Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Terjebak (4)


__ADS_3

"Aku takut pria lain bisa mengalihkan pandanganmu dariku. Aku takut kehadiran pria lain membuatmu menjauh dariku." ucap Niko yang tak bisa menahan perasaannya yang begitu besar untuk Kinan.


Mendengar itu, emosi Kinan mulai mereda. Tubuh yang tadinya berusaha keras menolak pelukan Niko, kini sudah mulai melemas.


Dia pun merasakan detak jantung Niko yang berpacu sangat cepat.


"Maafin aku ya. Aku tau aku salah." ucap Niko lembut dengan posisi yang masih memeluk Kinan. Kinan pun hanya mengangguk. Pelukan Niko semakin erat, dia seakan enggan melepaskan tunangannya itu.


Tak beberapa lama berselang, Niko pun melonggarkan pelukannya. Dia menatap hangat sang tunangan. Mengusap lembut pipinya, dan tersenyum. Kinan pun membalas senyuman itu.


"Maafin aku ya." ucap hangat Niko.


"Iya." jawab Kinan tersenyum.


"Boleh aku cium keningmu??" ijin Niko.


Kinan sejenak terdiam, namun beberapa saat kemudian dia pun mengangguk. Melihat jawaban Kinan, Niko pun mencium lembut kening Kinan. Bukan hanya kecupan, tapi sebuah ciuman yang cukup lama. Hingga Kinan pun bisa merasakan sentuhan hangat bibir Niko yang menempel pada keningnya.


"Kalo cium yang lain boleh??" gurau Niko.


Kinan pun menatap tajam Niko.


"Iya, iya aku tau. Bercanda kok." jawab Niko. "Kalo gitu kita masuk ya?? Takut masuk angin kelamaan di luar."


Niko pun menggenggam tangan Kinan masuk ke dalam rumah.


"Bi, air hangat untuk Kinan sudah siap??" tanya Niko pada Bibi yang sedang menunggu mereka di ruang tamu.


"Sudah Mas." jawab Bibi.


"Ya udah kalo gitu kamu mandi dulu gih." saran Niko.


"Terus bajunya??" tanya Kinan saat melihat seluruh tubuhnya yang basah kuyup.


"Sementara pake baju kemejaku dulu saja. Besok aku pesankan kamu baju."


"Disini nggak ada baju perempuan??"


"Nggak ada. Kakak juga nggak pernah simpan pakaiannya disini."


"Bibi nggak ada baju buat aku??" tanya Kinan.


"Nggak ada Mbak. Bibi kan pakaiannya cuma kayak gini aja." jawab Bibi menunjukkan pakaian sewek atau jarik yang sedang ia kenakan.


"Kamu mau pakai jarik??" goda Niko.


"Nggak lah." tegas Kinan.

__ADS_1


"Ya udah pake kemejaku aja dulu. Besok pagi aku belikan baju." saran Niko.


"Ya udah deh kalo gitu." jawab Kinan pasrah.


"Bi, tolong antar Kinan ke kamarnya ya??" pinta Niko.


"Kamu mau kemana??" tanya Kinan.


"Aku harus telpon orang tua kita dulu. Aku nggak mau mereka khawatir. Terutama orang tuamu, aku nggak mau mereka ngira kita lagi macem macem." jelas Niko. "Secara aku ngajak anak perempuannya jalan tengah malam, sampe nginep di vila lagi."


Mendengar penjelasan Niko, Kinan pun hanya mengangguk. Kemudian dia mengikuti Bibi menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


"Ini kamarnya Mbak." ucap Bibi membuka pintu kamar itu.


Sebuah kamar yang cukup besar dengan kamar mandi dalam. Di dalam kamar mandi itu ada sebuah bak yang sudah terisi air hangat.


"Air hangatnya sudah Bibi siapkan Mbak. Dan untuk bajunya, itu Bibi sudah siapkan di atas tempat tidur." ucap Bibi.


"Makasih ya Bi." sahut Kinan.


"Sama sama Mbak. Apa ada hal lain lagi yang di butuhkan mbak Kinan??"


"Nggak Bi, sudah nggak ada."


"Ya sudah kalo gitu Bibi tinggal dulu ya mbak. Nanti kalo butuh apa apa, mbak tinggal panggil Bibi saja." pinta Bibi.


Si Bibi pun hanya mengangguk dan kemudian keluar dari kamar itu. Kinan pun bersiap untuk mandi. Dia melepas seluruh baju yang menempel di tubuhnya, baju yang basah kuyup terkena hujan. Dia pun membenamkan tubuhnya di dalam bak.


