Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Tak Terduga


__ADS_3

Ingin sekali Kinan menjawab seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia hanya bisa diam. Dia tidak ingin mempermalukan orang tuanya.


"Kenapa begitu dadakan ya Bu??" tanya Mama heran.


"Nggak dadakan juga sih Bu. Mereka kan memang sudah dekat lama. Nggak baik juga membiarkan mereka sering berduaan, takut nanti ada sesuatu yang terjadi." jelas Bu Antok.


"Iya. Mereka juga masih sama sama muda, jenjang mereka masih panjang." timpal Papa.


"Kami tidak menyuruh mereka untuk menikah sekarang Pak Rizal. Kami hanya ingin mereka sementara ini bertunangan saja." timpal Pak Antok.


"Yang mau menjalani hubungan ini kan mereka. Apa tidak sebaiknya kita menanyakan pendapat mereka dulu??" ucap tegas Papa.


"Kalo Niko sih setuju setuju saja Pak. Dia nurut sama orang tua." jawab tegas Pak Antok.


"Bagaimana dengan Kinan?? Apa Kinan setuju jadi menantu Tante??" tanya Bu Antok langsung kepada Kinan.


Kinan yang di todong pertanyaan seperti itu pun hanya bisa terdiam. Sebenarnya dia ingin sekali menolak, namun saat melihat raut wajah kedua orang tuanya dia jadi tak berani untuk menjawab. Mereka adalah sahabat dekat. Dia tidak ingin mempermalukan orang tuanya.


"Mungkin sebaiknya biarkan Kinan berfikir terlebih dahulu Bu." saran Mama.


"Apa lagi yang perlu di pikirkan?? Kinan cuma tinggal jawab iya, gitu aja. Toh kalian selama ini juga sudah dekat kan??" imbuh Bu Antok.


"Iya, bener. Lagian nanti semua acara akan saya tanggung. Jadi Anda tidak perlu repot repot." timpal Pak Antok.


Mendengar hal itu, mereka hanya terdiam. Keluarga Bu Antok seakan memaksa Kinan untuk menjadi menantunya. Dan orang tua Kinan pun juga tidak bisa terlalu menolak lamaran itu, karena mengingat hubungan persahabatan mereka yang sangat dekat.


"Ijin. Om, Tante. Bisa saya bicara sebentar sama Kinan??" ijin Niko.


"Baik Nak. Bicaralah." jawab Papa.


Niko pun langsung menarik tangan Kinan keluar dari ruangan yang sedang memanas itu. Niko mengajaknya ke sebuah balkon.


"Huhhh?? Akhirnya bisa ngirup udara segar juga." ucap Niko lega. "Dari pada di ruangan itu, bikin aku sesak nafas tau."


Namun Kinan hanya terdiam sambil memandangi Niko.


"Kenapa diam terus woiii???"


"Kenapa nggak bilang apa apa??" tanya Kinan.


"Bilang apaan??"


"Ya bilang tentang masalah ini."


"Masalah apa?? Kamu nyuruh aku untuk nentang orang tua gitu?? Kamu nyuruh aku jadi anak durhaka??"


"Ya bukannya gitu. Setidaknya kamu bilang kek kalo kita memang nggak ada hubungan apa apa."


"Sudah. Tapi orang tua tetap memaksa untuk menjadikanmu menantunya." tegas Niko. "Kamu sendiri kenapa tadi diam aja?? Kalo nggak suka, seharusnya kamu menolak kan??" Niko balik bertanya.


"Aku nggak mau buat orang tuaku kecewa. Aku nggak mau mempermalukan mereka."


"Nah itu, sama aja kan??" jelas Niko.

__ADS_1


"Terus harus gimana nih sekarang??" tanya Kinan bingung.


"Kalo menurutku sih, ya udah kita ikutin alur yang ada aja."


"Maksudnya kita harus tetap bertunangan gitu??" tanya Kinan terkejut.


"Teruss mau bagaimana lagi?? Kamu punya solusi lain??"


"Nggak, nggak. Itu nggak mungkin. Kita nggak ada perasaan apa apa." Kinan tegas menolak.


"Ya udah kalo gitu kamu jawab aja seperti itu." ucap Niko yang hendak beranjak, namun di cegah Kinan.


"Hei, tunggu dulu." Kinan menarik tangan Niko. "Nggak mungkin aku ngomong gitu."


"Aku juga nggak mungkin ngomong seperti itu."


"Terus gimana dong??" Kinan semakin bingung.


