
Saat di ruangan Dokter Adam. Terlihat Kinan sedang duduk di sofa. Dan si Dokter Adam sibuk melihat keluar jendela, memandangi indahnya Kota Malang. Beberapa menit mereka hanya terdiam. Kinan pun mulai gusar.
Ini Dokter mau ngomong apa nggak sih? Aku kan masih ada kerjaan di IGD.
Tak lama berselang Dokter Adam memberikan segelas teh hangat di depan meja Kinan.
"Silahkan di minum." Kinan melihat itu sedikit cemas.
Melihat ekspresi Kinan yang cemas, Dokter Adam pun mulai bersuara.
"Minum aja. Nggak ada racun dalam teh itu." tegas Dokter Adam.
"Ii..iiya Dokter." jawab Kinan gugup. Namun dia masih tak bergeming, dia tak menyentuh sedikit pun teh yang di berikan Dokter Adam.
"Namanya Sinta."
Sinta?? Siapa?? Gadis kecil tadi??
"Dia anakku. Dulunya kami tinggal di Kota Bandung bersama mantan istriku. Dari kecil dia tidak mendapat cukup kasih sayang dari Ibunya. Ibunya terlalu sibuk dengan bisnis yang dia jalankan."
Sepertinya Anda juga sibuk deh. Sampai sampai anak lagi sakit aja nggak tau.
"Mantan istriku adalah wanita yang keras kepala. Dia wanita yang gila kerja, hingga anaknya pun tidak dia perdulikan. Yang dia perdulikan hanya bisnisnya yang harus terus berkembang. Dan pada suatu hari aku memergoki dia berselingkuh dengan pria lain di ruang kerjanya." jelas Dokter Adam. "Aku melihatnya bermesraan dengan pria lain. Saat itulah aku memutuskan untuk bercerai dengannya dan membawa Sinta bersamaku."
Kinan yang mendengar itu menjadi terharu. Air matanya hampir tumpah namun dia tahan.
Ternyata memang ada sesuatu di balik kehidupan Dokter yang terlihat dingin ini.
"Aku pikir dengan banyak memberikan hadiah dan mainan akan membuatnya sedikit terhibur. Namun apa yang aku pikirkan ternyata salah. Dia hanya butuh kasih sayang dari seorang Ibu."
"Apa mantan istri Dokter tidak pernah mengunjungi Sinta?"
"Tidak pernah. Bahkan hanya sekedar menanyakan kabar Sinta pun tidak. Dia seakan tidak memiliki anak. Sinta sama sekali tak di anggap oleh wanita ****** itu." nada bicara Dokter Adam semakin tinggi. Jelas dia sangat marah.
"Itulah kenapa Dokter Adam mengajak Sinta untuk pindah ke kota ini?"
"Benar. Aku ingin membuatnya sedikit demi sedikit melupakan wanita itu."
"Biarpun pergi ke ujung dunia pun, naluri seorang anak pasti akan merindukan ibunya Dokter." celetuk Kinan. "Apalagi dia seorang anak perempuan. Dia butuh sosok ibu di sampingnya."
"Iya. Aku tahu. Itu lah kenapa aku mencari pengasuh yang berpengalaman untuk benar benar bisa memberikan kasih sayang pada Sinta."
"Apa Dokter sudah menemukan pengasuh itu?"
"Sudah. Namun Sinta sama sekali tidak respect pada pengasuhnya."
"Ya udah kalo gitu Dokter Adam tinggal nyari istri baru lagi aja." jawab Kinan santai.
__ADS_1
"Heh?? Semudah itu kah?"
Kinan hanya mengangguk.
"Siapa yang mau sama saya??"
"Siapa sih yang nggak mau sama Dokter Adam?? Bahkan mungkin seluruh rumah sakit ini mau sama Anda. Secara Anda itu Dokter Spesialis, finansial sangat sangat mencukupi dan tidak akan kekurangan. Sudah punya rumah, apartemen, mobil. Dari segi wajah juga tampan."
"Menurutmu aku tampan??"
"Bukan menurut saya. Tapi menurut perawat perawat lain." balas Kinan.
"Ohh." jawab Dokter Adam cuek. Sejenak dia terdiam.
"Emang kamu sendiri mau sama saya??" tanya Dokter Adam tanpa ragu.
"Saya??" tanya Kinan terkejut.
"He em." ucap Dokter Adam.
"Ma...mauu apa maksudnya Dokter?" Kinan gugup.
