
Malam harinya, Kinan pun kembali mengangkat telpon dari Indra.
[Sayang.] panggil Indra.
[Iya.]
[Adek lagi ada masalah ya?? Mas ngerasa beberapa hari ini Adek selalu ngejauhin Mas. Nggak kayak biasanya.] tanya Indra yang tak tahan dengan sikap sang istri yang seakan menjauh darinya.
[Mas, sebenarnya ada yang mau aku tanyakan.]
[Tanya apa Dek??]
[Mas...Ehm, Mas kenal dengan perempuan yang bernama Novi??] tanya Kinan perlahan.
[Novi?!!] ucap Indra terdengar terkejut.
[Iya Mas, Novi.] Kinan mengulang.
[Ada apa sama dia??] tanya Indra penasaran.
[Beberapa hari yang lalu dia nemuin aku di rumah sakit.]
[Nemuin Adek?? Ngapain dia kesana?] ucap Indra kesal.
[Sebelumnya, Adek mau bertanya sama Mas. Sejauh apa hubungan Mas sama dia??]
[Hubungan apa?? Mas sama sekali nggak ada hubungan apa apa sama dia. Dia hanya sebatas teman saja, nggak lebih.]
[Apa kata kata Mas itu bisa di percaya??] tanya Kinan ragu.
[Apa Adek nggak percaya sama Mas??]
[Masalahnya, perempuan itu mengaku kalo dia hamil. Dan anak yang di kandung itu adalah anaknya Mas.]
[Apa?!! Hamil??! Hamil anaknya Mas?!!! Gila tuh cewek!!!]
[Mas sama sekali nggak pernah.........]
[Nggak. Nggak pernah. Mas nggak pernah melakukan hal itu dengannya.] ucap tegas Indra. Namun Kinan terdiam.
[Mas bisa bersumpah, Mas nggak pernah ngelakuin hal itu dengan dia. Sama sekali nggak.] imbuh Indra.
[Jujur, dia memang sering ngajak Mas untuk ngelakuin hal itu. Bukan sekali dua kali dia memancing, namun Mas tetap nggak mau. Bahkan dia pernah bilang, dia nggak akan meminta pertanggung jawaban meski nantinya dia hamil. Tapi Mas tetap pada pendirian Dek.] jelas Indra.
[Mas berani bersumpah, Mas sama sekali nggak pernah melakukan hal itu sama dia. Dan Adek harus percaya sama Mas.] tegas Indra.
[Tapi dia.....]
[Sudah, biarkan saja. Nggak usah di dengar. Mungkin dia seperti itu hanya ingin menghancurkan hubungan kita saja.] ucap Indra yang berusaha menguatkan sang istri.
Namun meski begitu, ada perasaan yang tak tenang dalam hatinya.
Keesokan harinya saat di kantin rumah sakit. Terlihat Kinan hanya memandangi minuman yang dia pesan satu jam yang lalu.
"Kayaknya lagi ada masalah nih." ucap seseorang yang tiba tiba duduk di depannya.
"Ehh, Dokter Adam." Kinan berusaha memalingkan wajahnya.
"Kamu kepikiran gara gara ini??" tanya Dokter Adam seraya menunjukkan selembar hasil USG Novi.
"Lohh, kok bisa ada di Dokter Adam??" Kinan heran.
"Temanmu yang ngasih." ucapnya dingin.
"Temanku?? Maksudnya Ratna??"
"Iya. Dia sudah menceritakan semuanya." ucap si Dokter Adam sembari melihat hasil USG yang ada di tangannya.
"Sepertinya ada yang aneh dengan hasil USG ini."
"Aneh?? Maksudnya Dokter??" Kinan penasaran.
"Besarnya bayi tidak sesuai dengan usia kehamilan yang tercantum." ucap Dokter Adam.
__ADS_1
"Artinya??" Kinan meneruskan.
"Artinya ada manipulasi disini." Dokter Adam menyimpulkan.
"Ini Rumah Sakit XXX kan?? Aku kenal sama dokter disana, dia teman baikku. Nanti coba aku hubungi."
Mendengar hal itu, Kinan pun tersenyum.
"Udah, nggak usah kepikiran. Masa calon ibu Persit gampang percayaan gini sih??" sindir Dokter Adam.
"Ehm, terima kasih ya Dokter sudah mau bantu." ucap Kinan memelas.
"Nggak usah terima kasih sekarang. Nanti aja kalo kebohongan nih perempuan terbongkar." sahut Dokter Adam. Dia pun beranjak pergi dari depan Kinan.
