
Di tempat lain, di rumah orang tua Kinan.
"Nak. Papa mau bicara sama kamu." panggil Mama, saat Kinan sedang bersantai di kamar.
"Iya Ma. Habis ini Kinan turun." jawab Kinan.
Tak lama berselang, Kinan pun turun ke ruang tamu. Disana terlihat Papa Kinan yang sedang duduk dengan wajah yang serius. Seketika rasa takut pun muncul di hati Kinan.
Dia duduk berseberangan dengan Papanya. Sejenak mereka hanya terdiam.
"Sejauh apa hubunganmu dengan sopir itu??" tanya Papa tanpa basa basi.
"Selama ini kita hanya berteman Pah."
"Bohong. Jika berteman, nggak mungkin dia sampe seperti itu." ucap tegas Papa.
"Apa benar kalian sudah melakukan hal yang hina itu??" tanya Papa menginterogasi.
"Nggak Pah. Kejadiannya nggak seperti yang Papa bayangkan."
"Jangan berbohong. Kalo kejadiannya tidak seperti yang Papa bayangkan, tidak mungkin dia sampe seberani itu mengatakannya. Bahkan dia sampe berani bilang kalo dia bersedia untuk bertanggung jawab." jelas Papa.
"Pa, dengerin dulu penjelasan Kinan."
"Papa nggak mau denger penjelasanmu lagi." tegas Papa. "Papa membesarkanmu bukan untuk menjadi perempuan murahan." kata kata pedas yang langsung keluar dari mulut seorang jenderal.
"Pah?!!" teriak Kinan.
"Papa setega itu sampe ngatain anaknya sendiri???" Kinan mulai kesal.
"Terus panggilan apa yang pantas untuk seorang perempuan yang sudah di sentuh pria lain, selain calon suaminya sendiri?!! Coba jawab!!"
"Kamu benar benar sudah mencoreng nama baik Papa. Awalnya Papa dengar kamu sempat menghabiskan malam bersama Niko, dan sekarang kamu malah mengulanginya lagi dengan sopir pribadimu."
"Perempuan macam apa kamu itu?!!!" bentak Papa dengan suara yang menggelegar.
"Oke kalo emang itu yang Papa pikirkan tentang Kinan. Nggak masalah. Asal Papa tau di antara aku dan Niko tidak pernah terjadi apa apa. Kita menginap di vila memang benar benar hanya untuk berteduh, bukan melakukan tindakan asusila seperti yang Papa bayangkan." jelas Kinan.
"Dia mengatakan hal seperti itu agar Papa setuju dan segera memaksaku untuk menikah dengannya." imbuh Kinan.
"Bukannya bagus kalo kamu jadi nikah sama dia??"
"Apanya yang bagus Pah. Di mata Papa dia memang baik, tapi di mataku nggak." tegas Kinan.
"Dia itu orang yang licik Pah, bahkan dia akan melakukan apa aja agar semua yang dia inginkan tercapai. Bahkan dia nggak segan segan membawa bawa nama besar Papanya untuk di jadikan tameng pada setiap perbuatannya."
"Kinan!! Jaga ucapanmu." tegas Papa.
"Itu memang kenyataannya Pah." sahut Kinan.
"Terus bagaimana sama sopir itu?? Apa kamu memang suka sama dia??!"
"Setidaknya dia berusaha untuk selalu menjaga Kinan, Pah. Meski pun tak terjadi apa apa di antara kami, tapi dia sudah punya niat untuk bertanggung jawab."
"Sama saja kan?? Niko juga mau menikahimu."
"Tapi dia terlalu licik Pah. Aku nggak suka."
Mendengar hal itu, Papa Kinan menghela napas kasar.
"Terserah kamu mau bilang apa. Tapi pertunangan ini akan tetap di lanjutkan." tegas Papa. "Kita tidak mungkin memutuskan pertunangan ini."
"Tapi Pah......."
"Dan ingat. Meskipun tidak terjadi apa apa di antara kamu dan sopir itu, Papa harap kamu jangan pernah bersamanya lagi. Jika tidak, gosip yang tidak enak akan menyebar."
Setelah mengatakan hal itu, Papa pun masuk ke dalam kamarnya.
"Mah." panggil Kinan sedih dan memeluk Mamanya.