"Mau jadi istri saya??"
Sontak Kinan terkejut akan pertanyaan yang di lontarkan Dokter Adam. Pertanyaan yang tanpa ragu keluar dari mulut dokter dingin itu.
Dokter Adam hanya mengangguk.
Kenapa tiba tiba mengatakan itu? Ini hanya ngeprank atau beneran serius? Tapi kenapa aku? Bukannya selama ini dia dingin padaku?
"Ma..maaf Dokter, saya tidak bisa." Kinan memberanikan diri.
"Kenapa?? Bukannya kamu bilang seluruh rumah sakit ini suka sama saya?? Kamu juga termasuk dalam bagian rumah sakit ini."
"Mungkin kecuali saya Dokter." jawab Kinan seraya tersenyum.
"Kenapa??" tanya Dokter Adam dengan mimik wajah yang berubah serius.
"Apanya yang kenapa Dokter?" Kinan semakin bingung.
"Kenapa kamu menolak?" tegas Dokter Adam.
"Hm..itu...saya hanya menganggap Dokter Adam sebagai partner kerja, tidak lebih. Dokter Adam adalah teman sejawat saya." jawab Kinan sopan yang tidak ingin Dokter Adam tersinggung.
"Sebenarnya sama saja kan. Hanya beda status saja. Kamu bisa tetap menjadi partnerku setelah menikah."
"Ma..maaf Dokter. Saya merasa tidak pantas. Mungkin ada perempuan lain yang lebih baik dari saya." imbuh Kinan. "Maaf Dokter, saya permisi dulu."
__ADS_1
Kinan hendak beranjak kabur dari obrolan yang menurutnya sangat menyesatkan.
"Saya belum selesai bicara." ucap Dokter Adam yang menghentikan langkahnya.
"Kamu mau apa?? Tinggal sebutkan saja, asalkan kamu mau menjadi istriku."
Seketika Kinan pun berbalik dan perlahan mendekat ke arah Dokter Adam. Dia ingin memperjelas semuanya.
"Kenapa harus saya Dokter??"
"Karena Sinta sendiri yang telah memilihmu." jawab Dokter dingin itu.
"Saya dan Sinta baru pertama kali bertemu hari ini. Bagaimana bisa dia memilih saya??"
"Tidak, ini bukan kali pertama Sinta melihatmu. Dia sudah sering memperhatikanmu diam diam. Dia sering datang ke rumah sakit ini tanpa sepengetahuanku. Dan kamulah perempuan yang selalu dia perhatikan."
"Bagaimana Dokter Adam tahu??"
"Dia yang cerita sendiri. Bahkan pengasuh dan sopir juga sudah angkat bicara mengenai Sinta yang diam diam menyelinap untuk datang kesini."
Berkali kali Kinan menghela napas.
"Jadi Dokter Adam meminta saya untuk menjadi istri karena permintaan Sinta?"
"Bukan. Tapi saya sendiri juga memilihmu."
"Kenapa??" tanya Kinan heran.
"Karena selama ini saya perhatikan kamu punya sifat yang lembut dan ke ibuan. Sangat cocok menjadi ibu bagi Sinta. Sifat sopan dan agamamu yang kuat menjadi hal paling dasar yang saya butuhkan untuk membangun kembali kegagalan rumah tangga yang dulu pernah saya alami." jelas Dokter.
Terlihat Kinan memijit keningnya. Pandangannya tidak fokus. Dia bingung harus menjawab apa.
"Akan aku berikan semua yang kamu butuhkan." tawar Dokter Adam.
"Saya tidak butuh apa apa Dokter. Saya bukan perempuan matre. Kalau pun Anda mau mencari istri, nanti biar saya bantu untuk carikan. Tapi bukan saya."
"Kenapa?? Apa kamu sudah punya kekasih??"
"Maaf Dokter, itu urusan pribadi saya. Saya permisi dulu."
Kinan pun berbalik dan pergi dari ruangan itu. Meski pun berkali kali Dokter Adam memanggil, namun Kinan tidak memperdulikan. Dia ingin segera lepas dari ruangan itu. Dadanya seakan sesak berada disana.
Kinan masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh mukanya. Dia melihat dirinya di kaca wastafel.
Apa apaan dia tadi? Kenapa ngomong gitu? Dan kenapa harus aku?
Kinan berusaha menenangkan pikirannya sebelum kembali ke ruang IGD.
__ADS_1