Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Ojek Dadakan


__ADS_3

"Mbak Kinan."


Sebuah suara membuat Kinan berbalik. Terlihat seorang pria berjaket hitam dan menaiki motor Vixion merah sedang menyapanya.


"Om Indra." Ucap Kinan.


"Iya Mbak. Mbak Kinan ngapain ada disini??"


"Aku baru pulang kerja Om."


"Ohh, mbak Kinan kerja disini??" Tanya Indra seraya melihat lihat rumah sakit tempat Kinan bekerja.


"Iya. Om sendiri ngapain malam malam ada di sini??"


"Saya habis jalan sama temen mbak."


"Temen apa temen??" Gurau Kinan.


"Temen mbak." Jawab Indra tersenyum.


"Ohh, ya udah kalo gitu."


Kinan pun kembali mengecek ponselnya.


"Lagi nungguin seseorang ya mbak??" Tanya Indra penasaran.


"Iya nih Om, sopir jemputanku nggak datang datang dari tadi. Aku telpon juga nggak aktif nomernya. Padahal kata nenek, dia udah berangkat."


"Ohh." Indra sejenak berfikir. "Ehmm, apa boleh saya antar Mbak? Tapi ya gitu naik motor."


"Nggak usah deh Om, aku nggak mau ngerepotin."


"Nggak repot kok Mbak. Cuma mau bantu saja. Lagian bahaya kalo cewek pulang malem."


"Nggak deh Om." Kinan menolak.


"Mbaknya takut saya culik ya??" Canda Indra.


"Nggak kok." Jawab Kinan cuek.


"Jangan kuatir Mbak, saya nggak akan mungkin berani macem macem kok. Mana berani saya macem macem sama anak Jenderal." ucap Indra.


Kinan sejenak berfikir.


"Apa gini aja Mbaknya lapor sama Bapak Panglima saja dulu. Bapak kan tau saya dinas dimana, jadi nanti Mbaknya tidak perlu kuatir lagi." Saran Indra.


Namun Kinan tetap tak bergeming. Dia masih bingung.


("Ikut apa nggak ya?? Tapi sampai kapan aku mau nungguin Pak Rachmat. Mana udah malem lagi.") Batin Kinan.


"Ya udah deh aku mau di anter. Tapi aku mau kirim pesan dulu ke Papa dan nenek." Ucap Kinan.


"Baik Mbak." Jawab Indra tersenyum.


Saat Kinan sedang sibuk mengirim pesan ke Papanya, tiba tiba saja Indra menyodorkan sebuah jaket padanya.


"Pakai ini Mbak." Ucap Indra seraya memberi jaket hitam yang tadi dia pakai.


"Buat apa?" Kinan heran.


"Mbak Kinan kan nggak pake jaket. Lagian udara malem disini dingin, jadi Mbak pake aja jaket ini."


"Terus Omnya pake jaket apa??" Tanya Kinan melihat Indra yang hanya mengenakan kaos oblong berwarna navy.


"Tentara sudah biasa kena angin malam Mbak."


Kinan hanya mengangguk.


"Pakai ini juga Mbak." Indra menyodorkan helm.


"Omnya pake apa??"


"Nggak apa apa."

__ADS_1


"Kalo ada operasi gimana??"


"Nggak ada operasi malam malam Mbak." Indra tertawa.


"Ya kali aja ada kan??" Kinan tersenyum.


Dia pun perlahan naik ke atas motor dan memakai helm. Dia menjaga jarak dari Indra.


"Jangan ngebut ya Om." Pinta Kinan.


"Baik Mbak."


Sesuai arahan Kinan, Indra mengendarai motornya dalam batas normal.


"Mbaknya sudah lama kerja disitu??"


"Nggak kok Om, baru baru ini aja."


"Ehmm."


"Omnya sendiri pasti tadi lagi ngedate kan?? Hayoo ngaku aja. Sekarang kan malam minggu." Canda Kinan.


"Nggak kok Mbak, cuma jalan sama temen aja."


"Hallah nggak usah malu malu deh Om. Namanya anak muda udah biasa gitu itu."


Indra hanya tersenyum tanpa menjawab candaan Kinan.


"Mbaknya sendiri kenapa malam mingguan di ruman sakit?? Bukannya Mbak juga anak muda??"


"Tadi lagi ada kerjaan om. Lagian aku juga nggak biasa keluar keluar gitu, apalagi kalo sama cowok."


"Kenapa Mbak?"


"Ya nggak apa apa. Cuma pengen menjaga aja."


"Menjaga apa Mbak?"


"Ya menjaga keselamatan aku lah." celetuk Kinan.


"Salah satunya mungkin itu." gurau Kinan di sertai tawa.


