Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Perasaan Tersembunyi


__ADS_3

"Mas......."


"Tolong, kasih aku sedikit aja ruang." pinta Indra yang matanya mulai berkaca kaca.


"Aku nggak bisa ngasih harapan apa apa." ucap Kinan.


"Iya, aku tau. Tapi setidaknya tolong biarkan aku menjadi orang yang selalu ada di dekatmu. Jadi laki laki yang bisa kamu andalkan. Aku pengen selalu dekat sama kamu, biarpun hanya menjadi yang kedua." ucap lirih Indra.


"Maaf, aku tetap nggak bisa nerima perasaanya Mas Indra. Aku harap Mas bisa nemuin cewek yang akan menjadi jodohnya Mas kelak." ucap Kinan seraya menyingkirkan tangan Indra. Namun sekuat apa pun Kinan berusaha, tangan Indra tak mau lepas.


"Apa aku nggak bisa jadi yang kedua buatmu?? Aku nggak butuh jadi yang pertama kok, jadi yang kedua pun udah cukup buat aku." ucap Indra mengulang permintaannya.


"Maaf Mas." jawab Kinan singkat yang mewakili isi hatinya.


Kinan sudah tak bisa berkata apa apa. Segala penolakan yang dia ucapkan, selalu Indra patahkan. Bahkan tanpa ragu Indra mengajukan diri untuk menjadi kekasih simpanan Kinan. Tapi Kinan tetap tak bisa menerima perasaan Indra, selama ini dia hanya menganggap Indra sebagai seorang teman. Tidak lebih.


Setelah melewati perdebatan yang cukup lama, mereka pun kembali pulang.


Saat melewati luasnya padang pasir.


"Kamu tau, Kinan?? Bagimu, aku hanya seperti orang yang sendirian di luasnya padang pasir ini. Nggak terlihat sama sekali." ucap Indra.


Mendengar ucapan Indra itu, Kinan hanya terdiam. Dia bingung harus bersikap seperti apa. Dia juga bingung harus berkata apa agar tak melukai hati Indra.


Saat di dalam mobil, Kinan hanya bisa terdiam canggung. Dia menatap lurus ke depan. Dia tak berani menoleh ke arah Indra, meski pun saat itu dia merasa Indra seringkali menatap ke arahnya.


Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus ucapkan agar dia nggak tersinggung? Aduh, bodoh banget sih aku ini. Pinter dikit napa sih, Kinan.


Gerutu Kinan dalam hati.


Berkali kali Kinan berusaha menatap ke arah luar jendela, untuk menghilangkan rasa canggungnya. Namun tak berhasil. Ingatan tentang ungkapan perasaan Indra selalu tiba tiba muncul di benaknya.


Keheningan di dalam mobil pun pecah di saat Indra mulai mengeluarkan suaranya.


"Kita sarapan dulu ya??" ajak Indra.


"Ohh. Ehmm, nggak usah deh Mas. Kita langsung pulang aja." tolan Kinan sopan.


Mendengar itu, Indra pun menurut. Dia tidak ingin memaksa, karena dia paham saat itu Kinan sedang canggung berada di dekatnya.


Sesampainya di rumah Nenek, Kinan pun buru buru turun dari mobil. Dia enggan berbicara dengan Indra. Bukan karena dia sombong, namun dia hanya takut jika Indra akan membahas hal yang sama.


Melihat Kinan yang seakan menjauhinya, Indra pun menghela napas. Dia langsung kembali ke mess ajudan.

__ADS_1


Sesampainya di depan mess ajudan, dia melihat Erwan yang sedang asyik main bola dengan anak Sang Komandan.


"Habis dari mana kamu, Ndra?? Pagi pagi udah nggak kelihatan." celetuk Erwan.


"Habis dari Bromo."


"Dari Bromo??" Erwan terkejut. "Kok nggak ngajak ngajak sih??"


"Aku kesana bareng Kinan."


"Kinan?? Kamu beneran habis jalan sama dia??" tanya Erwan heran.


Indra mengangguk.


"Dia yang ngajak??" tanya Erwan.


"Iya." jawab Indra singkat.


"Ohh, syukurlah kalo gitu. Kirain kamu yang ngajak."


"Emang kenapa kalo aku yang ngajak??" tanya Indra heran.


