Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Menghindar Dari Sebuah Rasa


__ADS_3

Indra berusaha memperbaiki suasana hatinya yang tadi sempat kalut. Namun saat berusaha menenangkan diri, tiba tiba saja sebuah telpon mengejutkannya.


"Halo." Indra menjawab telpon itu.


"Halo, Mas." suara seorang perempuan dari ujung telpon.


"Iya Nov, kenapa?" tanya Indra malas dengan posisi lengan yang masih menutup matanya. Dia seakan enggan membuka mata.


"Aku lagi suntuk nih mas, jalan yukk." ajak si perempuan di ujung telpon.


"Jalan kemana?"


"Kemana aja Mas, yang penting keluar deh. Mas sendiri lagi nggak pengen jalan kemana gitu??"


"Nggak tau. Nggak ada rencana mau kemana."


"Gimana kalo kita nonton aja Mas??"


"Emang ada film bagus??"


"Ada Mas. Film action terbaru, Mas kan suka film action." si perempuan seakan paham tentang Indra.


Sejenak Indra berpikir.


"Iya deh. Mau jemput dimana ini??" jawab Indra terpaksa.


"Di tempat biasa Mas."


Sebenarnya Indra malas untuk keluar, namun dia berpikir jika jalan dengan perempuan lain mungkin saja bisa menghilangkan perasaannya pada Kinan.


Aku harus pergi keluar. Semoga yang aku rasakan ini hanya perasaan sesaat saja.


Indra pun bangun dari pembaringannya dan bersiap untuk pergi.


"Mau kemana lagi Ndra??" tanya Erwan heran saat melihat Indra sedang bersiap siap untuk pergi lagi.


"Keluar sebentar Wan."


"Kemana?? Jalan sama cewek lagi??" tuduh Erwan.


Namun Indra tak menggubris kata kata Erwan dan bergegas pergi.


"Kalo pulang nanti aku titip belikan nasi goreng depan Batalyon ya?" ucap Erwan sedikit berteriak.


Indra pun menyalakan mesin motornya dan melaju untuk menjemput perempuan yang tadi menelponnya.


Tak lama berselang, Indra pun sampai di sebuah rumah dekat alun alun. Disana sudah berdiri seorang perempuan cantik dengan rambut panjang yang terurai. Dia mengenakan celana jeans dan kaos model V-neck yang ketat. Seorang perempuan yang modis.


"Hai." sapa perempuan itu dengan nada manja.


"Kita mau langsung nonton nih??" tanya Indra.


"Hemm, Mas maunya kemana dulu??" tanya si perempuan itu genit.

__ADS_1


"Terserah kamu aja."


"Gimana kalo kita makan dulu??"


"Aku masih kenyang." jawab Indra dingin.


"Yahh, Mas nggak seru. Masa kita mau nonton aja abis itu langsung pulang sih??" protesnya.


"Terus mau kemana?? Aku lagi capek. Barusan abis pulang dari Malang."


"Ooh gitu ya. Pasti capek ya Mas harus jadi ajudannya Komandan. Maaf ya Mas kalo aku ganggu waktu istirahatnya Mas." ucap si perempuan.


Namun Indra tetap tak bergeming. Banyak sekali yang ada di pikirannya. Tubuhnya ada disana, namun pikirannya masih terpaku oleh Kinan.


"Kalo gitu yukk kita berangkat aja Mas, keburu filmnya mulai." ajak si perempuan.


Perempuan itu pun naik ke atas motor dan berpura pura manja pada Indra. Namun Indra hanya diam.


Selama di atas motor, perempuan bernama Novi itu berusaha untuk merayu Indra dengan kata kata manjanya. Indra hanya membalas dengan senyuman.


Sesampainya di depan bioskop.


"Mas mau nonton apa??" tanya Novi.


"Terserah kamu aja, Nov." Indra pasrah.


"Kalo aku pengen nonton ini Mas." Novi menunjuk sebuah film action yang bercerita tentang balap mobil liar.


"Ya udah kalo gitu nonton itu aja." ucap Indra seraya mengeluarkan uang dari dompetnya.


"Disini saja." tunjuk Novi pada sebuah kursi yang berada di pojok.


"Nggak. Jangan di pojok. Di tengah tengah aja." Indra menolak.


"Ihh nggak seru Mas." sahut Novi.


"Ya udah kalo gitu kita nggak jadi nonton." ancam Indra.


