Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Mulai Sadar


__ADS_3

Beberapa lama berkeliling akhirnya mereka sampai juga ke area taman bermain. Kinan sudah tak sabar mencoba satu per satu wahana yang ada disana.


"Ayo Mas." saat akan beranjak tiba tiba sebuah suara mengejutkannya.


"Dokter Kinan." sapa seorang wanita. Kinan pun menoleh.


"Ana??" Kinan terkejut.


"Betulan Dokter Kinan. Aku kirain siapa tadi." celetuk Ana.


"Kamu ngapain kesini??" tanya Kinan.


"Nih sepupuku minta di temenin." lirik Ana ke seorang perempuan yang ada di sampingnya.


"Dokter sendiri ngapain disini?? Bareng cowok cakep lagi." ucap Ana yang mulai genit melirik Indra.


"Ihh apaan sih kamu Na??"


"Ini kan cowok yang kemarin antar jemput Dokter Kinan kan??" Ana memastikan. "Katanya cuma teman, kok sampe jalan berdua gini sih?? Hayoo ngaku." canda Ana.


"Emang cuma teman kok."


"Teman tapi kok kayanya mesra banget." sindir Ana.


"Hemm, dasar ratu gosip mulai lagi deh." ejek Kinan.


"Tapi nggak apa apa sih Dok, orang dia ganteng gitu kok." Ana nyengir.


"Ekhem. Ehmm, kenalin namaku Ana. Aku temannya Dokter Kinan." ucap Ana genit pada Indra.


"Indra." jawab Indra dingin.


"Masnya ada hubungan apa ya sama dokter saya ini??" tanya Ana penasaran.


"Mulai deh kepo. Nggak usah di jawab Mas, biarin aja." sahut Kinan.


"Aduhh, udah panggil Mas aja nih. Mas ketemu gede ya Dok?" canda Ana.


Kinan hanya tersenyum mendengar candaan Ana itu. Bidan satu itu memang suka bergurau, dan Kinan paham akan hal itu.


"Masnya punya teman loreng juga kan?? Kenalin dong sama aku."


"Hei, hei. Kalo mau kenalan, ya nyari aja sendiri. Ngapain minta tolong Mas Indra?? Udah Mas, nggak usah di perdulikan. Ayoo kita kesana." Kinan menunjuk wahana tornado.


"Ihh buru buru amat sih dok?? Aku ganggu kencan kalian ya??"


"Iya, ganggu banget." jawab Kinan sinis namun masih di iringi senyuman.


"Ciee, akhirnya ngaku nih ya kalo lagi kencan." ejek Ana lagi.


"Iya, aku memang lagi kencan. Sekarang sudah puas kan?? Bolehkah saya pergi bu Bidan Ana yang cantik??" ucap Kinan berpura pura.


"Ohh, boleh kok Dokter. Silahkan lanjutkan kencan kalian yaa. Jangan malem malem pulangnya ya dokter, lelaki loreng kalo malam bisa jadi agresif." sindir Ana. "Jangan lupa pakai pengaman ya??"

__ADS_1


Namun beruntungnya Kinan dan Indra sudah pergi menjauh dari Ana. Jadi mereka tidak terlalu mendengar kalimat terakhir Ana.


"Itu tadi teman rumah sakit??"


"Iya Mas. Dia bidan di rumah sakit."


"Ohh."


"Kenapa Mas??"


"Nggak apa apa, lucu aja cara bicaranya."


"Dia emang gitu Mas, lucu. Suka bercanda, teman jaga yang konyol." jelas Kinan. "Mas suka sama dia??"


"Ohh, ngg..nggak kok. Aku cuma bilang kalo dia itu lucu."


"Kirain suka. Kalo emang suka, nanti aku kenalin deh. Dia itu emang suka cowok berseragam loreng seperti Mas gitu. Obsesi kayaknya." imbuh Kinan.


"Apa yang dia suka dari lelaki berseragam loreng??" tanya Indra penasaran.


"Apa ya?? Katanya dia sih loreng itu keren dan kelihatan macho."


"Selain itu??" tanya Indra lagi.


"Katanya kalo sama loreng kemana mana terjaga, dan kelihatan bangga aja kalo jalan sama loreng." imbuh Kinan.


