
Tidak butuh lama untuk menuju ke penanjakan. Karena jarak dari hotel pun juga tidak terlalu jauh. Mereka pun turun dari mobil, menantikan mentari yang akan muncul dari balik bukit.
Tak lupa Indra mengalungkan syalnya di leher Kinan dan memeluknya dari belakang.
"Udah nggak kedinginan kan??" ucap Indra yang paham jika sang istri sedang kedinginan.
Saat itu Indra sedang memakai jaket tebal berwarna hitam. Jaket hitam yang memang besar. Itulah kenapa dia memasukkan tubuh sang istri ke dalam jaket itu, agar dia juga merasa hangat.
Sebenarnya sih, lebih kelihatan seperti modus untuk memeluk sang istri.
"Aduh, aduh. Kalo mau mesra mesra jangan disini dong." sindir Kak Dodi.
"Iya nih. Bermesraan di depan umum itu haram hukumnya." celetuk Kak Nanang.
"Siapa bilang??"
"Aku yang bilang barusan, nggak denger??" sahut Kak Nanang.
Namun pengantin baru itu hanya mengumbar senyuman tanpa berkata kata. Semua keluarga pun ikut tersenyum melihat kebersamaan mereka.
"Apa Adek masih ingat. Dulu kita juga pernah kesini." Indra mengulas kembali kenangan pada masa lalu.
"Iya, Adek ingat."
"Jujur, dulu Mas nggak terlalu berharap banyak untuk bisa memiliki Adek. Karena Mas sadar diri, Mas ini bukan siapa siapa. Mas ini bagai pungguk merindukan bulan. Seorang Tamtama, yang dengan kurang ajarnya malah memiliki rasa pada putri seorang Jendral." jelas Indra.
"Saat itu Mas berfikir, hanya dengan berada di sisinya Adek saja akan membuat hatinya Mas senang. Namun pikirannya Mas itu salah, Mas semakin ingin memiliki Adek. Meski sulit dan pasti akan tertolak, Mas berusaha terus mengejar Adek. Meski tak bisa memiliki sepenuhnya, setidaknya Mas pernah berjuang untuk memilikimu." imbuh Indra.
"Namun nggak di sangka, sekarang kita bisa seperti ini. Mas benar benar bisa memilikimu seutuhnya. Mas seneng sekali, Dek." ucap Indra.
Kinan pun terharu dengan apa yang di ucapkan sang suami. Matanya mulai berkaca kaca.
"Terima kasih ya sayang. Terima kasih sudah menerima Mas, terima kasih sudah memberikan kesempatan buat Mas untuk jadi suaminya Adek."
"Mas nggak akan pernah menyia nyiakan kesempatan ini. Mas akan berusaha jadi suami yang terbaik buat Adek."
"Meski pun nggak bisa jadi yang terbaik, setidaknya jangan buat Adek nangis ya Mas??" pinta Kinan.
"Ehh, tapi gimana ya?? Mas kan udah pernah bikin Adek nangis." celetuk Indra.
"Kapan??" Kinan heran.
"Tadi malam." goda Indra.
"Ihh, Mas??" Kinan malu. Dia membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang Indra. Indra pun tersenyum melihat sang istri yang menahan malu.
Dia mengecup lembut kening Kinan.
Tak lama menunggu, sang mentari pun muncul dari balik bukit. Sinar hangatnya membuat orang tak sabar untuk memotret momen itu. Bahkan tak lupa Indra pun juga mengambil foto sang istri.
Sembari mengambil foto, dia mengingat momen kedekatan mereka dulu. Momen dimana Indra berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan tempat spesial di hati Kinan.
Terlihat sesekali Indra tersenyum melihat perempuan yang saat ini sudah sah menjadi istrinya itu.
Setelah puas berswafoto dan menikmati pemandangan sunrise. Mereka pun turun ke lautan pasir.
Karena mobil yang mereka kendarai bukan mobil off road, akhirnya orang tua Indra menyewa mobil jeep untuk mereka tunggangi menjelajahi lautan pasir.
Banyak momen foto yang mereka abadikan di lautan pasir itu.
__ADS_1
Saat hendak naik ke atas gunung Bromo.
"Sini, biar Mas gendong Adek. Ucap Indra seraya membungkuk."
"Nggak ahh, malu di lihat banyak orang." tolak Kinan.
"Udah, sini naik. Kasian Adek, pasti masih sakit kan." Indra sangat peka terhadap apa yang di rasakan sang istri.
Karena Indra memaksa, akhirnya Kinan pun naik ke punggung Indra. Banyak mata yang melihat keromantisan mereka, namun Indra cuek. Dia hanya tidak ingin sang istri kelelahan karena harus menaiki banyak tangga menuju ke atas gunung Bromo.
"Adek berat ya Mas??" tanya Kinan kuatir.
"Nggak kok."
"Mas bohong."
"Beneran nggak berat kok sayang." jawab Indra. "Makanya Adek agak berisi dikit dong."
"Emang Mas suka perempuan yang gendut??"
"Nggak juga. Mas lebih suka perempuan seksi kayak Adek." goda Indra.
"Ihh, mulai deh." ucap Kinan. Namun Indra hanya tersenyum.
