
"Berawal dari situlah Mas memiliki perasaan sama kamu. Dan Mas juga ingat, saat itu kamu pernah bilang. Dalam hubungan antara laki laki dan perempuan tidak ada yang namanya sahabat atau teman dekat. Salah satu dari mereka pasti ada yang terbawa perasaan." jelas Indra mengingat kejadian di masa lalu.
"Dan Mas merasakan hal itu." ucap Indra tersenyum manis pada Kinan.
Kinan pun membalas senyuman itu.
Mereka menyusuri jalan petang itu. Sang ajudan yang biasanya menguasai jalanan alias selalu ngebut kalau bawa kendaraan, namun saat sedang membonceng Kinan laju motornya pun sengaja Indra lambatkan. Dia ingin lebih lama bersama Kinan. Modus nih si Indra.
Di atas motor banyak hal yang mereka perbincangkan.
Sesampainya di depan rumah Kinan.
"Ya udah kalo gitu, aku masuk dulu ya Mas." pamit Kinan.
"Mas nggak di bolehin masuk, Dek??"
"Masuk?? Mau ngapain??" Kinan heran.
"Ya, nggak apa apa. Cuma mau nyapa Bapak saja. Nggak enak udah ngantar pulang anaknya tanpa seijin dia, tapi langsung nyelonong pulang gitu aja. Nanti di kira Mas nggak ada sopan santun." jelas Indra.
"Mas nggak takut mau ketemu Papa??"
"Nggak. Ngapain?? Mas kan nggak ada salah apa apa, ngapain juga takut." sahut Indra.
"Hemmm......" Kinan sejenak berfikir.
"Kalo memang nggak boleh masuk, ya udah Mas langsung pulang aja kalo gitu." ucap Indra sedikit ngambek.
"Iya, iya deh nggak apa apa." jawab Kinan terpaksa. "Tapi janji jangan ngomong yang macem macem lagi di depan Papa."
"Ngomong macem macem gimana maksudnya??" tanya Indra bingung.
"Ya ngomong kayak terakhir kali Mas Indra ketemu Papa. Dan akhirnya berujung dengan tindak kekerasan yang di lakukan Papa." jawab Kinan mengingat masa lalu.
"Itu kan cuma salah paham."
"Iya salah paham, yang akhirnya bikin wajahnya Mas babak belur di hajar Papa." Kinan kesal.
Melihat kekesalan Kinan itu, Indra pun tersenyum.
"Ya nggak apa apa, lupain aja. Toh sekarang semua sudah terselesaikan. Bapak pun juga udah tau kejadian yang sebenarnya. Jadi untuk apa lagi di ingat ingat." saran Indra.
Namun Kinan hanya terdiam, dia trauma dengan kejadian di masa lalu. Dia takut Papanya akan marah saat melihat dia bersama Indra.
"Terus ini intinya Mas boleh masuk apa nggak??" imbuh Indra.
Sejenak Kinan terdiam, dan akhirnya dia menganggukkan kepalanya. Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.
"Assalamuallaikum." ucap Kinan.
"Waallaikumsalam." jawab Mama.
Terlihat orang tua Kinan sedang bersantai di ruang keluarga. Papa Kinan sedang asyik duduk dan menikmati secangkir kopi yang telah di buatkan oleh Mama.
"Mah, Pah." panggil Kinan. "Ehm..., ini..., ada Mas Indra."
"Ijin, Bapak. Ibu." sikap tegas Indra. Padahal di dalam hati Indra dag dig dug.
__ADS_1
Sebenarnya Indra juga takut untuk menghadap Papanya Kinan, namun demi cintanya dia berusaha memberanikan diri.
"Iya." jawab cuek Papa.
"Indra mau makan dulu?? Ibu barusan selesai masak." Mama berusaha bersikap lembut pada Indra.
"Ijin Ibu, saya tadi sudah makan." jawab Indra sopan.
"Terus buat apa kamu kesini??" tanya Papa dingin.
"Ijin Bapak, saya kesini hanya mau mengantar Kinan pulang."
"Sudah di antar kan?? Terus ada keperluan apa lagi??"
"Ijin Bapak, saya mau meminta maaf atas kejadian yang terakhir kali. Maaf kalau saya sudah bersikap kurang ajar." jelas Indra.
"Iya, sudah saya maafkan." tegas Papa.
"Siap, terima kasih Bapak." jawab Indra.
Sejenak mereka hanya terdiam, Indra bingung mau mengatakan apa lagi. Lebih lebih Kinan, yang tidak tahu harus berucap apa. Karena dia takut salah ngomong dan berakibat fatal nantinya.
"Ijin, Bapak. Kalau begitu saya pamit undur diri dulu." ucap Indra memberanikan diri.
Namun saat hendak pergi.
"Kamu beneran sayang sama Kinan??" tanya Papa tiba tiba.
Indra pun berbalik saat mendengar pertanyaan itu.
"Kamu tau kan siapa saya??"
"Siap Bapak."
"Dan kamu juga tau kan posisimu??" imbuh Papa.
"Paa??" tegur Kinan.
Dia berniat untuk menghentikan Papanya mengatakan sesuatu yang akan menyakiti perasaan Indra. Namun terlihat Indra menengok ke arah Kinan seraya menggelengkan kepalanya, seakan dia berkata 'Nggak apa apa, aku baik baik saja'
"Siap Bapak." jawab Indra. "Saya akan berusaha memantaskan diri untuk bisa menjadi pendamping Kinan."
