
Indra berusaha bersikap tegas, namun dalam hatinya seakan mau meledak karena harus berhadapan langsung dengan sang Jenderal.
Selama menjadi ajudan Jenderal saat di Jakarta dulu, Indra tidak pernah sama sekali berbicara dalam waktu yang lama. Bahkan hampir tidak pernah berbicara hal di luar dinas.
Sejenak terlihat sang Jenderal hanya diam memperhatikan Indra. Indra yang merasa di perhatikan jadi makin dag dig dug. Wajahnya terlihat sangat tegang.
"Saya harap kamu tahu batasan." ucap tegas Papanya Kinan.
"Siap, Bapak."
"Kinan. Papa memberikan kepercayaan bukan berarti kamu bisa memanfaatkan kepercayaannya Papa." ucap Papa pada Kinan.
"Iya, Pah." ucap Kinan manja.
"Ingat ya Ndra, jangan pulang sampe sore."
"Siap Bapak."
Setelah meminta ijin, mereka pun kembali duduk di teras. Terlihat jelas wajah Indra sangat lega.
"Baru kali ini Mas ngadepin Jenderal sampe tegang. Dulu dulu aja nggak pernah kayak gini." ucap Indra.
Kinan pun tersenyum saat melihat Indra berkali kali mengelus dadanya.
"Jadi hari minggu pagi kita berangkat ya??" ucap Indra memastikan.
"Iya." jawab Kinan.
Hari hari pun berlalu seperti biasa, hingga pada Sabtu malam minggu. Sebuah telpon tiba tiba membangunkan Kinan dari tidurnya.
[Iya. Assalamuallaikum Mas.] ucap Kinan dengan mata yang masih terpejam.
[Waallaikumsalam.] jawab Indra lesu.
[Dek, maaf sebelumnya. Sepertinya besok kita nggak jadi jalan jalan. Keluarganya Komandan besok datang, jadi Mas di suruh jemput ke Bandara dan sekalian nemenin mereka jalan jalan.] ucap Indra.
Terlihat jelas dari suaranya jika Indra kecewa karena tak bisa menepati janjinya. Padahal dia sendiri yang mengajak, namun dia sendiri juga yang tak bisa menepatin janji. Indra tak punya daya untuk menolak perintah atasannya.
[Ya udah nggak apa apa Mas.] jawab Kinan santai.
[Padahal Mas berharap sekali kita bisa jalan jalan berdua.]
[Nanti lain kali kalo ada waktu kan bisa.] Kinan berusaha menenangkan.
[Tapi kan tetap aja Mas nggak enak karena udah ingkar janji. Apalagi Mas juga udah ijin sama Bapak, entah apa yang akan Bapak pikirkan kalo dia tau Mas membatalkan acara jalan jalan kita.]
[Nggak kok, Papa pasti ngerti. Lagian Mas nggak ngingkari janji, memang ada tugas mendesak aja.]
[Semoga aja gitu Dek.] harap Indra.
[Ya udah kalo gitu Adek lanjutin aja tidurnya, sekali lagi maafin Mas ya Dek.] ucap Indra lesu.
[Iya Mas, nggak apa apa.]
Kinan pun menutup telponnya dan melanjutkan mimpi panjangnya.
Di lain sisi, terlihat Indra sedang membaringkan tubuhnya di atas sofa.
"Ris, kamu besok beneran nggak bisa gantiin aku??" tanya Indra pada Aris yang sedang serius menonton pertandingan sepak bola di layar tv.
"Iya beneran."
"Sekali ini aja Ris."
"Nggak. Besok aku harus pulang mau nengok Ibukku di kampung." tolak Aris tegas.
Tiba tiba Ewan keluar dari kamar mandi. Dan dia pun menjadi sasaran Indra berikutnya.
"Wan, besok tolong gantiin aku dong."
"Emang kamu pernah liat aku bawa mobil??" ucap Erwan.
"Kan cuma bawa mobil Wan, sini deh aku ajarin." paksa Indra.
