
Saat Indra hendak kembali ke mess dan melewati koperasi Batalyon, dia melihat sesuatu yang di butuhkan. Dia pun menyempatkan berhenti sejenak dan membeli sesuatu disana.
Sore harinya terlihat Indra sudah berada di rumah Kinan.
"Assalamuallaikum." ucap Indra seraya mengetuk pintu rumah Kinan.
Tak lama berselang.
"Waallaikumsalam." jawab Kinan membuka pintu.
"Udah siap??" tanya Indra melempar senyum.
Kinan menganggukkan kepalanya.
Indra pun masuk ke dalam rumah untuk berpamitan pada orang tua Kinan.
"Mohon ijin, Bapak. Saya mau mengajak Kinan keluar." ucap Indra.
Meski Kinan sudah jadi istrinya, namun Indra masih menghargai sang Jendral sebagai orang tua Kinan. Jadi selama Kinan masih tinggal bersama orang tuanya, Indra akan tetap meminta ijin pada sang Papa Kinan.
"Iya." jawab Papa.
"Papa beneran nggak ikut nih??" ajak Kinan.
"Papa nanti ada acara Nak, jadi nggak bisa ikut. Kalian hati hatilah di jalan." ucap Papa.
"Hemm, ya udah kalo gitu."
"Ndra, aku harap kamu menepati janjimu." tegas sang Papa.
"Siap, baik Bapak." jawab Indra.
Mereka pun bersalaman pada Papa dan Mama Kinan.
Mereka pun naik ke dalam mobil Kinan. Kinan sendirilah yang menyuruh Indra untuk membawa jalan jalan mertuanya itu dengan menaiki mobilnya.
Mereka pun menuju ke penginapan tempat mertuanya menginap.
"Assalamuallaikum, Bapak, Ibu." Kinan bersalaman pada mertuanya itu.
"Waallaikumsalam, Nak."
"Bapak sama Ibu udah nungguin dari tadi ya??"
"Nggak kok, Nak. Bapak sama Ibu barusan aja turun ke lobi." jawab Ibu lembut.
"Ya udah kalo gitu yukk kita berangkat, keburu malam." ajak Indra.
Mereka semua pun naik ke dalam mobil. Saat dalam perjalanan.
"Kinan kapan mau ke Sulawesi??"
"In Shaa Allah kalo ada waktu, nanti aku pasti kesana. Itu pun kalo Mas Indra ngajak." sahut Kinan seraya melirik suaminya itu.
"Loh, emang kenapa Nak?? Kinan nggak boleh ke Sulawesi??" tanya Ibu penasaran.
"Bukannya gitu Bu. Aku kan lagi kerja, nggak bisa seenaknya minta cuti. Nanti deh kalo aku ada cuti, aku pasti akan ngajak Kinan kesana." jawab Indra.
"Ehmm, ya udah deh kalo gitu. Ibu tunggu kedatangan Kinan ya." ucap sang Ibu berharap.
"Terus untuk pengajuannya, kapan kamu berencana akan mengurusnya Nak??" tanya Bapak.
"Secepatnya Pak. Mungkin mulai besok kami akan mengumpulkan berkas berkas yang di perlukan dulu. Besok pagi aku akan minta persyaratan pengajuan ke staf."
"Ya sudah kalo gitu. Lebih cepat, lebih baik. Bapak dan Ibu udah nggak sabar pengen dapat cucu dari kalian." sahut Ibu.
Kinan daan Indra yang mendengar hal itu jadi canggung. Terlihat Indra berkali kali berdehem, dan Kinan berusaha melihat keluar jendela untuk membuang mukanya yang sedang merona.
Ngapain Ibu ngomong gitu sih?? Jadi canggung kan jadinya. Gumam Indra.
__ADS_1
"Ehmm, kita...kita mau kemana nih?? Bapak Ibu apa ada tempat yang ingin di kunjungi??" tanya Indra berusaha memecah keheningan.
