Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Terjebak


__ADS_3

Di satu sisi, tempat hiburan malam. Terlihat seorang perempuan yang cantik dan seksi sedang menggoda Indra di dalam sebuah kamar. Bahkan dia tak segan segan menyentuh bagian sensitif Indra dan membuka baju Indra satu per satu.


"Sayang, kamu suka bagian yang mana dulu??" goda si perempuan.


Namun Indra diam. Pikirannya benar benar kosong. Yang ada di pikirannya saat itu hanya Kinan.


Hingga saat si perempuan hendak mencium bibirnya, sontak Indra menepis dan mendorong tubuh wanita itu.


Kenapa aku bisa frustasi seperti ini?? Nggak. Aku nggak boleh seperti ini.


"Jangan dekatin aku!!!" bentak Indra. Indra pun memakai kembali bajunya yang tergeletak di lantai. Untung saja saat itu belum terjadi apa apa di antara mereka. Pakaian bagian bawah Indra masih utuh. Masih belum terjamah oleh sang wanita.


Indra pun keluar dari kamar, dan bergegas pergi dari tempat hina itu. Dia kembali ke mess ajudan. Saat masuk ke dalam mess, tak sengaja membuat Erwan terbangun.


"Kamu dari mana aja Ndra?? Kenapa tengah malam baru malam??" tanya Erwan yang masih mengantuk.


"Kenapa emangnya??"


"Nggak apa apa. Tadi Komandan cuma tanya kamu."


"Tanya gimana??"


"Ya tanya kamu dimana gitu??"


"Ya aku jawab aja lagi sopirin anaknya Pak Rizal."


"Teruss??"


"Ya nggak ada terusannya, cuma gitu doang." jawab Erwan kesal. "Lagian tumben tumbenan kamu jam segini baru pulang Ndra."


Namun Indra enggan menjawab pertanyaan itu. Dia pun segera masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya di kasur. Menutup kedua matanya dengan lengan tangan. Berusaha untuk memejamkan matanya, dan berharap semua itu hanya mimpi. Namun sepertinya itu sangat sulit bagi Indra, hatinya benar benar tak bisa lepas dari Kinan. Pikirannya terlalu di penuhi wajah dan senyuman manis gadis itu.


Kinan. Tidak bisakah kamu sedikit mencintaiku?? Apakah tidak ada sedikit pun ruang di hatimu untukku?? Aku juga ingin merasakan kebahagiaan itu. Kebahagiaan bersama orang yang di sayangi. Meski kamu hanya menjadikanku yang kedua, aku rela. Yang penting aku bisa selalu dekat sama kamu. Apakah itu pun juga nggak bisa??


Kembali ke Batu Malang. Terlihat Niko dan Kinan bersiap untuk pulang.


"Mau langsung pulang atau mau kemana dulu nih??"


"Langsung pulang aja. Udah malem."


"Nggak pengen beli sesuatu dulu??"


"Nggak deh, langsung pulang aja. Lagian mau beli apa tengah malam kayak gini, yang ada toko toko udah pada tutup semua." sahut Kinan.

__ADS_1


"Ohh iya." jawab Niko tersenyum.


Namun saat menyalakan mobil, tiba tiba mesin mobil itu pun mati. Niko berusaha menyalakannya berkali kali, namun tetap tidak menyala.


"Kenapa??" tanya Kinan penasaran.


"Nggak tau nih, nggak mau nyala." jawab Niko heran. "Biasanya nggak pernah rewel nih mobil."


Niko pun turun dari mobil dan membuka kap mobil itu. Dia mengecek mesin mobilnya. Kinan yang melihat itu pun ikut turun menemani Niko.


"Ngapain keluar?? Di dalam mobil aja sana. Di luar sini udaranya dingin." ucap Niko yang khawatir.


"Nggak apa apa, aku kan udah pake ini." jawab Kinan sambil menunjukkan jaket yang tadi di berikan Niko. "Gimana?? Masih bisa di perbaiki??"


"Nih kayaknya akinya yang bermasalah. Harus di bawa ke bengkel dulu nih."


"Jam segini emang ada bengkel yang masih buka??" tanya Kinan sambil melihat sekitar.