"Kinan sendiri nggak suka loreng??" tiba tiba pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Indra.


"Suka lah. Papaku kan loreng." Kinan menjawab cepat pertanyaan Indra.


Mereka pun menghabiskan liburan bersama di taman bermain itu. Seringkali terlihat mereka mengambil foto berdua, dan tak bisa di pungkiri Indra sangat senang menghabiskan momen kebersamaaan mereka.


Saat memasuki waktu tengah hari. Mereka pun keluar dari taman bermain itu.


"Kita cari masjid dulu yukk Mas. Sholat sekalian cari makan." ajak Kinan.


"Iya." jawab Indra seraya tersenyum. Senyum yang menggambarkan kegembiraan.


Tak lama berselang, mobil mereka pun berhenti di sebuah masjid dengan halaman parkir yang sangat luas. Banyak wisatawan juga singgah disana meski hanya sekedar merenggangkan tubuh.


"Aku sholat dulu ya Mas." pamit Kinan.


Indra menganggukkan kepalanya. Indra pun juga masuk ke area masjid yang berlawanan arah dari Kinan.


.


Selesai sholat, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.


"Kita mau makan dimana nih Mas?"


"Terserah. Kinan mau makan apa?" tanya Indra yang berusaha mulai akrab dengan panggilan itu.


"Kalo aku sih terserah Mas, yang penting makan." jawab Kinan santai.

__ADS_1


"Hemm. Apa ya? Saya juga bingung." Indra terdiam sejenak memikirkan menu makanan apa yang di sukai Kinan.


"Kamu suka nasi pecel??" Indra menawarkan.


"Suka, suka, suka." jawab Kinan kegirangan. "Emangnya siang gini ada yang jual nasi pecel Mas?? Biasanya kan nasi pecel itu di jual saat pagi hari."


"Ada kok, di dekat sini ada yang jual nasi pecel. Enak lagi. Mereka jualnya tuh dari pagi sampai sore." jelas Indra.


"Hemm, baru tahu. Oke deh kita makan itu aja." Kinan menyetujui ajakan Indra.


Mereka pun mampir di sebuah kedai sederhana bertuliskan 'Nasi Pecel Pincuk'.


"Nasi pecelnya dua ya Mbak." ucap Indra pada pelayan.


"Lauknya apa Mas?" tanya si pelayan.


"Aku...ini aja deh." Indra menunjuk telur dadar yg ukurannya cukup besar. Telur dadar yang berisi sayuran. "Kamu mau lauk apa??"


"Ehm..aku ayam aja deh Mas."


"Nasi pecel telur dadar satu, nasi pecel ayam satu ya?" pelayan mengulang kembali pesanan mereka. "Minumnya apa??"


"Teh hangat aja Mbak." jawab Kinan.


"Iya sama, saya juga teh hangat." Indra menyamai Kinan.


"Ihh, ikut ikutan." sindir Kinan.


"Nggak lah, kan emang sesuai selera." jawab Indra tersenyum. "Berapa semua Mbak?" tanya Indra segera membuka dompetnya.


"Biar aku bayar sendiri." sahut Kinan seraya membuka tasnya. Namun dengan sigap Indra menghalangi seraya menggelengkan kepala.


"Tapi....."


"Ssttttt." Indra meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sebagai tanda jika dia tidak mau menerima penolakan Kinan.


"Totalnya semua empat puluh lima ribu Mas." ucap kasir.


"Ini ya Mbak." Indra memberikan selembar uang seratus ribu ke kasir.


"Ciee, yang habis gajian nih." sindir Kinan.


Indra hanya tersenyum.


"Tadi saya kan sudah di bayari untuk masuk ke taman bermain, sekarang giliran saya yang bayarin." jelas Indra.


"Iya deh."


Si pelayan pun mulai menyajikan pesanan mereka. Saat sedang menunggu Kinan melihat lihat sekitar.


"Rame juga ya disini."


"Disini memang nasi pecel yang paling favorit di Malang. Enak dan bumbu pecelnya juga terasa." jelas Indra.

__ADS_1


"Mas sering makan disini??"


"Nggak juga. Cuma kalo pas lagi main ke Malang aja." jawab Indra.


__ADS_2