
Beberapa bulan pun berlalu, tak terasa Indra sudah mengemban tugasnya selama lebih dari 5 bulan.
Sejak Indra tugas luar negeri, Kinan tak pernah sendiri. Biasanya ada Mama yang selalu menemaninya. Terkadang, Kinan pun ikut menginap di rumah orang tuanya agar tak merasa kesepian.
Mencoba menjadi istri yang mandiri. Kinan pun seringkali memeriksakan kandungannya hanya seorang diri.
Jika melihat orang lain, Kinan sempat merasa iri. Karena yang lain selalu di temani oleh suami, namun dia selalu sendirian. Bahkan ada beberapa pasien yang menyangka jika dia hamil di luar nikah, karena tak pernah ada sosok lelaki yang menemaninya periksa.
Namun Kinan cuek saja, baginya kehidupan pribadinya tidak perlu semua orang tahu. Cukup hanya tentang dirinya dan Allah saja.
"Dokter Kinan habis kontrol kandungan ya??" tanya Ratna saat melihat Kinan yang baru datang.
"Nggak jadi. Ternyata Dokter Kandungannua nggak masuk hari ini. Aku di suruh balik minggu depan." jelas Kinan.
"Kenapa nggak kontrol disini aja sih, Dokter?? Kita kan juga punya Dokter kandungan yang nggak kalah hebat." jelas Ana.
"Bukan gitu. Aku cuma nggak enak aja kalo periksa disini."
"Nggak enak kenapa??" Ana heran.
"Ohh, aku tau. Pasti karena dulunya Dokter Adam pernah ada rasa kan sama Dokter Kinan, makanya takut CLBK gitu kan??" duga Ana.
"Ihh, apaan sih?? Lagian siapa juga yang CLBK. Aku sama Dokter Adam kan cuma sebatas partner kerja aja." jelas Kinan.
Namun tiba tiba saja, suara seseorang mengagetkan Kinan dari arah belakang.
"Kalo memang menganggap saya sebagai partner, tapi kenapa tidak periksa ke saya saja??" suara seorang lelaki yang tak asing membuat Kinan berbalik.
"Ehh,.. Dok...Dokter Adam??!" ucap Kinan canggung.
"Mari ikut ke Poli, biar saya periksa kandunganmu." ajak Dokter Adam.
"Ehh..., ngg..nggak usah Dokter. Nanti saya...... "
"Apa kamu tidak percaya dengan kemampuan saya, makanya kamu memilih untuk periksa ke dokter lain??" tanya Dokter Adam judes.
"Ehh, Bu..bukan gitu Dokter. Saya hanya....."
"Ikut saya sekarang." suruh Dokter Adam tegas sembari berlalu.
Kinan pun sejenak melirik pada kedua temannya itu.
__ADS_1
"Udah, ikut aja Dokter. Dari pada kena masalah lagi sama tuh Dokter killer. Lagian Dokter Adam kan pernah nolongin Dokter Kinan, jadi ya udah turutin aja. Toh dia cuma mau bantu memeriksa kandungannya Dokter Kinan doang." bisik Ratna.
Akhirnya Kinan pun menurut. Dengan langkah berat, dia pun menuju ke poli yang di maksud. Yaitu Poli Kandungan.
"Assalamuallaikum." ucap Kinan sopan saat memasuki poli tersebut.
"Waallaikumsalam." jawab orang yang ada disana.
Terlihat ada dua orang wanita di dalam poli tersebut. Dia adalah bidan yang menjadi asisten Dokter Adam selama memeriksa pasien.
Alhamdulillah, untung nggak cuma berduaan aja. Gumam Kinan yang sebelumnya sempat berfikiran negatif.
"Ohh, Dokter Kinan. Sini masuk Dokter." sapa seorang bidan senior.
"Iya Bu." Kinan tersenyum.
"Mau periksakan kandungannya ya?? Mari mari, langsung kesini aja Dokter." sahut bidan itu lembut.
Kinan pun di tuntut ke sebuah tempat tidur pemeriksaan. Disana terlihat Dokter Adam yang sudah duduk di depan layar USG.
Kinan perlahan naik ke atas tempat tidur itu yang di temani oleh si bidan. Dia menyelimuti tubuh bagian bawah Kinan dengan selimut yang sudah tersedia.
Saat si bidan membuka perut Kinan, ada perasaan canggung di hati Kinan. Bagaimana tidak?? Lelaki yang ada di depannya ini pernah memiliki rasa padanya, bahkan dia pernah mengajaknya untuk menikah. Meski hanya masa lalu, namun perasaan canggung itu pasti ada.
