
Keesokan paginya. Indra terbangun terlebih dahulu untuk menunaikan sholat Shubuh. Terlihat dia menatap sang istri yang sedang tidur di lengannya penuh cinta. Bahkan dia membelai wajah mulusnya dengan lembut.
Indra pun perlahan melepaskan lengannya dari kepala sang istri. Sangat pelan agar tak membangunkan kesayangannya itu.
Setelah dia mandi dan menunaikan sholat Shubuh, Indra hendak turun ke bawah melakukan joging. Sudah lama dia tidak joging.
Namun sebelumnya, dia menghampiri sang istri yang masih tertidur pulas di ranjangnya. Dia tidak ingin membangunkan sang istri, karena sepertinya dia sangat kelelahan.
"Mas ke bawah dulu ya sayang. Tidurlah yang nyenyak." Ucap Indra di depan sang istri yang masih terlelap. Tak ketinggalan, dia pun melayangkan sebuah kecupan kecil di kening sang istri.
Setelah joging keliling komplek sekitar satu jam, Indra pun kembali ke rumah Kinan. Disana terlihat Ibu dan Mama yang sedang menikmati secangkir teh hangat sembari mengobrol di halaman.
"Habis dari mana, Nak??" tanya Ibu.
"Habis joging, Bu."
"Pengantin baru masih sempat sempatnya joging. Apa nggak capek, semalam kan habis bekerja keras." goda Ibu.
Namun Indra hanya tersenyum.
"Kinan masih belum bangun??" tanya Mama saat melihat Indra joging sendiri.
"Iya, Ma. Adek masih tidur."
"Tumben sekali dia jam segini belum bangun, biasanya sebelum Shubuh dia sudah bangun." celetuk Mama.
"Waduhh, kayaknya semalam kamu terlalu bersemangat ya Nak. Sampai sampai membuat istrimu nggak bisa bangun Shubuh." Imbuh Ibu.
"Jangan terlalu bersemangat Nak, kan masih bisa besok besok. Kasian tuh istrimu." nasihat Ibu.
Indra pun hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mereka tidak tahu jika semalam Kinan dan Indra belum melakukan apa apa, bahkan pemanasan pun tidak.
Saat hendak kembali ke kamar, dia pun berpapasan dengan si Bapak.
"Pengantin baru sudah bangun nih. Cepat amat bangunnya, Nak. Emang cucunya Bapak sudah jadi." goda si Bapak.
"Masih proses Pak." jawab Indra tersenyum.
Dia pun langsung berlalu, dia tak mau si Bapak membahas yang bukan bukan lagi.
Saat masuk ke dalam kamar, terlihat sang istri sudah terbangun. Dia sudah mandi dan berganti pakaian. Dia sedang duduk di meja riasnya.
"Dek." perlahan Indra mendekat ke arah istrinya. Di ciumnya bau harum shampoo yang di pakai sang istri.
"Iya Mas."
"Adek sudah mandi??"
"Sudah, Mas."
"Adek keramas??"
"Iya." jawab Kinan singkat.
"Berarti sudah suci dong." ucap Indra bersemangat.
"Ya, belum lah. Adek cuma sekedar mau keramas aja Mas." ungkap Kinan.
"Nggak percaya, sini Mas mau liat." goda Indra.
"Ihh, apaan sih?? Makin mesum tau." Kinan berusaha menutupi bagian bawahnya.
"Ya udah kalo gitu." Indra sedikit kecewa. Kinan pun tersenyum licik.
"Oh iya, Mas udah sarapan?? Adek buatin makanan ya?" tawar Kinan.
"Boleh deh. Tapi Mas mau mandi dulu yaa, berkeringat nih."
"Iya. Adek tunggu di bawah yaa??"
"Iya sayang." sebuah kecupan kembali tertinggal di bibir Kinan.
Setelah resmi menikah secara hukum, entah kenapa Indra seakan mempunyai hobi baru yaitu menciumi istrinya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Indra pun turun ke bawah. Dia melihat sang istri sedang sibuk di dapur. Disana juga ada Ibu dan Mama yang sedang membantunya memasak.
Perlahan tapi pasti, Indra mendekat ke arah istrinya. Memeluk hangat Kinan dari belakang. Melingkarkan tangannya ke perut sang istri. Kinan yang sedang memasak itu pun terkejut.
"Mas."
"Lagi masak apa sayang?? Baunya enak nih."
"Tumis kangkung Mas. Mas suka??"
"Semuanya Mas suka kok, asalkan yang masak Adek." ucap Indra.
"Ekhem, mentang mentang pengantin baru. Sudah berani umbar kemesraan di depan Ibu." goda si ibu.
