
Sesampainya di hotel, Indra pun langsung memberikan pembalut dan obat itu kepada Kinan.
"Saya nggak tau Kinan pakai yang merek apa, jadi saya cuma asal pilih saja." ucap Indra seraya menyerahkan sebuah kantong kresek.
"Iya nggak apa apa Mas. Aku juga biasanya pakai yang merek ini kok." jawab Kinan.
"Oh iya, ini juga ada obat pereda nyeri saat haid. Saya nggak tau nama obatnya. Tapi kata apotekernya ini yang paling bagus."
"Terima kasih ya Mas." ucap Kinan seraya tersenyum.
Kinan pun kembali masuk ke dalam kamar. Begitu juga dengan Indra.
Di dalam kamar terlihat Indra senyum senyum sendiri mengingat saat dia harus ke minimarket dan membeli pembalut. Semua pembeli melihat ke arahnya, menatapnya seakan berkata Tuh cowok kok beli pembalut sih??
Tapi nggak apa apa deh. Ada gunanya juga aku disini nemenin Kinan. Semoga saja dia segera membaik.
Dan tiba tiba ponsel Indra berbunyi, ada sebuah pesan masuk.
Kinan : Terima kasih ya Mas
Indra : Iya sama sama. Maaf tadi saya sempat membentak Adek
Kinan : Nggak apa apa Mas. Wajar Mas seperti itu. Sekali lagi terima kasih ya atas bantuannya.
Indra pun meletakkan ponselnya di atas nakas, dan berbaring di atas ranjang. Dia melihat langit langit kamar seraya mengingat hal yang tadi dia lakukan pada Kinan.
Sepertinya aku memang benar benar nggak bisa menjauhi dan sok cuek padanya. Melihat dia yang kesakitan seperti itu saja sudah membuatku terlalu khawatir. Semoga saja dia tidak sadar akan perasaanku. Ya Allah..., bagaimana ini?? Apa yang harus aku lakukan??
.
Hari hari pun berlalu. Tiba saatnya Kinan harus pulang.
"Sudah nggak ada yang ketinggalan??" tanya Indra saat memasukkan barang barang Kinan ke dalam bagasi.
"Sudah nggak ada." jawab Kinan.
Saat akan naik ke dalam mobil, ponsel Kinan berdering. Namun dia enggan mengangkat telpon itu. Berkali kali ponsel itu berdering, namun Kinan hanya membiarkannya saja. Indra penasaran.
Siapa yang nelpon yaa??
Mereka pun pergi meninggalkan hotel.
"Perutnya sudah nggak sakit lagi??" tanya Indra khawatir.
"Alhamdulillah sudah nggak sakit lagi Mas."
"Alhamdulillah kalo gitu." Indra tersenyum.
Di tengah tengah obrolan mereka, ponsel Kinan kembali berdering. Karena jengah, dia pun mengangkat telpon itu.
"Kenapa lagi??"
"Kenapa nggak di angkat angkat sih??" kesal Niko.
"Ya lagian, kamu telpon kayak jadwal makan aja. Sehari tiga kali, bahkan bisa lebih."
"Ya emang kenapa kalo aku telpon??"
"Bosen tau."
"Bosen apa bosen. Entar kangen lagi kalo nggak di telpon."
"Ihh, amit amit." canda Kinan. "Udah ya, aku mau tidur nih."
"Kok tidur sih?? Katanya mau balik hari ini??"
__ADS_1
"Iya. Ini juga udah balik, lagi di perjalanan."
"Udah sampe mana??"
"Sampe Semarang."
"Ya elah, kirain udah sampe mana. Masih baru keluar dari hotel??"
"He emm." jawab Kinan singkat.
"Ya udah kalo gitu. Nanti kalo udah sampe, kabarin yaa."
"Mau ngapain lagi??"
"Mau ngapelin Nenek." gurau Niko.
"Hahahahahha." Kinan tertawa. "Ogah ahh, aku nggak mau punya Kakek tiri brondong."
"Dasar." dari ujung telpon terdengar suara Niko juga tertawa lepas. "Ya udah kamu istirahat gih. Hati hati di jalan ya."
"Iya." jawab Kinan seraya tersenyum.
Indra yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka hanya bisa tersenyum getir. Bagaimana tidak?? Cewek yang dia sukai harus berbicara mesra dengan cowok lain. Cemburu?? Itu sudah pasti. Indra tidak bisa menutupi itu. Tapi di hadapan Kinan dia berusaha untuk bersikap biasa.