Ada sedikit senyum harapan di wajahnya.
Sepertinya memang akunya aja yang terlalu mudah percaya kata kata orang lain. Pikir Kinan.
Dua hari pun berlalu.
"Aku udah menyelidikinya. Ternyata hasil USG ini bukan milik dia. Tapi milik orang lain, yang namanya sama seperti dia." jelas Dokter Adam saat duduk di kursi kantornya.
"Benarkah Dokter?? Jadi semua hasil USG itu palsu??" Kinan bersemangat.
"Ya, seperti itulah." sahut Dokter Adam.
"Dan aku pun juga sudah menyelidiki riwayat rekam medisnya selama ini. Ternyata dia memang pernah hamil sekitar setahun yang lalu, tapi dia berusaha menggugurkan bayi itu."
Setahun yang lalu?? Bukankah saat itu aku dan Mas Indra masih belum saling kenal.
"Tapi kamu tenang saja, bayi yang di kandungnya itu pun juga bukan milik Indra."
"Bagaimana Dokter Adam bisa tahu??"
"Tahu lah. Kami sebagai Dokter Spesialis Kandungan punya cara rahasia untuk mengetahui hal itu. Karena kami tahu, kasus seperti ini akan terjadi."
"Cara rahasia apa??" Kinan penasaran.
"Hahh. Alhamdulillah kalo gitu." Kinan menghela napas lega.
Kini Novi sudah tak bisa mengancam Kinan lagi. Karena semua bukti sudah terpampang. Bahkan Kinan malah balik mengancam, jika Novi terus menerus masih mengganggu hidupnya dia akan melaporkan Novi atas tindak penipuan yang dia lakukan dengan hasil USG orang lain.
[Mas, maafin Adek ya karena udah ragu sama Mas. Sempat nggak percaya sama Mas.]
[Iya sayang, nggak apa apa. Namanya juga rumah tangga pasti ada aja orang ketiga yang mau merusak.]
[Lagi pula yang Mas sayangi itu Adek, Adek akan jadi satu satunya perempuan yang akan mengandung dan melahirkan anak anaknya Mas.]
Kinan tersenyum mendengar ucapan manis suaminya itu.
.
Bulan demi bulan pun silih berganti. Ternyata selama pendidikan, sang mertua yaitu Papa Kinan selalu memantau ketat hasil akademik sang menantu. Dan ternyata memang benar, kemampuan Indra sama sekali tak mempermalukannya. Bahkan kemampuannya itu berada di atas rata rata.
Sang Jendral pun heran, seorang prajurit biasa tapi punya kemampuan sehebat itu. Dengan kemampuannya yang seperti itu, seharusnya dia bisa masuk dengan mudah ke dalam jajaran pasukan elit. Dia menjadi lulusan dengan nilai yang paling baik.
Dan saat acara kelulusan, terlihat semua orang sedang berbahagia. Mereka datang dan memberikan sebuah buket bunga untuk orang yang terkasih. Mereka semua larut dalam kebahagiaan.
Terkecuali Indra. Saat kelulusannya, hanya ada orang tuanya yang datang. Dia melihat ke segala penjuru, namun tak ada sosok yang dia cari. Kecewa, itu pasti.
"Kamu lagi nyari siapa Nak??" tanya sang Ibu.
"Kinan nggak ikut kesini Bu??" tanya Indra penasaran.
"Nggak tuh Nak. Ibu dan Bapak kan langsung menuju kesini, tidak mampir ke rumahnya Kinan dulu. Emangnya kemarin dia bilang mau datang apa tidak??"
"Dia sih nggak janji Bu. Cuma bilang akan di usahakan untuk datang." jawab Indra kecewa.
Wajah frustasi Indra menunjukkan jelas jika dia sangat berharap sang istri akan datang dan menyambutnya dengan pelukan hangat. Namun ternyata angan angannya masih terlalu tinggi. Tak seharusnya dia bermimpi terlalu tinggi seperti itu, yang pada akhirnya akan membuat dia terjatuh dan kecewa.
"Ya sudah Nak, mungkin dia sedang sibuk. Besok kan kalian masih bisa ketemu." Ibu berusaha menenangkan hati sang anak.
"Iya Bu." jawab Indra lesu.
__ADS_1
"Baiklah kalo begitu. Untuk persembahan terakhir, kami akan menyajikan sebuah lagu untuk kalian semua yang sedang berbahagia. Semoga kalian semua akan menjadi para Komandan Regu yang selalu solid dan tangguh." ucap si pembawa acara.
