
Dia pun terus melancarkan aksinya. Indra mulai membuka kancing baju Kinan, dan menciumi bagian lehernya. Memberikan tanda merah di beberapa titik di leher Kinan. Kinan yang tak kuasa menahan kekuatan Indra, hanya bisa menangis. Air matanya keluar deras dari pelupuk matanya.
Tak sengaja setetes air mata pun jatuh mengenai wajah Indra yang sedang bergerilya menciumi leher Kinan. Sontak Indra pun berhenti. Perlahan dia melihat wajah perempuan yang sangat ia sayangi. Ada rasa bersalah di lubuk hatinya yang paling dalam. Indra pun menghapus lembut air mata yang membasahi pipi Kinan.
"Mas Indra jahat!!! Brengsek!!!" bentak Kinan dengan ekspresi wajah yang sangat membenci Indra. Ekspresi wajah yang membuat hati Indra semakin sakit.
Sontak Kinan pun langsung mendorong tubuh Indra dan berlari menuju pintu. Dia lupa jika kunci kamar itu sedang di pegang Indra, dia pun berteriak dengan sekuat tenaga untuk mencari bantuan. Kinan menggedor gedor pintu kamarnya. Namun tak ada respon dari luar.
Saat Kinan melihat Indra semakin mendekatinya, Kinan berusaha menghindar. Dia melempar apapun yang ada di dekatnya kepada Indra. Bahkan vas bunga yang ada di meja tak luput dari tangannya, hingga membuat pipi Indra terluka.
"Menjauh!!! Menjauh dariku!!!" teriak Kinan. "Jangan dekati aku!!! Pergi!!!"
"Kinan. Aku sayang sama kamu."
"Bukan. Kamu bukan sayang, kamu hanya lelaki yang haus akan hawa nafsu!!!" bentak Kinan.
"Dengan cara apalagi aku membuktikan jika aku beneran seriua sayang sama kamu." ucap Indra.
"Aku nggak butuh pembuktian apa apa!!! Nggak butuh!!! Pergi dari sini!!! Pergi!!!" bentak Kinan.
Karena rasa amarahnya, Kinan pun tak sadar membawa pecahan vas di tangannya. Dia berlari mendekati Indra dan berusaha melukai Indra, namun Indra mencegah. Dia memegang pecahan vas itu dengan tangan kanannya. Seketika darah pun mengalir dari genggaman tangannya. Kinan pun heran, kenapa Indra malah menahan pecahan vas itu.
"Jika aku terluka, apa kamu akan percaya??" tanya Indra.
Indra pun langsung membuang pecahan kaca itu agar tidak melukai Kinan, dan menarik tubuh Kinan ke dalam pelukannya.
"Maaf, maafin aku." ucap Indra lembut.
"Lepas!! Lepasin aku!!!" bentak Kinan meronta. Namun Indra semakin kuat menahan Kinan.
"Aku janji akan tanggung jawab. Aku janji akan selalu melindungimu."
"Aku nggak butuh tanggung jawabmu!!! Aku mau kamu pergi!!!" bentak Kinan.
__ADS_1
Dengan lembut, Indra mengusap rambut Kinan dan membelainya.
"Maaf, karena aku sudah khilaf ngelakuin hal seperti ini. Aku tau aku sala, aku salah. Aku bingung, aku nggak tau lagi harus berbuat apa untuk mendapatkan perhatianmu." jelas Indra.
"Lepasin aku Mas. Tolong lepasin." ucap Kinan dengan suara yang semakin lirih. Tubuhnya mulai lemas. Perlawanannya tadi membuat tubuhnya semakin lemah, dia pun sudah tak punya tenaga lagi untuk meronta. Dia hanya bisa menangis dalam pelukan Indra.
Saat itu tak ada hal besar yang terjadi. Indra pun kembali ke kamarnya, dan menyembuhkan sendiri luka di tangannya. Di lain sisi terlihat Kinan menangis sekencang kencangnya di kamar mandi. Dia melihat di sekitar lehernya banyak bekas tanda merah dari Indra. Dia menangis, dia merasa bukan wanita suci lagi.
Dua hari pun berlalu, sudah saatnya mereka pulang. Hubungan di antara mereka jadi semakin menjauh setelah kejadian kemarin. Bahkan Kinan sama sekali tak ingin berbicara dengan Indra. Sekuat apapun Indra berusaha, Kinan tetap tak mau membalas kata katanya. Sepertinya dia sekarang semakin benci kepada Indra.
Hari hari pun berlalu seperti biasa. Pak Rachmad sudah sembuh, jadi beliau kembali jadi sopir Kinan.
