Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Pindah Rumah


__ADS_3

Paginya, terlihat Indra dan Kinan mengantar kepergian orang tuanya dari teras depan rumah. Mereka membantu memasukkan barang barangnya ke dalam bagasi mobil.


"Hati hati ya Pak Bu, jaga diri baik baik ya disana." ucap Kinan sedih.


"Iya, Nak. Kamu juga jaga diri ya, jaga diri dari orang yang pengen mangsa kamu." goda si Ibu sembari melirik Indra.


Kinan pun hanya tertunduk malu mendengar ucapan Ibu mertua.


"Indra, jaga istrimu baik baik ya Nak. Jadilah suami yang selalu sayang, setia dan bertanggung jawab akan istrimu. Apapun yang terjadi, bicarakanlah baik baik dulu. Jangan mengikuti hawa nafsumu sendiri." saran Bapak.


"Baik, Pak." jawab Indra tegas.


"Nak, Papa dan Mama juga berangkat dulu ya?? Ada urusan mendadak di Surabaya. Nanti kami pasti akan berkunjung lagi ke rumah kalian." pamit Mama.


"Iya, Mah."


"Baik baik di rumah baru kalian. Nanti kalo pindahan dan butuh sesuatu, telpon aja Papa. Nanti Papa akan siap bantu kok Nak." pinta Papa.


"Iya, Pah." jawab Kinan tersenyum.


Setelah kepergian orang tua mereka, hanya ada tinggal dua sejoli pengantin baru itu yang sedang mengemas barang untuk di bawa ke rumah baru.


Indra sibuk memasukkan beberapa tas ransel besar ke dalam mobil.


"Ini udah semua??" tanya Indra.


Kinan mengangguk.


"Barang barangnya Mas yang di mess nggak di bawa juga??"


"Kemarin Mas sudah minta tolong Erwan untuk ngirim barang barangnya Mas langsung ke rumah."


"Ohh." jawab Kinan paham.


"Kalo gitu kita berangkat sekarang nih??" tanya Indra memastikan.


Kinan pun tersenyun. Mereka menaiki mobil menuju rumah barunya.


Selama dalam perjalanan.


"Karena kita baru pindahan, jadi kita harus beli beberapa bahan makanan." ucap Kinan sambil menulis di sebuah buku catatan kecil.


"Yang pertama tama dulu, kita harus beli bahan pokok." jelas Kinan sembari menulisnya di dalam buku catatan.


Indra tersenyum saat melihat sang istri yang sedang fokus menulis kebutuhan yang harus mereka beli setelah ini.


"Kemudian peralatan mandi." tulisnya lagi.


"Syukurlah peralatan masak kita udah hampir terpenuhi, jadi nggak perlu beli beli lagi." imbuh Kinan yang serius berfikir.


"Oh iya, ada yang kurang nggak Mas??" tanya Kinan.


"Ahh, Ehm. Adek bilang apa tadi??" ucapan Kinan membuyarkan lamunan Indra.


"Ihh, Mas nggak denger kata katanya Adek ya??" kesal Kinan.


"Bukan nggak dengerin, sayang. Mas cuma mikir aja."


"Mikir apa??" tanya Kinan penasaran.


"Mikir, kalo Mas beruntung udah memiliki Adek."


"Ihh, apaan sih?? Gombal." Kinan menepuk pundak Indra.

__ADS_1


"Emang bener kok, Dek. Apalagi perempuan secantik Adek ini, siapa sih yang nggak mau?? Cantik rupa, cantik juga hatinya. Bisa menerima Mas apa adanya yang seperti ini."


"Jangan ngomong gitu, Mas. Adek juga beruntung kok memiliki Mas. Mas itu lelaki yang bertanggung jawab, dan itu yang paling Adek sukai dari Mas."


"Beneran??"


"Iya." jawab Kinan tersenyum.


"Kirain Adek paling suka sama Mas di saat di atas ranjang." goda Indra.


"Ihh, mesum mesum." celetuk Kinan.


Indra pun tersenyum melihat istrinya yang cemberut itu. Namun cemberutnya itu tidak berlangsung lama. Indra kemudian menggoda kembali sang istri seraya mencubit lembut pipinya. Sungguh pemandangan yang membuat semua pasang mata iri melihatnya.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai ke rumah barunya. Dengan sigap Indra menaruh barang barang bawaan mereka ke dalam rumah.


"Kita langsung ke toko swalayan nih??" tanya Indra.


"Iya, Mas. Biar cepat kelar semuanya. Toh kita besok sudah harus masuk kerja. Jadi mau nggak mau, hari ini urusan rumah harus beres." jelas Kinan.


Tak menunggu lama, mereka pun pergi ke toko swalayan. Membeli semua barang barang yang tadi sudah Kinan tulis di buku catatannya.


Dan Indra, terlihat seperti anak kecil yang sedang mengikuti sang Ibu berbelanja. Tak sedetik pun Indra melepaskan pandangannya dari sang istri. Sungguh pemandangan pengantin baru yang romantis.


"Mas suka yang ini, apa yang ini??" tanya Kinan yang sedang menunjuklan dua merk shampoo pada Indra.


"Terserah Adek aja, yang penting berbusa." jawab Indra.


"Sabun cuci piring juga berbusa loh, Mas." canda Kinan.


Indra pun sontak langsung mencubit pipi sang istri, dan kemudian memeluknya dari belakang.


"Ihh, Mas. Jangan gini. Banyak orang yang liat loh." tegur Kinan karena malu.


"Biarin, suruh siapa Mas di suruh pake sabun cuci piring."


"Lagian, di tanyain serius jawabnya malah yang penting berbusa. Kan bener tuh?? Sabun cuci piring juga berbusa loh." imbuh Kinan.