"Lagian nih ya Om aku kasih tahu. Prinsipku itu jangan terlalu dekat sama cowok. Karena yang pasti, di antara laki laki dan perempuan tidak ada yang namanya murni persahabatan. Salah satunya pasti ada yang baper." Jelas Kinan.


"Jadi dari pada ada yang baper mending jaga jarak aja. Berteman seperlunya, mengobrol pun seperlunya." imbuh Kinan.


Sejenak kata kata itu membuat Indra terdiam. Seperti ada yang mengganjal di hatinya.


"Mbak udah lama kerja di Rumah Sakit itu?" Indra berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Nggak lama kok. Paling satu bulanan Om."


"Mbaknya tiap hari PP berarti ya?"


"Iya." jawab singkat Kinan.


"Padahal jarak dari sini ke rumahnya Mbak kan cukup jauh. Nggak capek Mbak?"


"Nggak sih Om, biasa aja." jawab Kinan santai. "Kan ada sopir yang ngantar."


"Ohh, yang namanya Pak Rachmat itu ya Mbak?"


"He em." jawab Kinan.


"Oh iya Omnya beneran nggak apa apa nih nganter aku pulang?" tanya Kinan yang merasa tidak enak.


"Iya Mbak nggak apa apa. Lagian kita kan satu jalur."


"Emang Omnya tinggal dimana?"


"Di Asrama Militer Mbak. Tinggal bareng sama Komandan."


"Satu rumah?"

__ADS_1


"Satu halaman, tapi nggak satu rumah Mbak."


"Ohh, jadi seperti bangunan yang berbeda gitu ya?"


"Iya Mbak." jawab Indra sopan.


"Beda sama ajudannya Papa dong kalo gitu."


"Mereka nggak tinggal di rumah dinas Mbak?"


"Nggak, mereka ngekost di dekat rumah dinasnya Papa. Jadi jadwalnya mereka atur sendiri."


"Ohh gitu."


"Ohh iya emangnya Komandan nggak ada acara kemana mana ya?? Si Omnya kok bisa keluar sih."


"Nggak Mbak, Komandan beserta Ibu sedang ada di luar kota sama sopir yang lain."


"Liburan?" Kinan penasaran.


"Bukan Mbak, mereka sedang mudik ke rumah orang tuanya yang di Solo. Mungkin sekarang sudah perjalanan pulang."


"Ohh, asli orang Solo?"


"Iya Mbak. Komandan asli Solo, kalo Ibu asli Medan."


"Solo?? Sama Medan?? Bisa ketemu gitu ya??"


"Ya, namanya juga jodoh Mbak."


"Iya juga sih. Kalo Allah sudah berkehendak ya, apapun bisa terjadi." sahut Kinan.


Setelah pembicaraan itu Kinan lebih banyak diam, entah karena cuaca malam yang dingin atau karena dia kelelahan.


Setengah perjalanan pun berlalu, hingga pada akhirnya Indra memberanikan diri membuka percakapan.


"Hmm, Mbak.. Hemm, Mbak Kinan nggak lapar?" ucap Indra gugup.


"Kenapa Om? Omnya lapar ya? Apa mau makan dulu?"


"Bu..bukan. Saya...hanya nanya kok mbak."


"Kalo Omnya lapar, nggak apa apa kita berhenti aja dulu cari makan." ucap Kinan yang khawatir.


"Ngg...nggak Mbak. Saya nggak lapar. Sa..saya cuma nawarin."


Mendengar kata kata Indra yang gugup itu membuat Kinan tersenyum dan mengerti maksudnya Indra.


"Iya Om, aku juga lapar." jawab Kinan yang pura pura terlihat lapar.


Mendengar itu Indra pun tersenyum.


"Mbak mau makan apa?"


"Apa aja deh Om, sesuai rekomendasinya Om saja. Om kan yang tahu wilayah ini." jawab Indra.


"Mbak mau makan di dalam ruangan apa di luar ruangan?"


"Maksudnya?" wajah Kinan tiba tiba berubah ekspresi, dia berfikir sesuatu yang negatif.


"Maksudnya apa Mbak pernah makan di pinggir jalan?" jelas Indra.


"Ohh, emangnya mau makan sih apa Om?"


"Mbak mau makan lalapan?"


"Lalapan?? Mau, mau. Yang ada sambelnya itu kan?" Kinan terlihat bersemangat.


"Iya Mbak."


"Oke, kita makan lalapan." seru Kinan.


Indra pun tersenyum melihat Kinan yang bersemangat.

__ADS_1


Sebenarnya Kinan tidak lapar. Dia hanya tidak enak jika menolak tawaran orang yang sudah berbaik hati mengantarnya pulang.


__ADS_2