"Kemana ya, Pak??" tanya Ibu pada Bapak.
"Terserah kalian aja, Nak. Kami orang tua ngikut saja." jawab Bapak.
"Sayang." panggil Indra pada istrinya.
"I..,iiya Mas." Kinan masih belum terbiasa dengan panggilan itu.
"Gimana kalo kita ke Batu aja?? Disana kan banyak tempat tempat bagus." saran Indra.
"Boleh juga, Mas." Kinan menyetujui.
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke Batu.
"Oh iya, katanya Kinan kerja di rumah sakit ya??"
"Iya, Bu. Saya kerja di rumah sakit daerah Malang."
"Jadi tiap hari pulang pergi atau punya rumah disana??"
"Tiap hari pulang pergi, Bu."
"Loh kok pulang pergi sih?? Kan bahaya." sahut Ibu kuatir.
"Kinan kan punya sopir Bu, bukan dia sendiri yang bawa mobil." jawab Indra menyela.
"Sopirnya cowok?? Masih muda??" Ibu menyelidik.
"Nggak Bu. Dia sudah setengah tua kok." bela Indra.
"Ohh ya udah kalo gitu. Berarti aman."
"Aman gimana maksud Ibu??"
"Dulu katanya Indra ini juga pernah jadi sopirnya Kinan ya, Nak??" tanya Ibu pada Kinan.
"Iya, Bu."
"Lah itu makanya. Gara gara jadi sopirnya Kinan, Indra malah kepincut kecantikanmu. Akhirnya ngajak buru buru nikah deh. Judulnya tuh Cintaku Kepincut Anak Majikanku." gurau Ibu.
"Ihh, Ibu??!!!" ucap Indra yang menahan malu.
Kinan pun hanya tersenyum mendengar gurauan sang mertua.
Ternyata mereka sangat ramah dan lucu. Pikir Kinan.
Selama perjalanan tak ada kontak fisik yang berarti antara Kinan dan Indra. Bahkan bisa di bilang saat dalam perjalanan, mereka jarang berbincang satu sama lain. Hanya terlihat Indra yang sesekali melirik ke arah sang istri.
Entah karena canggung di dekat orang tua Indra, atau memang hubungan mereka yang memang tidak sedekat yang orang tua Indra bayangkan.
Ibu pun memberi kode pada Bapak. Seakan Ibu berkata 'Mereka kenapa sih Pak?? Kok diem dieman gitu. Kayak bukan pengantin baru aja.'
Namun Bapak hanya menaikkan pundaknya sebagai tanda bahwa beliau tidak tahu menahu tentang sejauh mana hubungan kedua insan itu.
Tak beberapa lama berselang, mereka pun sampai di sebuah tempat makan yang sangat asri. Tempat makan yang di kelilingi sawah nan hijau. Salah satu tempat makan yang menarik wisatawan dengan keindahan sawah yang berada di sekitarnya.
Tempat makannya pun sangat tradisional. Ada beberapa pondok atau saung yang berada disana.
"Wahh, bagus sekali pemandangannya." Ibu takjub.
"Kamu pernah kesini, Nak??" tanya Ibu pada Indra.
"Pernah. Dulu pernah di ajak makan sama Komandan, ajudan yang lain pun juga di ajak." jawab Indra.
"Ayo kita masuk." ajak Indra.
Saat hendak menuju meja resepsionis, terlihat Kinan berjalan mendahului Indra. Indra yang melihat itu pun berusaha mengejar, dan menggapai tangan Kinan.
__ADS_1
Kinan pun sempat terkejut. Dia melihat sekeliling.
"Mas??" ucap Kinan.
"Kenapa??" Indra heran.
"Lagi banyak orang." jawab Kinan malu malu.
"Ya biarin aja. Kita kan udah nikah, perduli amat sama mereka." cuek Indra.