"Sudah, Nak. Turutin aja maunya Papamu. Bukannya anak gadis Mama ini anak yang penurut??" sang Mama berusaha menegarkan hati anaknya.
__ADS_1
"Sampe kapan aku harus nurutin Papa, Mah??" ucap Kinan sedih. "Dari dulu Kinan berusaha nurutin maunya Papa. Bahkan untuk hal sekolah dan kuliah pun aku selalu nurutin kata kata Papa. Tapi apa tidak bisa sekali ini aja aku menentukan jalanku sendiri Mah."
"Nak. Semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Tak terkecuali Papa." sahut Mama lembut.
"Niko itu bukan pria yang baik Mah. Dia kasar sama Kinan."
"Dia seperti itu, mungkin karena dia cemburu kedekatanmu dengan Indra." ucap Mama.
"Nggak Mah, dia memang orang yang kasar."
"Udahlah sayang, jangan menangis lagi ya. Ini udah malam, sana lekas tidur." Mama mengusap air mata Kinan.
Kinan pun menurut dan masuk ke dalam kamarnya.
Melihat kepergian Kinan, Mama pun ikut sedih. Sebenarnya dia ingin sekali membantu, namun dia tak ada keberanian. Dia paham betul bagaimana watak sang suami saat sedang marah.
.
Saat hampir tengah malam, terlihat Indra memasuki mess ajudan. Dia memasuki mess secara perlahan, dia tidak mau membangunkan teman temannya dan melihat apa yang sudah dia alami.
Dia pun masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya. Dia berbaring di atas ranjang dan merogoh ponsel yang ada di saku celananya. Dia mengetik sebuah nama disana. Beberapa kali dia menelpon, tapi tidak di angkat.
Mungkin dia sekarang udah tidur. Apa aku coba sekali lagi saja ya??
Tak lama berselang, telpon dari Indra pun di angkat.
[Iya, halo. Assalamuallaikum.] ucap Kinan dengan suara parau. Sepertinya dia memang sudah tertidur.
[Waallaikumsalam. Udah tidur ya?? Maaf ya udah ganggu tidurnya Adek.]
[Nggak apa apa kok, Mas. Ada apa ya Mas??]
[Nggak ada apa apa, cuma pengen denger suaramu aja.] Indra ngeles. Dia tidak ingin menceritakan apa yang sudah di alaminya, dia tak ingin Kinan makin kuatir.
[Karena kemarin kamu sama sekali nggak angkat telponnya Mas, bahkan nomernya Mas sempat di blokir. Jadi Mas mau memastikan aja, kalo Adek udah mau angkat telponnya Mas lagi.] imbuh Indra.
[Iya Mas, ini udah aku angkat kan??] ucap Kinan dengan mata yang masih terpejam.
[Terima kasih ya.] ucap Indra. [Ya udah kalo gitu kamu lanjutin aja tidurnya, besok masih harus kerja kan??]
[Mas lagi nggak bisa tidur.]
[Kenapa?]
[Nggak tau. Mungkin karena terlalu senang kali bisa ketemu sama kamu lagi.] goda Indra.
[Hem, mulai lebaynya.] sindir Kinan.
[Hahaha. Ya udah, sekarang kamu tidur gih.] saran Indra.
Kinan pun menutup telponnya. Dan Indra membuka buka galeri ponselnya, melihat foto foto kebersamaannya dengan Kinan. Terlihat dia sangat senang, senyum melebar di kedua pipinya. Rasa sakit yang Indra rasakan, perlahan seakan menghilang saat melihat foto foto mereka bersama. Senyuman manis Kinan membuatnya meleleh.
Semangatin Mas terus ya?? Biar Mas bisa perjuangin kamu. Ucap Indra mengusap foto Kinan yang ada di dalam ponselnya.
Keesokan paginya, Erwan mengetuk pintu kamar Indra. Namun tak ada jawaban. Berkali kali dia mengetuk, namun tetap tak ada jawaban dari dalam kamar. Erwan pun berinisiatif membuka pintu kamar Indra. Terlihat tubuh Indra masih berada di dalam selimut. Padahal saat itu matahari sudah mulai tinggi.
"Kirain kamu udah mati, kok nggak ada jawaban."
"Ada apa sih gangguin pagi pagi??" tanya Indra kesal.
"Ndra, kamu nggak nyopiri Komandan."