"Hangatnya." seru Kinan seraya menikmati air hangat yang menyentuh tubuhnya. "Udara disini memang bener bener dingin. Untung tadi Niko langsung ngajak aku masuk. Kalo nggak, bisa membeku aku di luar. Mana hujan lagi, udara jadi semakin dingin."


Di waktu yang sama, terlihat Niko sedang sibuk menelpon orang tua Kinan. Terlihat jelas dari ekspresi wajah Niko, jika orang tua Kinan sedang memarahinya.


"Iya Om, maaf." ucap Niko.


"Kamu jangan sampe melanggar ya?? Jaga baik baik Kinan." pinta Pak Rizal.


"Iya Om."


Dia pun menutup telponnya.


"Haaaa, mending cepat aku nikahin aja nih anak." gerutu Niko. "Nggak di apa apain aja udah cerewetnya minta ampun. Tapi nggak apa apa sih, dia kan calon mertuaku jadi harus sabar. Jadi sosok menantu yang baik." Niko pun tersenyum menyemangati dirinya sendiri.


Namun saat akan melangkahkan kakinya menuju kamar, tiba tiba saja mati lampu. Dia pun sontak mengingat Kinan yang takut akan kegelapan. Bergegas dia berlari menuju kamar Kinan.


Tokk...tokk...tok...


"Kinan. Kinan." berkali kali dia memanggil, namun tak ada jawaban. Niko pun langsung masuk ke dalam kamar itu yang ternyata tidak terkunci. Dia melihat sekeliling kamar menggunakan senter di ponselnya, namun kamar itu tampak kosong.

__ADS_1


Apa dia ada di kamar mandi ya?


Dia pun menuju kamar mandi.


"Kinan. Kinan. Kamu ada di dalam??" tanya Niko dari balik pintu, namun tak ada jawaban dari dalam. Karena semakin khawatir, dia pun membuka paksa pintu kamar mandi itu.


Dan terlihatlah seorang gadis yang sedang duduk ketakutan di dalam bak mandi. Dia membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.


"Kinan??" panggil Niko.


"Niko." ucap Kinan menangis saat mengetahui kedatangan Niko.


"Udah, udah. Nggak usah nangis. Aku udah ada disini kok, nggak usah takut lagi." ucap Niko yang berusaha menenangkan Kinan. Dia menggenggam tangan Kinan dan menghapus air mata di pipinya.


Merasa tidak nyaman dengan tubuh Kinan yang masih dalam keadaan telanjang bulat di dalam bak, dia pun mencari handuk.


"Sebentar, sebentar. Aku ambilkan handuk dulu ya??" ucap Niko. Dengan sigap Niko pun mengambil handuk yang sudah tersedia di dalam kamar mandi itu. Perlahan dia memberikannya pada Kinan.


"Pa...pa..pakai handuk ini dulu. Keringkan dulu tubuhmu biar nggak masuk angin." ucap Niko gugup.


Saat Niko akan keluar dari kamar mandi.


"Kamu mau kemana??" tanya Kinan.


"Ya.., aku nunggu diluar." jawab Niko.


"Tapi aku takut." Kinan yang merasa ketakutan.


"Ya udah, ini kamu pegang aja dulu." Niko memberikan ponselnya pada Kinan sebagai penerangan.


"Jangan jauh jauh." pinta Kinan.


"Iya. Aku di depan kamar mandi sini aja kok." ucap Niko. Dia pun menutup kembali pintu kamar mandi itu, dan menunggu Kinan di depannya.


"Huuu... Untung saja nih hati masih punya sedikit keimanan. Kalo nggak, mungkin bisa habis nih cewek malam ini." gerutu Niko.


Mana tadi sempat liat tubuhnya yang di dalam bak lagi. Sabar Nik, sabar. Meski nggak sekarang, nanti kamu juga bakal merasakannya kok. Sabar.


"Niko." panggil Kinan dari dalam kamar mandi.


"Iya."


"Minta tolong ambilkan baju yang ada di atas tempat tidur dong." pinta Kinan. Niko pun mengambil sebuah kemeja dan memberikannya pada Kinan.


Nggak usah pake baju juga nggak apa apa. Pikir Niko.


Haduhhh, mikirin apa sih aku ini?? Hei pikiran, bisa nggak sih sementara ini jangan mikirin yang macem macem dulu. Anak orang nih.

__ADS_1


Niko memukul mukul kepalanya sendiri.


__ADS_2