Dengan wajah kesal, Novi pun mengiyakan kata kata Indra. Dia pun memilih tempat duduk yang berada di tengah, dengan banyak penonton di kedua sisi.


Saat berada di dalam bioskop. Sebelum film di putar, mereka pun menyempatkan diri untuk mengobrol.


"Mas kenapa sih??" tanya Novi heran.


"Apanya yang kenapa??"


"Mas beda tau hari ini." protesnya.


"Beda kenapa lagi??"


"Ya beda aja. Mas itu nggak pernah ancam ancam aku kayak tadi. Mas biasanya selalu nurutin maunya aku."


"Cuma perasaanmu aja. Lagian nggak enak juga kalo duduk di pojokkan. Nanti di kiranya kita lagi ngapa ngapain." jelas Indra.

__ADS_1


Mendengar itu Novi pun cemberut. Dia tidak suka dengan sikap Indra yang berubah itu.


"Kalo kamu nggak suka jalan sama aku, ya udah lain kali nggak usah. Aku malas jalan sama perempuan yang banyak maunya." sahut Indra.


"Kok ngomongnya gitu sih Mas??"


"Mas nggak suka jalan sama aku??" Novi mulai kesal.


"Aku cuma nggak suka sama perempuan yang rewel. Kalo mau ngajak jalan, ya jalan aja. Nggak usah pake acara rewel rewel segala." imbuh Indra dengan nada yang santai.


"Jadi Mas nyesal nih jalan sama aku??"


"Aku nggak ngomong gitu." jawab Indra dingin.


"Apa jangan jangan Mas lagi dekat sama perempuan lain??"


"Banyak." jawab Indra singkat. "Kamu tau sendiri kan, bahkan dari awal aku udah bilang kalo aku punya teman perempuan lain. Kalo masih mau jalan sama aku, hayukk. Kalo nggak mau, ya sudah. Dan kamu memilih untuk tetap jalan sama aku."


Terlihat Novi menahan emosinya. Berkali kali dia menghela napas.


"Iya, aku tau kok Mas memang punya banyak kenalan perempuan di luar sana. Tapi sekarang Mas itu lagi sama aku, jadi tolonglah cuma fokus sama aku."


"Aku bukan pacarmu, dan kita hanya sebatas teman."


"Teman?? Tapi kenapa saat malam minggu kemarin Mas mencium aku??" tanya Novi tidak terima.


"Dan ciuman itu bukan hanya sebuah kecupan. Kita melakukan ciuman bibir yang panas." Novi berusaha mengingatkan momen saat mereka melakukan ciuman liar itu.


"Ciuman bukan menandakan bahwa kita pacaran." tegas Indra. "Lagian saat itu kamu duluan yang memancing kan??"


"Aku ngelakuin itu karena aku sayang sama Mas. Aku bisa ngelakuin apa pun demi Mas." Novi semakin menjadi. Dia mulai meraba bagian paha Indra.


"Aku bisa ngasih apapun, apapun yang Mas mau. Bukan hanya sekedar ciuman seperti waktu itu." ucap Novi manja di dekat telinga Indra.


Hembusan nafasnya terasa sampai leher Indra. Tangan Novi pun mulai meraba bagian sensitif Indra. Namun Indra mencegahnya. Dia menahan tangan Novi dan menghempasnya.


"Maaf Nov, sepertinya kita salah mengartikan semuanya. Lebih baik aku pulang sekarang." ucap Indra seraya berdiri dari tempat duduknya.


"Loh Mas, tapi filmnya kan belum mulai." Novi mengejar Indra yang sudah bergegas pergi.


"Mas, tunggu dulu." panggil Novi yang mengikuti Indra keluar dari bioskop.


"Mas kenapa sih??" tanya Novi saat berhasil menangkap tangan Indra.


"Aku nggak apa apa. Aku cuma pengen pulang aja Nov, aku mau istirahat."


"Nggak. Mas pasti ada sesuatu kan?? Mas nggak mungkin kayak gini kalo nggak ada sesuatu."


"Mungkin iya."


"Kenapa?? Mas bisa cerita sama aku." suara Novi mulai merendah.


"Maaf tapi aku nggak bisa cerita sama kamu."

__ADS_1


Indra pun menaiki motornya dan bergegas pergi dari sana. Pikirannya di penuhi Kinan. Dia tak bisa berpikir jernih.


__ADS_2