"Bagus." kata pertama yang Dokter Adam ucapkan.
"Ini usianya sudah masuk 22 minggu. Letak janinnya memang masih sungsang, tapi nggak apa apa. Karena memang masih usia segini jadi dia masih bebas bergerak. Seiring berjalannya waktu janin itu akan berputar, jadi nggak usah kuatir." jelas Dokter Adam.
Kinan pun mendengarkan kata kata Dokter Adam dengan seksama sembari ikut melihat layar USG.
"Udah tahu jenis kelaminnya??" tanya Dokter Adam.
"Belum, Dokter." Kinan menggelengkan kepalanya.
"Delapan puluh persen cowok sih ini." imbuh Dokter Adam.
Mendengar itu, Kinan pun tersenyum bahagia. Ingin sekali dia mengabarkan pada sang suami tentang jenis kelamin anaknya itu.
Di rumah sakit tempat Kinan bekerja memang memiliki fasilitas yang cukup bagus. Bahkan hasil USG yang di tampakkan pun juga sangat jelas.
Setelah memeriksa, mereka pun duduk di berhadapan di meja pemeriksaan. Terlihat Dokter Adam menulis hasil pemeriksaan di sebuah buku, sekaligus menuliskan resep untuk Kinan.
__ADS_1
"Biasanya periksa kandungan kemana??" tanya Dokter Adam sembari tetap fokus menulis.
"Di rumah sakit XXX, Dokter." jawab Kinan sopan.
"Lain kali kalo mau periksa kandungan, periksa disini saja. Nggak perlu di tempat lain." pinta Dokter Adam.
"Lagian kamu selalu kontrol kandungan sendirian, pasti banyak orang akan mengira yang tidak tidak tentang kamu. Dan tak jarang mungkin ada beberapa dokter yang akan memandangmu sebelah mata hanya karena kamu datang tanpa seorang pendamping." Dokter Adam ternyata peka dengan apa yang Kinan alami.
"Jika kamu masih menganggap saya sebagai teman, saya minta mulai bulan ini kamu periksa disini saja." imbuhnya sekali lagi seraya memberikan resep vitamin pada Kinan.
"Bb...baik Dokter." jawab Kinan mengambil lembar resep itu.
Dia pun keluar dari poli kandungan dengan perasaan bahagia. Bahagia karena mengetahui hasil pemeriksaan bayinya. Bahagia karena ternyata banyak teman teman yang memperhatikan kesehatannya.
Setiap bulan, Kinan rutin memeriksakan kandungannya ke dokter. Bahkan hasil USG dan pemeriksaan sang janin, selalu dia laporkan pada sang suami. Dan Indra pun selalu menyimpan foto USG itu. Bahkan dia menyelipkan foto USG itu di dompetnya, berjajar dengan foto Kinan.
"Foto bayimu tuh??" tegur Wahyu saat melihat Indra sedang memandangi foto istri dan hasil USG si bayi.
"Iya." jawab Indra tersenyum.
"Udah berapa bulan??"
"Lima bulanan."
"Empat bulan lagi mau lahiran dong." celetuk Wahyu.
"Iya."
"Jadi nggak bisa nemenin dong, Ndra."
"Ya, mau gimana lagi. Kita disini juga lagi tugas, jadi nggak bisa seenaknya minta pulang. Jangankan tugas luar negeri, tugas dalam negeri aja kita nggak bisa ngatur kapan bisa pulangnya." jelas Indra.
"Iya juga sih. Terus gimana kata istrimu??"
"Untungnya aku punya istri yang sangat baik dan sabar. Jadi dia tidak terlalu protes, karena dia tau sendiri kalo cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Dia punya hati yang lapang. Dia bidadari tak bersayapku." ucap Indra tersenyum.
"Hadehhh, iya iya deh yang lagi bucin. Maklum beberapa bulan nikah, masih panas panasnya." ejek Wahyu.
"Emang kompor, panas??" celetuk Indra.
Dia pun kembali melihat foto USG itu dan tersenyum.
__ADS_1
Tunggu Ayah pulang ya, Nak. Nanti kita main bola bareng, main sepeda bareng. Ayah akan selalu menemanimu, Nak. Sabar nungguin Ayah pulang ya. Gumam Indra.
Meski berjauhan, tapi Indra selalu menyempatkan untuk menghubungi sang istri. Dia tak ingin membuat sang istri kuatir.