
Keesokan paginya, para rombongan pun mulai menaiki kapal dan berlayar menuju Pelabuhan Merak. Sayangnya, saat itu ponselnya Indra mati. Jadi dia tidak bisa menghubungi Kinan.
Dan begitu juga sebaliknya, Kinan yang terlihat sudah sampai di rumah pun tak bisa menghubungi Indra. Ternyata semalam ponselnya Kinan kehabisan baterai, itulah kenapa Indra tak bisa menghubungi Kinan.
.
Malam harinya saat Kinan hendak pulang dari rumah sakit. Tiba tiba saja sebuah motor berhenti di depannya. Seorang pria berseragam loreng dan memakai helm teropong hitam.
Siapa nih orang??
Seketika saat helm di buka.
"Mas Indra?!!!" Kinan terkejut.
"Iya Dek, ini Mas." jawab Indra melempar senyuman pada Kinan.
Terlihat mata Kinan mulai berkaca kaca, dia tak bisa menyembunyikan rasa kebahagiaannya.
"Udah, jangan nangis. Nanti orang orang malah ngira Mas ngapa ngapain Adek lagi." ucap Indra seraya menghapus air mata di pelupuk mata Kinan.
"Ini beneran Mas Indra kan?? Bukan mimpi??" tanya Kinan masih tak terasa.
Mendengar itu, Indra pun turun dari motornya. Dia langsung memeluk perempuan yang selama dua bulan ini selalu dia rindukan, perempuan yang selalu mengganggu pikirannya.
"Sudah percaya kan kalo ini bukan mimpi??" tanya Indra seraya memeluk erat sang kekasih.
Kinan hanya bisa menganggukkan kepala. Dia tak bisa berkata apa apa. Matanya tak bisa membohongi akan adanya kebahagiaan itu. Kini Indra benar benar menempati ruang yang spesial di hati Kinan.
"Mas Indra kok bisa ada disini??" tanya Kinan heran seraya melepas pelukannya. "Mas Indra nggak lagi kabur kan??"
"Nggak lah. Mas disini karena memang udah waktunya pulang." ucap Indra.
"Tapi untung aja pulang, kalo masih tetap disana mungkin Mas bakal pulang duluan untuk liat Adek. Setelah liat Adek sebentar, baru deh balik lagi kesana." imbuh Indra.
"Hemm." respon Kinan.
"Ya habisnya, satu bulan aja udah rasanya lama banget."
"Iya iya. Namanya juga abdi negara, kapan pun ibu pertiwi memanggil kan memang harus siap siaga." sahut Kinan.
"Oh iya katanya tiga atau empat bulanan, kok cuma dua bulan aja udah pulang??" tanya Kinan penasaran.
"Emang kenapa?? Adek nggak suka ya Mas pulang lebih cepat." Indra menduga.
"Nggak, aku cuma pengen tau aja. Kok bisa berubah dari jadwal."
"Mas juga nggak tau. Tiba tiba aja karena kepentingan mendadak, jadi latihan gabungannya di percepat." jelas Indra.
"Ehm, ya udah kalo gitu. Yang terpenting Mas udah pulang dalam keadaan sehat." jawab Kinan.
"Iya. Ya udah yukk Mas antar pulang." ucap Indra seraya menarik tangan Kinan.
"Ehh, tunggu sebentar." ada sesuatu yang mengganjal pikiran Kinan.
"Kenapa lagi??" tanya Indra penasaran.
Kinan memperhatikan baju loreng yang Indra kenakan.
"Kenapa Mas masih pakai seragam??"
"Mas kan tadi baru sampai, makanya langsung kesini." imbuh Indra.
"Apaa?! Jadi Mas langsung datang kesini??"
"He em." Indra mengangguk.
"Mas nggak capek?? Harus nyopiri Komandan dari perjalanan jauh, ehh malah langsung datang kesini."
"Mas kangen Dek, makanya langsung kesini."
"Kan masih ada hari esok."
"Nggak. Sebelum Mas ketemu Adek, pikirannya Mas nggak bisa tenang." jawab Indra.
"Mas, Mas." ucap Kinan heran.
Kenapa nih orang nggak mikirin kesehatannya sih?? Tubuhnya kan juga perlu istirahat. Gumam Kinan.
"Lagian kalo udah liat kamu, pikirannya Mas jadi tenang. Dan rasa capeknya juga ikut ilang."
"Mulai deh gombalnya." sindir Kinan.
"Beneran. Serius." jawab Indra.
