
Sesampainya di rumah Nenek. Terlihat sudah ada seorang lelaki yang menunggu di teras rumah. Lelaki dengan postur tubuh tegap, tinggi, tampan nan keren. Dia sedang asyik mengobrol dengan Nenek. Mereka kelihatan sangat akrab.
"Assalamu'allaikum." salam Kinan saat turun dari mobil.
"Wa'allaikumsalam." jawab Nenek. Kinan pun mencium tangan Nenek. Namun mengabaikan tangan Niko.
"Loh, aku nggak di salamin juga nih??" gerutu Niko.
"Ngapain?? Nggak penting tau." jawab Kinan tersenyum.
"Udah jalan jalannya Nak??"
"Udah Nek." Kinan memeluk tubuh Nenek.
"Enak nih yang di peluk." protes Niko.
"Mau di peluk juga??" tanya Kinan.
Niko pun menganggukkan kepalanya sembari merentangkan kedua tangannya, berharap Kinan akan berlari ke pelukannya.
"Tuh ada tiang, pelukan aja sama tiang." canda Kinan.
Mendengar itu tangan Niko pun lemas. Dia menatap Kinan tajam.
"Kenapa?? Mau marah??? Wweekkk??" ledek Kinan sambil menjulurkan lidahnya.
"Tuh kan Nenek lihat sendiri. Dia masih tetap aja bandel kayak dulu kan??" Niko mengadu ke Nenek.
"Biarin." Kinan mengejek.
"Ehmm, memang pengen di cubit nih bocah."
Niko pun melancarakn aksinya untuk mencubit Kinan, ya meskipun itu hanya bercanda. Tapi mereka terlihat sangat serasi. Seperti bukan hanya sebatas teman, melainkan sepasang kekasih.
Dari garasi terlihat kedua mata sedang menatap Niko dan Kinan yang sedang bergurau. Ada yang retak, tapi bukan kaca. Berkali kali Indra menghela napas panjang untuk menghilangkan rasa yang tidak enak di dalam dadanya.
Kenapa nggak enak sekali ya rasanya? Padahal aku kan cuma terbawa suasana saja. Kenapa terbawa sampai sekarang? Ingat Ndra, ingat. Kamu bukan levelnya, jangan berharap lebih.
Gerutu Indra dari dalam hati sembari membersihkan mobil. Dia berusaha untuk tak melihat mereka, namun entah kenapa matanya selalu ingin tahu apa yang sedang mereka lakukan. Itulah yang di namakan hati dan pikiran yang tak sejalan.
Selesai mencuci mobil.
"Maaf. Mohon ijin. Saya sudah selesai mencuci mobil, saya ijin pamit dulu." Indra memberanikan diri masuk ke selah selah obrolan mereka.
"Ohh iya Mas, makasih ya." ucap Kinan sopan.
"Kamu siapa??" tanya Niko yang penasaran. "Kok kayak pernah ketemu."
__ADS_1
"Mohon ijin memperkenalkan diri. Nama saya Indra, saya......."
"Dia sopir pribadiku." Kinan memotong pembicaraan Indra.
"Sopir pribadi?? Sejak kapan?? Pak Rachmat mana??" tanya Niko seakan tak suka dengan kehadiran Indra.
"Pak Rachmat lagi sakit. Jadi untuk sementara Mas Indra ini yang akan jadi sopirku."
"Siapa yang suruh??"
"Papaku sendiri." jawab Kinan.
"Kenapa Papamu milih dia jadi sopir??"
"Emang kenapa??" tanya Kinan heran.
"Ya nggak apa apa sih, cuma tanya doang." jawab Niko sinis. "Kamu loreng juga?"
"Siap, ijin. Saya....."
"Iya dia juga loreng." Kinan kembali memotong kata kata Indra.
"Dari kesatuan mana??" Niko makin penasaran.
Saat Indra hendak membuka mulutnya, Kinan sudah terlebih dulu menjawab pertanyaan Niko.
"Batalyon *****." jawab Kinan ketus. "Kenapa sih kepo banget??"
"Jabatan??"
"Siap, ijin Tamudi (Tamtama Pengemudi)."
"Ooh, driver." Niko seakan mengejek Indra. "Ohh, iya aku baru ingat. Kamu dulu pernah ngantar Komanda Batalyonmu ke pesta pernikahan kakakku itu kan??" Niko baru ingat.
"Siap."
