
Beberapa saat kemudian, Kinan pun keluar dari kamar mandi dengan mengenakan sebuah kemeja. Kemeja yang terlihat besar di tubuhnya yang kecil. Kemeja itu hanya bisa menutupi tubuh Kinan hingga pertengahan paha.
Baru kali ini Niko melihat Kinan tanpa menggunakan hijab. Rambut yang terurai panjang sepinggang dan tubuh yang kelihatan seksi di matanya, membuat desiran yang tak terduga dalam hati Niko.
"Sudah??" tanya Niko mencoba menjernihkan pikiranya. Kinan pun mengangguk.
"Ya udah kalo gitu kamu sekarang istirahat." saran Niko.
"Kamu mau kemana??" tanya Kinan kembali.
"Ya aku mau keluar." jawab Niko santai.
"A..akk..akku takut." ucap Kinan lirih.
Namun Kinan hanya menunduk. Dia tidak mungkin menyuruh Niko untuk tetap tinggal di kamar itu. Dia benar benar takut akan kegelapan.
"Kamu nggak berani tidur sendiri??" tanya Niko yang paham jika sang tunangan itu sedang ketakutan. Kinan pun mengangguk.
"Ya udah kalo gitu aku temani sampai kamu tertidur." sahut Niko.
Dia pun menarik tangan Kinan dan mendudukannya di tepi ranjang.
"Udah ada aku disini, jadi nggak usah takut lagi." Niko menggenggam tangan Kinan. Kinan pun tersenyum.
"Ya udah kalo gitu sekarang tidur gih." ucap Niko seraya membaringkan tubuh Kinan.
Saat hendak menyelimutinya, tak sengaja mata Niko melihat gundukan kembar yang ada di dada Kinan. Desiran hebat tiba tiba langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
Sabar, sabar Nik. Sabar.
Dia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Niko pun duduk di lantai bersandar nakas. Saat hatinya mulai tenang, tiba tiba saja Kinan menyentuh tangannya. Membuat hatinya semakin bergejolak.
"Kamu belum ganti baju?? Nih bajunya masih basah." ucap Kinan.
"Belum. Tadi aku masih nelpon orang tuamu, saat mati lampu aku langsung lari kesini."
"Ya udah kalo gitu kamu ganti baju aja dulu." saran Kinan.
"Nggak usah, nanti aja nunggu kamu tertidur dulu baru aku ganti baju."
"Tapi nanti takut masuk angin, mending sekarang aja."
"Kamu mau aku ganti baju disini??"
"Ngapain disini?? Ya di kamarmu sendiri lah." jawab Kinan ketus.
"Emangnya kamu berani aku tinggal sendiri??" tanya balik Niko.
Mendengar hal itu, Kinan pun langsung nyengir dan menggelengkan kepalanya.
"Makanya itu aku nunggu kamu tidur, baru ganti baju." ucap Niko menegaskan.
__ADS_1
"Ya udah buruan tidur gih, udah lewat tengah malam ini." saran Niko.
"Ehh, tapi........."
"Udah, nggak usah cerewet. Tidur gih." seru Niko memotong pembicaraan Kinan.
"Tapi aku masih mau ngomong."
"Kalo nurutin kamu ngomong, sampe besok shubuh pun nggak akan selesai obrolannya." gurau Niko.
Kinan pun menatap tajam Niko. Dan akhirnya dia pun menuruti kata kata Niko. Dia memejamkan matanya. Niko bagaikan kakak untuk Kinan.
.
Keesokan paginya. Mereka sudah bersiap siap untuk pulang. Mobilnya pun sudah selesai di perbaiki.
"Mau mampir nyari sarapan dulu??" ajak Niko.
"Nggak deh, langsung pulang aja." tolak Kinan.
Di tempat lain, di rumah nenek. Terlihat Indra sedang membuka gerbang rumah Nenek. Nenek pun menyambutnya di teras.
"Assalamu'allaikum Nek."
"Wa'allaikumsalam." jawab Nenek lembut. "Kok pagi pagi sudah kesini?? Apa Kinan ndak ngabari kamu??"
"Ngabari apa ya Nek??" tanya Indra bingung.
"Belum pulang??" Indra heran.
"Iya, dari semalam dia belum pulang. Mobilnya Niko semalam mogok."
"Apa perlu saya jemput Nek??"
