
Kinan pun segera kembali ke kamar. Dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur, dan menangis sekencang kencangnya disana.
Apa yang sekarang harus aku lakukan??
Di saat dia sedang menangis, tiba tiba saja ponselnya berdering. Di layar ponsel terlihat nama dari atasan Kinan. Dia pun buru buru mengusap air matanya dan mengambil napas dalam dalam untuk meredakan tangisannya.
"Iya. Assalamuallaikum, Bu Direktur." ucap Kinan.
"Waallaikumsalam." jawab dari seberang telpon.
"Maaf jika mengganggu malam malam."
"Oh, tidak apa apa Bu. Saya juga sekarang lagi santai." jawab Kinan berbohong.
"Begini. Besok kan ada workshop di Banyuwangi selama 3 hari. Dan dokter yang saya tunjuk barusan mengabarkan jika anaknya sedang sakit, jadi dia besok nggak bisa hadir." jelas Bu Dir. "Apa bisa besok kamu menggantikan dia??"
"Besok??"
"Iya, besok. Cuma 3 hari saja kok." pinta Bu Dir. "Bisa ya Kinan??" bujuk Bu Dir.
Sejenak Kinan berfikir.
Mungkin lebih baik aku ikut saja, minimal bisa sedikit mengalihkan masalah yang tengah aku hadapi.
"Baiklah Bu, saya bisa." jawab Kinan.
"Terima kasih ya Kinan. Kamu memang yang paling bisa di andalkan." puji Bu Direktur.
"Oke, kalo gitu nanti saya share undangan dan jadwal workhsopnya ya??"
"Baik, Bu Dir." jawab Kinan.
Kinan pun menutup telponnya. Dan bergegas membereskan barang barang yang akan dia bawa besok. Tak lupa, dia juga mengirim pesan pada sopir barunya jika besok pagi mereka harus berangkat ke Banyuwangi.
"Loh, kamu mau kemana??" tanya Mama saat masuk ke dalam kamar Kinan.
"Aku besok ada acara workshop Ma."
"Kamu kan mau tunangan, kok malah keluar keluar sih sayang??" ucap Mama kuatir.
"Ya gimana lagi Mah. Ini kan tugas dari rumah sakit. Aku nggak bisa nolak." jawab Kinan santai yang memang ingin menghindari pertunangan itu.
"Lagian acaranya cuma 3 hari kok. Jadi Mama nggak usah kuatir, aku masih bisa datang kok ke acara tunangan itu." jawab Kinan ketus.
Mendengar jawaban sang anak yang sedikit dingin itu, Mama paham akan perasaan Kinan. Hanya saja dia sebagai istri juga tidak bisa berbuat apa apa, dia tidak mungkin menentang perkataan suaminya.
"Sayang." pangil Mama seraya mengusap lembut rambut sang anak. "Kami sebagai orang tua hanya ingin yang terbaik buat kamu sayang."
"Terbaik buat aku, atau terbaik buat Mama dan Papa??" tanya Kinan.
"Sayang. Tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya. Jadi percayalah, apa yang kami lakuin ini semata mata kami sangat menyayangimu Nak." ucap Mama lembut. Dia pun mencium dan memeluk hangat anak perempuannya itu. Membelai lembut rambutnya, dan memberinya kekuatan untuk bisa menjalani semuanya.
Keesokan paginya, Kinan pun sudah bersiap untuk berangkat. Mobilnya sudah terparkir di depan rumah.
__ADS_1
Setelah pamit pada Nenek dan kedua orang tuanya, Kinan pun masuk ke dalam mobil. Namun saat akan memasang sabuk pengaman, tiba tiba tangan Kinan terhenti. Seketika dia pun menoleh ke arah bangku sopir.
"Mas Indra?!!!" ucap Kinan terkejut.
.
Kilas balik.
Sehari sebelum keberangkatan Kinan. Terlihat Indra sedang duduk santai di mess ajudan bersama Erwan. Indra seringkali melamun.
Kenapa dia tiba tiba gantikan aku?? Apa karena kejadian di Bromo itu?? Tapi seharusnya dia kan konfirmasi ke aku dulu. Akhhh... Aku pusing.
"Woii?!!!" Erwan membuyarkan lamunan Indra.
"Kenapa??" tanya Indra ketus.
"Ngelamun aja kerjaannya. Kesambet setan baru tau rasa." celetuk Erwan. Namun Indra enggan menjawab.
"Baru aja 2 hari nggak ketemu Kinan udah kayak gini modelmu." sindir Erwan.
"Aku cuma heran Wan, kenapa tiba tiba aku di gantikan dengan sopir yang lain."