"Kenapa kamu seakan ngintilin Kinan terus ya??" Niko sinis.
Indra yang menerima tatapan sinis itu hanya terdiam. Namun berbeda halnya dengan Kinan. Kinan merasa risih dengan Niko yang seakan menganggap remeh Indra.
"Ngapain sih sampai kayak gitu ngomongnya?? Biasa aja. Lagian dia bukan ngintilin aku, tapi emang lagi tugasnya dia harus sopirin aku kemana pun aku pergi." Kinan kesal.
Niko pun terdiam mendengar kekesalan Kinan itu.
"Mas mau pulang kan?? Ya udah nggak apa apa Mas pulang aja. Terima kasih ya Mas."
"Baik. Ijin saya pulang dulu." pamit Indra, namun tak di gubris Niko.
__ADS_1
Sesaat setelah Indra pergi.
"Kamu itu, jangan mentang mentang pangkatmu lebih tinggi makanya kamu remehin orang lain."
"Lohh... Siapa yang ngeremehin?? Aku kan cuma nanya."
"Pertanyaanmu dan sikapmu itu terlalu nampak jelas kalo kamu ngeremehin dia."
"Tunggu dulu. Ini bicarain siapa sih??" Niko bingung. "Kamu marah sama aku gara gara sopir tadi??"
Namun Kinan tak menjawab. Dia melipat kedua tangannya di dada, tanda bahwa dia benar benar tidak suka dengan sikap Niko.
"Aku cuma nanya aja, bukan mau ngeremehin."
"Aku udah kenal kamu lama, jadi sekali lihat aja aku udah tahu kalo kamu ngeremehin dia yang hanya seorang Tamudi." jelas Kinan.
"Sok tau kamu." Niko dingin.
"Bukan sok tau. Tapi memang bener bener tau." sahut Kinan. "Udah deh aku mau masuk dulu, capek. Mau istirahat."
"Kamu mau ninggalin aku disini?? Aku dari tadi nungguin kamu loh."
"Siapa suruh nungguin aku?? Aku nggak nyuruh. Kalo mau ngobrol, ngobrol aja sama Nenek. Aku capek."
"Kamu marah sama aku gara gara sopir tadi??"
"Ngapain bawa bawa dia?? Aku cuma nggak suka aja sama sikapmu. Kok belum ngerti juga sih??" Kinan makin kesal.
"Kamu perwira bukan berarti kamu lebih baik dari dia yang seorang tamtama. Mungkin aja karena kekuatan koneksi juga bisa membuatmu menjadi seorang perwira."
"Kinan?!!" Niko mulai emosi.
"Jangan pernah meremehkan orang lain. Karena belum tentu kamu lebih baik dari yang di bawahmu. Allah tidak pernah memandang derajat seseorang dari pangkat maupun jabatannya, melainkan dari kadar keimanannya." nasihat Kinan.
Kinan pun bergegas pergi dari teras dan masuk ke dalam rumah.
"Kinan." panggil Niko hendak mengejar, namun Nenek menghalangi.
"Sudah Nak. Mungkin Kinan lagi capek aja makanya dia sampai marah seperti itu. Selama beberapa hari ini dia memang lagi ada masalah di tempat kerjanya. Jadi Nak Niko harap maklum yaa??" Nenek berusaha menenangkan Niko.
"Iya Nek." jawab Niko terpaksa. Dia pun hendak kembali, namun sesekali dia menatap ke arah rumah. Seakan berat meninggalkan Kinan yang sedang marah.
Di tempat lain. Mess ajudan. Terlihat Indra masuk ke dalam mess.
"Mukamu kenapa, Ndra??" sapa Erwan yang sedang bermain dengan anak Komandan.
Namun Indra tak menjawab. Dia langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya. Lengan kanannya menutup kedua matanya.
__ADS_1
Kamu tidak boleh begini terus Ndra. Kamu harus sadar kamu ini siapa. Tidak boleh ada perasaan sedikit pun pada Kinan. Mungkin besok perasaan ini sudah tidak ada lagi. Mungkin aku hanya kebawa suasana saja tadi. Mungkin karena sudah lama aku tidak menghabiskan waktu dan bersenang senang, jadi suasana hatiku juga berubah.
Indra berusaha memperbaiki suasana hatinya yang tadi sempat kalut. Namun saat berusaha menenangkan diri, tiba tiba saja sebuah telpon memgejutkannya.