"Ogah. Lagian ngapain sih mau di gantiin sama orang lain?? Jelas jelas Komandan maunya di anter sama kamu kok." protes Erwan.
"Aku kan udah bilang, aku besok ada janji sama Kinan."
"Mau kencan??" tanya Aris.
"Cuma jalan jalan aja."
"Emang Bapaknya ngijinin??"
"Ngijinin lah. Kalo nggak ngijinin mana mungkin aku berani bawa anaknya." jawab Indra percaya diri.
"Bisa bisanya beliau ngijinin anaknya jalan sama kamu." celetuk Aris.
"Emang kenapa??" tanya Indra heran.
"Ya, emang beliau nggak takut apa. Nanti pulang pulang anaknya malah berbadan dua. Hahahahahaha." gurau Aris.
"Sialan?!!" umpat Indra seraya melempar bantal ke muka Aris. "Emang kamu pikir aku ini cowok apaan??"
"Kali aja kan ada setan yang godain. Apalagi Kinan secantik itu, mana ada yang nggak mau sama dia. Bener nggak Wan??" sindir Aris.
Erwan pun membalas dengan menaikkan kedua alisnya.
"Apaan sih kalian ini??" kesal Indra.
"Aku ingetin ya, jangan terlalu lama ngelihat Kinan kalo nggak mau matamu biru." ancam Indra dengan nada bergurau.
"Wihh, posesif mode on nih Wan." ejek Aris.
"Jangan terlalu merasa jadi pemilik Ndra. Nanti kalo udah di tinggalin, baru baper, pengen bunuh diri." sindir saran Erwan.
"Kalo mau bunuh diri jangan di mess ini, noh di luar sana kan ada sungai besar tuh. Disitu aja tuh tinggal terjun."
"Ehh, nggak mungkin bisa Ris. Dia kan jago renang. Dulu di pendidikan aja, nilainya dia paling tinggi." sahut Erwan.
"Oh, iya juga ya. Ya udah kalo gitu tiduran aja di rel kereta api deh." imbuh Aris.
"Kalian ini mau semangatin aku atau memang nyuruh aku bunuh diri sih??" Indra heran.
"Ya, dua duanya." jawab Aris santai.
Mereka pun tertawa bersama.
__ADS_1
"Aku akan berusaha agar dia nggak ninggalin aku. Dan mudah mudahan dia pun juga nggak ada niat untuk melakukan itu." Indra berharap.
Melihat Indra yang seakan sangat berharap, Aris dan Erwan pun hanya bisa menepuk pundak Indra sebagai tanda untuk menyemangati teman lettingnya yang sedang di mabuk cinta itu.
Keesokan harinya. Terlihat Kinan duduk santai di teras belakang rumahnya sambil memainkan ponsel. Kinan yang masih mengenakan piyama itu pun mengundang pertanyaan dari sang Jenderal.
"Katanya mau jalan, kenapa masih belum siap siap??" tanya Papa.
"Nggak jadi Pa."
"Kenapa??"
"Mas Indra ada urusan mendesak. Suruh jemput keluarganya Komandan di Bandara." jawab Kinan santai.
"Ooh." jawab Papa cuek.
Sejenak sang Jenderal hanya terdiam melihat si anak gadis yang sudah tumbuh dewasa itu. Dia pun kemudian duduk di samping Kinan.
"Nak. Boleh Papa bicara sebentar??"
"Ada apa Pah??"
Beberapa saat sang jenderal hanya terdiam seraya mengusap kepala sang anak.
"Kamu beneran suka sama Indra??"
"Kenapa Papa tiba tiba tanya kayak gitu??"
"Papa cuma ingin tahu saja Nak. Karena ini menyangkut masa depan putri kesayangan Papa." jelas Papa.
"Ehmm, kalo di tanya suka apa tidak?? Kinan masih belum bisa memastikan Pah. Tapi yang jelas saat ini Kinan merasa nyaman sama Mas Indra. Selama Kinan berada di dekat mas Indra, dia seakan menjadi sosok yang selalu menghibur Kinan. Apapun yang Kinan katakan, bagaiman pun sikap yang Kinan tunjukkan, dia tidak pernah marah." jelas Kinan.
