
"Nih orang semenjak kasmaran, otaknya kayak agak bermasalah." celetuk Erwan. "Harus di bawa ke dokter nih."
"Ke dokter?? Ayukk, kita ke dokter Kinan aja." saran Indra seraya tersenyum.
"Nah itu kan bener. Di pikirannya cuma ada Kinan, Kinan terus." sindir Erwan.
"Hahahahah." Indra tertawa lepas.
"Udah ah, aku mau ke masjid dulu. Udah adzan Dzuhur nih." ucap Indra yang bergegas akan pergi.
"Mau ngapain??"
"Main domino." gurau Indra. "Ya sholat lah."
"Ya elah Ndra, baru juga bunyi tuh masjid. Mau jadi imam??"
"Iya dong pasti, jadi imam. Imam dalam rumah tangga." imbuh Indra yang tersenyum dan berlalu.
"Tuh anak semenjak kenal sama Kinan jadi rajin ibadahnya. Bahkan dia pasti nyempatin untuk ikut sholat berjamaah di masjid." ucap Erwan.
"Apa lebih baik aku ikut juga ya?? Kali aja Allah bakal mempermudah aku nemuin jodoh." gumam Erwan. "Ndra, tungguin aku." Erwan pun berlari mengejar Indra.
.
Saat malam tiba, terlihat Kinan sudah memasuki area rumah sakit. Seperti biasa, dia menaruh tasnya di dalam loker dan mengenakan setelan jas berwarna putih.
Malam itu ada banyak pasien di IGD. Dia sibuk memeriksa pasien yang baru saja datang akibat kecelakaan beruntun. Banyak korban yang terluka, bahkan ada juga beberapa pasien yang mengalami luka berat dan mengharuskannya menjalani operasi CITO.
Kesibukannya itu membuat Kinan tak sadar jika ponselnya berdering berkali kali. Ada nama 'Indra' di layar ponsel Kinan. Entah apa yang terjadi hingga Indra sampai berkali kali menghubungi Kinan.
Sekitar dua jam pun berlalu. Semua pasien kecelakaan beruntun sudah tertangani dengan baik. Kini Kinan sudah bisa bernafas lega. Dia duduk di sebuah kursi di IGD sambil meminum air mineral yang dia bawa.
Tak lama berselang, tiba tiba seorang pria berbaju loreng masuk ke dalam IGD. Dia mencari Kinan.
"Dek." panggil Indra.
"Mas Indra??" Kinan terkejut. "Ngapain Mas kesini??"
Semua orang yang ada di IGD memperhatikan mereka. Tak terkecuali Ana, teman dekat Kinan.
"Mas mau ngomong sebentar sama Adek. Bisa??" pinta Indra.
"Ii...iyya, bisa." jawab Kinan ragu. Dia bingung kenapa Indra tiba tiba ada di rumah sakit.
Dia pun mengikuti Indra sampai parkiran.
"Dek. Malam ini Mas harus segera berangkat ke Sumatera." ucap Indra tanpa basa basi.
"Ke Sumatera?? Ngapain??"
__ADS_1
"Ada Latihan Gabungan Dek. Sebenarnya latihan ini akan di lakukan seminggu lagi, tapi entah kenapa tiba tiba jadwalnya berubah. Jadi malam ini Mas harus segera berangkat ke Sumatera dengan Komandan beserta rombongan pasukan." jelas Indra.
Ternyata Indra datang jauh jauh ke tempat kerja Kinan hanya untuk meminta ijin hendak berangkat ke tempat yang jauh.
Terlihat Kinan sedikit bingung dengan apa yang baru dia dengar.
Kenapa tiba tiba sekali?? Pikir Kinan.
"Berapa lama??" tanya Kinan yang bingung harus berekspresi seperti apa.
"Sekitar tiga atau empat bulanan Dek." jawab Indra lesu.
Namun Kinan hanya terdiam. Entah kenapa hatinya tiba tiba terasa kosong.
"Maaf, Mas nggak bisa secepatnya datang bersama orang tuanya Mas untuk nemuin orang tuanya Adek." ucap Indra menyesal.
"Tapi Mas janji. Sepulangnya Mas dari sana, Mas pasti akan langsung ngajak orang tuanya Mas untuk meminta Adek secara resmi." ucap tegas Indra.
"Mas beneran harus berangkat malam ini??" tanya Kinan memastikan.
"Iya Dek. Memang harus berangkat malam ini. Ini aja sebenarnya semua pasukan udah pada kumpul di lapangan Batalyon, tapi Mas meminta ijin ke Komandan untuk nemuin Adek sebentar. Pengen ngabarin kalo Mas mau berangkat, karena dari tadi Mas berusaha nelpon Adek tapi nggak bisa." jelas Indra.
Seperhatian itu Indra pada Kinan. Padahal bisa saja Indra hanya mengirim pesan pada Kinan jika dia mau pergi jauh, tanpa harus jauh jauh datang ke tempat kerja Kinan.
