Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Kabar Baik


__ADS_3

Beberapa minggu pun berlalu setelah itu. Tak ada lagi mata mata yang mengikuti Kinan, bahkan sudah tak ada lagi amplop misterius berisikan foto Kinan. Ternyata semua itu adalah ulah anak buah Tuan Andrey, namun dia sendiri jugalah yang menyuruh anak buahnya untuk berhenti membuntuti keseharian Kinan.


"Mas berangkat dulu ya, sayang. Baik baik jaga rumah." pamit Indra.


"Iya, Mas."


"Nanti Adek dinas sore kan??"


"Iya." jawab Kinan tersenyum.


"Kalo gitu nanti tunggu Mas datang, baru Mas anterin."


"Tempat kerjanya Adek kan dekat dari sini. Naik mobil palingan cuma setengah jam kalo macet."


"Nggak. Pokoknya harus tunggu Mas pulang dulu." pinta Indra.


"Iya, iya." jawab Kinan terpaksa.


"Ya udah kalo gitu Mas berangkat dulu ya, sayang. Assalamuallaikum."


"Waallaikumsalam."


Indra pun mencium kening, pipi dan bibir sang istri. Sapaan yang selalu terjadi saat Indra akan berangkat kerja.


Sepeninggal Indra, Kinan mulai mengerjakan pekerjaan rumah seperti yang biasanya ibu rumah tangga lakukan.


Setelah semua selesai dia kerjakan, dia pun mulai bersantai sambil menonton televisi. Hingga sesaat ada iklan mengenai susu kehamilan muncul, dia pun baru mengingat sesuatu.


"Oh iya, bulan ini aku kan belum haid. Apa aku harus beli test pack dulu?? Tapi aku nggak ngerasa mual seperti orang hamil pada umumnya." Kinan ragu.


Untuk mengobati rasa penasarannya, Kinan pun membeli beberapa test pack di apotik dekat tempat tinggalnya. Dia membeli test pack dengan berbagai macam merek.


Sesampainya di rumah, dia pun menampung urin di dalam sebuah wadah khusus. Saat dia hendak mencelupkan test pack pertamanya ke dalam urin yang sudah dia tampung, perasaan deg deg an pun menerpa.


Setelah menunggu beberapa detik, tiba tiba garis dua pun muncul. Matanya pun terbelalak.


Karena tak percaya, dia pun mengulang lagi hal itu dengan test pack merek yang lain. Bahkan dia sampai memakai lima jenis test pack yang berbeda. Semuanya dengan garis dua yang jelas, bukan samar.


Saking senangnya, mata Kinan berkaca kaca. Dia tak menyangka, Allah akan memberikan anugerah malaikat kecil secepat ini pada dirinya.


Di tempat yang berbeda, terlihat Indra sedang duduk di meja ajudan. Wajahnya sedikit kusut, entah karena sering meronda tiap malam atau memang karena sedang kelelahan.


"Mukamu kenapa, Ndra?? Kayak baju yang nggak di setrika aja." sindir Erwan.


"Nggak tau nih Wan, beberapa hari ini perutku nggak enak. Kayak masuk angin."


"Itu karena kebanyakan, Ndra."


"Kebanyakan apa maksudnya??" Indra penasaran.


"Kebanyakan main lah." celetuk Erwan.

__ADS_1


"Sialan!!!" umpat Indra. "Tapi beneran lagi nggak enak nih perut, lidah aja kayak pahit."


"Ya udah sana berobat ke klinik, biar di kasih obat."


"Ngapain berobat ke klinik?? Istriku kan juga bisa ngobatin."


"Ohh iya, lupa. Ya udah, terus kenapa sekarang masih sakit perut??"


"Katanya sih masuk angin biasa. Udah minum obat, tapi masih tetap aja pahit nih lidah."


"Makanya di kurangin tuh mainnya, biar nggak sering masuk angin. Hahahahahaaa." ejek Erwan tertawa lepas.


Sepulangnya Indra dari Batalyon. Terlihat Indra langsung memeluk sang istri. Entah kenapa jika di dekat Kinan, perut yang tadi terasa mual tiba tiba saja sembuh. Apalagi jika mencium tubuh Kinan, semua perasaannya jadi tenang.


"Mandi dulu, Mas." saran Kinan.