"Jadi seakan akan Kinan bisa menjadi diri sendiri saat bersama mas Indra." imbuhnya.
Sang Papa hanya tersenyum mendengar jawaban Kinan. Jawaban yang mungkin sedikit membuat hatinya lega, untuk saat ini.
Tak di sangka perbincangan mereka sedari tadi, ada yang menguping di belakang. Sang Mama pun ikut tersenyum mendengar jawaban putri kecilnya itu.
"Aduh aduhh, serius banget. Lagi ngobrolin apa sih??" sang Mama muncul dari belakang, dan pura pura tidak mendengar perbincangan mereka.
"Ini nih Mah, kasian Kinan liburan cuma di rumah aja. Ajak kemana gitu??" saran Papa.
"Emangnya hari ini kamu nggak ada acara kemana mana sayang??"
"Nggak ada Ma." jawab Kinan.
"Ya udah kalo gitu yukk ikut Mama. Mama pengen jalan ke mall. Yukk, yukk temenin Mama." ajak Mama senang.
Kinan pun menganggukkan kepalanya.
Sesampainya di sebuah mall, di Kota Surabaya. Kinan pun mengikuti sang Mama yang sedang asyik berbelanja, beliau melihat pernak pernik yang unik untuk dekorasi rumah.
"Mah, aku ke toilet dulu ya sebentar." pamit Kinan.
"Jangan lama lama ya sayang." ucap Mama.
Kinan pun bergegas mencari toilet yang ada di mall itu.
Setelah selesai dari toilet, saat akan mencuci tangannya di wastafel. Tiba tiba kepala Kinan merasakan pusing.
Aduh, kok pusing banget ya?? Kumat lagi nih vertigoku. Gumam Kinan.
"Niko?!!!" panggil Kinan.
"Ohh, Kinan. Kamu juga ikut??" ucap Niko seakan tak terjadi apa apa.
"Ngapain kamu disini??" tanya Kinan dingin.
"Dia lagi nganterin Mamanya belanja sayang." sahut Mama.
"Nggak mungkin lah seorang cowok nganterin Mamanya belanja." celetuk Kinan.
"Iya, aku emang nganterin. Tapi nggak ngikutin Mamaku belanja. Dari pada aku ngikutin Mama belanja, jadi aku keliling sendiri deh. Nih habis beli perlengkapan buat Samapta."
Niko menunjukkan tas yang berisikan sepatu lari dan kacamata renang kepada Kinan, sebagai bukti jika dia kesana bukan bermaksud untuk membuntuti Kinan.
"Ohh." jawab Kinan cuek. "Ya udah kalo gitu Mah, ayo kita jalan lagi." ajak Kinan seraya menggandeng tangan Mamanya.
"Ehh, tunggu dulu Tante. Mumpung kita disini, gimana kalo aku traktir makan aja??" cegah Niko.
"Nggak usah, kita bisa makan sendiri." tolak Kinan.
"Aku ngajak Tante, bukan ngajak kamu." sahut Niko.
Kinan pun mendengus kesal.
"Ehm, gimana ya??" ucap Mama ragu. "Mungkin lain kali aja ya Nik." tolak Mama.
"Ohh, ya udah kalo gitu Tante nggak apa apa kok." jawab Niko santai.
Namun saat akan beranjak, tiba tiba saja.
"Kinan, kamu lagi sakit ya??" tanya Niko mendadak.
"Jangan sok tau." jawab Kinan dingin.
"Wajahmu agak pucat. Apa jangan jangan vertigomu kambuh lagi ya??" tanya Niko kuatir.
"Nggak usah sok tahu deh." ucap Kinan seraya berbalik menggandeng tangan Mamanya.
"Sayang, kamu beneran nggak apa apa??"
"Iya Mah, Kinan nggak apa apa kok." jawab Kinan santai.
"Tapi wajahmu memang sedikit pucat. Gimana kalo kita istirahat dan makan dulu aja." saran Mama.