"Hari ini aku libur dulu, biar Aris yang gerak." ucap Indra santai.
"Kamu kenapa??" Erwan heran.
"Aku lagi nggak enak badan, mau istirahat dulu hari ini."
"Tumben pengen istirahat. Biasanya meski sakit tetap aja tuh gerak."
Namun tak ada jawaban. Erwan pun makin penasaran, perlahan dia mendekat ke arah Indra dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
__ADS_1
Terlihat lah jelas luka luka di tubuh dan wajah Indra. Luka lebam yang sangat menyakitkan.
"Ndra, kamu habis ngapain?!! Kayaknya yang kemarin nggak separah ini deh?!!!" Erwan terkejut.
"Udah, nggak usah ribut. Cukup aku dan kamu aja yang tau. Udah sana, pergi sana. Aku mau tidur dulu." ucap Indra berusaha mengusir Erwan.
"Nggak nggak, Ndra. Aku juga perlu tau. Apa mungkin luka ini berhubungan dengan semalam waktu kamu di panggil Danton Deni??" Erwan menduga.
"Sok tau kamu. Udah sana pergi, aku mau istirahat sebentar."
"Ndra, kamu punya masalah sama Danton Deni??" tanya Erwan penasaran.
"Nggak ada."
"Teruss??" Erwan heran.
"Sepertinya dia temannya Lettu Niko."
"Lettu Niko?? Maksudmu calon suaminya Kinan itu??"
"Mereka hanya calon tunangan saja, belum tentu akan menikah." Indra memperjelas.
"Wahh, parah kamu Ndra. Kamu berurusan dengan orang yang salah." tegur Erwan.
"Dari awal aku udah bilang jangan dekati Kinan. Lawanmu itu nggak main main, Ndra." imbuh Erwan.
Namun Indra tak bergeming, dia malah mengambil selimut dan hendak menutupi kembali tubuhnya. Tapi Erwan mencegah.
"Ndra. Aku ini serius." ucap Erwan.
"Iya, aku paham kok."
"Paham gimana?? Kamu itu terlalu bucin sama Kinan. Tentara kok bucin??" sindir Erwan.
"Bucin itu nggak mengenal kamu tentara atau bukan." sahut Indra.
Erwan sejenak heran dengan Indra yang seakan tak takut untuk terus maju memperjuangkan Kinan.
"Udah, tinggalin aja Kinan. Cari cewek lain yang aman buat posisimu." saran Erwan.
Sekali lagi, Indra tak menggubris perkataan Erwan. Dia malah menutup matanya menggunakan lengan.
"Ndra, apa nggak seharusnya kita lapor Komandan tentang masalah ini."
"Nggak usah."
"Tapi ini sesuatu yang penting. Biar Komandan ngasih peringatan buat Danton Deni. Dia kan terkenal seenaknya sendiri." saran Erwan.
"Nggak perlu. Aku nggak mau ngadu, anggap aja ini rahasia kita berdua."
"Tapi kita ini ajudannya Komandan, kita punya hak spesial."
"Hak spesial bukan berarti kita bisa ngadu apapun ke Komandan. Jangan bersikap seperti anak kecil yang manja, biarkan aja. Toh ini juga masalah pribadiku, nggak ada sangkut pautnya soal pekerjaan." jelas Indra.
"Udah, kamu pergi sana. Aku mau istirahat. Jangan bikin kepalaku tambah sakit." ancam Indra.
Mendengar itu, Erwan pun mengalah. Dengan berat hati dia keluar dari kamar Indra. Banyak pertanyaan yang ada di benaknya. Sebagai teman dia hanya bisa memberikan saran untuk Indra, namun kelihatannya Indra sama sekali tak mau mundur.
.
Di tempat lain, di rumah Kinan. Terlihat Kinan menuruni tangga dan hendak berangkat bekerja.
"Mah, aku berangkat kerja dulu ya??" pamit Kinan pada Mamanya yang sedang duduk di ruang tamu.
"Sayang." panggil Mama.
"Iya, Mah." Kinan berhenti.
"Sepertinya hari ini kamu nggak bisa berangkat kerja dulu."
"Maksud Mama??" tanya Kinan heran.
__ADS_1
"Papa melarangmu untuk kerja beberapa hari ini, sampe acara pertunanganmu selesai." jelas Mama.
"Apa??!"