Dia pun langsung menarik Kinan masuk ke dalam tempat makan itu. Tak sedikit pun Indra melepaskan tangan sang istri. Bahkan saat memesan makanan pun, Indra masih tetap memegang tangan Kinan. Hingga tak sedikit orang disana yang melihat mereka. Bapak dan Ibu yang melihat mereka pun jadi senyum senyum sendiri.
Setelah memesan makanan, mereka pun duduk di sebuah saung yang berada di dekat kolam ikan.
"Kita foto disana dulu ya??" ajak Indra.
"Nggak usah. Kalian berdua aja yang foto, kalian kan pengantin baru." jawab Ibu menggoda.
"Iya nih. Ini kan masih masa masa honeymoon nya kalian." imbuh Bapak.
Mendengar itu, Indra pun tersenyum. Seketika dia langsung menarik Kinan ke sebuah tempat yang memang di peruntukkan untuk spot foto.
"Ayo kita foto dulu, Dek." ajak Indra.
"Aku malu." ucap Kinan polos.
"Adek malu foto sama Mas??"
"Bukannya gitu Mas, tapi kan disini lagi banyak orang. Pada ngeliatin kita lagi."
"Udah, biarin aja." cuek Indra.
Dia pun langsung merangkul pundak Kinan dan tersenyum di depan kamera. Kinan pun mengikuti arahan Indra.
Setelah puas berfoto, mereka pun kembali ke saung dan menikmati makanan yang dia pesan.
"Udaranya sejuk ya?? Enak nih kayaknya kalo malam ini kita nginap di Batu sini." saran Ibu.
Mendengar kata kata sang Ibu, seketika Indra pun tersedak. Kinan yang melihat itu, buru buru memberikan suaminya itu segelas teh hangat yang ada di meja.
"Kenapa sampe tersedak gitu sih, Nak?? Makanya hati hati kalo makan." ucap sang Ibu.
"I..ii...iya Bu." jawab Indra gugup.
"Gimana menurutmu??" tanya Ibu balik.
"Apanya yang gimana Bu??" Indra pura pura tidak paham.
"Ya gimana kalo malam ini kita nginap aja di Batu sini. Udaranya sejuk loh, Ibu jadi pengen berlama lama disini." ucap sang Ibu.
Sebenarnya sang Ibu tahu Indra dan Kinan pasti menolak usulan itu, karena dari awal mereka pun berkomitmen untuk tidak melewati batas dulu sebelum pengajuan nikahnya selesai. Namun Ibu terpaksa mengambil jalan itu, agar hubungan Indra dan Kinan semakin dekat.
Karena sedari tadi dia melihat, jika mereka sama sekali belum terlalu dekat. Bahkan Kinan seperti masih canggung jika berada di dekat Indra.
"Bu, Ibu udah pasti tahu kan apa jawabanku??" tanya Indra balik.
"Iya, Ibu tahu. Tapi apa salahnya sih hanya menginap semalam saja. Nanti biar Bapak yang bilang sama Papanya Kinan." sahut Ibu.
"Bu, kita nggak bisa nginep gitu aja. Apalagi Kinan nggak bawa baju ganti, Bapak dan Ibu juga kan??" Indra berusaha memberi alasan.
"Baju sih gampang. Disini pasti ada toko baju kan?? Kita tinggal beli aja, nanti biar Bapak yang bayarin." Ibu semakin ngeyel.
"Bu, tolong hargai keputusan kami." pinta Indra.
Mendengar perkataan Indra itu, sang Ibu pun terdiam.
"Sudahlah Bu, sabar. Nanti juga kalo udah waktunya tiba, mereka pasti akan memberikan kita cucu yang lucu lucu." Bapak berusaha menenangkan Ibu.
Kinan yang melihat sedikit perdebatan itu hanya bisa terdiam. Terlihat jelas jika Indra sangat membela Kinan, dia benar benar menepati janjinya untuk tak melewati batas.
__ADS_1