
Malam harinya saat akan beranjak tidur, tiba tiba ponsel Kinan berdering.
"Aduhh, siapa sih telpon malem malem??" gerutu Kinan.
Dia pun mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.
"Iya. Halo, Assalamuallaikum." ucap Kinan.
"Waallaikumsalam." jawab Niko." Kok lesu gitu suaranya?? Lagi tidur ya??"
"Udah tau nanya." kesal Kinan.
"Santai aja kali jawabnya. Sama calon tunangan itu harus baik baik kalo ngomong." canda Niko.
"Lagian ngapain sih malem malem nelpon?? Nggak tau waktunya orang tidur ya??"
"Iya, iya maaf. Aku cuma mau ngomong sesuatu."
"Ngomong apaan sih?? Kayak penting banget."
"Ini..., ini soal sopir pribadimu." ucap Niko ragu.
"Huh?? Maksudnya mas Indra??"
"Iya."
"Kenapa sama dia??"
"Nggak. Aku cuma saranin kamu ganti aja sopirmi itu. Atau kalo nggak, nanti aku cariin kamu sopir yang lain." tawar Niko.
"Kenapa harus di ganti??"
"Ya demi keamanan aja."
"Keamanan gimana maksudnya?? Aku selama ini aman aman aja kok sama mas Indra."
"Ya bukannya gitu. Kamu kan sekarang sudah punya calon tunangan, cepat atau lambat orang orang akan tahu itu. Kalo semisal orang orang tahu kamu punya sopir pribadi seorang tentara juga, nanti takutnya malah ada gosip yang nggak enak." Niko berusaha menjelaskan.
"Gosip apaan??"
"Ya gosip, misal kamu punya hubungan spesial sama sopirmu."
"Nggak masuk akal." celetuk Kinan. "Sekarang gini deh. Kebanyakan istri perwira tinggi itu punya sopir juga seorang tentara kan?? Bahkan sopir Mamaku dan Mamamu pun juga seorang tentara kan?? Nggak ada tuh gosip di antara mereka."
"Ya kan itu mereka, beda lagi sama kamu." sahut Niko.
"Apanya yang beda?? Nggak ada bedanya tuh. Selama kita bisa menjaga jarak, menurutku nggak akan ada apa apa."
"Tapi kamu sama dia kelihatan dekat."
"Sedekat apa?? Apa kamu pernah liat kami gandengan tangan?? Apa kamu pernah liat kami bermesraan?? Nggak kan??" ucap Kinan yang mulai kesal.
__ADS_1
"Tapi kamu seakan menganggap Indra itu sebagai temanmu. Bahkan aku lihat kamu sangat percaya sama dia. Kamu memperlakukan dia bukan seperti seorang bawahan."
"Terus kamu maunya aku harus memperlakukan dia, seperti halnya kamu memperlakukan bawahanmu?? Yang semena mena mentang mentang kamu seorang perwira gitu??" Kinan emosi. "Maaf Nik, aku bukan tipe orang sepertimu."
"Kok kamu malah ngatain aku sih??" Niko juga ikut emosi.
"Itu memang kenyataan kok."
"Aku bukannya semena mena, aku hanya memberi arahan kepada mereka untuk jadi tentara yang disiplin dan............"
"Ahh, aku males mau debat sama kamu." Kinan memotong pembicaraan Niko. "Aku mau tidur."
Kinan pun langsung mematikan dan menonaktifkan ponselnya.
Apa apaan sih dia ini?? Belum jadi apa apa aja udah seenaknya ngatur ngatur aku. Bahkan soal sopir pribadiku pun dia mau ngatur.
Saat jam menunjukkan pukul 3 malam, Kinan sudah bersiap siap. Indra yang sedari tadi sudah menunggu di dalam mobil.
"Ayoo berangkat." ajak Kinan yang masuk ke dalam mobil.
Indra pun tersenyum. Mereka berdua membelah jalanan yang saat itu masih sangat sepi.
"Jauh nggak perjalanannya Mas??"
"Nggak begitu jauh sih. Mungkin sekitar 1 jam an." jawab Indra.
"Hemm." jawab Kinan singkat.
Terlihat sesekali Kinan menguap, Indra yang melihat itu pun jadi tersenyum.
"Nggak deh, aku juga pengen liat pemandangannya kesana."