"Itu Abang Niko ya Dek??" tanya Indra membuka pembicaraan.
"Iya. Kok manggilnya Abang sih??"
"Dia kan seniornya saya, jadi saya wajib memanggil seperti itu jika di luar kantor."
"Kalo di dalam kantor??"
"Ada panggilan sendiri. Jadi semisal jika dia menjabat sebagai perwira staf intel, kami memanggilnya Pasi Intel."
"Hemm..., Kinan terlihat sangat akrab ya sama dia??"
"Nggak tuh. Biasa aja. Malahan lebih sering berantem."
"Katanya orang kalo suka berantem itu tandanya ada rasa sayang."
"Masa sih??" Kinan memicingkan matanya. "Terus kalo Tom and Jerry suka berantem, berarti sama sama suka dong??" gurau Kinan.
"Ya nggak gitu juga konsepnya." Indra tersenyum.
"Kan aku udah pernah bilang, aku sama dia emang udah lama berteman. Makanya kelihatan dekat."
"Tapi sepertinya dia suka sama Kinan." Indra menduga.
"Hahh?? Suka?? Nggak lah, itu nggak mungkin." jawab Kinan seraya tersenyum.
"Kenapa nggak mungkin??"
"Karena dia hanya menganggapku sebagai adiknya saja. Nggak lebih."
"Kalo semisal dia beneran punya perasaan sama Kinan, dan perasaan itu lebih dari sekedar adik gimana??" Indra penasaran dengan jawaban Kinan.
"Hemm..., nggak tau deh. Nggak pernah mikir sampe sejauh itu." jawab Kinan santai.
"Apa Kinan mau nerima dia??" Indra semakin menggali.
"Bisa iya, bisa juga nggak." jawab Kinan ragu.
"Kenapa??"
"Karena masa depan itu adalah sebuah misteri. Kita nggak bisa merencanakan apa yang akan terjadi di masa depan. Kita cuma manusia biasa, kita cuma wayang Mas. Yang menentukan semua hanya Allah." jelas Kinan.
__ADS_1
"Sekeras apapun kita menolak, namun jika Allah berkehendak ya akan tetap terjadi. Dan begitu juga sebaliknya." imbuh Kinan. "Allah tahu mana yang terbaik bagi umatnya."
Mendengar hal itu Indra hanya bisa terdiam.
Perempuan yang sangat bijaksana. Andai dia bisa menjadi milikku, mungkin aku bakal jadi orang yang paling bahagia.
"Mas sendiri??" Kinan balik bertanya.
"Kenapa sama Mas??"
"Mas sendiri ada cewek yang Mas suka??"
"Kenapa Adek tanya seperti itu?"
"Ya nggak apa apa, cuma pengen tau aja. Karena Mas kan pernah bilang kalo nggak punya cewek, minimal kan pasti ada cewek yang Mas suka."
Indra sejenak terdiam.
"Hemm.., ada sih. Ada cewek yang Mas suka."
"Ciee.... Siapa tuh??" Kinan penasaran. "Orang mana??"
"Ada lah pokoknya." jawab Indra santai.
"Ihh, pelit." Kinan kesal. "Terus teruss??"
"Terus apanya??"
"Ya terus gimana?? Apa Mas sudah nyatakan perasaannya ke cewek itu??"
"Belum."
"Kenapa??" tanya Kinan penasaran.
"Karena Mas ragu."
"Ragu kenapa??"
"Ragu karena Mas sama dia berbeda status."
"Maksudnya??" Kinan makin penasaran.
"Dia perempuan dari keluarga terpandang, sedangkan Mas bukan siapa siapa."
"Siapa bilang Mas bukan siapa siapa?? Mas itu Tentara. Dimana mana yang namanya Tentara itu pasti terpandang." jelas Kinan. "Penjaga NKRI lohh."
"Iya, itu kan pemikirannya Adek."
"Emang dia nggak berfikiran seperti itu??"
"Bukan pemikiran dia yang Mas takutkan."
"Terus??"
"Tapi pemikiran orang tuanya."
"Emang orang tuanya kaya raya ya?? Pebisnis?? Sampe Mas segitu takutnya ungkapin perasaannya."
"Bukan kaya raya. Tapi terpandang Dek."
"Maksudnya kayak bangsawan gitu??"
"Ya, bisa di bilang seperti itu."
"Terus masalahnya dimana?? Dia masih sama sama berbentuk orang kan?? Masih sama sama makan nasi kan??"
__ADS_1