Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Terjebak (3)


__ADS_3

"Kamu beneran mau balik kesana??" tanya Kinan ragu.


"Iya, kenapa??"


"Ya nggak apa apa sih, cuma tanya aja."


"Kamu khawatir sama aku ya?? Atau kamu mau aku nginep disini juga sama kamu??" goda Niko.


"Ihh, apaan sih. Jadi nyesel nanyain kayak gitu." gerutu Kinan. Niko pun tersenyum.


"Iya, aku akan tetap balik kesana. Aku nggak mau bikin kamu khawatir." ucap Niko yang paham akan perasaan Kinan.


"Kamu beneran nggak apa apa sendirian disana??"


"Iya nggak apa apa. Aku pasti baik baik saja kok. Dari pada disini, aku malah takut terjadi sesuatu yang aku inginkan." gurau Niko.


"Apaan sih??"


"Hahahahah." Niko tertawa. "Ya udah kalo gitu aku balik kesana dulu ya, baik baik disini. Besok pagi aku jemput kamu."


Kinan pun mengangguk. Namun saat mengantar Niko sampai depan pintu, terlihat diluar sedang hujan lebat.


"Kok tiba tiba hujan sih??" gerutu Niko. "Mana payungnya ada di mobil lagi."


"Terus gimana??" Kinan khawatir.


"Sebentar aku cari payung dulu di belakang, kali aja ada payung." pamit Niko menuju belakang vila.


Tak beberapa lama Niko pun kembali.


"Ada sih payung, tapi payungnya robek." Niko menunjukkan sebuah payung yang sudah usang dan terdapat banyak robekan.


"Terus gimana caranya kamu balik kesana??"


"Ya udah nggak apa apa pake ini saja." Niko santai.


"Ini kan payungnya udah robek. Bisa bisa sampe sana kamu udah basah kuyup. Malah masuk angin lagi."


"Ya mau gimana lagi. Nggak ada cara lain." jawab Niko.


Kinan pun berfikir sejenak.


"Kamu..., kamu...nginep disini saja." ucap Kinan ragu.


"Kamu nyuruh aku nginep disini juga??" tanya Niko heran. Kinan pun mengangguk ragu.


"Kamu nggak takut kalo aku nginep disini juga??"

__ADS_1


"Ya takut sih sebenarnya." Kinan jujur. "Tapi disini kan ada banyak kamar, jadi kita bisa tidur di kamar yang terpisah jauh." jelas Kinan.


"Tapi kita tinggal di dalam satu rumah loh." Niko berusaha meyakinkan.


"Iya, nggak apa apa. Kan cuma malam ini aja. Lagian bukan satu kamar."


"Kamu nggak takut aku apa apain??" gurau Niko.


"Aku kasih ini kalo kamu macem macem." Kinan mengepalkan tangannya. Niko yang melihat itu pun tersenyum sembari berkata dalam hati.


Dia bukan tipe orang yang kasar


Mereka berdua pun kembali masuk ke rumah. Bersantai di ruang tamu.


"Loh, mas Niko tidak jadi turun ke bawah??" tanya Bibi saat melihat Niko masih di ruang tamu.


"Nggak jadi Bi. Ada calon istri yang khawatirin aku." goda Niko.


Tiba tiba sebuah bantal sofa pun melayang ke arah Niko. Niko tersenyum senang. Melihat hal itu, Bibi pun tersenyum.


Benar benar pasangan yang serasi. Syukurlah mas Niko akhirnya bisa menikah dengan wanita yang dari dulu dia impikan. Satu satunya wanita yang pernah singgah di hatinya. Satu satunya wanita yang bisa membuat mas Niko menangis dan tertawa bahagia.


"Jadi malam ini mas Niko mau nginap disini juga??" Bibi memastikan.


"Iya Bi."


"Nggak usah di siapin Bi. Aku sekamar sama Kinan aja." gurau Niko.


"Nggak usah aneh aneh deh." jawab Kinan kesal. Niko pun tersenyum.


"Ya udah kalo gitu siapin aku kamar yang ada di samping kamar Kinan." pinta Niko sopan.


"Ngapain dekat dekat sama kamarku??"


"Emang kenapa??" tanya Niko heran.


"Kamu kan bisa cari kamar yang lain." tegas Kinan.


"Kalo aku maunya di dekat kamarmu gimana??" Niko ngeyel.