"Ya kali aja dia mau menghindari gosip gosip yang beredar di antara kalian. Lagi pula dia kan sudah punya Niko."
"Tapi kan setidaknya dia ngomong dulu ke aku. Ini kan namanya pemutusan sepihak." bela Indra.
"Hallah, Ndra. Kita ini siapa?? Kita ini cuma jongos, cuma bawahan. Kan kamu sendiri yang pernah bilang kita ini hanya pekerja. Di suruh kesana, ya kesana. Di suruh kesini, ya kesini." sahut Erwan.
Indra menghela napas. Sepertinya memang tidak ada yang membela Indra.
"Kamu tau siapa sopir yang jadi penggantiku??" tanya Indra penasaran.
"Tau."
"Siapa??"
"Emang kamu mau ngapain??" Erwan heran.
"Nggak. Aku cuma pengen tau aja." sahut Indra yang membuat Erwan curiga.
"Katanya sih orang dalam Batalyonnya Niko juga."
"Ohh. Kamu tau siapa namanya??" tanya Indra.
"Emang kenapa sih?? Kamu mau ngapain dia??" Erwan merasa curiga.
"Apaan sih?? Aku cuma mau tau aja, untuk ngecek keadaan Kinan disana." jelas Indra.
"Kayak pacar aja pake ngecek segala. Padahal cuma cinta sepihak." celetuk Erwan.
Indra hanya terdiam, karena apa yang di katakan Erwan memang benar adanya.
"Lagian kamu kan punya nomernya Kinan, tinggal telpon aja beres. Nggak usah ribet." saran Erwan.
__ADS_1
"Masalahnya, sepertinya dia nggak mau aku hubungi Wan."
"Maksudnya??"
"Sepertinya dia ganti nomer Wan."
"Itu tandanya dia memang sudah nolak kamu secara terang terangan Ndra." Erwan menyimpulkan. "Udahlah Ndra, lupain aja. Jelas jelas dia nggak mau sama kamu."
Mendengar kata kata Erwan, Indra pun kesal dan langsung beranjak menuju kamar. Semua orang seakan tak mendukung perasaanya. Dia pun menutup matanya dengan lengan.
Aku nggak pernah meminta perasaan ini. Aku nggak pernah meminta untuk menjadi nomer satu buatmu. Aku hanya ingin selalu di dekatmu. Tapi kenapa kamu sekarang malah berusaha semakin menjaruh dariku?? Hingga seakan aku tak bisa menggapaimu lagi.
Setelah sejenak merenung, dia pun mengambil ponselnya yang ada di atas ranjang. Dia mengetik sebuah pesan pada seseorang, entah siapa yang saat itu sedang dia hubungi.
Tak lama kemudian, sebuah notifikasi pesan pun muncul. Indra buru buru membuka dan membaca pesan itu. Dia pun mengetik sebuah tombol, hendak mengubungi seseorang.
Namun tak di angkat, dia pun kembali mengubungi nomer tersebut. Beberapa kali Indra berusaha menghubungi, dan akhirnya telpon itu pun tersambung.
"Iya. Halo." jawab seorang pria di ujung telpon.
"Halo. Ini saya, abangmu. Pratu Indra, dari Batalyon *****."
"Oh, siap Bang."
"Abang mau tanya Dek." ucap Indra serius. "Kamu sekarang jadi sopirnya Kinan??"
"Siap Bang. Sementara ini saya jadi sopirnya Mbak Kinan."
Ternyata Indra tadi mencari tahu tentang sopir Kinan, dan berusaha mengubungi sopir itu. Tidak sulit bagi Indra untuk mencarinya.
"Abang mau minta tolong Dek."
"Siap Bang."
"Abang ada sedikit urusan sama Kinan, apa bisa beberapa hari ini abang gantikan kamu dulu untuk jadi sopirnya??" pinta Indra.
"Siap, ijin bang. Hmm.., saya tidak berani bang." jawabnya ragu.
"Kalo memang kamu keberatan, abang minta besok kamu nggak usah sopirin dia. Biar abang saja."
"Tapi bang, besok Mbak Kinan ada workshop di Banyuwangi. Saya harus mengantarnya."
"Bagus kalo begitu, besok biar abang saja yang ngantar." ucap Indra tegas.
"Tapi bang, kalo Danton Niko tau saya bisa di tindak."
"Nanti biar abang yang tanggung jawab." jawab tegas Indra, yang seakan sudah tak ragu lagi untuk melangkah.
.
Kembali ke depan rumah Nenek.
"Mas Indra??!!" Kinan terkejut. "Kenapa Mas Indra bisa ada disini??"
__ADS_1