Niko pun ikut melihat sekeliling. Namun di sekitar mereka tak ada apa apa. Hanya ada sebuah warung kopi tempat Niko membeli kopi tadi.


"Coba aku telpon bengkel dulu. Kali aja bisa di derek."


"Di derek pun pasti bisanya besok pagi, nggak mungkin sekarang." jawab Kinan.


"Gimana kalo aku telpon mas Indra aja??" saran Kinan.


"Ngapain??"


"Ya buat bantu perbaiki nih mobil. Dia paham masalah mobil loh." puji Kinan sambil mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.


Namun dengan sigap Niko merampas ponsel yang ada di tangan Kinan.


"Nggak usah." ucap Niko kesal.


"Dari pada kita disini terus, mending telpon dia aja. Suruh dia kesini."


"Nggak usah. Kalo aku bilang nggak usah, ya nggak usah." jawab Niko kesal dengan nada yang sedikit membentak.


Mendengar kata kata Niko itu, Kinan pun menunjukkan ekspresi tak senangnya. Dengan raut wajah yang kesal, dia pun menjauh dari Niko. Dia memilih untuk duduk di bawah sebuah pohon.


Sadar akan kata katanya yang membuat Kinan kesal, Niko pun berusaha mendekati Kinan. Dia duduk di samping sang tunangan.


"Maaf." ucap Niko. Namun Kinan tak menjawab.

__ADS_1


"Maafin aku ya." ucap lembut Niko. "Maaf aku udah bentak kamu."


Namun Kinan masih tetap aja terdiam. Dia paling tidak suka di bentak. Melihat itu, Niko pun mengehela napas. Dengan lembut dia memegang tangan Kinan.


"Aku mau cerita sesuatu."


"Nggak mau dengar." ucap Kinan kesal.


"Terserah kamu mau dengerin apa nggak. Aku akan tetap cerita." ucap Niko seraya tersenyum.


"Kamu tau?? Dari dulu ada seseorang yang aku suka. Bahkan jauh sebelum kita saling dekat, aku udah suka sama dia. Tapi aku nggak berani ungkapin, aku takut dia menjauh. Persahabatan yang kami buat dengan susah payah, lebih berharga dari sebuah ungkapan perasaan." jelas Niko.


"Ya udah kamu nikah aja sama dia. Ngapain mau tunangan sama aku??" ucap Kinan yang masih menyimpan kekesalan.


Niko pun menyentuh pipi Kinan dan tersenyum hangat padanya.


"Udah, aku udah mau nikah kok sama dia." jawab tegas Niko.


"Maksudnya??" tanya Kinan heran.


"Perempuan itu adalah kamu." ungkap Niko. "Aku udah suka sama kamu, jauh sebelum kita saling dekat saat SMA."


Mendengar itu Kinan pun terkejut. Tatapan matanya tajam ke arah Niko. Seakan banyak pertanyaan yang akan dia utarakan. Namun Niko sudah paham Kinan pasti akan menginterogasinya.


"Udah, nggak usah banyak pertanyaan. Yang penting sekarang kamu sudah jadi tunanganku, dan kamu juga sudah tahu perasaanku." jelas Niko.


"Maaf, tadi aku nggak sengaja bentak kamu. Aku cuma cemburu kalo kamu bahas cowok lain. Ya meski pun aku tau dia hanya seorang sopir, tapi aku tetap nggak suka." imbuh Niko.


"Aku kan hanya ngasih saran." bela Kinan.


"Iya. Aku paham kok." Niko mengangguk. "Maafin aku ya??" pinta Niko lembut.


Kinan pun hanya mengangguk.


"Ya udah nih aku kembalikan ponselmu. Kalo kamu mau hubungi Indra nggak apa apa, lagian kasian kalo kamu lama lama disini. Udaranya makin dingin." ucap Niko khawatir.


"Ya udah kalo gitu aku hubungi mas Indra dulu ya??" pamit Kinan. Niko pun hanya mengangguk.


Berkali kali Kinan berusaha menghubungi Indra, namun nomernya tidak aktif.


"Bisa??" tanya Niko.


Kinan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Mungkin dia udah tidur, ini kan juga udah tengah malam." jawab Kinan sedih.


__ADS_2