Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Suasana Rumah


__ADS_3

Malam pun menjelang. Sepasang suami istri itu sudah terlihat rapi dan wangi.


Kinan yang saat itu sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk Indra, membuat sang suami ingin ikut membantunya.


"Lagi masak apa, Dek??" tanya Indra meletakkan kepalanya di pundak Kinan.


"Masak tumis kacang panjang sama goreng telur aja, Mas. Masak yang sederhana aja dulu ya, karena Adek masih belum ke pasar."


"Iya, nggak apa apa sayang. Apa pun yang Adek masak, pasti Mas makan." rayu Indra.


"Oh iya, Mas bisa bantuin apa nih??"


"Emang Mas bisanya apa??" tanya Kinan penasaran.


"Bisa apa ya?? Kayaknya Mas cuma bisa bikin anak deh." goda Indra.


Seketika Kinan pun menatapnya tajam.


"Hahahahah. Iya, iya nggak." canda Indra.


"Kalo yang namanya tentara sih sebenarnya semua bisa di lakuin."


"Masa??" Kinan tak yakin.


"Ya kan kita juga sering keluar masuk hutan atau daerah terpencil Dek. Mau nggak mau ya kita harus bertahan hidup dengan makan dan minum seadanya. Jadi kalo soal masak sih kecil buat kami. Tapi kalo soal rasa, nggak berani jamin." gurau Indra. Kinan tersenyum.


"Ya udah kalo gitu Mas iris bawang ini aja deh. Mas suka pedes nggak?? Kalo suka, telur dadarnya di campur cabe beberapa biji aja biar nggak terlalu pedes."


"Siap, istriku." ucap Indra.


Dia pun segera memotong bawang dan cabe untuk di campur ke telur dadarnya. Saat hampir selesai mengiris, tiba tiba saja.


"Auwhhh!!!" Indra memegangi tangannya.


"Loh, Mas kenapa??!!" Kinan panik.


Dia pun langsung mendekat ke arah Indra, dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Namun Indra malah menyembunyikan tangannya di belakang.


"Sini, Mas. Adek liat dulu." pinta Kinan.


"Nggak, Dek. Nggak apa apa kok." jawab Indra.


"Mas??!" ucap Kinan dengan tatapan tajam ke arah Indra.


"Beneran nggak apa apa kok." Indra berusaha meyakinkan Kinan.


"Adek nggak akan percaya sebelum lihat sendiri. Sini, kemarikan tangannya." pinta Kinan tegas.


"Dek??" panggil Indra lembut seakan tak ingin membuat sang istri kuatir.

__ADS_1


"Mas??" balas Kinan dengan tatapan yang semakin kuatir.


Akhirnya, Indra pun mengalah. Perlahan dia tunjukkan jari tangannya yang tadi terluka saat mengiris bawang.


Di jari tengahnya terlihat ada darah yang masih keluar. Bahkan terlihat luka sayatannya pun agak dalam.


"Kok bisa sih Mas??" ucap Kinan kuatir.


Kinan langsung meraih tangan sang suami dan menariknya untuk duduk di ruang tengah. Dia bergegas mencari kotak P3K yang ada disana.


Dengan perlahan dia membersihkan luka itu. Terlihat sesekali Indra meringis merasakan perih saat Kinan memberikan obat merah di jarinya.


"Hati hati dong, Mas." pinta Kinan dengan wajah sedih.


"Katanya soal masak itu hal yang mudah. Tapi kok bisa teriris gini sih??" kesal Kinan. "Lain kali Adek nggak akan suruh Mas masak lagi deh."


"Ini Mas yang salah, Dek. Mas yang nggak hati hati." sahut Indra.


"Nggak, pokoknya Mas nggak usah ikut masak lagi." tegas Kinan dengan mata yang mulai berkaca kaca.


"Dek??" panggil Indra manja sembari memegang pipi sang istri.


"Adek kuatir sama Mas??"


"Ya pasti lah kuatir. Orang Mas terluka kayak gini." ucap Kinan


"Kalo kuatir, itu tandanya Adek punya perasaan sama Mas." Indra menyimpulkan.


"Tau ah." jawab Kinan kesal hendak beranjak. Namun hal itu kalah cepat dengan tangan Indra yang langsung menarik tangannya agar duduk kembali.


