Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Rumah Baru


__ADS_3

Saat dalam perjalanan pulang.


"Oh iya, Adek kemarin bilang katanya udah nemuin rumah buat kita."


"Oh iya Adek lupa mau cerita." jawab Kinan baru ingat.


"Rumahnya ada di sekitar Malang sini loh Mas."


"Ya udah kalo gitu, mumpung kita disini Mas juga mau lihat rumahnya." sahut Indra.


Kinan pun menganggukkan kepalanya dengan semangat. Dia memang ingin sekali menunjukkan rumah yang sudah dia pilih kepada sang suami.


"Adek kemarin juga sempat beli beberapa perabotan rumah Mas."


"Uangnya cukup??" tanya Indra kuatir.


"In Shaa Allah cukup. Kan ada uangnya Adek juga."


"Loh, kok pakai uangnya Adek??"


"Udah lah Mas, kita kan sudah jadi suami istri. Apa yang Adek punya, itu juga punya Mas. Milik kita bersama." ucap Kinan sembari tersenyum.


"Tapi kan Mas yang nggak enak Dek. Mas ini kepala keluarga, seharusnya semua kebutuhan keluarga adalah tanggungannya Mas."


"Sstttt. Sudah, nggak usah ngeyel." sahut Kinan.


"Yang namanya rumah tangga, harus di bangun sama sama dari nol. Mulai sekarang kita berjuang sama sama ya Mas??" ajak Kinan.


"Iya, sayang." ucap Indra membelai sang istri.


Beruntungnya Mas punya kamu, Dek. Perempuan sholiha yang bisa menerima Mas apa adanya.


Tak beberapa lama berselang, mereka pun tiba di sebuah perumahan di Kota Malang. Perumahan yang cukup asri. Sudah banyak orang yang tinggal disana. Hanya sebagian kecil saja rumah yang masih dalam tahap pembangunan.


"Nanti setelah itu belok kiri Mas. Di pojokkan itulah rumah kita." tunjuk Kinan.


"Yang cat hijau mint ini?? " tanya Indra untuk memastikan.


"Nah iya betul."


Indra pun memberhentikan mobilnya di depan rumah dengan nuansa cat berwarna hijau mint. Memang bukan perumahan yang mewah, namun terlihat cukup nyaman untuk pengantin baru seperti mereka. Apalagi Kinan sangat pintar memadu padankan gaya interior dan eksterior rumah tersebut, sehingga terlihat lebih elegan dari rumah di sekitarnya.


Indra pun memasukkan mobilnya ke dalam garasi yang ada di samping taman, garasi yang masih belum ada pagarnya. Dan hanya sebuah taman mini dengan beberapa bunga beserta rumput yang sudah menghiasinya.


"Warnanya cantik." ucap Indra saat melihat lihat hasil kreasi sang istri.


Indra pun melihat lihat rumah itu dari arah depan.


"Kok kelihatannya rumah ini lebih besar dari rumah sebelah??" tanya Indra heran.


"Karena Adek milih yang di pojokkan. Kan ada tanah lebihnya tuh, makanya kelihatan lebih besar dari yang lain." jelas Kinan.


"Ohh." Indra paham.


Mereka pun berjalan masuk ke dalan rumah.

__ADS_1


"Berarti untuk taman ini kita tinggal pesan pagar ya??"


"Iya Mas."


"Ya udah nanti Mas pesenin ke temennya Mas deh, biar dapat harga miring." ucap Indra tersenyum.


Indra tak sabar melihat isi dalam rumah itu.


"Assalamuallaikum." ucap Indra saat memasuki rumah.


"Waallaikumsalam." jawab Kinan dari arah belakang. Indra pun tersenyum.


Dia melihat lihat isi rumah. Ternyata sudah ada beberapa perabotan disana. Seperti sofa berwarna beige, kasur dan juga kitchen set.


Untuk kulkas, AC dan televisi pun juga sudah ada, namun belum di pasang. Karena Kinan masih bingung mau di pasang dimana.


"Enaknya ini di pasang dimana ya Mas??" tunjuk Kinan pada kulkas dan televisi yang masih tersimpan rapi dalam dus.


"Kalo kulkas sih jelas pasti ada di dapur, kalo untuk televisi dan AC ya mending taruh di kamar aja."


"Masa televisi taruh di kamar sih??"


"Ya nggak apa apa, biar nanti kita nggak usah keluar keluar kamar lagi." goda Indra.


"Ihh, genit." celetuk Kinan.


Indra pun membantu memberaskan barang barang yang masih belum terpasang pada tempatnya. Dan Kinan membantu membersihkan lantai rumah itu. Maklumlah, rumah itu masih belum berpenghuni jadinya masih penuh dengan debu.


Setelah beberapa jam berlalu, mereka pun selesai membersihkan rumah. Rumah itu jadi kelihatan lebih rapi dan lebih bersih.