Kinan pun hanya membalas dengan tersenyum.
__ADS_1
"Yukk kita pulang." ajak Indra.
Di tengah perjalanan.
"Mau mampir makan dulu Dek??" tawar Indra.
"Hemm, nggak deh Mas. Kita langsung pulang aja." tolak Kinan.
"Adek nggak lapar??"
"Emang Mas sendiri lapar??" tanya balik Kinan.
"Lapar lah. Dari tadi siang Mas belum makan."
"Kenapa nggak makan?? Nggak di kasih makan ya??" Kinan menduga.
"Di kasih sih, cuma Mas lagi nggak enak makan aja."
"Kenapa??"
"Perutnya Mas lagi sakit."
"Loh, kenapa bisa sakit??" tanya Kinan kuatir.
"Ya..., mungkin karena mau ketemu sama Adek, sangking senengnya sampe nih perut ikutan mules."
"Apa hubungannya coba??" Kinan heran.
"Ya, ada hubungannya lah. Hati kan dekat sama perut. Jadi saat hati berdegup kencang, akibatnya perut juga ikut mules." jelas Indra.
"Teori yang mengada ada." gurau Kinan.
"Lagian yang berdegup kencang itu jantung, bukan hati." imbuh Kinan.
"Oh iya, jantung ya??" Indra baru sadar. Kinan pun tersenyum.
Setelah lama berjalan, mereka pun sampai di sebuah warung lalapan favorit Kinan.
"Dek." panggil Indra.
"Hem." jawab Kinan yang sedang menikmati lalapan ayam.
"In Shaa Allah besok orang tuanya Mas mau datang kesini."
"Apa?!! Besok??!" ucap Kinan terkejut.
"Kok buru buru Mas??"
"Ya karena Mas pengen cepet menghalalkan Adek. Dan sebagai bukti, kalo Mas itu nggak main main sama Adek." jelas Indra.
"Tapi Papa Mamaku kan belum tau kalo orang tuanya Mas mau kesini."
"Nanti Mas mau ngabarin orang tuanya Adek, kalo besok orang tuanya Mas mau datang kesini."
"Mas mau ngomong sama Papa??"
"Iya." jawab Indra santai.
Kinan semakin terkejut. Indra kelihatan sama sekali tidak gentar untuk menemui Papanya Kinan. Bahkan yang terlihat di wajahnya hanya perasaan senang.
Namun di balik itu semua, sebenarnya ada perasaan takut di hati Indra. Dia takut kedatangan orang tuanya tidak di terima oleh keluarga Kinan. Dia takut orang tuanya Kinan tidak akan menerima pinangannya. Dia takut orang tua Kinan malah akan menjauhkan sang anak dari dirinya.
Tapi meski pun begitu Indra tetap tak mau menyerah. Dia selalu yakin yang namanya niat baik, pasti akan di beri jalan.
Sesampainya di rumah Kinan.
"Assalamuallaikum, Pah." ucap Kinan memasuki rumah.
"Waallaikumsalam." jawab Papa.
Beliau pun sejenak melihat Indra yang berada di sisi Kinan.
"Kamu pulang sama Indra??" tanya Papa seraya membuang muka.
"Iy..iya Pah." jawab Kinan gugup.
"Siap, ijin menjawab Bapak. Saya duluan yang mengajak Adek untuk pulang bersama." tegas Indra.
"Bukannya kamu seharusnya ikut latihan gabungan??" tanya Papa namun dengan pandangan yang masih fokus pada koran yang ada di depannya.
"Siap, ada sesuatu mendadak yang mengharuskan kami mempercepat latihan gabungannya Bapak." jawab Indra.
"Ohh." jawab Papa singkat.
Sebenarmya beliau tahu, namun beliau pura pura tidak mengetahuinya. Sangat tidak mungkin jika seorang Jenderal tidak tahu gerak gerik bawahannya.
__ADS_1
"Kamu tau kan terakhir kali saya bilang apa??" ucap sang Jendral.
"Siap."
Kata kata yang mana?? Sepertinya banyak deh yang beliau bicarakan. Terus yang beliau maksud itu kata kata apa?? Gumam Indra.
"Saya kan pernah bilang kalo kalian itu bukan mahrom, tidak baik jika berdekatan atau bahkan elakukan kontak fisik dengan anak saya." tegur Papa.
"Siap, Bapak. Itulah kenapa alasan saya ada disini. Saya ingin menyampaikan pada Bapak dan Ibu, jika besok orang tua saya akan datang kesini." jelas Indra.
