Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Kabar Tak Baik


__ADS_3

Keesokan paginya saat di Batalyon, terlihat semua orang sedang mempersiapkan sesuatu.


Batalyon hari ini sibuk sekali sepertinya. Apa mau ada kunjungan?? Gumam Indra yang saat itu baru mengantar Komandan.


Baru saja dia duduk di meja ajudan, tiba tiba saja.


"Ndra??" panggil Komandan.


"Siap, Komandan." Indra pun buru buru masuk ke dalam ruangan.


"Ijin, Komandan." tegas Indra.


"Ndra, besok kamu ikut saya ya??"


"Siap, kemana Komandan??"


"Ikut saya tugas luar negeri." ucap Komandan santai.


"Tugas luar negeri??" Indra terkejut. "Siap, bukannya kemarin Aris yang akan ikut, Komandan??"


"Awalnya seperti itu, tapi ternyata semalam Aris mengabarkan jika orang tuanya sedang sakit jadi dia tidak bisa ikut. Lagi pula dari atasan banyak yang mengusulkan kamu Ndra, karena kemampuanmu." jelas Komandan.


Sejenak Indra terdiam.


Bagaimana bisa dia meninggalkan sang istri yang sedang hamil?? Apalagi saat ini Kinan sedang hamil muda. Dia masih sangat perlu perhatiannya. Dan bagaimana dia akan meminta ijin pada sang istri. Sejujurnya, Indra tidak tega jika harus meninggalkan Kinan.


Ditambah lagi tugas luar negeri yang akan dia emban berada di daerah rawan. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada dirinya??


Banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya.


"Jadi besok pagi kita sudah harus berangkat, siapkan segala keperluanmu." ucap Komandan.


"Siap, Komandan."


Indra pun keluar dari ruangan Komandan dengan wajah yang tidak bersemangat. Bahkan Erwan yang mengajaknya bicara pun tak dia gubris.


Sore harinya, saat Indra sudah sampai di rumah.


"Assalamuallaikum." sambut Kinan dengan wajah tersenyum. Dia pun mencium tangan sang suami.


"Waallaikumsalam, sayang." balas Indra.


Wajah Indra terlihat sangat lesu, namun Kinan menganggap itu hal biasa. Karena dia paham bagaiman lelahnya jika harus pulang pergi ke Batalyon dengan jarak yang sejauh ini.


"Mas mau makan sekarang?? Biar Adek ambilin ya??" ucap Kinan lembut.


Namun saat hendak beranjak, tiba tiba saja Indra menarik dan memeluk tubuh Kinan. Sejenak Indra berusaha merasakan hangatnya tubuh sang istri. Tidak rela rasanya jika harus meninggalkan istrinya yang sedang hamil.


Namun Kinan hanya terdiam dalam pelukan sang suami.


"Mas lagi nggak pengen makan, Dek."


"Mas nggak lapar?? Apa tadi Mas udah makan??" sahut Kinan.


Indra menggelengkan kepalanya.


"Mas cuma lagi pengen meluk Adek untuk saat ini." jawab Indra sendu.

__ADS_1


Kinan merasa ada yang aneh dengan sang suami.


"Mas nggak apa apa kan??"


Namun Indra hanya terdiam.


"Gimana jagoan kecilnya kita, Dek?? Nggak ngerepotin Adek kan hari ini??" tanya Indra mengalihkan kesedihannya.


"Yakin sekali kalo dia jagoan, gimana kalo cewek??"


"Ya nggak apa apa. Berarti dia akan jadi tuan putri kecilnya Mas." jawab Indra yang sedang berandai andai.


"Mas lebih suka anak cewek apa cowok??"


"Sama aja, sayang. Mau cewek atau cowok, menurut Mas semua sama aja. Asalkan lahir dengan sehat dan selamat."


"Lebih bagus lagi kalo lahir kembar, cewek cowok." imbuh Indra.


"Ihh, maunya." ejek Kinan.


"Ya nggak apa apa lah, Dek. Biar double juga kebahagiannya."


Mereka pun tersenyum. Namun seketika wajah Indra kembali bersedih.


"Dek, Mas mau ngomong sesuatu." ucap Indra serius.


"Ngomong apa??" sahut Kinan.


Indra pun kemudian mendudukkan sang istri di sebuah sofa, namun dirinya sedang duduk di lantai sambil menggenggam tangan Kinan. Dia pandangi wajah istrinya itu dalam dalam.


"Tugas apa??" Kinan penasaran.


Terlihat Indra mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan pada sang istri.


"Begini sayang. Mas pernah cerita kan kalo akan ada tugas luar negeri??"


"Iya. Terus??"


"Ternyata Aris nggak bisa nyopiri Komandan."


"Terus Mas di suruh gantiin Aris gitu??" tanya Kinan yang paham akan jalan ceritanya.


"Iya sayang." jawab Indra tak bersemangat.


