
"Pah, Mah. Orang tuanya Mas Indra sudah datang." ucap Kinan.
Orang tua Kinan pun berdiri hendam menyambut orang tua Indra. Namun saat melihat sosok yang ada di depannya.
"Hasan??" panggil Papa.
"Rizal?? Kamu Rizal kan??" ucap Bapaknya Indra terkejut.
Mereka pun langsung berpelukan dan bersalaman.
"Lama nggak pernah denger kabarmu. Udah jadi Jendral besar rupanya." puji Bapaknya Indra.
Semua orang yang ada di ruangan itu pun terkejut, terutama Indra dan Kinan. Mereka saling bertatapan dengan ekspresi yang kebingungan.
Melihat semua orang yang terdiam, Papa pun berusaha mengenalkan sosok yang baru saja dia salami.
"Oh iya, Mah. Kenalin, ini temen Papa saat di Akmil dulu. Namanya Hasan."
"Hasan?? Apa maksudnya Papa, Hasan yang dulu Papa pernah ceritain??" tanya Mama yang mengingat saat dulu sang suami pernah menceritakan orang yang bernama 'Hasan' itu.
"Iya, betul. Ini yang namanya Hasan. Dia salah satu teman Papa waktu menjadi Taruna dulu. Bahkan dia itu lulus dengan nilai yang sangat bagus, nggak heran kalo Indra juga punya pencapaian yang bagus seperti Bapaknya." tiba tiba sang Jendral memuji Indra.
Mereka yang ada di sana pun baru paham jika Bapak dan Papa dulunya adalah teman saat di Akmil. Bahkan Bapak termasuk salah satu lulusan terbaik di masanya.
Mendengar penjelasan mereka itu, Kinan dan Indra pun bisa bernafas lega. Mereka tak menyangka jika orang tua mereka dulunya adalah teman.
"Akhh, kamu ini bisa saja. Liat kita sekarang, sangat berbeda. Kamu sekarang bisa jadi Jendral besar, dan aku hanya jadi petani." Bapak merendah.
"Kalo dulu kamu nggak mengajukan pensiun dini, aku yakin saat ini mungkin kamu bisa jadi atasanku." imbuh Papa.
"Ngarang kamu." celetuk Bapak.
"Loh iya, beneran. Serius." ucap Papa.
"Denger ya, dulu saat masih muda dia mendapat banyak prestasi. Bahkan di usianya yang sangat muda, dia mau di ajukan untuk jadi Komandan Batalyon namun dia menolak. Dia malah lebih memilih untuk meneruskan usaha kebunnya, dan akhirnya dia mengajukan pensiun dini." jelas Papa.
"Sayang sekali ya Bu??" ucap Mama pada Ibunya Indra. "Kalo semisal tidak pensiun dini, mungkin karirnya akan semakin maju."
"Nggak juga sih Bu. Malahan Bapak bisa lebih santai di rumah. Bahkan mungkin bisa di bilang pendapatannya jauh berkali kali lipat lebih besar." bela Ibu.
"Iya, Mah. Aku denger denger dia nih sekarang jadi juragan kebun." gurau Papa.
"Ehh, kok malah berdiri terus sih. Ayo mari silahkan duduk."
Papa mempersilahkan semua tamuanya untuk duduk. Mereka menyambut hangat kedatangan orang tua Indra.
Raut wajah Indra dan Kinan yang awalnya tegang pun kini sudah berubah menjadi perasaan senang.
Mereka pun saling mengobrol dengan santai. Membicarakan tentang masa lalu, keseharian mereka dan rencana pernikahan anak anak mereka.
"Gimana kalo pernikahan mereka di adakan besok lusa??" saran Bapak.
"Be...besok lusa??" ucap Kinan terkejut.
"Iya." jawab Bapak.
"Apa itu nggak terlalu cepat??" sangkal Kinan.
"Lebih cepat, lebih baik Nak." imbuh Papa.
"Biarkan Kinan berfikir lebih dulu Pah." saran Mama. "Karena meskipun hanya nikah agama, tapi kan tetap saja statusnya akan menjadi seorang istri."
