
Kinan pun membantu membopong tubuh Indra ke teras belakang. Tak lupa dia membawa kotak P3K. Dengan perlahan dia berusaha merawat luka Indra.
Dia merawat luka Indra seraya menatapnya tajam.
"Kalo mau gila, bukan kayak gini caranya." suara Kinan memecah keheningan di antara mereka.
"Aku hanya ingin bertanggung jawab tentang apa yang sudah aku perbuat."
"Bertanggung jawab apa?? Tidak ada yang perlu di pertanggung jawabkan. Bahkan menurutku hal yang kemarin itu udah nggak perlu di bahas lagi." ucap Kinan seraya mengobati luka di pelipis Indra. Luka yang sedikit terbuka, sepertinya itu adalah luka akibat dari pukulan tongkat golf.
"Kenapa nggak perlu di bahas??"
"Karena toh memang tidak terjadi apa apa di antara kita." Kinan masih fokus mengobati luka Indra.
"Meskipun tidak terjadi apa apa, tapi saat itu aku udah melakukan kesalahan besar. Dan aku mau tetap bertanggung jawab."
Mendengar jawaban Indra itu, Kinan pun sengaja menekan luka lebam di pipi Indra. Sontak Indra pun memekik kesakitan.
"Auwhhh!!! Sakit Dek." protes Indra.
"Biarin." sahut Kinan kesal. Dia pun melanjutkan mengobati luka Indra.
"Tolong buka bajunya Mas." ucap Kinan.
"Mau ngapain??" tanya Indra heran.
"Nggak usah berfikiran yang macem macem, aku cuma mau ngobatin luka di tubuhnya Mas saja." jelas Kinan.
"Ohh." Indra pun bergegas membuka bajunya.
Seketika terpampanglah tubuh Indra yang tegap dan kekar. Dadanya yang bidang membuat semua wanita pasti meleleh di buatnya. Kinan pun sempat canggung saat melihat tubuh Indra. Namun dia berusaha profesional, dia berdehem beberapa kali dan kemudian melanjutkan mengobati luka di tubuh Indra.
Banyak luka lebam dan luka terbuka bekas dari pukulan sang Papa. Kinan tidak tega harus melihat banyaknya luka yang di derita oleh Indra. Tak terasa matanya mulai berkaca kaca.
"Dek." panggil Indra dengan tatapan serius.
"Hem." jawab Kinan yang sedang serius mengobati luka Indra.
"Adek lagi nangis ya??" tanya Indra yang tak sengaja melihat tetesan air mata jatuh dari pelupuk mata Kinan.
"Nggak." jawab Kinan berbohong.
Namun Indra hanya tersenyum.
"Jangan nangis. Mungkin ini hukuman yang harus Mas terima karena berani mencintai anak seorang Jenderal." ucap Indra seraya tersenyum.
"Mas nggak seharusnya mendapat perlakuan seperti ini." sahut Kinan yang langsung menatap sedih mata Indra. Indra pun kembali membalasnya dengan tersenyum.
"Mas ikhlas kok nerima perlakuan seperti ini."
"Mas. Mas bisa mendapat perempuan yang jauh lebih baik dari aku, Mas juga pasti akan bisa mendapatkan perempuan yang bisa membalas perasaannya Mas."
"Gimana kalo yang aku mau cuma kamu, Kinan??" ucap tegas Indra. "Apa kamu nggak percaya kalo Mas sayang sama kamu??"
Namun Kinan hanya terdiam. Dia hanya menatap Indra sedih.
"Kasih Mas kesempatan untuk membuktikan rasa sayang ini."
__ADS_1
"Mas." ucap Kinan sedih.
"Apapun yang kamu ucapkan, Mas akan tetap mau bertanggung jawab. Apapun yang mau di katakan orang, Mas nggak akan peduli. Keputusannya Mas sudah bulat." tegas Indra.
"Kalo Mas tetap nekat, aku takut akan terjadi sesuatu yang buruk sama Mas. Belum lagi jika Niko tau, dia pasti akan makin brutal." Kinan kuatir.
"Nggak apa apa, asalkan kamu tetap berada di sampingnya Mas. Mas akan terima semuanya." ucap Indra.
"Mas, Mas itu nggak tau apa yang sedang Mas hadapi. Seperti halnya yang barusan terjadi, jika aku nggak datang mungkin sekarang Mas sudah pindah alam." celetuk Kinan.
"Iya. Mas tau kok."
"Mas itu nggak tau. Aku nggak bisa ngelindungi Mas setiap waktu."
"Mas nggak butuh di lindungi kok. Mas cuma butuh kamu tetap berada di sampingnya Mas, itu sudah lebih dari cukup untuk menjadikan support buat Mas." Indra berusaha menenangkan Kinan.
"Dek. Mas beneran serius mau nikahin kamu." imbuh Indra.