"Apa karena luka ini Adek kuatir sama Mas??" tanya Indra lagi.


Namun Kinan hanya terdiam. Dia seakan malu mengungkapkan apa yang sedang dia rasakan.


"Dek. Apa kalo Mas terluka lagi kayak gini.........."


"Nggak. Nggak boleh. Mas nggak boleh terluka lagi." ucap Kinan tegas yang memotong kata kata Indra.


Terlihat senyum memancar di wajah Indra.


"Adek nggak mau Mas terluka lagi??" tanya Indra memastikan.


"Nggak."


"Kalo nanti di medan perang gimana??"


"Pokoknya Mas nggak boleh terluka. Itu perintah." tegas Kinan.


"Apa Adek sedih kalo Mas terluka??"

__ADS_1


"Ya jelas Adek sedib, hal itu nggak perlu di tanyakan lagi." jawab Kinan malu malu.


"Apa itu tandanya perasaannya Mas terbalaskan?? Bolehkah Mas berharap seperti itu Dek??"


"Apaan sih Mas?? Kita kan sudah menikah, jadi nggak usah lebay kayak gitu deh." Kinan berusaha menyembunyikan perasaannya.


"Iya, kita memang sudah menikah. Tapi sampai detik ini, Adek nggak pernah mengatakan kalo Adek sayang sama Mas. Bahkan pernikahan ini pun terjadi, sebenarnya tanpa persetujuan Adek. Itulah kenapa selama ini Mas merasa, perasaannya Mas ini hanya bertepuk sebelah tangan." jelas Indra.


Sejenak Kinan terdiam. Dia memikirkan apa yang di katakan oleh suaminya itu. Dan memang benar, selama ini Kinan tak mengungkapkan perasaannya pada Indra. Karena awalnya Kinan hanya menganggap Indra sebagai seorang teman saat dia butuhkan. Tapi semakin kesini, entah kenapa perasaan itu semakin kuat. Bahkan melebihi dari seorang teman.


"Apa...apa Adek sayang sama Mas??" tanya Indra ragu.


Kinan hanya mengangguk pelan.


"Jangan cuma mengangguk Dek. Bilang secara jelas, biar Mas nggak ngerasa seperti bertepuk sebelah tangan lagi." pinta Indra bersemangat.


Terlihat Kinan mengambil nafas panjang.


"Iya, Mas. Adek juga sayang sama Mas." jawab Kinan dengan satu tarikan nafas.


Kata kata itu, membuat jantung Indra sejenak berhenti. Dia tidak menyangka apa yang barusan dia dengar. Kinan benar benar membalas perasaannya.


Sontak Indra pun memeluk Kinan dan mengelus rambutnya yang terurai.


"Terima kasih ya, sayang. Terima kasih." ucap Indra tersenyum. Kinan pun ikut tersenyum. Kini perasaan mereka bener bener menyatu.


Indra membelai pipi Kinan. Tersenyum lebar di depan sang istri.


"Apa masih sakit??" tanya Kinan.


"Sudah nggak, sayang." jawab Indra tersenyum.


"Janji ya nggak boleh terluka lagi??" pinta Kinan.


"Tapi kalo di medan perang, sulit untuk nggak terluka sayang." ucap Indra sembari membelai wajah sang istri.


"Ya udah Adek ganti kata katanya. Khusus untuk di medan perang, berjuanglah untuk negara ini ya Mas. Apapun yang terjadi Mas harus kembali ke rumah dengan selamat, karena ada Adek yang akan selalu nunggu Mas di rumah." pinta Kinan.


"Ehh, bukan cuma Adek dong." sahut Indra.


"Nantinya disini kan juga ada anaknya Mas." ucap Indra sembari mengusap perut Kinan yang masih rata.


"Iya. Amiiin." Kinan tersenyum.


Mereka pun larut dalam kebahagiaan.


Setelah menghabiskan waktu makan bersama, mereka pun bersantai sambil menonton televisi.


Indra yang sedang manja, meletakkan kepalanya di paha Kinan. Bak anak kecil, Kinan mengusap kepala Indra hingga ia tertidur. Malam itu tak ada adegan panas yang dia lakukan, karena sang provakator sedang tertidur pulas di samping sang istri.

__ADS_1


.


__ADS_2