Karena Kinan tidak ingin membuat sang Mama kuatir, dia pun mengikuti saran Mamanya.
Namun saat akan beranjak tiba tiba saja.
"Bu Rizal??" seorang wanita paruh baya memanggilnya.
"Loh, bu Antok." jawab Mama canggung.
"Mama kok disini?? Udah selesai belanjanya??" tanya Niko.
"Sudah. Tadi Mama nyari kamu kemana mana, ehh ternyata nyangkut disini sama mantan tunangan." sindir Bu Antok.
__ADS_1
Kinan dan sang Mama hanya bisa terdiam.
"Ayo Nik, Mama laper. Ayo kita cari makan." ajak Bu Antok pada sang anak.
"Ohh kebetulan mereka juga mau cari makan, kenapa kita nggak makan bareng aja Mah??" saran Niko.
Entah rencana apalagi yang mau dia jalankan, dia berlagak baik di depan Kinan dan Mamanya.
"Nggak usah Nik, Tante biar makan berdua saja sama Kinan." tolak Mamanya Kinan agar tidak membuat suasana makin canggung.
"Emang kenapa kalo kita makan bareng?? Bukannya kita juga sering makan bareng ya??" ucap Mamanya Niko judes.
"Atau jangan jangan karena kita gagal jado besan makanya kalian nggak mau makan semeja dengan saya??" imbuhnya.
"Bu...bukan begitu Bu. Saya cuma takut akan mengganggu kebersamaan Bu Antok dan Niko." jawab Mama gugup.
"Nggak kok. Nggak ganggu, ayo kita makan bareng." ajak bu Antok.
Sejenak Kinan pun saling pandang dengan Mamanya. Namun sang Mama seakan memberi kode 'Nggak apa apa, kita ikut aja. Ada Mama disini.'
Mereka pun duduk bersama di sebuah restauran cepat saji yang ada di mall itu. Restauran yang terkenal cukup mahal. Hanya kalangan elit yang biasa makan di tempat itu.
"Tante mau pesan apa?? Silahkan pesan aja, nanti biar aku yang bayarin." ucap Niko.
"Ohh, nggak usah Nik. Nanti biar kami bayar sendiri saja." tolak Mamanya Kinan.
"Udah, pesan aja. Nggak apa apa kok." sahut Bu Antok.
Mereka pun hanya memesan camilan yang paling murah di restauran itu. Bukan tanpa sebab, mereka hanya tidak mau merasa lebih canggung lagi saat memesan makanan yang mahal.
Bagai buah simalakama. Jika menolak, Bu Antok jelas akan merasa sakit hati. Namun jika menerima, akan terasa sangat canggung.
"Terus gimana perkembanganmu sama si sopir itu?? Siapa namanya??" tiba tiba Bu Antok membahas tentang Indra.
"Indra." jawab Niko.
"Nah iya, Indra." sahut Bu Antok. "Kok bisa bisanya sih kamu ninggalin Niko hanya demi seorang sopir. Apa levelmu memang yang seperti itu ya??" ucap sinis Bu Antok.
Mendengar Bu Antok yang merendahkan Indra, Kinan pun merasa jengkel. Ingin rasanya menggebrak meja yang ada di depan mereka, namun sang Mama mencegah. Dia memegang tangan Kinan seraya menggelengkan kepalanya.
"Mereka masih muda Bu, jadi biarkan saja mereka memilih jalan masing masing. Yang namanya jodoh juga sudah ada yang ngatur. Kita sebagai manusia hanya sebagai wayang, dalangnya itu Allah yang menentukan segalanya." jelas Mama bijak.
"Iya sih, cuma kan apa nggak turun level tuh. Dari yang anaknya Jenderal, ehh malah nemunya sama Tamtama."
"Pangkat bukanlah segalanya Tante. Yang membedakan itu hati tiap orang. Jika dia baik dan mempunyai hati yang tulus, In Shaa Allah aku bisa kok nerima orang itu." jelas Kinan.
"Jadi menurutmu, anakku ini bukan orang baik gitu?!!" tanya Bu Antok dengan nada tinggi.