Terlihat Kinan menghela napas kasar. Dia bingung harus mengatakan bagaimana agar Indra mau menyerah dengan perasaannya itu. Dia pun juga tidak ingin kejadian seperti itu terulang kembali. Perasaan Kinan bercampur aduk, antara kasihan pada Indra dan takut pada orang tuanya.
"Jadi mulai sekarang janji ya??" ucap Indra.
"Janji apaan??" Kinan heran.
"Janji akan selalu berada di sampingnya Mas, apapun yang terjadi."
"Mas....."
"Cukup dengan di sampingnya Mas saja, kamu nggak usah berbuat apa apa. Oke??" ucap Indra seraya melayangkan senyuman manisnya.
"Aku boleh tanya satu pertanyaan Mas??"
"Kenapa sekarang Mas mau bersi keras nikahin aku?? Padahal kemarin kemarin Mas nggak seperti ini." Kinan penasaran.
"Alasan yang pertama, karena Mas memang beneran sayang sama kamu. Dan alasan yang kedua, karena Mas sudah menodai kamu. Setidaknya Mas sudah melihat tubuh kamu, makanya itu Mas bersi keras harus nikahi kamu." jelas Indra beralasan.
"Kamu cukup duduk dan melihat Mas memperjuangkan kamu." ucap Indra mengusap lembut kepala Kinan yang tertutup hijab.
"Perjuangannya Mas nggak akan mudah."
"Iya, Mas tau kok. Dan Mas akan tetap hadapi semuanya." tegas Indra seraya tersenyum.
.
Sepulang Indra dari rumah Kinan. Saat masuk ke dalam mess ajudan.
"Mukamu kenapa Ndra??" tanya Erwan.
"Nggak apa apa."
"Kamu habis berantem ya?? Berantem sama preman mana?? Sialan aja tuh preman." Erwan makin penasaran.
Namun Indra tak menggubris perkataan Erwan dan hendak masuk ke dalam kamar. Namun saat akan masuk, tiba tiba seseorang memanggilnya.
"Ndra." panggil seorang provost.
"Siap, Bang."
__ADS_1
"Kamu di panggil tuh sama Danton Deni."
"Danton Deni. Ada apa ya Bang??"
"Nggak tau. Coba kamu langsung kesana. Tadi dia ada di lapangan, mimpin apel malam bujangan."
"Ohh, siap Bang." jawab Indra.
Provost itu pun langsung pergi.
"Kamu punya masalah apa sama Danton Deni Ndra??" tanya Erwan.
"Nggak tau."
"Tumben tumbenan dia manggil kamu. Kayaknya selama ini kita nggak pernah deh punya urusan sama dia." imbuh Erwan.
"Ya udah lah, aku mau kesana dulu Wan." pamit Indra.
"Ehh tunggu dulu, kamu nggak lapor dulu ke Komandan Ndra."
"Lapor apa??"
"Lapor kalo kamu mau nemuin Danton Deni."
"Ngapain?? Kayak anak manja aja kemana mana harus lapor."
"Ya kali aja kan Komandan tau kenapa kamu sampe di panggil Danton Deni."
"Nggak usah, nanti juga tau sendiri." ucap Indra santai.
Setelah mengganti pakaian, dia pun bergegas pergi ke lapangan Batalyon. Namun dia tidak menemukan orang yang dia cari. Dia pun sempat bertanya pada para bujangan yang ada disana, mereka mengatakan jika Danton Deni sedang ada di barak. Saat di barak, Indra pun kembali bertanya. Ternyata Danton Deni sudah menunggunya di belakang barak.
Indra pun langsing berlari menuju belakang barak, terlihat disana ada beberapa senior yang berkumpul dan mengobrol santai.
"Ijin, Danton." ucap Indra pada seorang lelaki yang memakai celana training selutut.
"Sudah datang juga rupanya." ucap Danton Deni sinis.
"Siap." ucap Indra.
"Kamu tau alasan kenapa kamu di panggil kesini??"
"Siap, tidak Danton."
"Kamu tau kalo kamu punya salah??"
"Siap, Danton. Salah apa ya??" tanya Indra bingung.
"Jadi kamu nggak ngerasa punya salah?? Atau pura pura nggak bersalah??"
"Siap ijin Danton. Saya benar benar tidak paham." ucap Indra.
"Oke kalo gitu, akan aku kasih pelajaran agar kamu bisa paham."
Seketika para senior yang ada disana pun memukul dan menendang Indra habis habisan. Bahkan ada juga yang menampar wajah Indra.
Setelah puas. Danton Deni pun mendekati Indra.
__ADS_1
"Kamu melakukan kesalahan besar Ndra. Kamu sudah melalaikan tugas, bahkan kamu berani merebut tunangan seseorang. Seharusnya kamu paham jika hukuman ini belum sepenuhnya cukup untuk memberimu pelajaran." ucap Danton Deni berbisik di telinga Indra.
Indra yang mendengar itu, hanya bisa terdiam menahan sakit di sekujur tubuhnya.