Sesampainya di puncak dan menikmati keindahan kawah gunung Bromo. Terlihat dua sejoli itu masih saja larut dalam kemesraan. Indra seakan tak bisa jauh dari Kinan. Dia memeluk tubuh Kinan dari belakang, ala ala film Titanic.
"Adek juga masih ingat nggak?? Disini lah pertama kali Mas ungkapin perasaannya Mas ke Adek."
"Iya, Mas. Adek masih ingat."
"Waktu itu jujur Mas sebenarnya ragu mau ungkapin atau nggak. Tapi Mas pikir, ya sudahlah mending di ungkapin. Meski pun akhirnya nanti di tolak yang penting Adek sudah tau perasaannya Mas." Indra kembali mengungkit masa lalu mereka.
"Udah, nggak usah di bahas lagi Mas. Nanti malah bikin Mas sedih." Kinan membelai pipi sang suami.
"Tapi sekarang Mas udah bahagia kan??"
"Iya, Dek. Bahagia banget." Indra mengangguk. "Makanya itu Mas nggak akan pernah ngelepasin Adek. Apapun yang terjadi."
Kecupan lembut kembali mendarat di dahi Kinan.
Setelah puas menikmati pemandangan gunung Bromo, mereka pun kembali ke hotel dan bersiap untuk pulang.
Saat membereskan pakaian. Tiba tiba saja Indra kembali menggoda Kinan. Dia memeluk sang istri dari belakang, menciumi leher dan tengkuk Kinan.
"Mas, sudah. Kita mau pulang nih."
"Sebentar aja, sayang." pinta Indra.
"Nanti aja kalo udah di rumah kita sendiri."
"Kelamaan." protes Indra.
"Nggak lama kok, palingan besok pindah." jawab Kinan.
"Dek??"
"Iya, Mas." Kinan sibuk merapikan pakaiannya.
"Kita harus selalu bersama ya?? Sampai menua nantinya."
__ADS_1
"Iya, Mas."
Indra pun meninggalkan sebuah kecupan di telapak tangan Kinan, dan semakin memeluknya erat.
Setelah selesai berkemas, mereka pun pulang bersama.
Sore harinya terlihat orang tua Indra sudah mulai berkemas. Besok adalah jadwal kepulangan mereka.
"Ibu besok pulang ya??" tanya Kinan mendatangi kamar sang mertua.
"Iya, Nak. Besok kami sudah harus pulang. Kinan mau ikut juga??"
"Pengen sih Bu, tapi Kinan masih belum dapat cuti. Ini aja cuti nikah cuma dapat beberapa hari."
"Ya udah kalo gitu nggak apa apa, Nak. Nanti kalo Indra cuti, Ibu harap Kinan juga ikut ya??" pinta sang mertua.
"Iya Bu. In Shaa Allah Kinan juga ikut kok." jawab Kinan tersenyum sembari memeluk sang Ibu mertua.
"Tolong jaga Indra ya, Nak. Meskipun dia sedikit keras kepala, tapi Ibu jamin dia itu anak yang baik kok. Bahkan bisa di bilang dia tidak seperti kakak kakaknya yang lain. Dia anak yang sangat mandiri. Untuk menjadi tentara saja dia tak mau Bapak ikut campur." jelas Ibu mertua.
"Iya Bu, Kinan paham kok."
Baru kali itu Kinan bisa mengobrol panjang lebar dengan Ibu mertuanya. Selama ini dia tak bisa mengobrol banyak dengan beliau. Mungkin karena kesibukan mempersiapkan semua acara pernikahan, jadi tak ada waktu banyak untuk mengobrol.
"Oh iya, katanya kalian sudah punya rumah sendiri ya??" tanya Ibu.
"Iya Bu. Ibu mau lihat?? Ayoo bareng sama Kinan kesana." ajak Kinan.
"Boleh, boleh. Ibu juga pengen tahu rumahnya."
"Tapi rumahnya sederhana kok Bu. Bukan rumah yang mewah, toh kita juga masih berdua." ucap Kinan.
"Iya nggak apa apa, Nak. Begini aja Ibu sudah bangga sama kalian. Baru nikah, tapi sudah punya rumah sendiri." sahut Ibu mertua.
"Tapi kalian nggak sedang menunda untuk memiliki momongan kan??"
"Nggak kok Bu. Kami nggak menunda."
"Baguslah kalo gitu. Sebuah rumah jika ada suara anak kecil di dalamnya, pasti rasanya hangat sekali."
Kinan tersenyum mendengar jawaban sang Ibu.
"Hayoo, hayoo. Lagi ngobrolin apa nih?? Serius banget kayaknya." Indra tiba tiba muncul dari balik pintu.
"Nggak ngomong apa apa kok, Mas. Ibu cuma pengen lihat rumahnya kita." jawab Kinan.
"Ohh ya udah kalo gitu, ayo kita kesana sekarang." ajak Indra bersemangat.
"Tanya dulu sama Mamamu, kali aja dia juga mau ikut." saran Ibu.
"Iya Bu, nanti Kinan tanyakan." sahut Kinan sopan.
"Indra, tolong jaga Kinan ya Nak??" ucap sang Ibu pada Indra.
"Iya Bu, itu pasti."
"Jangan buat Kinan kelelahan terus, kasihan dia." sindir Ibu.
Indra pun hanya membalas dengan senyuman.
__ADS_1