"Mungkin akan ada wanita yang lebih baik dari saya untuk Niko, Tante."
Kinan berusaha tak membeberkan keburukan Niko di depan Mamanya. Dia tidak mau Bu Antok akan semakin marah.
Sejelek jelenya seorang anak, orang tua pasti akan membelanya dengan segenap kemampuannya.
"Udah Mah, ini kan lagi makan. Kenapa harus bahas sesuatu yang nggak penting sih??" Niko berusaha menenangkan Mamanya.
Mereka pun melanjutkan makan dengan sesekali berbincang, namun lebih terlihat seperti orang yang sedang bertengkar.
Di tengah makan, tiba tiba Kinan memegang perutnya. Dan rasa pusing pun muncul kembali.
"Kamu kenapa??" tanya Niko kuatir.
"Nggak, nggak apa apa." Kinan berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.
"Mah, aku ke toilet dulu ya??" pamit Kinan.
"Iya sayang." jawab Mama Kinan.
"Aku antar ya??" tawar Niko.
Namun Kinan menggelengkan kepalanya, dia tak sanggup untuk berbicara. Kepalanya makin terasa pusing.
Karena kuatir, Niko pun mengikuti Kinan dari belakang.
Saat hendak mencari toilet, tiba tiba saja Kinan mulai melemah. Kakinya seakan tak bisa menopang tubuhnya. Dan dengan sigap Niko menahan tubuh Kinan agar tidak terjatuh.
"Kamu nggak apa apa??" ucap Niko kuatir.
Kinan menggelengkan kepalanya. Namun saat akan menghempaskan tangan Niko, tiba tiba saja ada seseorang yang mengambil alih tubuh Kinan.
"Tolong Bang, lepasin Kinan." ucap Indra sopan.
"Mas Indra???" ucap Kinan heran. "Kenapa Mas Indra ada disini??"
"Mas kan udah bilang lagi jemput keluarganya Komandan di Bandara. Dan mereka meminta jalan jalan ke mall, jadi akhirnya Mas bisa sampai disini."
"Ohh." jawab Kinan singkat.
Sejenak Indra pun menatap Niko dengan perasaan cemburu. Namun Niko hanya membalas dengan tatapan sinis.
Sebenarnya banyak yang ingin Indra tanyakan. Namun melihat kondisi Kinan yang sedang tidak sehat, membuat Indra mengurungkan niatnya.
"Aku mau ke toilet dulu Mas." ucap Kinan.
"Mas antar ya??" pinta Indra.
Kinan hanya menganggukkan kepalanya. Namun saat berjalan beberapa langkah, tiba tiba saja Kinan pun terjatuh. Dengan sigap Indra membopong tubuh Kinan.
"Dek, Dek??!! Kamu kenapq?!!" ucap Indra panik.
Namun seketika Niko pun hendak meraih Kinan.
"Berikan padaku." ucap Niko.
"Nggak, Bang. Aku harus mengantarnya ke rumah sakit."
"Biar aku aja yang ngantar." pinta Niko memaksa.
"Nggak, Bang!!!" bentak Indra.
"Ehh, kamu itu siapa berani bentak bentak aku?!!!" bentak Niko.
"Biar aku aja yang bawa dia ke rumah sakit, lagian kamu juga nggak mungkin bisa nemenin Kinan. Kamu kan sekarang lagi sopiri Komandan, nggak mungkin kan kamu ninggalin tugasmu?? Apa kamu mau kena teguran dari Komandan?!!!" jelas Niko.
Sebenarnya berat rasanya untuk meninggalkan Kinan bersama pria yang pernah ada di hidupnya, namun apa yang di katakan Niko ada benarnya. Dia tidak mungkin meninggalkan tugas demi kepentingan pribadinya. Bukankah seorang abdi negara harus tunduk dan patuh terhadap perintah atasannya??
Dengan terpaksa, Indra pun menyerahkan Kinan pada Niko.
__ADS_1
"Ternyata kamu sama sekali nggak tau apa apa tentang Kinan." ucap Niko seraya berlalu.