"Ya kalo kamu yang ngajak, itu tandanya kamu ngajak dia kencan. Mana berani ngajak kencan anak Jenderal."


"Apaa?!!!!" Erwan terkejut. "Sebentar, sebentar. Kamu nembak dia maksudnya??"


Indra mengangguk.


"Gila kamu, Ndra. Dapat cadangan nyawa dari mana kamu?? Bisa berani kayak gitu." celetuk Erwan.


Namun Indra hanya terdiam, dia menatap Erwan dingin.


"Iya, iya. Maaf." sesal Erwan.


"Terus gimana jawabannya Kinan??"


Indra hanya menghela napas.


"Di lihat dari ekspresinya aja udah jelas pasti di tolak ya??" sahut Erwan.


Indra hanya terdiam.


"Ya jelas lah di tolak. Kamu tau sendiri kan dia itu siapa, dan kita ini siapa. Kita ini tidak lebih dari sekedar babu saja. Ehh, kamu malah bermimpi menggapai bidadari." ucap Erwan kasar.

__ADS_1


"Bukan. Dia nolak aku karena dia sudah bertunangan."


"Tunangan?? Sama siapa??" Erwan semakin terkejut.


"Sama Niko."


"Ohh, Niko yang waktu itu kamu ceritain??"


Indra mengangguk.


"Kalo itu mah nggak usah kaget lagi. Mereka sama sama selevel." ucap Erwan.


Namun untuk ke sekian lagi Indra hanya terdiam.


"Udah, Ndra. Lupain aja. Cari cewek lain. Toh perempuan di dunia ini bukan cuma dia, masih banyak." imbuh Erwan.


"Aku nggak bisa, Wan. Aku udah terlanjur sayang sama dia."


"Ya elah, Ndra. Gampang itu mah. Kalo kamu jalan sama cewek lain, lama kelamaan kamu pasti bisa lupain dia."


"Udah pernah aku coba, Wan. Bahkan aku pernah hampir terjerumus ke dunia malam hanya untuk sedikit melupakan dia, tapi semua nggak berhasil. Dia tetap masih ada di benakku."


"Terus kamu sekarang maunya giman?? Kamu mau jadi pebinor??"


"Mereka belum menikah." sahut Indra.


"Tapi kan sama aja. Dia udah punya tunangan, cepat atau lambat mereka akan menikah. Terus apa lagi yang mau kamu perjuangkan?? Ibarat kata nih ya, kamu tuh udah kalah di medan perang."


"Tapi aku belum memulai perang."


"Meskipun sudah mulai pun, kamu itu sudah di anggap kalah Ndra. Sainganmu nggak selevel. Bagai langit dan bumi. Kamu pakai pisau, dianya pakai granat. Ya kalah lah, Mas Bro." jelas Erwan yang seakan semakin menjatuhkan hati Indra.


"Tapi aku sayang sama dia." ucap Indra.


"Sayang sih sayang. Tapi cari orang yang sepadan juga lah. Masa kamu suka sama cewek yang levelnya jauh di atas kita, mana mau mereka melihat kita." ucap pedas Erwan.


"Sudahlah, Ndra. Sabar aja. Apa perlu aku carikan cewek??" tanya Erwan.


Mendengar kata kata itu, Indra pun kesal. Dia langsung masuk ke dalam kamar, meninggalkan Erwan yang ada di depan mess. Dia membaringkan tubuhnya di ranjang.


Apa yang harus aku lakukan biar aku dapetin kamu?? Aku nggak berharap banyak, sedikit ruang saja sudah cukup buat aku. Apa nggak bisa?? Apa nggak bisa sedikit saja menyisihkan ruang untuk aku tempati?? Bukannya kamu juga nggak mencintai Niko?? Terus kenapa menolak aku?? Kenapa tetap mau setia dengan Niko jika kamu nggak ada perasaan sama dia.


Keesokan harinya, Indra melakukan rutinitas seperti biasa. Dia pergi ke rumah nenek Kinan, dan mengantarnya bekerja. Tak ada obrolan yang spesial antara mereka berdua. Tak seperti hari hari sebelumnya. Kinan memilih lebih banyak diam. Kecanggungan antara mereka berdua masih lekat terasa.

__ADS_1


__ADS_2