Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Terungkap


__ADS_3

"Papa melarangmu untuk kerja beberapa hari ini, sampe acara pertunanganmu selesai." jelas Mama.


"Apa??!" Kinan terkejut. "Nggak bisa seenaknya gitu dong Mah. Kinan ini harus berangkat bekerja."


"Jangan menentang keinginan Papa Nak." saran Mama lembut.


"Nggak Mah. Kinan harus tetap berangkat kerja." ucap Kinan hendak pergi.


"Jangan sayang, jangan nentang Papa. Dia pasti akan marah kalo tahu kamu menentang kehendaknya."


"Hahh?!!" Kinan menghela napas. "Papa sekarang dimana, Mah?? Aku mau ngomong sama Papa."


"Dia lagi duduk di teras, sayang." jawab Mama.


Kinan pun bergegas menuju teras depan. Namun saat dia hendak menemui Papanya, terdengar suara Papa seperti menelpon seseorang. Kinan sengaja berhenti dan menguping pembicaraan mereka.


[Iya, Om paham maksud kamu. Kamu tenang saja, Kinan tidak akan kemana mana. Dia akan tetap bertunangan denganmu. Laki laki itu tidak akan berani mendekati Kinan lagi.]


Mereka pasti sedang membicarakan Mas Indra.


[Bagus, bagus. Jadi kamu sudah memberinya pelajaran juga??]


Apaa??!! Apa yang sudah mereka lakukan sama mas Indra?!!


[Baiklah kalo gitu, kamu tenang saja disana.]


Setelah Papa menutup telponnya, Kinan pun keluar dari tempat persembunyian. Sang Papa sangat terkejut melihat kemunculan anaknya itu.


"Ohh, jadi seperti ini ya kelakuan seorang perwira terhormat." sindir Kinan.


"Jaga ucapanmu, Kinan. Papa tidak pernah mendidikmu menjadi seorang anak yang kurang ajar."


"Nggak. Kinan bukan mau kurang ajar sama Papa. Kinan cuma mau membuka mata hatinya Papa." tegas Kinan.


"Seorang perwira terhormat, tapi melakukan tindakan kotor untuk menghukum bawahannya. Padahal bawahan itu jelas jelas tidak punya salah. Apa seperti ini yang dinamakan terhormat??" sindir Kinan.


"Hentikan ucapanmu itu, Kinan."


"Padahal di luar sana, behh nama Papa selalu di agung agungkan. Di besar besarkan, seakan akan Papa ini tidak punya salah sedikitpun." imbuh Kinan.


"Kinan!!!" bentak Papa yang ingin menghentikan putrinya.


"Bentak aja terus Pah, bentak saja." ucap Kinan. "Dari situ aja Papa seharusnya paham. Papa yang dulu Kinan kenal, sekali pun tidak pernah membentak Kinan. Tapi sekarang, karena ada seseorang yang berusaha menghasut Papa akhirnya Papa berubah. Papa lebih mempercayai orang itu di banding anaknya sendiri." jelas Kinan.


"Seharusnya Papa berusaha sedikit saja mempercayai Kinan, dan melihat secara detail bagaimana sifat Niko sebenarnya." imbuh Kinan yang mulai berderai air matanya.


"Nak, Papa hanya ingin kebahagiaanmu."


"Kalo Papa ingin aku bahagia, seharusnya Papa mengikuti keinginan Kinan. Bukan malah memaksa Kinan untuk menuruti keinginan Papa." ucap Kinan yang tak bisa menahan air matanya.


"Aku tau kalo keluarga Bapak Antok adalah teman baik Papa sejak di Akmil dulu. Tapi tidak seharusnya Papa mengorbankan perasaan anaknya sendiri. Orang tua itu hanya bisa mendoakan kebahagiaan anaknya, bukan ikut memilih siapa yang akan menjadi kebahagiaannya." jelas Kinan.


"Karena belum tentu jalan yang Papa rasa baik, baik juga buat Kinan. Karena Papa sendiri belum tau persis bagaimana sifat Niko yang sebenarnya."