"Tapi nikah agama itu kan hanya sementara. Toh setelah ini mereka akan langsung mengajukan pernikahan di Batalyon." imbuh Ibu.
"Lagian juga setelah mereka nikah, mereka masih tinggal masing masing kok. Sambil menunggu pengajuan pernikahannya selesai." ucap Papa yang berusaha menenangkan Mama.
"Terus untuk rencana pernikahannya, lebih baik kita adakan dimana?? Karena ini kan acara tertutup, kita nggak ingin nantinya malah ada kasus." saran Bapak.
"Kita adakan disini saja. Lebih aman. Toh dirumah sini nggak ada siapa siapa, palingan cuma ART saja." jawab Papa.
"Mungkin nanti yang saya undang cuma beberapa kerabat terdekat saja."
"Ohh ya udah kalo gitu." jawab Bapak.
Mereka pun larut dalam pembahasan pernikahan. Dan saat malam, keluarga Kinan mempersilahkan keluarga Indra untuk makan bersama mereka. Banyak hidangan yang telah tersaji di meja makan. Mereka pun menyantap makanan, di selingi dengan pembahasan yang tiada hentinya.
Setelah semua pembahasan di rasa cukup, mereka pun pamit untuk pulang.
"Kami pulang dulu ya." ucap Bapak berpamitan.
"Iya. Sampai ketemu dua hari lagi ya calon besan." ucap Papa.
"Hahahaha." Bapak tertawa.
Sebelum pulang, Bapak pun menepuk pundak sang Jendral. Dan kemudian naik ke dalam mobil.
Saat di dalam rumah.
__ADS_1
"Nggak nyangka banget bisa ketemu sama Hasan. Padahal dulu saat dia mengajukan pensiun dini, jujur Papa kaget. Karena dia itu salah satu lulusan Akmil terbaik, punya prestasi yang nggak bisa di ragukan. Ehh nggak taunya sekarang malah jadi pebisnis sukses." jelas Papa pada sang istri.
"Terus kenapa Indra nggak daftar perwira saja ya Pah??"
"Katanya sih karena Indra memang ingin usaha sendiri. Nggak mau nerima bantuan dari Bapaknya. Padahal kalo Papa lihat dari riwayat tesnya dia dulu, dia bisa loh masuk Akmil dengan mudah." ungkap Papa.
"Tapi ya entahlah, tiap orang kan punya jalannya sendiri sendiri." imbuhnya.
Di lain tempat, terlihat Indra sudah sampai di penginapan.
"Pak, Bu. Aku pamit dulu ya??" ijin Indra.
"Iya, Nak. Hati hati di jalan." ucap Ibu.
"Oh iya Nak, jangan lupa besok kita harus menyiapkan mahar untuk Kinan." sahut Bapak.
"Baik, Pak. Besok aku akan beli maharnya." jawab Indra santai.
"Emang kamu tau apa aja yang harus di beli??" tanya Ibu.
Dengen tersnyum, Indra pun menggelengkan kepalanya.
"Ya udah kalo gitu besok kita keluar sama sama saja. Sekalian Ibu pengen belikan sesuatu juga untuk calon mantu." ujar Ibu.
"Nggak usah Bu. Ini kan pernikahannya aku, jadi aku mau semua mahar biar aku yang nanggung. Lagian yang namanya mahar itu kan pemberian dari calon suami, bukan dari calon mertua." jelas Indra.
"Tapi Nak....."
"Ibu nggak usah kuatir. Aku punya tabungan kok. In Shaa Allah cukup." jawab Indra seraya tersenyum.
Setelah berpamitan pada orang tuanya, Indra pun kembali ke mess ajudan. Disana terlihat ada Erwan yang sedang asyik memainkan ponselnya.
Melihat Indra yang datang dengan aura yang bahagia, Erwan pun penasaran.
"Kamu kenapa?? Kayak orang habis kesambet aja." celetuk Erwan.
Dia pun mengambil minuman yang ada di meja.
"Aku mau nikah, Wan." jawab Indra tegas dengan mata yang berbinar binar.
Sontak Erwan pun tersedak, air yang tadi ada di mulutnya tak sengaja menyembur keluar saat mendengar jawaban Indra itu.