Sejenak tak ada kata kata yang keluar dari mulut Kinan. Bahkan tangan Indra pun terasa dingin, dia khawatir dengan apa yang akan di ucapkan istrinya setelah ini.


"Berapa lama??"


"Mungkin sekitar setahun, Dek." jawab Indra perlahan.


Kinan kembali terdiam. Banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya. Bagaimana dia setelah ini?? Dan bagaimana nanti di saat dia sangat membutuhkan sosok seorang suami di sisinya.


"Kapan Mas berangkat??"


"Besok, Dek." jawab Indra dengan wajah sendu.


Sebenarnya tugas luar negeri adalah suatu kebanggan tersendiri sebagai seorang prajurit. Dimana tidak semua prajurit memiliki kesempatan emas seperti itu, bahkan mungkin hanya segelintir orang dengan kemampuan khusus yang bisa ikut.

__ADS_1


Namun di sisi Indra, dia bangga sekaligus sedih. Karena harus terpaksa meninggalkan sang istri yang sedang hamil dalam waktu yang tidak sebentar.


"Ya udah nggak apa apa, Mas." jawab Kinan berusaha menguatkan sang suami.


"Ini adalah tugas negara. Toh dari awal Adek memang sudah sadar. Mas bukan hanya milik Adek, tapi juga milik negara." jelas Kinan yang sebenarnya hatinya juga sedih.


"Maafin Mas ya, sayang." ucap Indra menciumi tangan Kinan.


Dia bersimpuh di paha Kinan. Air matanya mulai berkaca kaca.


"Mas nggak bisa nemenin Adek, Mas nggak bisa nepatin janji untuk nemenin Adek selama hamil dan mungkin sampai melahirkan nanti."


Kata kata Indra itu membuat Kinan pun meneteskan air mata.


"Sudah, sudah Mas. Nggak apa apa kok. Anak kita pun juga kelak pasti bangga, punya Ayah yang gagah berani berjuang." imbuh Kinan.


Mereka pun larut dalam kesedihan hari itu. Bahkan sedetik pun Indra tak ingin melepaskan pandangannya pada Kinan. Dia membawa beberapa foto mereka berdua di dalam tas ransel yang akan dia bawa.


.


Keesokan paginya, hari yang di tunggu tunggu bahkan mungkin jadi hari yang paling berat bagi keluarga yang akan di tinggal tugas oleh suaminya. Tak terkecuali Kinan, matanya sudah mulai meneteskan air mata saat mengikuti apel keberangkatan di Batalyon.


Terlebih lagi Indra, sedari tadi pandangannya kosong. Tak ada satu pun kata kata yang keluar dari mulutnya.


Detik detik sebelum keberangkatan.


"Adek hati hati disini ya, sayang. Jangan lupa selalu doain Mas." pinta Indra memeluk sang istri.


Kinan hanya mengangguk. Air matanya menetes deras membasahi pipinya, bibirnya pun tak sanggup membalas kata kata Indra.


"Jaga anak kita ya, Dek. Kalo ada waktu, kirim pesan ke Mas ya??"


Kinan hanya mengangguk. Indra mengusap air mata yang membasahi pipi istrinya itu.


Dia pun kemudian berlutut dan mengusap perut sang istri.


"Nak, jaga Ibu ya?? Jangan nakal nakal. Ayah berangkat tugas dulu. Kita harus janji ya, setahun lagi kita akan bertemu. Dan saat itu, kamu harus bisa berlari untuk mengejar Ayah." ucap Indra menguatkan hatinya.


Indra pun berdiri dan kembali menciumi kening Kinan.


"Mas berangkat dulu ya sayang." ucap Indra yang perlahan berusaha melepaskan tangan Kinan.


Namun Kinan seakan tidak rela untuk melepas tangan suaminya itu. Hingga akhirnya tangan mereka pun terlepas. Indra tak berani menengok ke belakang, dia takut hatinya akan ragu saat melihat Kinan yang sedang menangis.


Berat?? Pasti. Namun Kinan berusaha untuk tetap tegar.


Dan saat mobil akan berangkat, Kinan pun berusaha berbalik. Dia tak ingin melihat keberangkatan itu, tangisannya semakin kuat.


Namun saat dia hendak pergi, tiba tiba saja sebuah tangan menariknya dan untuk terakhir kali memeluknya hangat. Pelukan yang selama ini selalu dia rindukan. Pelukan yang setiap hari selalu menghiasi hari harinya. Pelukan yang selama ini selalu membuat hatinya tenang. Pelukan yang saat ini sedang tak ingin dia lepaakan.


"Mas sayang sama Adek, sayang banget." ucap Indra.


"Adek juga Mas, Adek juga sayang banget sama Mas." jawab Kinan.


Mendengar itu, Indra pun tersenyum. Dia mencium bibir sang istri lembut, dan kemudian berlari menuju mobil keberangkatan.


Para ksatria negara itu pun berangkat mengemban tugas yang cukup berat. Dan semoga mereka semua bisa kembali dengan sehat dan selamat.

__ADS_1


__ADS_2