Air matanya tak bisa terhentikan. Baru kali ini Kinan menangis histeris di depan Papanya.


"Nak." ucap Papa lembut seraya mendekati anaknya.


"Maafin Papa karena harus melukai hatimu. Papa terlalu egois, Papa kira kamu akan bahagia dengan apa yang menjadi pilihan Papa. Karena selama ini apa yang Papa pilih tidak pernah salah." Papa mengusap lembut kepala anaknya.


"Ternyata Papa salah. Anak Papa ini bukan lagi anak kecil yang bisa Papa atur atur lagi, anak gadis Papa ini sudah besar dan sudah bisa menentukan keinginannya sendiri." Papa menyimpulkan.


"Maafin Papa sayang, maafin Papa karena sudah membuatmu menangis." ucap Papa sedih.


Dia tidak menduga keputusannya ini telah membuat hati Kinan benar benar terluka. Dan yang membuat dia menyesal, dia telah mempercayai kata kata orang lain di banding anaknya sendiri. Dia pun memeluk hangat anak kesayangannya itu.


.


Di tempat lain, terlihat Erwan sedang menghadap Komandan. Karena kasihan pada Indra, dia menceritakan semua kejadian yang telah menimpa Indra. Awalnya Indra sempat marah karena Erwan mengadu pada Komandan.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Komandan pun memanggil semua oknum yang terlibat pada pengeroyokan malam itu. Mereka semua pun di interogasi dan pada akhirnya mereka di berikan tindakan yang tegas.


.


Di sisi lain, terlihat Kinan sedang memasuki sebuah gerbang.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu??" tanya Pos penjagaan.


"Selamat siang. Saya bisa bertemu dengan Niko??"


"Niko?? Maksudnya Lettu Niko??"


"Iya betul."


"Mbaknya siapa ya??"


"Nama saya Kinan."


"Ohh, Mbak Kinan?? Tunangannya Lettu Niko itu." ucapnya pada teman di sampingnya.


"Ohh baik, kalo gitu saya antar Mbaknya ke dalam."


Kinan pun mengangguk. Pria berseragam loreng itu pun mengantar Kinan sampai di ruangannya Niko.


"Siap. Ijin Pasi, ada yang mau bertemu."


"Siapa??" tanya Niko yang sedang sibuk melihat berkas yang ada di atas mejanya.


Kinan pun langsung masuk ke dalan ruangan itu.


"Kinan??!" ucap Niko terkejut.


"Baik, kamu boleh pergi." ucap Niko pada bawahannya.


"Ada apa tiba tiba kamu kesini?? Mari sini duduk." saran Niko.


"Apa apaan nih maksudnya??"


"Kamu jangan pura pura nggak tau Nik. Aku udah tau semua kebusukanmu. Kamu kan yang menghasut Papa, dan kamu juga kan yang menyuruh orang untuk memberi pelajaran pada Mas Indra."


"Maksudmu apa?? Aku nggak paham."


"Udahlah Nik, nggak usah berlagak lugu. Aku udah tau semuanya. Bahkan aku udah ungkap semua kebusukanmu pada Papa. Dan jangan harap kita bisa melanjutkan pertunangan ini." jelas Kinan.


Seketika Niko pun langsung menarik erat tangan Kinan.


"Ehh, Kinan denger ya. Sampe kapan pun aku nggak akan melepaskanmu. Pertunangan kita sudah dekat, kita nggak akan bisa membatalkannya."


"Terserah. Tapi aku nggak sudi bertunangan dengan laki laki yang licik kayak kamu." ucap Kinan. "Nih aku nggak butuh."


Kinan pun menghempaskan tangan Niko dengan kasar. Dia pun berlalu dan pergi dari sana.


Tak lupa Kinan melempar cincin pertunangan mereka.


"Akhhh...!!!!" Niko emosi. "Sialan!!!" umpatnya.


"Semua rencanaku yang sudah ada di depan mata gagal semua. Brengsek!!!"


Setelah keluar dari kesatuan Niko, dalam perjalanan Kinan menyempatkan diri menelpon Indra.


