
Saat di dalam kamar Kinan. Terlihat dia sedang membersihkan luka Indra.
Aduhh kenapa aku tadi keceplosan ngomong gitu sih?? Kenapa nggak di pikir dulu sih kalo mau ngomong?? Gimana kalo mas Indra menganggap ucapanku tadi serius?? Gimana kalo dia salah paham?? Padahal aku tadi hanya asal ngomong saja, biar Niko cepat pergi. Apa aku pura pura nggak terjadi apa apa saja ya??
Gerutu Kinan dalam hati.
"Ehemm.., tadi aku lihat kenapa Mas Indra nggak ngelawan?? Bukannya badan mas Indra lebih besar dari dia, seharusnya bisa dong melawan semua serangan Niko kan??" tanya Kinan sambil membersihkan luka di wajah Indra.
"Dia senior aku, nggak mungkin kalo aku ngelawan."
"Kalo mau ngelawan, ya ngelawan aja kan?? Toh dia duluan yang salah karena memukul mas Indra."
"Dalam militer nggak ada yang namanya salah atau benar. Jika senior mau, kita bisa di pukuli sesuka mereka."
"Kejam banget." celetuk Kinan.
"Nggak kejam sih, mungkin seperti itu cara mereka mendidik bawahannya agar tidak menjadi tentara yang cengeng." sahut Indra.
"Ouwh." jawab Kinan singkat.
Dia pun melanjutkan membersihkan luka di wajah Indra. Namun tiba tiba tangan Kinan terhenti saat membersihkan sudut bibir Indra, dia merasa canggung melihat bibir itu.
Sejenak mereka saling bertatapan. Jarak mereka sangat dekat. Kinan pun spontan menyingkirkan tangannya, namun di hentikan oleh Indra. Dia menahan tangan Kinan.
"Kenapa berhenti??" tanya Indra.
"Ouwh, itu, ehmm... Nggak apa apa." jawab Kinan ragu. Dengan perlahan dia pun melanjutkan membersihkan sudut bibir Indra.
"Apa yang kamu bilang tadi benar??" tanya Indra sontak membuat Kinan terkejut.
"Bi..bilang apa??" Kinan pura pura tidak paham.
"Bilang kalo kamu suka sama aku. Apa itu benar??" tanya Indra berharap.
"Maaf Mas, itu cuma bualan saja kok. Aku bilang gitu biar Niko cepat pergi dari sini." ucap tegas Kinan yang tak ingin membuat Indra banyak berharap.
Terlihat jelas dari wajah Indra jika dia kecewa. Padahal dia berharap sekali jika apa yang di katakan Kinan tadi benar.
__ADS_1
"Apa aku memang tidak ada sama sekali di hatimu??" tiba tiba pertanyaan itu muncul kembali.
"Aku udah pernah jawab sebelumnya Mas." jawab Kinan.
"Meski hanya sedikit apa nggak bisa??" Indra sedikit berharap.
Kinan hanya menggelengkan kepala. Melihat itu, Indra hanya bisa menghela napas.
Selesai membersihkan lukanya Indra, Kinan mencuci tangan di wastafel. Namun entah setan dari mana, tiba tiba saja Indra memeluk Kinan dari belakang. Pelukan yang sangat erat hingga membuat Kinan tak bisa bergerak.
"Mas, lepasin." pinta Kinan.
"Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa nempatin sedikit ruang di hatimu??" tanya Indra yang mulai frustasi.
Terlihat jelas dari pantulan kaca wastafel jika Indra sedih. Dia bagai orang yang kehilangan arah.
"Mas, tolong lepasin dulu. Kita bicara baik baik." ucap Kinan.
"Kalo memang aku nggak bisa dapetin sedikit hatimu dengan cara baik baik, mungkin dengan cara kasar baru bisa." ucap Indra.
"Maksudnya??" Kinan heran.
"Mas, tunggu. Mas mau ngapain??" Ucap Kinan panik.
"Padahal aku cuma butuh sedikit aja, apa itu terlalu sulit??" ucap Indra memelas.
Seketika Kinan pun lari dan beranjak menuju pintu, namun tidak ada kunci disana. Dia pun berbalik.
"Mas, jangan bertindak bodoh. Kembalikan kuncinya." pinta Kinan.
"Jauh sebelum ini aku juga udah jadi orang bodoh. Kenapa aku harus memiliki perasaan pada perempuan yang sulit aku gapai??" ucap Indra dengan langkah perlahan mendekati Kinan. Matanya mulai berkaca kaca.
"Mas, kembalikan kuncinya!!!" teriak Kinan.