"APAAAA?!!!!" ucap Erwan.
"Ihh, apaan sih. Jorok banget." ejek Indra.
"Aku mau nikah." jawab Indra jutek seraya membersihkan bajunya yang terkena semburan Erwan.
"Nikah sama siapa?!!!! Jangan bilang nikah sama si anak Jendral itu?!!!!"
"Terus mau sama siapa lagi?!!!"
"Gila kamu, Ndra!!! Bisa bisanya kamu nikah sama anak perwira tinggi. Kamu habis apain anaknya orang woiii?!!!" ucap Erwan sembarangan tanpa ada saringannya.
"Ngarang aja?!!!" Indra menepuk keras pundak Erwan.
"Lah terus apa alasannya kok bisa tiba tiba menikah gitu?? Kalo nggak ada sesuatu, nggak mungkin tiba tiba menikah kan??"
"Emang semua yang tiba tiba harus ada alasan yang negatif gitu??" tanya Indra balik.
"Ya nggak juga sih, cuma heran aja kok bisa tiba tiba dia mau nikah sama kamu."
"Emang aku kenapa??" Indra heran.
"Ya kan secara kamu bukan tipe orang yang selevel sama dia."
"Cinta itu tidak memandang level, Wan. Apapun pangkat dan jabatanmu kalo Allah sudah berkehendak, semua bisa terjadi. Kun fayakun." jelas Indra.
"Ya ellah, baru juga beberapa hari ini sholat di masjid. Udah mau sok jadi pak kiyai aja. Ya udah besok tak daftarin jadi pengisi khotbah jumat deh." canda Erwan.
"Heheheh." Indra tertawa. "Memang ya, yang namanya cinta bisa merubah apapun."
"Hadehhh, yang lagi kasmaran. Sono pergi jauh jauh sana. Geli aku ngeliatnya." celetuk seorang jomblo.
"Hahahaha. Makanya cari istri juga dong, biar nggak kesepian." sindir Indra.
"Kamu beneran mau nikah sama Kinan, Ndra??!" tanya Erwan yang masih tak percaya.
"Iya."
"Kapan??"
"Dua hari lagi."
"Ehh, busyettt!!! Ekspress amat, Bro. Nggak sekalian aja besok, atau sekarang."
"Maunya sih gitu, tapi dua hari itu aja udah bikin Kinan keberatan sebenarnya."
__ADS_1
"Ya iyalah jelas keberatan. Nikah buru buru amat, seakan akan besok mau kiamat aja."
"Jangan besok kiamatnya, ntar aja kalo aku udah nikah sama Kinan." canda Indra seraya tersenyum.
"Hemm, makin gila nih orang?!!!" sindir Erwan.
"Emang kamu yang niup sangkakala, sampe bisa ngatur kapan mau kiamat?? Emang kamu punya orang dalam, sampe bisa ngatur kapan mau kiamat." imbuhnya.
Mendengar itu Indra hanya tersenyum, yang ada di pikirannya sekarang adalah Kinan. Dua hari lagi dia bakal menjadi istrinya.
"Kalo kamu memang mau nikah, mana bukti undangannya??" tanya Erwan.
"Sementara ini kita nikah agama dulu, Wan. Sambil nunggu proses pengajuan nanti."
"Nikah sirih maksudnya??"
Indra menganggukkan kepalanya.
"Kamu tau sendiri kan bagaiman proses pengajuan di militer, sangat susah. Makanya itu akan lebih baik kalo aku menghalalkannya saja dulu. Biar nggak di ambil orang."
"Terus setelah nikah sirih, mau kamu tidurin tuh anak orang."
"Ya nggak lah. Meski kita udah nikah sirih, tapi kita tetap tinggal di tempat masing masing. Ya bisa di bilang kayak pacaran halal. Nanti aja setelah nikah Batalyon, baru deh bisa tancap gas." gurau Indra.
"Hadehh, yang kebelet nikah." celetuk Erwan.
"Tapi syukurlah kalo memang nggak tancap gas dulu."
"Kenapa emangnya Wan??" Indra penasaran.