Indra yang sedari tadi hanya tiduran di dalam kamar pun terkejut saat mengetahui jika Kinan menghubunginya. Senyum pun terpancar dari wajahnya.


[Assalamuallaikum, Dek.]


[Waallaikumsalam, Mas.]


[Ehm, Mas Indra lagi apa??]


[Lagi tiduran aja di mess. Adek sendiri lagi ngapain??]

__ADS_1


[Ini aku lagi mau berangkat ke rumah sakit.]


[Loh, kenapa Dek?? Mobilnya mogok lagi?? Apa Pak Rachmad nggak bisa nganter??] tanya Indra kuatir. Dia pun sontak bergegas bangun.


[Nggak kok Mas. Mobilku nggak mogok. Nih Pak Rachmad juga lagi nganter aku kerja.]


[Ohh, syukurlah kalo gitu.] ucap Indra lega.


[Hem, Mas. Ehm.., gimana kabarnya Mas sekarang??]


[Kabarnya Mas?? Kabarnya Mas baik baik aja kok.]


[Ehm, aku denger Mas abis di tindak sama senior ya??]


[Kok Adek bisa tau??] Indra heran.


[Ya, denger aja.] jawab Kinan beralasan.


Pasti ini Erwan yang ngadu sama Kinan. Tapi Erwan kan nggak tau nomernya Kinan. Terus dia tau dari siapa?? Apa Niko yang memberitahunya?? Pikir Indra.


[Ya udah kalo gitu Mas Indra istirahat aja deh. Maaf udah ganggu.]


[Nggak ganggu kok, Mas malah seneng kamu nelpon.] sahut Indra tersenyum.


[Ya udah kalo gitu aku tutup dulu ya, Mas.]


[Iya. Hati hati di jalan ya??]


[Iya, Mas.] jawab Kinan seraya menutup telpon.


Kinan pun bekerja seperti biasa.


Saat sepulang kerja. Kinan mondar mandir di depan lobi menunggu jemputan.


Pak Rachmad kok belum datang juga ya?? Padahal aku udah telpon dari tadi. Dia nggak sakit lagi kan??


Saat sedang bingung menunggu jemputan, tiba tiba saja.


"Kinan." panggil seorang pria dari atas motor.


"Mas Indra. Kok bisa ada disini??" Kinan heran.


"Sengaja. Memang pengen jemput kamu."


"Loh terus Pak Rachmad??"


"Aku tadi udah telpon Pak Rachmad nggak usah jemput, biar aku aja yang jemput." sahut Indra.


"Ohh, gitu." jawab Kinan. "Mas udah nggak apa apa??" tanya Kinan kuatir.


"Emang Mas kenapa?? Mas nggak kenapa napa kok. Buktinya Mas bisa sampai disini sekarang." ucap Indra tersenyum.


"Luka luka di tubuhnya Mas??"


"Udah sembuh semua kok."


"Mana ada bisa langsung sembuh kayak gitu." celetuk Kinan.


"Bisa. Nih Mas buktinya." gurai Indra yang tak ingin Kinan kuatir. "Ayo naik, keburu malam." ajak Indra.


Saat Kinan hendak naik ke atas motor, tiba tiba Indra memberikan sebuah jaket untuk Kinan. Dia pun membantunya memakai helm.


"Kamu masih ingat nggak?? Dulu aku juga pernah ngantar kamu pulang naik motor." ucap Indra seraya membantu mengecek helm yang Kinan pakai.


"He em." jawab Kinan mengangguk.


"Berawal dari situlah Mas memiliki perasaan sama kamu. Dan Mas juga ingat, saat itu kamu pernah bilang. Dalam hubungan antara laki laki dan perempuan tidak ada yang namanya sahabat atau teman dekat. Salah satu dari mereka pasti ada yang terbawa perasaan." jelas Indra mengingat kejadian di masa lalu.


"Dan Mas merasakan hal itu." ucap Indra tersenyum manis pada Kinan.

__ADS_1


__ADS_2