"Ya kalo saranku sih seperti itu tadi." ucap Niko santai.


"Bertunangan??" Kinan heran. Niko hanya mengangguk.


"Toh ini hanya bertunangan, bukan menikah. Lagian aku juga nggak mungkin berbuat macem macem sama kamu." jelas Niko.


Mata Kinan pun mulai berkaca kaca.


"Aku belum siap untuk hubungan yang serius seperti itu." ucap Kinan lirih.


"Udah, udah. Nggak usah nangis." Niko memeluk Kinan hangat. "Kita jalani bareng bareng ya. Aku akan nemenin kamu dan berusaha jadi teman yang terbaik buat kamu."


"Dengan kita selalu bersama, perasaan itu akan muncul dengan sendirinya." ucap Niko berusaha menenangkan Kinan.


"Lagian kita sudah sama sama saling kenal sifat masing masing. Menurutku tidak terlalu sulit untuk menyatukan kita." imbuh Niko meyakinkan Kinan. "Aku akan membantumu. Dan aku janji aku nggak akan macem macem sama kamu."


Selang beberapa saat mereka berdua pun kembali. Ternyata semua makanan sudah tersaji di meja.


"Ayo makan dulu." ajak Bu Antok.


"Iya, Tante." jawab Kinan lembut.


"Mereka pun makan malam bersama dengan santai."


Selesai makan malam.


"Bagaimana Kinan, apa kamu sudah memutuskan Nak??" tanya Bu Antok mendesak.


Kinan terkejut, pertanyaan itu kembali menerpanya.


"Sudah, Mah. Kinan sudah memutuskan." dengan sigap Niko mengambil alih pertanyaan Mamanya itu. "Kami akan menerima perjodohan ini." tegas Niko.


Orang tua Kinan yang mendengar hal itu sedikit terkejut, namun ada perasaan senang dalam hati mereka.


"Beneran Nak??" tanya Bu Antok senang.

__ADS_1


Niko hanya mengangguk.


"Syukurlah kalo gitu." ucap Pak Antok.


"Kalo gitu sebagai tanda kalian sudah bertunangan, nih Tante sudah nyiapin cincin ini buat kalian." Bu Antok mengeluarkan sepasang cincin dari dalam tasnya.


Kinan yang melihat itu terkejut. Ternyata Tante sudah menyiapkan cincin. Penuh dengan persiapan.


"Mungkin ini kelihatan sederhana, tapi Tante janji dalam waktu dekat ini kami akan mempersiapkan acara resmi pertunangan kalian." imbuh Bu Antok sembari tersenyum.


Kinan yang melihat itu hanya bisa tersenyum tak berdaya.


"Ayo sini Nak, pasangkan cincin ini pada Kinan." ucap Bu Antok pada Niko.


Niko pun mengambil cincin itu, dan memasangkannya ke jari manis Kinan. Begitu pun sebaliknya. Cincin itu kelihatan pas sekali di jari manis keduanya.


Kelegaan pun terpancar dari raut wajah semua orang yang ada di ruangan itu.


Setelah mengobrol cukup lama, mereka pun pamit pulang.


"Kinan nanti di antar pulang sama Niko saja ya??" pinta Bu Antok.


"Terus Nenek??"


"Nenek nanti bisa di antar sama sopir." jawab Mama.


"Kasian Nenek sendirian." Kinan mengkhawatirkan Nenek.


"Nggak sendirian kok. Kan ada Indra." ucap Nenek.


"Udah, kamu jalan jalan aja dulu sama Niko. Menghabiskan waktu bersama itu perlu loh." ujar Bu Antok seraya tersenyum.


"Ya udah kalo gitu kami pulang dulu ya." ucap Pak Antok pada keluarga Pak Rizal.


"Hati hati ya." ucap Papa.


Pak Antok hanya mengangguk.


"Jaga Kinan baik baik Nak. Dia sekarang sudah jadi tanggung jawabmu." saran Pak Antok pada anaknya.


"Iya, Pah." jawab Niko tegas.


Orang tua Niko pun pergi.


"Kami juga pulang dulu ya Nak." ujar Mama.


"Nanti tolong antarkan Kinan pulang." suruh Papa.


"Siap." jawab Niko tegas.


Mereka semua pun pulang meninggalkan Kinan dan Niko.


"Ayo kita juga pergi." ajak Niko sambil menjulurkan tangannya pada Kinan.

__ADS_1


Kinan pun mengangguk dan mengikuti Niko masuk ke dalam mobil.


__ADS_2