"Coba saja buktikan. Saya ingin tau sejauh mana kamu bisa bertahan." Papa memperingatkan. Namun terdengar seperti sebuah motivasi bagi Indra.
"Siap Bapak, saya akan buktikan."
Kinan yang mendengar hal itu hanya bisa terdiam. Dia penasaran apa lagi yang akan Papanya perbuat kepada Indra.
Saat di depan gerbang rumah Kinan.
"Mas serius tadi ngomong itu ke Papa??"
"Seriuslah. Masa mau main main??" celetuk Indra.
"Mas akan nerima tantangan Bapak, Mas akan berusaha untuk menjadi sosok pendamping yang baik untuk kamu. Sekarang giliran kamu??"
"Aku?? Kenapa dengan aku??"
__ADS_1
"Bapak kan sudah memberi kesempatan sama Mas untuk membuktikan, kalo gitu kamu juga harus ngasih Mas kesempatan untuk lebih dekat dengan kamu." jelas Indra.
"Kita kan sudah dekat." jawab Kinan santai.
"Bukan hanya sebagai teman, tapi lebih dari itu." sahut Indra.
Sejenak Kinan berfikir. Antara memberi kesempatan atau tidak. Sejujurnya dia takut untuk memulai hubungan kembali dengan seorang pria, namun Kinan pun memberinya kesempatan. Dia menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.
"Terima kasih ya, udah ngasih Mas kesempatan. Mas nggak akan menyia nyiakannya." ucap Indra seraya tersenyum.
"Tapi gimana kalo aku masih belum ada perasaan apa apa sama Mas??" tanya Kinan ragu.
"Nggak apa apa. Perasaan itu kan nggak mungkin bisa muncul secara tiba tiba, semua butuh proses. Seperti pohon itu." Indra menunjuk sebuah pohon mangga yang ada di depan rumah Kinan.
"Pohon itu nggak mungkin langsung besar kayak gitu kan?? Dia pasti berawal dari sebuah bibit yang di tanam, di sirami, dan bahkan di kasih pupuk serta sinar matahari yang cukup. Makanya dia bisa tumbuh besar dan menghasilkan banyak buah."
"Seperti halnya kita. Yang dari awal bukan apa apa, tapi kalo kita selalu menyatukan hati, saling berbagi suka maupun duka. Pasti perasaan itu akan muncul dengan sendirinya, dan akhirnya kita bisa memetik hasil dari perjuangan kita itu." jelas Indra.
"Mas nggak pernah sekali pun memaksamu untuk membalas perasaanku. Mas hanya meminta agar kamu selalu berada di sampingnya Mas." imbuh Indra seraya tersenyum manis. Kinan pun ikut tersenyum, dia paham apa yang Indra katakan.
Di waktu yang sama. Di dalam rumah, terlihat Papa dan Mama sedang mengamati Kinan dan Indra dari balik jendela.
Papa sedang menelpon seseorang.
[Kamu ini gimana?!!! Nggak bisa didik anakmu ya?!!! Kalo memang nggak bisa didik, sini biar aku yang didik sendiri!!!] bentak sang penelpon.
[Maaf Antok, ini semua di luar kendaliku. Aku nggak bisa berbuat apa apa.] jawab Papa. Dia tidak menggunakan nada tinggi karena di khawatirkan Pak Antok akan semakin marah.
[Hallahhh, alasan aja kamu Zal. Jelas jelas mereka akan bertunangan, kenapa kamu malah memutuskan secara sepihak?!!! Hahh!!]
[Maaf Tok, aku nggak bisa memaksa anakku untuk mengikuti kemauan kita sebagai orang tuanya. Kita sebagai orang tua hanya bisa mengarahkan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Mereka berdua sudah sama sama dewasa, cukup mereka saja yang menyelesaikan.] jelas Papa.
[Kamu itu kebanyakan ceramah.] tegur Pak Antok. [Gara gara anakmu itu aku harus membatalkan semua pesanan yang sudah kami bayar.]
[Kalo masalahnya uang, nanti saya akan ganti rugi.] saran Papa.
[Nggak usah, aku nggak butuh uangmu.] ucap Pak Antok penuh emosi. Dia pun langsung menutup telponnya.
"Siapa yang telpon Pah?? Pak Antok ya??"
"Iya, Mah." jawab Papa lesu.
"Dia marah ya??" tanya Mama kuatir.
Namun Pak Rizal hanya menganggukkan kepalanya.
"Terus gimana dong Pah??"
"Ya udah Mah, mau gimana lagi. Papa juga nggak mungkin memaksa Kinan untuk terus bersama Niko, di saat Niko sendiri sudah menampaklan sifat aslinya." jelas Papa.
"Tapi kita jadi nggak enak sendiri sama keluarga Pak Antok Pah." ucap Mama kuatir.
"Ya udah biarkan aja, seiring berjalannya waktu mudah mudahan aja Antok bisa melupakan permasalahan ini." sahut Papa.
Dia pun melihat dengan seksama kedekatan Kinan saat bersama Indra.
"Mudah mudahan dia bisa memilih orang yang tepat untuk masa depannya." ucap Papa lirih.
__ADS_1