Sebuah lagu dari 'Anji - Menunggu Kamu'.
Tiba tiba sebuah suara perempuan yang muncul dari balik panggung mengagetkan Indra. Suara yang selama ini dia rindukan, suara dari perempuan yang sangat dia cintai.
Indra pun berbalik dan perlahan mendekati panggung kecil itu. Terlihat senyuman mengembang dari kedua pipinya.
Ternyata sang istri benar benar datang kesana. Melihat Indra dan menyanyikan lagu itu dengan sepenuh hati. Setiap lirik yang Kinan nyanyikan, membuat hati Indra tersentuh.
Tatapan mata mereka saling menyatu. Tak sedetik pun Indra melepaskan pandangannya dari sang istri, hingga dia selesai bernyanyi.
"Saya ucapkan selamat untuk para Bintara yang hari ini mengambil sumpah prajurit. Semoga ke depannya semakin sukses dan jayalah selalu Tentara Nasional Indonesia." ucap Kinan lantang.
"Dan untuk yang terkasih. Selamat sudah bisa sampai sejauh ini. Selamat untuk Ksatriaku, Sersan Dua Indra." Kinan menyebut nama sang suami sembari membawa buket bunga.
Tanpa pikir panjang Indra pun naik ke atas panggung dan memeluk sang istri. Sontak semua orang yang berada disana bersorak sorai melihat mereka.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih. Terima kasih sudah jauh jauh datang kesini." ucap Indra menahan tangis.
"Iya Mas." jawab Kinan. Tak terasa air matanya mengalir deras membasai pundak sang suami.
"Mas kangen Dek, kangen banget." imbuh Indra.
"Iya Mas."
Mereka pun mengakhiri adegan pelukan itu dan langsung turun dari atas panggung. Berbaur dengan yang lain.
"Senangnya udah ketemu sama istri." goda Ibu.
Namun mereka hanya tersenyum, bak sepasang kekasih yang terpisah sangat lama. Terutama Indra, dia sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya dari Kinan. Memegang erat sang istri, seakan tak ingin pergi meninggalkannya lagi.
"Kenapa Ibu nggak bilang sih??"
"Kalo bilang, itu namanya bukan surprise." jawab sang Ibu tersenyum.
"Baru juga enam bulan nggak ketemu, udah kebingungan aja." sindir Bapak. "Gimana kalo nanti pergi tugas coba??"
"Makanya setelah ini buruan ngajuin nikah, biar nggak terpisah lagi." saran Ibu.
"Iya Ibu, itu pasti." Indra bersemangat seraya memandangi Kinan. Tatapan hangatnya pada sang istri, menunjukkan jelas jika dia sangat merindukannya.
Setelah acara kelulusan selesai, Indra pun membereskan barang barangnya dan pulang bersama mereka. Namun sebelum pulang, mereka akan mampir dulu ke penginapan tempat orang tua Indra dan Kinan menginap untuk mengambil barang barang.
"Mas kayaknya tambah kurus deh." protes Kinan.
"Ya gimana nggak kurus Dek. Di dalam kan kita pendidikan, pendidikannya kan keras. Apalagi nggak bisa ketemu sama Adek."
"Tapi di dalam sana dapat makan kan??"
"Pasti dapat lah, sayang. Bahkan rutin, ada kantinnya juga. Cuma, ya mungkin karena nggak selera makan gara gara nggak ketemu istri makanya jadi kurus deh." goda Indra.
"Ehm, baru juga bebas dari pendidikan. Mulai gombal aja." celetuk Kinan.
"Tapi kan mesti ditempat pendidikan gitu biasanya tetap ada waktu untuk bertemu keluarga deh Nak." sahut Ibu.
"Emang ada Bu. Kalo nggak salah satu kali dalam sebulan, cuma kan aku mikirnya kasian Kinan kalo jauh jauh harus datang kesini. Apalagi ketemunya cuma sebentar, kalo ketemunya lama dan bisa keluar tempat pendidikan sih nggak masalah."
"Emang mau ngapain ketemuan lama lama??"
"Ya nggak ngapa ngapain, cuma melepas rindu aja." Indra tersenyum nakal.
"Makanya cepet ajuin nikah, biar nggak bisa terpisah lagi."
"Beres Ibu. Kalo bisa besok kita langsung ke Batalyon."
"Ihh, kayak orang lagi kebelet aja."
"Emang iya." sahut Indra santai.
"Ihh." Kinan memukul mukul lembut bahu Indra.
Mereka pun larut dalam suasana bahagia.
__ADS_1