"Sebentar, Dek. Mas masih pengen kayak gini sebentar aja." pinta Indra manja yang semakin erat memeluk sang istri.


"Mandi dulu, setelah itu ada yang mau Adek sampaikan." ucap Kinan serius.


Sontak Indra pun memandangi Kinan.


"Adek mau ngomong apa??" tanya Indra penasaran.


"Mandi dulu, Mas." pinta Kinan dengan wajah yang kusut.


"Nggak. Mas pengen tau sekarang." Indra memaksa.


"Dek??" panggil Indra." Adek mau ngomong apa, sayang??"


Namun Kinan enggan menjawab.


"Apa Mas punya salah?? Apa Mas nyakitin Adek??"


Kinan menggelengkan kepalanya.


"Terus apa, sayang??" tanya Indra frustasi. "Apa Adek mau ninggalin Mas?? Adek udah bosen sama Mas??"


"Kenapa Mas bisa bilang gitu??"


"Ya, Mas cuma takut aja."


"Apa Mas mau Adek tinggalin??" gurau Kinan.


"Ya jelas nggak mau lah." ucap tegas Indra. "Emang Adek mau ninggalin Mas??" tanya Indra memastikan.


"Gimana mau ninggalin, kalo jelas jelas disini sudah ada anaknya Mas yang sedang tumbuh." ucap Kinan menunjuk ke arah perutnya yang masih rata.


"A..an..anaknya Mas?? Ma..maksudnya??" Indra ragu.


"Iya, Mas. Disini sudah ada anaknya Mas." ucap Kinan tegas.

__ADS_1


Tiba tiba wajah Indra pun berubah, antara senang dan bingung untuk berkata kata.


"A..anaknya Mas, sayang?? Ko...kok bisa?? Ma...maksudnya Adek kok bisa tau?? Apa Adek udah ngecek??"


"Iya, Mas. Sudah. Dan hasilnya garis dua." jelas Kinan.


"Beneran, Dek?? Beneran kan?? Adek nggak lagi ngeprank kan??" tanya Indra senang.


Kinan pun mengangguk dengan senyuman lebar yang menghiasi bibirnya.


Sontak Indra pun kegirangan, dia angkat tubuh sang istri dan menciuminya bertubi tubi.


"Terima kasih, sayang. Terima kasih. Terima kasih." ucap Indra memeluk hangat tubuh sang istri.


.


Selama hamil, Indra berubah menjadi suami posesif. Kinan tak boleh melakukan pekerjaan berat. Bahkan Kinan tak boleh mengkonsumsi makanan yang pedas, padabal itu adalah makanan kesukaannya.


Yang biasanya Kinan tak suka coklat, saat hamil dia malah lebih suka makan coklat.


Malam harinya saat hendak tidur.


"Dek, boleh main kan??" tanya Indra polos.


"Emang kenapa Mas??"


"Ya, Mas takut aja nanti anak kita malah terganggu di dalam."


"Emang Mas betah nggak main selama Adek hamil??"


"Ya pasti nggak akan betah lah, sayang. Tapi beneran nggak apa apa kan kalo main??"


"Nggak apa apa, asalkan mainnya pelan pelan aja." jawab Kinan tersenyum.


Seketika Indra pun mulai melancarkan aksinya. Saat Indra mulai menari di atas tubuh Kinan, tiba tiba saja.


"Auww?!!" pekik Kinan.


"Kenapa sayang??" tanya Indra kuatir.


"Jangan keras keras, Mas. Pelan pelan aja." saran Kinan.


Indra pun mulai memelankan tariannya.


Biasanya dalam sekali main, Indra bisa berulang kali memainkannya. Namun Indra sadar saat itu sang istri sedang hamil, jadi dia harus lebih menghemat tenaga Kinan.


Lagi pula dia juga tidak mau mengganggu si janin yang sedang tumbuh di rahim sang istri.


Saat Kinan tertidur, terlihat Indra mengusap lembut perut Kinan. Bahkan dia membisikkan sesuatu pada si jabang bayi.


"Nak, ini Ayah. Jangan bikin Ibu kelelahan ya?? Harus banyak makan, biar cepat besar dan kita bisa cepet ketemu." ucap Indra bahagia.

__ADS_1


Berkali kali dia mencium kening sang istri. Terlihat jelas jika Indra sangat bahagia.


__ADS_2