Duo tersangka itu pun hanya tersenyum mendengar cuitan Ibu.
Setelah selesai masak, mereka pun makan bersama di meja makan. Kinan dengan setia mengambilkan makanan untuk sang suami dan menemaninya makan.
Di sela sela makan bersama.
"Katanya kalian sudah punya rumah??" tanya Papa.
"Iya Pa, Mas Indra sudah belikan Kinan rumah." jawab Kinan.
"Dimana??"
"Di dekat tempat kerja Kinan, Pah."
"Ohh, baguslah kalo gitu. Terus untuk kerjaanya Indra gimana?? Kamu akan makin jauh ke Batalyon." ucap Papa.
"Siap, tidak apa apa Bapak. Yang penting Adek tidak terlalu jauh dari tempat kerjanya." jawab Indra.
"Gimana kalo pindah aja ke Batalyon yang lebih dekat??"
"Siap, Bapak. Nanti coba saya ajukan pindah satuan." ucap Indra.
"Apa kalian akan segera tinggal di rumah itu??" tanya Mama kuatir.
"Iya Mah. Kami ingin hidup mandiri, dan bisa membangun rumah tangga kami sendiri." jawab Kinan.
__ADS_1
"Tapi kalian kan baru menikah, apa nggak sebaiknya tinggal disini saja dulu??"
"Lebih cepat lebih baik Mah. Lagian meskipun tinggal di Malang, aku juga akan sering ngunjungi Mama dan Papa kok." jelas Kinan menenangkan sang Mama.
Mama pun hanya bisa pasrah dengan keputusan anaknya itu.
"Oh iya besok kamu masih belum balik ke Sulawesi kan??" tanya Papa.
"Belum."
"Gimana kalo besok kita ke Bromo aja." saran Papa.
"Bromo?? Wisata gunung itu??"
"Iya. Dulu kan kita pernah tuh tradisi disana, tapi sekarang makin bagus. Ada penginapannya juga disana."
"Bagus tuh. Boleh deh kesana, nanti aku hubungi kakak kakaknya Indra." ucap Bapak.
Selama di Jawa, kakak kakaknya Indra menginap di sebuah hotel bersama keluarganya masing masing.
"Tapi kalo mau liat sunrise, kita harus berangkat nanti malam." saran Indra.
"Oh iya juga ya, ya udah deh kalo gitu nanti malam kita berangkat kesana." ucap Papa.
"Kamu sudah sering kesana kan, Ndra."
"Siap, pernah Pak. Tapi nggak sering." jawab Indra.
"Ya udah kalo gitu aku serahin ke kamu semua deh. Nanti tolong kamu yang koordinasi sama yang disana." pinta Papa.
"Ohh, siap Bapak." jawab Indra canggung.
Kenapa kok tiba tiba aku yang di suruh?? Berasa jadi ajudan mertua sendiri. Gumam Indra.
Sore harinya, mereka pun mempersiapkan semua kebutuhan yang akan di bawa.
"Sayang, udah bawa jaket??" tanya Indra memastikan. Dia membantu sang istri mengemas beberapa baju ke dalam tas ransel lorengnya.
"Udah, Mas."
"Syal??"
"Sudah juga."
"Jangan lupa bawa pembalut." saran Indra.
"Nggak usah bawa." tegas Kinan.
"Jangan jangan nanti Mas lagi yang di suruh beli pembalut." celetuk Indra.
"Emang Mas pernah beliin pembalut buat Adek??"
"Pernah lah. Yang waktu nemenin Adek seminar di Semarang itu." Indra berusaha mengingatkan.
"Oh iya, Adek lupa." ucap Kinan nyengir.
"Adek tau, waktu itu Mas sampe di liatin orang seisi mini market tau. Paling mereka pikir nih cowok ngapain juga ke tempat pembalut. Berseragam loreng lagi."
"Hahahaha. Sangking cintanya ya sampe kayak gitu. Jadi terharu." sindir Kinan.
"Kadang sih nggak sakit. Mungkin karena saat itu Adek kecapekan dan banyak pikiran ya, jadi akhirnya terpengaruh deh hormonnya." pungkas Kinan.
"Ohh, ya udah kalo gitu sekalian bawa obat pereda nyeri juga Dek."
"Nggak usah, Mas."
"Lohh, kok nggak usah sih??" Indra kesal.
"Karena Adek udah selesai haidnya." jawab Kinan santai seraya memasukkan baju dan perlengkapan mandi ke dalam tas.
"Kenapa?!! Adek tadi bilang apa?!!" Indra tersentak saat mendengar ucapan istrinya tadi.