"Iya, nanti setelah nikah KUA baru boleh di tempati." jawab Kinan.


Namun tiba tiba saja Indra pun memeluk Kinan dan menjatuhakan tubuhnya ke ranjang.


"Ehh, Mas." ucap Kinan terkejut.


"Mas capek Dek abis beres beres. Mas istirahat dulu ya??"


"Tapi nggak usah pake peluk peluk gini juga dong Mas."


"Ya nggak apa apa. Ini kan namanya tutorial menjadi pengantin baru." Indra ngeles.


"Mana ada tutorial kayak gitu??"


"Ada lah. Tutorial bikin anak aja ada." ucap Indra mulai nakal.


"Ihh, Mas ini ngomongnya itu loh."


"Mas kangen Dek. Ijinkan Mas peluk Adek seperti ini dulu ya??" pinta Indra yang semakin erat memeluk tubuh Kinan.


Kinan yang tak kuasa untuk menolak, akhirnya menuruti kemauan istrinya. Saat itu suasana sedang mendung dan gerimis, memang sangat cocok untuk tidur.


Kinan pun juga ikut terlelap dalam pelukan Indra.


.

__ADS_1


Setelah dua jam berlalu, perlahan Indra pun mulai membuka matanya. Lengannya terasa berat, ternyata sang istri sedang terlelap di lengannya. Melihat pemandangan itu, Indra pun tersenyum.


Dia membelai wajah sang istri dengan lembut. Namun sang istri sedikit gelisah.


Sepertinya dia terganggu dengan jilbab ini. Biar aku buka saja jilbabnya.


Gumam Indra saat melihat Kinan yang seakan akan terganggu dengan hijab yang masih menempel di kepalanya. Indra perlahan membuka hijab itu.


Melihat sang istri tanpa hijab, membuat Indra semakin kagum dengan kecantikan alaminya. Dia membelai lembut setiap jengkal wajah Kinan.


Saat tangannya menyentuh bibir Kinan, dia pun kembali ke momen saat di rumah Nenek waktu itu. Bibir ranum yang membuatnya candu. Ingin sekali dia merasakannya lagi.


Namun tak di sangka, sentuhan Indra itu membuat Kinan terbangun. Kinan pun mengerjapkan matanya. Sadar jika Indra sedang menatapnya dari jarak dekat, sontak Kinan pun terbangun dan sedikit menjauh dari sang suami.


"Mm...Mas." ucap Kinan.


"Kenapa menjauh??" tanya Indra heran.


"Ii..itu..Kita masih belum sholat Mas, gimana kalo kita sholat berjamaah dulu." Kinan berusaha mengalihkan pembicaraan.


Namun perkataannya tak di gubris oleh Indra. Dia perlahan mendekati Kinan. Kinan yang melihat itu semakin canggung, tubuhnya perlahan mundur hingga mencapai batas dinding.


"Mm..Mas. Ki.., kita belum nikah KUA."


"Tapi kita sudah halal Dek."


"Ta.., tapi kita masih belum resmi Mas."


"Resmi atau tidaknya hanya soal waktu. Toh kita sudah melewati semua pengajuan." imbuh Indra.


"Ta.., tapi tetap saja kita belum resmi."


"Apa Adek masih tidak percaya kalo Mas akan bertanggung jawab??"


"Bu.., bukan begitu Mas."


"Terus kenapa??"


"Adek.., Adek masih belum siap Mas." ucap Kinan.


Indra yang mendengar hal itu pun seakan tak bisa berkutik. Dia tak ingin memaksa sang istri untuk melakukannya. Lagi pula dia masih teringat akan janjinya pada sang mertua.


"Ya udah, kita sholat jamaah dulu ya??" ajak Indra.


Kinan yang mendengar hal itu pun tersenyum. Dia bergegas bangun dari tempat tidur. Namun sayangnya, di karenakan ranjangnya yang terlalu lembut membuat Kinan tak bisa menjaga keseimbangan. Indra pun berusaha menolong, dan akhirnya Kinan malah jatuh menimpa Indra.


Tubuhnya jatuh tepat di atas tubuh Indra. Sejenak mereka sama sama canggung. Bahkan tanpa sengaja, Indra melihat belahan dada Kinan. Belahan dada yang mulus dan putih itu seketika membuat tubuh Indra berdesir hebat. Untung saja saat itu setan khilaf tidak menempel di tubuh Indra.


"Ehm, Dek. Ehm,.. Kita, kita sholat dulu ya??" ajak Indra.


Sontak Kinan pun langsung bangun dan pergi keluar kamar.


Hahh?? Bisa gawat kalo kita lama lama disini. Bisa bikin aku makin stres aja.


Setelah selesai sholat berjamaah, mereka pun pulang.

__ADS_1


__ADS_2