"Karena kan nantinya pada tes kesehatan itu ada pemeriksaan keperawanan. Kalo kamu udah tancap gas duluan, takutnya akan jadi pertanyaan." jelas Erwan.
"Masa sih??"
"Iya. Kemarin aja kan ada tuh yang mau pengajuan nikah, dan ternyata pas di tes keperawanan udah nggak virgin. Tapi untungnya sih memang jebolnya karena lelaki itu, jadi nggak di perpanjang deh masalahnya." ungkap Erwan.
"Hemm." Indra baru paham.
Keesokan harinya, Indra bersama orang tuanya sedang sibuk mempersiapkan mahar dan seserahan untuk Kinan. Hari yang sangat sibuk bagi mereka semua. Karena semua di persiapkan secara dadakan. Dari makanan, gaun, mahar, seserahan semuanya hanya di persiapkan dalam waktu yang sangat singkat.
Bahkan sangking sibuknya, Indra dan Kinan sama sama tak saling kontak dalam seharian itu. Indra yang sibuk dengan semua persiapan. Dan Kinan yang juga sibuk dengan persiapan di rumahnya.
Terlihat Indra berada di sebuah toko perhiasan yang terkenal. Dia melihat lihat perhiasan yang cocok untuk calon istrinya itu. Sang Ibu pun berusaha membantu untuk memilih.
"Kamu tau ukuran jarinya??" tanya sang Ibu.
"Tau Bu. Sebelumnya, aku juga pernah memberinya cincin." jawab Indra.
Setelah lama memilih, akhirnya pilihan Indra pun jatuh pada perhiasan emas putih yang sangat cantik dan elegen. Dia pun membeli perhiasan itu untuk sang calon istri. Dia membungkusnya di dalam sebuah kotak merah yang mungil. Terlihat wajah Indra yang tersenyum.
Semoga kamu suka ya, istriku.
Jam pun berlalu dengan sangat cepat. Hari H yang mereka tunggu sudah tiba. Terlihat Indra memakai sebuah jas yang berwarna hitam. Sangat tampan dan gagah.
Nuansa pink salem dan putih mewarnai rumah Kinan. Banyak bunga cantik yang tertata disana.
Karena memang acara itu tertutup, hanya beberapa kerabat saja yang mereka undang. Bahkan Indra hanya mengajak Erwan, sebagai teman dekatnya. Dia memakai setelan kemeja batik yang berwarna coklat.
"Udah hafal belum ucapan ijab qobulnya??" tanya Erwan.
"Aku yang mau nikah, kok kamu yang ribet sih Wan."
"Ya, aku kan nggak mau kamu malu maluin. Mana depan Jendral lagi. Jangan sampe jantungmu copot." canda Erwan yang seakan paham jika Indra sangat gugup.
Erwan berusaha mengajak Indra sedikit bercanda untuk menghilangkan groginya.
Terlihat Indra melihat kesana kemari untuk mencari sesosok perempuan yang akan menjadi istrinya. Namun sepanjang mata melihat, tak ada sosok yang dia cari.
"Nyari siapa??" tanya Erwan.
"Kinan." jawab Indra.
"Dia nggak mungkin ada disini. Pasti dia sekarang masih ada di kamar."
"Ngapain??" tanya Indra heran.
"Nanti kalo udah selesai ijab qobul, baru deh dia keluar." jelas Erwan.
Tak lama berselang, sang penghulu pun datang. Semua tamu duduk.
Indra yang duduk di depan penghulu dan Papa Kinan, menjadi sangat grogi. Ada dua saksi di samping kanan dan kiri Indra.
Sebelum masuk ke prosesi ijab qobul sang penghulu memberikan beberapa wejangan pada Indra, wejangan yang sangat baik untuk rumah tangganya kelak.
Akhirnya prosesi ijab qobul yang di tunggu tunggu pun di mulai. Dengan tangan yang sudah dingin, dengan tegas Indra menjabat tangan sang Jendral. Dia melafalkan setiap kata ijab qobul dengan sangat lantang, dan hanya dalam satu kali tarikan nafas.
"SAHHHH!!!!" ucap semua orang serentak.
__ADS_1