"Kenapa sih heboh banget." ucap Kinan.
"Tadi Adek bilang, Adek udah nggak haid lagi."
"Iya." jawab Kinan.
"Berarti tadi pagi waktu Adek keramas itu beneran udah suci dong." Indra memastikan.
"Iya."
Seketika Indra pun memeluk tubuh sang istri erat erat.
"Kok nggak bilang dari tadi sih sayang??" ucap Indra manja.
"Emang kenapa??"
"Mas kan pengen cepet buka puasa." goda Indra.
"Itulah alasan kenapa Adek nggak bilang."
"Kenapa memangnya??"
"Habisnya, disini kan lagi ada banyak orang. Adek kan malu kalo mereka pada tahu kita begituan."
"Ngapain malu?? Kita kan sudah sah suami istri secara hukum dan agama."
"Nggak deh, pokoknya jangan disini. Nanti aja kalo udah di rumah sendiri."
"Kelamaan Dek. Keburu Adek haid lagi nanti."
"Ya nggak lah Mas, haid itu kan sebulan sekali. Palingan beberapa hari lagi kita pindah ke rumah kita sendiri." sahut Kinan.
"Ehmm..., ya udah deh kalo Adek maunya gitu." Indra dengan wajah cemberut. Kinan hanya bisa tersenyum.
Suamiku nih kok nggak sabaran banget ya?? Gumam Kinan.
"Oh iya, katanya Adek haidnya tersisa tiga hari lagi. Tapi kok sekarang udah selesai??" tanya Indra penasaran.
"Mungkin karena hormon Mas. Beberapa hari ini kan Adek sibuk dan banyak pikiran untuk mempersiapkan pernikahan. Jadi siklus haidnya pun terganggu."
"Ohh gitu."
__ADS_1
Malam harinya setelah semua persiapan selesai. Mereka pun bersiap menuju Bromo. Ada tiga mobil yang mereka bawa. Dan yang pasti pengantin baru, berada di dalam satu mobil. Sekaligus Indra sebagai penunjuk jalan.
Selama perjalanan ke Bromo, terlihat Kinan tidur terlelap di sebelah kursi kemudi. Indra sesekali membetulkan posisi sang istri agar tidak terjatuh.
Sesampainya di sebuah hotel di daerah Bromo.
"Sayang, bangun." panggil Indra berusaha membangunkan sang istri. Namun Kinan masih saja menutup matanya.
Melihat wajah sang istri yang tertidur pulas, membuat Indra ingin sekali berbuat iseng.
Tanpa pikir panjang, Indra pun mulai menciumi wajah sang istri. Dia menciumi wajah sang istri dari semua sisi. Perbuatannya itu membuat Kinan akhirnya terbangun.
"Mas." ucap Kinan.
"Iya sayang." ucap Indra manja.
"Ngapain sih ciumin terus??" tanya Kinan heran.
"Nggak apa apa, lagi pengen cium aja. Lagian dari tadi di bangunin, nggak bangun bangun." balas Indra tersenyum.
"Udah sampe nih, ayo kita turun." ajak Indra.
Mereka semua pun turun dari mobil dan menuju ke lobi. Mereka mengambil kamar kunci yang tadi sudah Indra pesankan via telepon.
Hawa dingin Bromo langsung menusuk tubuh mereka.
"Disini dingin banget ya, Ndra." ucap Kak Dodi.
"Iya, kayak di kutub." imbuh Kak Nanang.
"Kamu nyari tempat liburan kira kira dong. Masa sedingin ini jadi tempat liburan. Kalo buat kamu sih enak. Pengantin baru, dimana mana masih terasa panas." celetuk Kak Dodi.
"Tenang. Nanti di dalam kamar ada pemanas ruangan kok." sahut Indra.
Mereka pun masuk ke dalam kamar masing masing. Kamar mereka tidak berbeda jauh. Hanya saling bersebalahan saja.
Terlihat Kinan langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Dia ingin melanjutkan tidurnya tadi yang sempat tertunda.
Perlahan Indra pun mendekati sang istri. Pelan tapi pasti, Indra mulai merangkak naik di atas tubuh sang istri. Merasakan hal itu, seketika Kinan pun membuka matanya.
"Mas." ucap Kinan terkejut.
"Boleh Mas buka puasa disini??" pinta Indra. "Disini kan suasananya kedap suara, jadi nggak mungkin terdengar kamar sebelah."
"Tau dari mana kalo kamar ini kedap suara??"
"Karena Mas yang nyari." ucap Indra seraya tersenyum licik.
"Ta..tapi, disini kan hawanya dingin Mas."