Sontak orang tua Kinan pun terkejut, namun sang Papa tetap berusaha bersikap tenang.
"Ekhem." Papa berdehem. "Apa kamu benar benar siap meminang anak saya??"
"Siap, Bapak."
"Siap itu bukan hanya menikahnya saja, tapi siap untuk ke depannya juga. Dari segi mental dan juga finansial." ucap tegas Papa.
"Siap, Bapak."
"Apalagi kamu berencana untuk menikahi anak saya secara agama dulu, apa kamu tidak berfikir resiko yang akan kamu tanggung jika kesatuanmu tahu??" saran Papa.
"Siap, Bapak. Saya sudah tahu semua resiko yang akan saya tanggung. Tetapi, seperti yang saya bilang sebelumnya. Setelah kami menikah secara agama, kami akan langsung mengajukan pernikahan ke Batalyon." jelas Indra.
"Nantinya setelah pernikahan sirih ini di lakukan, Kinan masih bisa tetap tinggal bersama Bapak. Saya tidak akan melewati batas sebelum kami selesai pengajuan."
Ucap Indra berusaha menegaskan pada sang Jenderal bahwa jika nantinya status Indra berubah menjadi seorang suami, dia tidak akan berani melewati batas untuk menyentuh tubuh Kinan. Meskipun itu halal baginya.
Sejenak orang tua Kinan hanya terdiam.
"Baiklah, saya tunggu kedatangan orang tuamu." jawab sang Jenderal.
Seketik wajah Indra pun menjadi sumringah. Wajah yang tadi tegang tiba tiba menjadi sebuah kebahagiaan bagi Indra.
"Bb...bbaik Pak. Siap." ucap Indra gugup.
Meski Indra tak tau apa yang akan di katakan orang tua mereka saat besok bertemu, setidaknya orang tua Kinan mau menerima kedatangan orang tua Indra.
.
Keesokan paginya. Saat Indra hendak menjemput orang tuanya di Bandara.
"Wan, aku berangkat dulu ya??" pamit Indra pada Erwan.
"Ehh, ehh. Komandan nyari kamu tuh tadi." ucap Erwan.
"Nyari?? Ada apa??" tanya Indra heran.
"Nggak tau, menghadap aja sendiri." jawab Erwan.
Waduhh, ada apa lagi ya?? Masa aku di suruh nyopirin sih?? Perasaan kemarin aku udah ijin deh untuk beberapa hari ini nggak bisa ngelayani dulu. Mana udah jam segini lagi. Masih harus nyari mobil carter.
Indra pun memberanikan diri menghadap ke Komandan yang saat itu kebetulan sedang ada kediaman.
"Siap. Ijin menghadap Komandan." ucap Indra.
"Iya, Ndra. Sini masuk." jawab Komandan mempersilahkan sang ajudan.
"Saya dengar hari ini orang tuamu datang ya dari Sulawesi??" tanya Komandan.
"Iya, Komandan.
"Kamu mau jemput mereka naik apa??"
"Siap. In Shaa Allah saya mau nyari mobil carter Komandan."
"Ya udah kalo gitu nggak usah nyari mobil carter, tuh bawa aja mobil saya." ucap Komandan seraya menunjuk pada mobil pribadinya yang berwarna putih.
"Ohh, ehmmm. Tidak perlu Komandan, nanti biar saya saja yang cari." Indra berusaha menolak.
"Kamu tidak menghargai bantuan saya??" ancam Komandan.
"Siap, bukan begitu Komandan. Hanya saja saya tidak enak. Takutnya Ibu atau anak anak mau pergi." jawab Indra beralasan.
"Tidak. Ibu dan anak anak tidak ada acara minggu ini. Lagi pengen di rumah saja." ucap sang Komandan.
"Jadi kamu bawa aja." imbuh Komandan.
Sejenak Indra berfikir.
"Mau bawa mobil saya, atau saya nggak ijinkan kamu untuk ijin beberapa hari ini??" ancam sang Komandan, yang sebenarnya berniat baik.
"Baik, Komandan. Saya pinjam mobilnya." jawab Indra terpaksa.
"Ya udah bawa aja. Kamu tau kan tempat kuncinya dimana??"
__ADS_1
"Siap. Terima kasih, Komandan." jawab Indra seraya berlalu. Ada rasa tidak enak di dalam hatinya. Sang Komandan sangat baik padanya. Selama ini beliau selalu membantu Indra.
Indra pun bergegas menuju Bandara menggunakan mobil pribadi sang Komandan.