Setelah kejadian itu, Kinan tetap berangkat kerja dan tak mengindahkan kedatangan Indra. Bahkan suatu hari Indra pernah datang ke rumah sakit, namun Kinan berusaha bersembunyi dan tak menemuinya. Berkali kali Indra berusaha menemui Kinan, di rumah sakit, di rumah nenek namun tak ada satu pun yang memberikan jawaban. Seakan akan semua orang sudah di suruh untuk tutup mulut.
Tak ada satu pun orang yang mengetahui tentang kejadian di Banyuwangi waktu itu. Hingga suatu hari, tiba tiba sebuah panggilan mengejutkan Kinan.
"Nak, buruan pulang sayang. Pulang ke rumah." ucap Mama Kinan kuatir.
"Loh, kenapa Mah??" tanya Kinan heran.
"Kenapa sama Papa, Mah?" tanya Kinan terkejut.
"Buruan pulang ke rumah, nanti kamu akan tau sendiri." ucap Mama yang sontak langsung menutup telponnya.
Kinan yang kuatir pun langsung bergegas pulang dan memesan taksi online. Kelamaan jika harus menunggu Pak Rachmad.
Terlihat Kinan bolak balik mengecek ponselnya, wajahnya snagat gusar. Dia berkali kali mencoba menelpon rumah orang tuanya, namun tak ada yang mengangkat.
Papa kenapa ya?? Semoga tidak terjadi apa apa sama Papa.
Setelah beberapa saat tibalah Kinan di sebuah rumah yang cukup megah. Rumah dengan 2 lantai itu cukup asri dengan berbagai macam tanaman yang ada di halamannya.
Kinan pun bergegas turun dari taksi dan masuk ke dalam rumah. Alangkah terkejutnya Kinan, saat itu dia melihat pemandangan sang Papa sedang memukuli seseorang mati matian. Bahkan dia memukulnya memakai tongkat golf dan menendangnya memakai sepatu PDL. Membuat orang itu tersungkur tak berdaya di lantai.
__ADS_1
"Paa, stop!!! Berhenti, Pa!!!" teriak Kinan berlari ke arah Papanya.
Dia menahan Papanya yang hendak menginjak injak orang itu.
"Berhenti katamu?!!! Kamu mau melindungi dia hahh?!!!" teriak Papa.
"Dia?? Dia siapa maksudnya??" ucap Kinan heran. Dia pun berbalik melihat sosok yang tadi sedang di hajar oleh Papanya. Sontak matanya pun terbelalak saat melihat siapa orang itu.
"Mas Indra?!!!" ucap Kinan terkejut.
Dia melihat Indra sudah terbujur lemas di lantai. Banyak bekas pukulan dan tendangan di sekujur tubuhnya. Meski sudah tak berdaya, namun Indra masih sempat melayangkan sebuah senyuman hangat pada Kinan.
"A...app...aapa maksudnya ini Pah??" tanya Kinan heran.
"Kenapa kamu malah bertanya balik?!! Seharusnya kamu yang tahu apa yang terjadi di antara kalian."
"Maksudnya??" Kinan heran.
"Si bajingan ini mengaku sendiri, jika dia sudah memperkosamu." tegas Papa.
"Apaa?!!" Kinan terkejut. "Memperkosa?!!!"
"Paa, ini semua pasti salah paham. Biar Kinan jelaskan." imbuh Kinan.
"Nggak usah di jelaskan. Papa sudah dengar semuanya dari mulut bajingan ini. Dia benar benar harus mati di tangannya Papa sendiri!!!!" ucap Papa.
Dia pun segera mengambil tongkat golf, namun Kinan mencegah. Dia melempar tongkat golf itu ke lantai.
"Paa, sudah!!! Sudah!!! Apa dengan kekerasan semua ini akan selesai??!! Apa dengan Papa membunuh Mas Indra semua masalah akan selesai?!!" ucap Kinan tegas.
"Terus kamu maunya gimana?!!! Kamu mau melindungi bajingan ini?!! Bajingan yang sudah merusak masa depan anakku?!!!" Papa semakin emosi.
"Nggak ada yang di rusak Pa. Udah ya, Papa tenang dulu. Nanti Kinan akan jelaskan semuanya. Sekarang tolong beri waktu Kinan untuk ngobrol sama Mas Indra." pinta Kinan berusaha menenangkan sang Papa.
__ADS_1
Papa pun berusaha mengikuti nasihat anak kesayangannya itu. Dan meninggalkan Kinan berdua dengan Indra.
Kinan pun membantu membopong tubuh Indra ke teras belakang. Tak lupa dia membawa kotak P3K. Dengan perlahan dia berusaha merawat luka Indra.