"Kan nggak harus sabun cuci piring juga kali, sayang."


"Kalo Mas pake sabun cuci piring, berarti Adek juga pake dong??"


"Loh, kenapa Adek juga pake??" Kinan heran.


"Kita kan mandinya bareng, sayang." jawab Indra lirih yang bermaksud menggoda sang istri.


"Mas??!" ucap Kinan seraya melirik tajam sang suami.


Seketika Kinan pun mengambil shampoo yang biasa dia gunakan, dan kemudian cepat berlalu dari pandangan Indra.


"Adek, tunggu sayang." panggil Indra yang sedang mendorong troli yang kelihatan berat.


Namun Kinan enggan menoleh, dia malu.


"Sayang, tunggu Mas." ucap Indra yang berusaha mengejar sang istri.


Senyum nakal terpancar dari wajahnya. Indra paling suka jika godain istrinya. Hobi baru Indra.


Sesampainya di kasir, Kinan membayar semua belanjaannya. Ada tiga kantong plastik besar.


"Sini, biar Adek aja yang bawa ini." ucap Kinan mengambil kantong plastik yang agak ringan.


"Nggak usah, Dek. Biar Mas aja, itu berat."

__ADS_1


"Nggak berat kok, Mas." jawab Kinan seraya membawa kantong itu hingga parkiran.


Sesampainya di parkiran. Terlihat Indra kemudian melihat tangan sang istri yang tadi membantu membawa belanjaan.


"Tuh kan, apa yang Mas bilang. Merah kan tangannya." celetuk Indra saat melihat telapak tangan sang istri ada bekas merah.


"Nggak apa apa, Mas. Lagian setelah ini kan Adek bakal sering bawa belanjaan." jawab Kinan tersenyum. Indra hanya membalas dengan sebuah kecupan manis di pipi Kinan.


Sesampainya di rumah. Pengantin baru itu mulai berbenah. Menempatkan barang barang yang tadi sudah mereka beli. Indra pun memasang beberapa gorden yang belum terpasang, dan membetulkan instalasi listrik yang kelihatan tidak rapi. Bahkan dia memasang sebuah lampu tidur yang agak remang, dan menaruh difuser di sudut kamar mereka.


Ini baru yang namanya kamar pengantin. Lampu yang remang, gorden yang tertutup rapat, ruangan ber AC. Dan aroma difuser yang hangat. Sempurna. Gumam Indra yang seakan sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk nanti malam.


"Mas??" tiba tiba suara Kinan memanggilnya dari luar kamar.


"Iya, sayang." jawab Indra teriak. Dia pun bergegas ke tempat suara sang istri berasal. Ternyata sang istri berada di dalam kamar mandi.


"Kenapa, Dek??" tanya Indra yang baru muncul.


"Ini showernya kok nggak bisa nyala ya??" tanya Kinan sembari mengutak utik shower.


"Sini coba Mas liat." Indra pun beralih ke sisi atas shower. Melihat adakah yang rusak.


"Sepertinya masih bagus deh. Orang belum pernah kita pake kok." jawab Indra.


Dia pun mulai membetulkan pipa air yang menuju ke saluran shower, dan tiba tiba saja SHURrrr.....


Air dari shower pun meluncur deras dan membasahi Kinan yang berada di bawah.


"Mas, tutup. Tutup showernya." pinta Kinan sembari menghalangi air yang terkena wajahnya.


Dengan sigap Indra pun mematikan kran shower itu.


"Ahh, jadi basah kuyup kan??" celetuk Kinan sibuk mengusap wajahnya yang terkena air.


"Dek??!" panggil Indra manja.


"Iya, Mas."


"Ehm, jangan godain Mas dong."


"Godain apaan?? Orang Adek basah kuyup gini."


"Tuh, liat." tunjuk Indra pada tubuh Kinan.


Kinan pun melihat ke arah telunjuk Indra. Dan ternyata, tubuh Kinan jadi menerawang. Air yang tadi membasahi tubuhnya, membuat apa yang ada di balik baju itu malah terlihat semuanya. Bahkan warna b*a yang Kinan gunakan pun terlihat jelas.


Sontak Kinan pun menutupi tubuhnya.


"Ihh, Mas ini. Adek mau ganti baju dulu." ucap Kinan yang hendak beranjak. Namun tangan Indra lebih cepat menarik tangan Kinan. Menjatuhkan sang istri ke dalam pelukannya.


"Nggak usah di tutupin, Mas udah liat semuanya kok. Setiap inch tubuh Adek, sudah Mas jelajahi." goda Indra.


"Mas, Adek mau ganti baju dulu. Nanti kalo kayak gini terus, Mas juga bisa ikutan basah." tolak Kinan.


"Nggak apa apa, Mas sudah biasa basah barengan sama Adek." imbuh Indra.


Indra pun kembali melancarkan aksinya. Menciumi bibir Kinan dan kemudian langsung turun ke bawah dan melucuti baju Kinan.


Kini Kinan tak sungkan lagi melingkarkan tangannya di leher Indra. Bahkan suara suara nakalnya tak lagi dia tahan. Indra semakin liar menari di bagian bawah tubuh Kinan.


Dan untuk beberapa saat, Kinan pun mulai terpancing. Dia kembali berada di atas Indra.


"Hhaa, jangan gini sayang. Mas nggak bisa tahan kalo posisi ini. Hhhaa." ucap Indra.

__ADS_1


Namun Kinan tak menghiraukan, dia kembali menari di atas tubuh Indra. Membuat Indra benar benar tak bisa lagi menahan hasratnya untuk terus memberikan benih kehidupannya kepada sang istri.


.


__ADS_2