"Yang dingin kan di luar, kalo di dalam kamar sini kan hangat. Lagian Mas juga sudah nyalain penghangat ruangannya."
"Ta..tapi, disini airnya dingin Mas. Gimana cara mandinya coba??"
"Disini juga ada pemanas air kok, jadi Adek nggak perlu takut kedinginan." sahut Indra.
Kinan pun mulai bingung mau bagaimana lagi menolak ajakan sang suami. Dia masih takut melakukan hal itu.
"Kenapa?? Adek mau nyari alasan lain apa lagi??" sindir Indra yang paham jika sang istri sedang memutar otak untuk mencari alasan.
"Ehm.., Adek..., Adek mau mandi dulu Mas."
Saat Kinan hendak bangun, dengan sigap tangan Indra mengurung tubuh Kinan untuk tetap berada di tempatnya.
"Apa Adek nggak kasian sama Mas??" tanya Indra memelas.
"Ehmm.., Adek cuma takut Mas." ucap Kinan sendu.
"Takut kenapa lagi??" tanya Indra lembut. Namun Kinan terdiam.
"Sayang." ucap Indra sembari memegang dagu Kinan agar kedua mata mereka saling bertatapan.
"Mas sayang sama Adek. Sayang sekali. Dan yang Mas ucapkan itu, sudah Mas buktikan semua ke Adek. Apa masih kurang semua yang udah Mas lakukan buat Adek??" jelas Indra.
"Mas memang bukan orang yang romantis Dek. Tapi setidaknya selama ini Mas berusaha membuktikan, kalo Mas bener bener sayang sama Adek." imbuh Indra.
"Apa menurut Adek, apa yang Mas lakuin selama ini kurang??" tanya Indra.
Kinan pun menggelengkan kepalanya. Karena apa yang di lakukan Indra selama ini memang benar adanya. Dia sanggup menerima semua hukuman atas perasaannya pada Kinan. Dan itu semua di lakukan, semata mata karena dia memang sayang pada sang istri.
Terlihat senyuman pun menghias wajah Indra. Perlahan dia pun membuka hijab yang sedari tadi menutup kepala sang istri. Tangannya perlahan membuka jaket yang menempel di tubuh Kinan.
Dia pun mulai membelai wajah putih mulus Kinan. Mengecup setiap inchi sudut bibirnya, dan menyesapnya dengan lembut. Bibir mereka saling beradu dengan lembut. Kini, Kinan sudah bisa mengimbangi permainan Indra.
Perlahan ciuman Indra pun menuruni leher Kinan. Mencium dan memberinya tanda kepemilikan. Terlihat Kinan berusaha keras untuk menahan suaranya.
Hingga di saat tangan Indra mulai membuka baju bagian atas Kinan.
"Mas." Kinan memegang tangan Indra.
"Nggak apa apa, sayang. Tenanglah, kita sudah jadi suami istri. Apa yang kamu miliki, cepat atau lambat Mas pasti akan melihat semuanya." ucap Indra dengan suara yang sudah tak bisa di terangkan lagi. Suara yang seakan ingin menerkam Kinan saat itu juga.
Kinan pun mulai pasrah dengan apa yang di lakukan sang suami.
Tangan Indra mulai membuka baju bagian atas baju Kinan. Saat itu Kinan mengenakan sebuah kaos rajut, yang mau tidak mau Indra harus sejenak melepas ciumannya dan membuka kaos itu.
Dan saat telah di buka, terlihatlah jelas tubuh sang istri yang sangat mulus dan sangat menggoda di mata Indra. Dua gunung kembar yang masih tertutup b*a membuat Indra menelan salivanya.
Terlihat wajah Kinan memerah saat sang suami berhasil membuka bajunya. Dia berusaha menutupi tubuhnya menggunakan telapak tangan. Namun perlahan Indra melepas tangan itu.
"Jangan di tutupin sayang." ucap Indra lembut.
"Adek malu, Mas."
"Nggak apa apa sayang, nggak usah malu." jawab Indra lembut. "Hanya Mas yang akan bisa melihatnya. Karena Adek, hanya miliknya Mas."
Indra pun kembali menyusuri tiap jengkal leher Kinan.
Setelah puas menandai leher Kinan, dia pun mulai menuruni bagian bawah leher Kinan. Kini dada yang mulus itu pun tak luput dari penandaan Indra. Nafas Kinan pun mulai tak beraturan saat merasakan ada desiran panas melewati tubuhnya.
Namun saat sedang asyik menikmati malam itu, tiba tiba saja.
Tok....tok...tokkk...
__ADS_1
Ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mereka.