"Kok keras kepala banget sih??" Kinan kesal.


"Lah sekarang aku tanya balik. Dulu saat di Semarang kenapa kamu berani tidur di kamar yang bersebelahan dengan Indra."


"Kok malah bahas mas Indra sih??"


"Aku cuma tanya. Kenapa kamu berani tidur bersebelahan dengan kamarnya Indra?? Padahal dia bukan siapa siapa, dia hanya orang luar. Tapi kenapa sama aku nggak mau?? Padahal jelas jelas aku ini tunanganmu, calon suamimu." tegas Niko.

__ADS_1


"Kita ini masih calon tunangan, jadi jangan ngaku ngaku deh." jawab Kinan kesal.


"Calon atau bukan, orang tua kita sama sama tau kalo kita udah bertunangan. Itu artinya suka tidak suka kamu sudah jadi milik aku." ucap Niko marah.


"Bahkan meski saat ini aku ngelakuin suatu hal yang tidak berakhlak pun juga tidak masalah bagi orang tua kita. Karena cepat atau lambat kita juga akan melakukannya." imbuh Niko.


Namun tiba tiba Kinan menampar keras pipi Niko. Mata Kinan mulai berkaca kaca, dia tidak menduga Niko bisa mengatakan hal seperti itu.


"Kamu..., aku nggak menyangka kamu bisa ngomong seperti itu." ucap Kinan menahan air matanya. "Niko yang aku kenal, bukanlah orang yang sebejat ini."


Kinan pun langsung beranjak pergi dari ruang tamu itu. Dia berlari keluar rumah dan menangis dalam derasnya hujan. Niko pun mengikutinya.


"Kinan. Kinan." panggil Niko yang harus ikut basah kuyup untuk mengejar Kinan. Namun Kinan tak mendengar.


Namun saat hampir mencapai gerbang, Niko pun berhasil menangkap tangan Kinan dan menariknya ke dalam pelukan.


"Maaf, maafin aku." ucap Niko menyesal. Namun Kinan berontak, dia tak ingin di peluk.


"Lepas.... Lepasin aku!!! Lepas!!!" teriak Kinan. Namun Niko malah semakin erat memeluk sang tunangan.


"Maaf... Maafin aku " ucap Niko dengan mata yang tak bisa menutupi rasa bersalahnya itu.


"Lepasin aku, lepasin." ucap Kinan seraya menangis.


"Nggak, aku nggak akan lepasin kamu. Nggak akan."


"Aku mau pulang, aku mau pulang ke rumah Nenek sekarang." pinta Kinan dengan air mata yang sudah tak bisa terkontrol lagi.


"Iya, besok kita akan pulang. Aku janji."


"Nggak. Aku maunya pulang sekarang." pinta Kinan.


"Kamu nggak boleh pulang sebelum maafin aku." ancam Niko dengan pelukan yang masih erat.


"Nggak. Dari awal ini semua memang salah, nggak seharusnya kita menerima pertunangan ini." ucap Kinan sedih.


"Nggak, ini nggak salah. Apa yang kita putuskan ini nggak salah. Aku yang salah. Aku terlalu cemburu sama pria lain yang dekat sama kamu. Aku cemburu jika pria lain bisa lebih dekat denganmu dari pada aku." sahut Niko memelas.


"Aku yang salah, karena aku terlalu mencintaimu Kinan. Aku yang salah." imbuh Niko dengan suara lirih. Tangisannya menyatu dalam derasnya hujan.


"Tapi aku nggak cinta sama kamu." tegas Kinan.


"Aku nggak pernah menuntutmu untuk mencintaiku, nggak. Aku cuma butuh kamu ada di dekatku, menemaniku hingga kita menua bersama nantinya. Itu sudah cukup buatku." jelas Niko.


"Aku sayang sama kamu, Kinan. Perasaanku terlalu besar buatmu. Hingga tanpa sadar aku melayangkan kata kata yang nggak seharusnya aku ucapkan itu. Aku takut, aku sangat takut kehilanganmu." imbuh Niko.


"Aku takut pria lain bisa mengalihkan pandanganmu dariku. Aku takut kehadiran pria lain membuatmu menjauh dariku." ucap Niko yang tak bisa menahan perasaannya yang begitu besar untuk Kinan.

__ADS_1


__ADS_2