Namun Indra tak mendengar teriakan Kinan. Dia pun mendekati Kinan, dan menariknya kembali ke ranjang. Dia pun menindih tubuh mungil Kinan. Memegang kedua tangannya, dan mengurungnya.
"Mas, lepasin!!! Tolong lepasin!!!" teriak Kinan. Dia berusaha berontak, namun cengkeraman tangan Indra sangat kuat. Kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan Indra.
__ADS_1
"Selama ini aku berusaha ngelupain kamu. Tapi semua usaha yang telah aku lakuin nggak ada yang berhasil." ucap Indra.
"Aku bahkan udah ungkapin perasaanku ke kamu, kenapa kamu malah tiba tiba menggantiku dengan sopir yang lain?? Kenapa kamu nggak bisa ngomong dulu ke aku?? Apa seperti ini caramu mencampakkan laki laki??" kata kata yang di iringi oleh air mata Indra.
"Maaf Mas. Akuu...aku... Bukan bermaksud seperti itu mas. Aku hanya ingin sedikit menjaga jarak saja."
"Menjaga jarak?? Tapi kenapa sampe ganti nomer?? Kamu bukannya mau menjaga jarak, tapi benar benar ingin menghilang dari Mas." sahut Indra.
"Mas. Aku ini mau tunangan, jadi tolong jangan bersikap seperti ini. Mas Indra yang aku kenal bukan orang yang seperti ini." pinta Kinan.
"Indra yang dulu kamu kenal sepertinya sudah menghilang. Aku sudah nggak kuat harus selalu sakit hati melihat kedekatan kamu sama Niko. Aku udah nggak bisa menahan sakit hati lagi, Kinan. Aku udah nggak bisa." jelas Indra yang tanpa henti matanya berlinang air mata.
"Mungkin memang dengan cara seperti ini aku bisa sedikit mendapatkan hatimu." ucap Indra.
Indra pun mulai menyerang Kinan. Tangannya merengkuh dagu Kinan, dan menciumi bibir Kinan. Kinan berusaha berontak, namun kedua tangan Kinan sudah di kuasai Indra.
Indra ******* habis bibir Kinan. Bibir ranum yang membuat Indra semakin candu. Terlihat ada cairan bening keluar dari sudut mata Kinan. Sekuat tenaga dia berusaha melepas tangannya dari genggaman Indra, seketika Kinan langsung menampar keras pipi Indra.
"Brengsek!!! Jangan berani berani sentuh aku!!!" bentak Kinan.
Namun perlakuan Kinan itu tak membuat Indra menyerah, dia kembali berusaha mengurung tubuh Kinan. Sekuat apapun Kinan berusaha, Indra sama sekali tak membiarkannya lolos.
Bahkan sekeras apapun dia berteriak, tak ada yang bisa menolongnya. Karena kamar itu di lapisi oleh kedap udara.
Kinan ingin menjangkau ponselnya, namun ponselnya berada jauh dari Kinan.
Karena sikap Kinan yang semakin berontak, Indra pun melepas hijab dan satu per satu membuka kancing baju Kinan. Tersingkaplah wajah Kinan yang tanpa hijab, wajah putih bersih dan rambut panjang terurai yang berwarna hitam legam. Membuat Kinan nampak sempurna.
"Jangan Mas?!! Tolong jangan?!!" pinta Kinan seraya menangis.
Melihat Kinan yang menangis, ada sedikit rasa tidak tega dalam hati Indra. Namun Indra sudah terlanjur tidak bisa berfikir secara jernih. Yang ada di pikirannya sekarang adalah bagaimana cara dia bisa mendapatkan Kinan.
"Kamu tenang saja, Mas pasti akan bertanggung jawab." ucap Indra berusaha menenangkan.
"Kamu tau dimana aku dinas, kamu juga tau jelas namaku dan siapa aku. Jadi aku nggak mungkin lari. Percayalah. Aku pasti akan tanggung jawab."
"Nggak Mas. Kita nggak bisa ngelakuin ini. Ini perbuatan zinah Mas. Tolong, hentikan." pinta Kinan memelas.
__ADS_1
"Iya, aku tau. Tapi ini adallah satu satunya cara agar aku bisa sedikit mendapatkan perhatianmu." ucap Indra.
Dia pun terus melancarkan aksinya. Indra mulai membuka kancing baju Kinan, dan menciumi bagian lehernya. Memberikan tanda merah di beberapa titik di leher Kinan. Kinan yang tak kuasa menahan kekuatan Indra, hanya bisa menangis. Air matanya keluar deras dari pelupuk matanya.