"Kalo jam segini, nggak ada pemandangan yang bisa di lihat. Semua kan gelap. Tapi nanti kalo kita udah balik turun, baru deh bisa ngelihat pemandangan perbukitan di sisi kanan dan kiri jalan." jelas Indra.
"Nggak deh." jawab Kinan.
Namun tak lama berselang, Kinan pun menguap lagi. Dia sontak menutup mulutnya dengan tangannya. Dan tak sengaja Indra melihat cincin yang melingkar di jari manisnya.
DEGHH..!!!
Sakit hatinya pun terbuka kembali.
Jadi mereka memang benar sudah bertunangan ya?? Apa mereka akan menikah?? Kinan, apa kamu juga mencintai Niko??
Indra berusaha membuka pembicaraan. Namun dia memilih kata kata yang pas agar Kinan tidak curiga.
"Hemm. Kemarin malam, Adek nggak pulang ke rumah ya??" tanya Indra ragu.
"Iya Mas. Mobilnya mogok, makanya kita nggak bisa pulang. Mana saat itu tengah malam lagi, jadi nggak ada bengkel yang bisa di panggil."
"Kenapa nggak hubungi saya saja??"
__ADS_1
"Sudah. Tapi nomernya Mas nggak bisa di hubungi."
Nggak bisa di hubungi?? Kok bisa?? Sepertinya malam itu aku selalu aktifin ponselku.
Indra berusaha mengingat. Dia baru sadar saat malam itu karena sakit hati, dia mematikan ponselnya.
"Maaf ya Dek, mungkin saat itu Mas lagi tidur. Makanya saya matikan ponselnya." Indra memberi alasan.
"Iya Mas, nggak apa apa. Aku ngerti kok."
Indra pun merasa menyesal. Kenapa malam itu dia mematikan ponselnya. Jika seandainya dia mengaktifkan ponselnya, pasti Kinan tidak akan sampai menginap bersama Niko.
"Mas janji mulai sekarang ponselnya Mas akan stand by 24 jam. Jadi lain kali kalo ada apa apa, kamu bisa langsung hubungin aku. Jam berapa pun itu." ucap Indra.
"Hahahaha." Kinan tertawa. "Ngalah ngalahin satpam aja." celetuk Kinan.
"Mas kan memang bukan satpam." sahut Indra.
"Oh iya, Om Tentara." gurau Kinan yang di selingi dengan tawa.
"Hemm, Mas boleh tanya sesuatu??"
"Monggo. Mau tanya apa??" ucap Kinan sopan.
"Hem.., Mas denger Kinan..., Kinan malam itu bertunangan ya sama Niko??" Indra berusaha memberanikan diri untuk bertanya.
"Ya, gitu deh." jawab Kinan malas. "Aku juga nggak tau kenapa bisa jadi gitu."
"Maksudnya??" tanya Indra penasaran.
"Iya. Katanya malam itu hanya acara makan malam saja, lah kok jadinya malah acara perjodohan. Mana mereka udah nyiapin cincin tunangan lagi."
"Ohh gitu." Indra berusaha menenangkan hati. "Adek pasti senang ya??"
"Boro boro seneng. Senep yang iya." jawab Kinan ketus.
"Loh kok bisa?? Bukannya akan bangga jadi ibu persit??"
"Entahlah, aku nggak bisa komentar."
Sejenak Indra terdiam. Dia merasa ragu untuk melanjutkan pertanyaannya. Dia takut jawaban yang akan Kinan berikan, malah akan membuat hatinya semakin sakit. Berkali kali dia menghela napas.
"Hemm..., Kinan suka ya sama Niko??"
"Aku kan udah bilg, aku menganggap Niko hanya sebatas teman."
"Terus kenapa kemarin Adek menyetujui perjodohan itu??"
"Nggak mungkin juga aku menolak perjodohan itu di depan kedua keluarga. Lagian orang tuaku dan orang tua Niko sudah bersahabat sejak lama. Kalo aku nolak, otomatis akan membuat orang tuaku malu." jelas Kinan.
"Jadi maksudnya Adek terpaksa menerima perjodohan itu??" Indra memastikan.
__ADS_1
"Yaa..., mungkin bisa di bilang gitu." jawab Kinan yang fokus melihat keluar jendela.
"Mungkin ini jodoh yang sudah Allah tetapkan buatku. Karena aku yakin, yang namanya jodoh itu nggak akan tertukar. Mau nggak mau, suka nggak suka. Jodoh itu akan tetap datang, dan menemukan jalan untuk menemui kita." imbuh Kinan.