
Sinta memeluk erat Papanya.
"Loh kok udah pulang Nak?"
Namun Sinta terdiam, dia tidak berani mengatakan apa pun pada Papanya.
"Bicara sama Papa. Kenapa pulang secepat ini?? Udah selesai jalan jalannya?? Atau temen Papa itu nggak jemput kamu??" Dokter Adam memberondong anaknya dengan berbagai pertanyaan.
Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Sinta pun bercerita tentang apa yang terjadi. Dokter Adam mendengar gadis itu dengan seksama.
Saat sedang serius mengobrol, tiba tiba Kinan datang dan menerobos masuk ke dalam ruangan.
"Sinta??" panggil Kinan. "Dokter Adam, maaf." tegur Kinan pada seniornya itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi??" tanya Dokter Adam pada Kinan.
Kinan yang bingung dengan pertanyaan Dokter Adam hanya bisa terdiam. Kinan tidak tahu pasti kenapa gadis kecil itu tiba tiba merajuk dan langsung meminta pulang. Dia merasa sepertinya dia tidak melakukan kedalahan apa pun.
"Sinta, kamu bisa tunggu di luar dulu Nak? Papa mau bicara sama Kinan." ucap Dokter Adam pada anaknya itu. Sinta pun mengiyakan dan langsung keluar dari ruangan.
"Apa benar yang di katakan Sinta tadi??"
"Emang Sinta ngomong apa Dokter?"
"Dia bilang kalo kamu sudah memiliki kekasih." tegas Dokter Adam.
"Kekasih?? Siapa??" Kinan pun ikut heran.
"Kalian tadi tidak hanya berdua kan??"
"Iya. Kami tadi bertiga sama sopir saya." jawab Kinan.
"Apa sopir kamu itu kekasihmu??"
"Pffttt." Sejenak Kinan menahan tawanya. Dokter Adam yang melihat itu jadi heran dan memicingkan matanya.
"Kenapa?? Apa saya salah bicara??"
"Salah. Jelas salah." jawab Kinan yang masih menahan tawa. "Ceritanya nih Sinta ngira aku pacaran sama Indra gitu??"
"Indra?? Ohh, sopir itu namanya Indra." Dokter Adam langsung paham.
"Dia cuma sopir saya, tidak lebih. Dasar anak kecil ya, dia cemburu akan sesuatu yang tidak perlu." celetuk Kinan seraya tersenyum.
__ADS_1
"Bukan hanya dia yang cemburu, tapi saya juga." sahut Dokter Adam yang membuat Kinan mematung sejenak. Pikirannya langsung kosong. Senyuman yang tadi dia tunjukkan tiba tiba lenyap begitu saja saat mendengar ucapan seniornya itu.
"Apa yang saya katakan kemarin itu serius. Aku mau menjadikanmu istriku." tegas Dokter Adam.
Kinan berusaha menghela napas berkali kali untuk menghilangkan rasa gugupnya. Bukan karena di tembak orang yang dia cintai, tapi gugup karena di tembak oleh dokter killer.
"Maaf Dokter. Bukannya saya sudah bilang kalo saya hanya menganggap Dokter itu sebagai partner kerja saja, tidak lebih." jawab Kinan tegas.
"Kalo kamu memang tidak punya kekasih, kenapa tidak mencoba membuka hati untuk saya??" pinta Dokter Adam.
"Saya sedang tidak ingin membuka hati Dokter."
"Kenapa??"
"Itu urusan pribadi saya Jadi tolong jangan Dokter campuri." jawab Kinan dingin.
"Apa kamu membenciku??"
"Iya, sedikit." jawab Kinan singkat.
"Apa yang membuatmu membenciku??"
"Sifat Dokter yang mendominasi, keras kepala, sok paling berkuasa, paling mengerti segalanya dan terkadang dingin membuat saya sesak jika di dekat anda." jelas Kinan.
Dokter Adam menarik napas dalam dalam.
"Mungkin. Tapi bukan berarti saya akan menerima tawaran Dokter untuk menjadi istri anda."
Di tempat lain terlihat Sinta sedang berjalan menuju parkiran rumah sakit. Dia mendekat ke sebuah mobil dan mengetuk pintunya.
Tokk...Tok..
Si sopir mobil pun kemudian turun menemui Sinta.
"Hei, ada apa?" sambut Indra. "Mana Kinan??"
"Kakak lagi bicara sama Papa. Aku juga mau bicara sama Om."
"Bicara apa??" Indra heran.
"Ok suka kan sama kakak Kinan??" gadis kecil itu tiba tiba menanyakan sesuatu yang tak terduga.
"Su...Ssuk..suka??" Indra gugup. "Siapa bilang?? Ngg..nggak kok. Itu nggak mungkin."
__ADS_1
"Om jangan bohong. Dari cara Om memandang kak Kinan, udah kelihatan jelas jika Om memendam rasa kan??" celetuk gadis itu tanpa henti.
"Itu nggak mungkin. Saya hanya sopir, tidak mungkin saya suka sama majikan saya." jawab Indra.
"Benarkah?? Apa Om yakin??" Sinta berusaha meyakinkan Indra.
Tanpa ragu Indra mengangguk, padahal di dalam hatinya sedang bergejolak.
"Apa Om tahu, Papaku juga suka sama kak Kinan."
"Papamu??" Indra terkejut.
"Iya Papaku. Mungkin sekarang Papa sedang melamar kak Kinan." tegas Sinta seakan ingin membuat Indra cemburu dan menyadari akan perasaannya itu.
"Ya..itu..itu kan bukan urusan saya. Saya hanya sopir." Indra berusaha mengelak.
"Ya udah kalo gitu. Saya ingatkan ya Om, jika Om suka seseorang seharusnya Om katakan saja. Karena jika dia sudah menjadi milik orang lain, baru Om akan menyesal." saran gadis kecil itu yang segera berlalu meninggalkan Indra.
Tuh anak kecil ngomongnya kayak orang dewasa saja. Anak jaman sekarang cepat sekali dewasanya. Sampai bisa nasihatin orang dewasa.
Beberapa saat menunggu, Kinan pun datang dan masuk ke dalam mobil.
"Ayo berangkat Om." ajak Kinan.
"Sinta nggak ikut Mbak??"
"Nggak. Dia mau pulang sama Papanya." jawab Kinan yang masih kesal.
"Iya Mbak."
Indra pun langsung memutar mobilnya keluar dari area rumah sakit. Selama di mobil Kinan lebih banyak diam. Hingga akhirnya Indra memberanikan diri membuka percakapaan.
"Kita langsung pulang Mbak??"
"Iya deh Om." jawab Kinan malas.
"Baik Mbak."
Apa sebaiknya aku jalan jalan aja ya? Biar nggak suntuk nih pikiran. Lagian selama disini aku memang belum pernah jalan jalan.
"Ehh, tunggu Om. Mumpung kita disini mending kita aja yang liburan Om. Jauh jauh kesini kalo nggak liburan rugi." jelas Kinan dengan suasana hati yang berubah.
"Baik Mbak. Kita mau kemana??"
__ADS_1
"Ke Batu aja. Ke taman bermain yang tadi kita kunjungi." ajak Kinan.
"Baik Mbak." jawab Indra tersenyum.