"Mas naik apa berangkat kesana??"
Ternyata Komandan meminjamkan mobil dinas itu pada Indra untuk menemui Kinan. Sungguh Komandan yang baik.
"Mas beserta rombongan harus menuju ke Pelabuhan Merak Banten melalui jalur darat, kemudian baru naik kapal feri nyebrang ke Sumatera."
"Kenapa harus jalur darat??"
"Karena ini iring iringan Dek. Banyak rombongan dari Batalyon lain yang iku serta dalam Latihan Gabungan ini." imbuh Indra.
"Bukannya Banten itu jauh ya Mas. Mas mau nyopiri sendirian??" tanya Kinan kuatir.
"Nggak Dek. Nanti Mas gantian sama Aris." jawab Indra.
Sejenak terlihat Kinan hanya terdiam. Matanya mulai berkaca kaca, namun dia tak bisa mengeluarkan air mata itu. Dia tak ingin membuat Indra kepikiran. Dia berusaha tegar menghadapi kabar yang mendadak itu.
Kinan sadar, Indra adalah seorang abdi negara. Separuh hidupnya dia abdikan untuk negara. Jadi mau tidak mau, hal seperti ini pun akan tetap terjadi.
Tanpa ada persiapan, sang abdi negara harus pergi ke tempat yang jauh meninggalkan orang yang terkasih.
"Mas pasti akan secepatnya kembali." ucap Indra mengusap pipi Kinan.
"Tapi sebelum Mas pergi, Mas mau ngasih sesuatu ke Adek." tiba tiba wajah Indra serius.
Seketika Indra pun memegang tangan Kinan, dia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Dan perlahan melingkarkan benda itu ke jari manis Kinan. Sebuah cincin yang sangat indah.
__ADS_1
"A..app...appa ini Mas??" tanya Kinan gugup.
"Ini tanda pengikat bahwa kamu sudah ada yang punya." ucap Indra seraya tersenyum.
"Mas kira tadi kebesaran, ternyata pas." imbuh Indra sambil memandangi cincin yang baru saja dia sematkan di jari manis Kinan.
Kinan tak bisa menutupi rasa bahagianya, air matanya tiba tiba meluncur begitu saja dari pelupuk matanya.
"Meski pun tak begitu indah, tapi Mas harap cincin ini bisa di jadikan tanda bahwa kamu adalah miliknya Mas." tegas Indra.
"Mas, cincin ini indah kok. Sangat Indah." jawab Kinan yang tak bisa menutupi rasa harunya.
"Baguslah kalo menurut Adek indah. Mas aja tadi sempat mikir apa Adek akan suka dengan cincin pemberiannya Mas ini?? Karena Mas belikan cincin ini dadakan saat mau datang kesini." jelas Indra.
"Terima kasih ya Mas." air mata Kinan tak bisa terbendung lagi.
"Udah, jangan nangis." Indra mengusap air mata Kinan. "Kalo Adek nangis, Mas jadi nggak tenang nanti di jalan."
Kinan pun menganggukkan kepalanya.
"Senyumnya mana??" tanya Indra.
Kinan berusaha tersenyum di balik perasaan harunya.
"Nah gitu dong senyum. Tapi jangan senyum ke pria lain ya??" pinta Indra.
Kinan pun membalas kata kata Indra dengan tersenyum.
"Ya udah kalo gitu Mas balik dulu ya, udah di tungguin di Batalyon." pamit Indra.
"Hati hati di jalan ya Mas." pinta Kinan.
"Iya Dek." ucap Indra.
Dia pun berbalik dan hendak pergi. Namun hanya beberapa langkah tiba tiba saja Indra kembali berbalik dan berjalan cepat menuju Kinan.
Dan seketika Indra memeluk Kinan. Kinan pun terkejut atas sikap Indra itu.
"Mas pasti akan merindukan Adek. Jangan nakal nakal ya disini. Mas disana juga akan selalu jaga hati. Tunggu Mas pulang ya??" ucap Indra sambil memeluk tubuh Kinan erat.
Kinan pun hanya mengangguk.
Baru pertama kali itu Indra memberanikan diri memeluk Kinan. Indra benar benar mencurahkan seluruh hatinya hanya untuk Kinan. Dan akhirnya pelukan itu pun berakhir dengan sebuah kecupan di kening Kinan.
Indra pun segera bergegas kembali ke Batalyon. Di dalam mobil dinas, tak di sangka mata Indra berkaca kaca. Sebenarnya dia tak ingin jauh dari Kinan. Karena hubungan mereka sudah semakin dekat, bahkan mereka sudah berencana untuk menikah dalam waktu dekat.
Kenapa harus selalu ada rintangan?? Ya Allah, kuatkanlah kami berdua untuk menjalani semua garis yang telah Engkau tuliskan. Jagalah selalu hati kami.
Sesampainya di Batalyon. Rombongan pun langsung berangkat menuju Pelabuhan Merak.
__ADS_1