"Nggak usah. Habis ini mungkin mereka udah balik. Lagian Kinan baik baik aja kok, semalam dia nginap di vilanya Niko yang ada di Batu."
Nginep?? Berdua?? Bareng pria lain?? Dan pria itu adalah Niko, lelaki yang menyukai Kinan.
Indra pun sangat terkejut mendengar penjelasan Nenek. Bagaikan jatuh tertimpa tangga. Saat hatinya sudah sakit mendengar kabar pertunangan mereka, kini dia harus di hadapkan dengan kenyataan jika Kinan semalam menghabiskan waktu bersama Niko.
Tenang Ndra, tenang.
Indra menghela napas berkali kali.
"Ya udah nggak apa apa Nek, saya bersihkan mobil saja. Semalam lupa belum saya bersihkan." jawab Indra menahan sakit hatinya.
"Oh ya udah kalo gitu." ucap Nenek yang setelah itu dia kembali ke dalam rumah.
Indra pun mengawali kegiatannya membersihkan mobil Kinan. Dia berusaha keras menahan sakit hatinya, dia berusaha keras untuk tetap berfikir positif.
Selang beberapa saat, sebuah mobil berhenti di depan rumah Nenek. Indra pun mencuri pandang, dia mengintip dari balik mobil. Dia melihat perempuan yang dia sayangi turun dari mobil itu bersama dengan seorang pria. Ya, pria itu adalah Niko. Indra melihat mereka semakin dekat. Mereka saling menebar senyuman, tangan Niko pun seakan tak mau lepas dari Kinan. Bahkan Niko tak segan mencium kening Kinan sebelum berpamitan pulang. Seakan ada sebuah pisau yang menusuk langsung ke jantungnya. Membuat Indra kesulitan bernafas.
__ADS_1
Saat Kinan masuk, Indra pun pura pura kembali ke aktifitasnya.
"Loh, mas Indra kok disini??" tanya Kinan heran saat melihat Indra membersihkan mobilnya.
"Saya nggak tau kalo Kinan libur hari ini. Makanya saya datang kesini. Tadi saya di beritahu sama Nenek."
"Oh iya, aku lupa mau ngabari mas Indra. Maaf ya mas. Aku beneran lupa." sesal Kinan.
Mendengar itu, Indra hanya tersenyum kecut.
"Iya, nggak apa apa." jawab Indra dingin.
"Nanti kalo udah selesai bersiin mobil, mas Indra boleh langsung pulang kok."
"Iya."
"Ya udah kalo gitu aku masuk dulu ya Mas??" pamit Kinan.
Kinan pun masuk ke dalan rumah, meninggalkan Indra sendirian di garasi. Melihat Kinan yang semakin menjauh, membuat Indra ingin sekali memeluk dan mengejarnya.
Aku ada disini, Kinan. Kalo kamu membutuhkanmu, kamu bisa menelponku kapan saja. Aku ingin menjadi orang yang berguna buatmu.
Setelah selesai membersihkan mobil, Indra pun berpamitan.
"Saya pamit pulang dulu ya Dek?" ucap Indra pada Kinan yang sedang duduk santai di sofa.
"Oh iya Mas, terima kasih ya." jawab Kinan tersenyum.
Saat Indra hendak berbalik, tiba tiba saja.
"Oh iya, besok Mas ada acara nggak??"
"Nggak ada Dek."
"Kalo gitu besok kita ke Bromo yukk. Mumpung aku masih di kasih libur sama Bu Direktur. Gimana??" ajak Kinan.
"Iya Dek, nggak apa apa." jawab Indra tersenyum.
"Besok enaknya berangkat jam berapa ya??"
"Terserah Adek aja mau berangkat jam berapa. Tapi kalo mau liat sunrise, saran saya mending berangkat sebelum shubuh sekitar jam 3 malam." jelas Indra.
"Ehmm gitu ya." sejenak Kinan berfikir. "Oke deh kalo gitu kita besok ke Bromo. Jadi nanti malam jam 3 kita berangkat ya??"
"Iya, nanti jam 3 saya usahakan sudah ada disini." ucap Indra.
"Oke." jawab Kinan seraya mengacungkan jempol.
Indra pun bergegas pulang. Saat dalam perjalanan.
Akhirnya ada waktu juga kita berdua.
__ADS_1