra.

__ADS_1


Yesss, bisa berlama lama sama istriku. Pikir Indra.


Namun saat akan menuju ke rumah Nenek, tiba tiba saja hujan turun dengan deras. Awalnya Indra berinisiatif untuk berteduh terlebih dahulu, namun Kinan menolak. Lebih baik terus jalan, toh tidak beberapa lama lagi sudah sampai di rumah Nenek.


Indra pun melajukan motornya dengan sedikit kencang, agar tak membuat istrinya makin kedinginan.


Sesampainya di rumah nenek.


"Assalamuallaikum. Nek, Nenek??" panggil Kinan.


"Waallaikumsalam." seorang wanita paruh baya buru buru membukakan pintu. Dia adalah ARTnya Nenek.


"Ehh, Mbak Kinan. Masuk Mbak." ucapnya.


"Nenek kemana Bi??" ucap Kinan sambil masuk ke dalam rumah.


"Nenek pergi jenguk temennya di rumah sakit Mbak, mungkin sebentar lagi pulang."


"Ohh, kirain masih di acaranya Kak Rendi. Tapi tadi kayaknya nggak lihat Nenek deh disana."


"Nenek sudah tadi siang ke acaranya Mas Rendi, Mbak."


"Ouh."


"Mau Bibi buatkan sesuatu Mbak??" tanya ART saat melihat baju mereka berdua yang basah kuyup.


"Nggak usah Bi, nanti aku buat sendiri." tolak Kinan.


"Baik Mbak, kalo gitu Bibi permisi ke belakang dulu."


Sepeninggal ART.


"Bajunya Adek basah semua, Adek mandi sekaligus ganti baju dulu sana. Biar nggak masuk angin." saran Indra.


"Adek sih nggak seberapa. Tuh lihat bajunya Mas basah kuyup kayak gitu. Mas kan di depan, jadi Mas yang lebih basah kuyup." ujar Kinan menunjuk baju Indra yang basah kuyup.


"Ya udah nggak apa apa, nanti sampe mess Mas akan langsung ganti baju."


"Mas mau balik sekarang??" tanya Kinan kuatur. "Diluar sana masih hujan deras loh."


"Ehm, sepertinya iya Dek." Indra melihat sejenak keluar.


"Apa nggak nunggu agak reda dulu baru pulang??" tanya Kinan kuatir.


Karena paham akan kekhawatiran sang istri, Indra pun memutuskan untuk menunggu hujan sedikit reda.


"Ya udah kalo gitu Mas mandi dulu di kamar tamu. Sebentar, Adek ambilkan baju ganti."


"Emang disini ada baju cowok??"


"Ada lah."


"Punya siapa??" tanya Indra curiga.


"Disini kan rumahnya Nenek. Jadi biasanya semua cucu dan keponakan pasti datang kesini. Jadi seringkali cucu cowok meninggalkan pakaiannya di lemari, biar sewaktu waktu mau kesini nggak bingung bawa baju lagi." jelas Kinan yang mematahkan kecurigaan Indra.


"Ohh." senyum Indra.


"Ya udah kalo gitu Adek ambilkan baju dulu ya??" pamit Kinan.


Dia pun segera mengambil setelan baju cowok untuk Indra. Setelan celana training dan kaos polo menjadi pilihan Kinan. Setelah menyerahkannya pada Indra, dia segera mandi dan mengganti pakaiannya.


Setelah mandi dan berganti pakaian di kamar tamu, Indra keluar dari kamar. Bau semerbak makanan langsung tercium di hidung Indra. Dia mengikuti arah bau itu yanh ternyata dari dapur. Perlahan dia mendekat kesana. Dan alangkah terkejutnya Indra, disana dia melihat pemandangan seorang gadis cantik dengan rambut yang terlilit handuk sedang asyik memasak.


Tanpa Kinan sadari, Indra memperhatikannya. Sesekali dia tersenyum. Tak di pungkiri, sosok Kinan yang saat itu memakai piyama dress panjang dengan rambut yang basah terlilit handuk itu nampak seksi di mata Indra.


Andaikan aja udah nikah kantor, mungkin udah aku tarik masuk ke kamar Dek. Pikir Indra.


Namun tiba tiba dia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Apaan sih pikiranku ini?? Dasar mesum. Sabat Ndra, sabar. Belum waktunya. Indra memukul mukul kepalanya.


__ADS_2