
Keesokan paginya Kinan sudah bersiap. Dia mengenakan kaos rajut berwarna mustard, celana jeans kulot, dan sepatu ket berwarna putih. Tak lupa hijab pashmina berwarna krem juga sudah berhias cantik di kepalanya.
"Ayo Om berangkat." ajak Kinan pada Indra yang sedang memanaskan mesin mobil.
"Baik Mbak." jawab Indra.
Mereka pun masuk ke dalam mobil.
Semalam setelah mendapat telpon dari Dokter Adam, Kinan langsung menelpon Indra. Untungnya Indra memang sementara di bebas tugaskan dari kegiatan di kesatuannya, dan di perintahkan untuk jadi sopir pribadi Kinan. Jadi jadwalnya pun sesuai dengan kegiatan Kinan.
"Maaf ya Om semalam mendadak ngabarinnya."
"Nggak apa apa kok Mbak. Saya juga nggak ada acara apa apa."
"Nggak ada jadwal kencan juga nih??" sindir Kinan.
"Ya nggak ada lah Mbak." jawab Indra tersenyum.
"Hemm, beneran? Ntar malah ngambek ceweknya gara gara batal kencan." guraunya lagi.
"Nggak ada Mbak. Saya nggak punya cewek."
"Beneran nggak punya, atau lagi di sembunyiin??"
"Beneran nggak punya kok Mbak." jawab Indra malu malu.
"Mau aku cariin?? Banyak tuh perawat dan bidan rumah sakit yang masih jomblo." tawar Kinan.
"Ohh, nggak usah Mbak. Saya lagi nggak mau cari pacar." tolak Indra tegas.
"Emm, ya udah." jawab Kinan singkat.
"Sebenarnya kita ini mau kemana sih Mbak?" Indra mengalihkan pembicaraan.
"Aku punya janji sama anaknya senior."
"Seniornya Dokter juga Mbak?"
"Iya, Dokter Spesialis Kandungan."
"Dokter perempuan Mbak?"
"Bukan. Dokter laki laki."
"Dokter Spesialis Kandungannya laki laki Mbak?"
"Emangnya kenapa Om?"
"Ya nggak apa apa sih Mbak. Cuma kan yang dia rawat perempuan, jadi kayak nggak etis aja kalo.........."
"Kita itu dokter. Sebelum turun ke lapangan kita sudah mengemban sebuah sumpah Om." Kinan memotong kata kata Indra.
"Apa yang kita lakukan memang bertujuan untuk mengobati orang. Bukan hal hal yang bersifat pribadi atau pun intim." jelas Kinan.
__ADS_1
"Siap Mbak. Maaf." jawab Indra malu setelah mendengar penjelasan dari Kinan.
Suasana pun tiba tiba menjadi hening untuk beberapa saat
"Kasian sekali anak itu Om." celetuk Kinan dengan mata yang masih tertuju pada pemandangan samping jendela.
Anak itu? Maksudnya anak dokter senior itu? Pikir Indra.
"Masih kecil tapi harus melewati banyak penderitaan."
Indra mulai fokus mendengarkan Kinan bercerita.
"'Harus menerima kenyataan bahwa orang tuanya bercerai. Papanya pun juga sibuk dengan pekerjaan di rumah sakit. Jadi di rumah, dia seperti nggak ada yang memperdulikan Om." jelas Kinan.
Ohh, seniornya Mbak Kinan duda anak satu. Pikir Indra.
"Itulah kenapa aku berjanji kalo dia udah sembuh, aku akan nemenin dia jalan jalan. Minimal aku ingin membuat dirinya nggak sendirian lagi." imbuh Kinan seraya tersenyum.
"Dia lagi sakit parah ya Mbak??"
"Nggak juga sih Om. Cuma kejang demam."
"Kejang?? Bahaya dong Mbak."
"Nggak sih. Yang penting selalu jaga suhu tubuh agar tidak meningkat saja." jelas Kinan. "Harus selalu sedia antipiretik untuk menurunkan demamnya."
Indra merespon dengan mengangguk saat mendengar penjelasan Kinan.
"Ohh iya kita langsung ke alamat yang semalam aku share ya Om."
Indra pun kembali fokus pada jalan. Sesekali dia melihat petunjuk GPS untuk menuju ke rumah Sinta.
Dua jam pun berlalu, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang cukup megah berwarna putih dengan pilar pilar yang menjulang tinggi. Ada taman yang cukup luas disana. Rumah bergaya Eropa itu terlihat bak istana mini.
"Aku masuk dulu ya Om."
"Baik Om."
Saat akan memasuk halamab rumah itu, tiba tiba saja sesosok gadis kecil muncul dari dalam rumah dan berlari ke arah Kinan.
"Kakak?!!" panggilnya sambil memeluk Kinan.
"Hei, apa kabar?? Jangan lari lari dong. Kamu kan baru sembuh." Kinan menasehati.
"Aku udah nggak sabar mau ke taman bermain. Ayo kita berangkat sekarang." ajak Sinta yang sudah tidak sabar ingin mencoba semua wahana di taman bermain.
"Sudah bawa baju ganti belum??"
"Sudah dong. Nih di dalam tas." jawab Sinta sambil menunjukkan tas ransel kecil yang bertengger di punggungnya.
"Sipp." Kinan mengacungkan jempol. "Yukk kita berangkat."
Dia pun menggandeng Sinta dan masuk ke dalam mobil. Sinta duduk di belakang, sedangkan Kinan duduk di samping Indra.
__ADS_1
"Hai cantik." sapa Indra.
"Om sopirnya kakak ya?" tanya Sinta penasaran.
"Iya. Kenalin aku Indra." Indra menjulurkan tangannya. Namun jabat tangan itu tidak di balas oleh Sinta.
"Kok Omnya masih muda?" tanya Sinta heran.
"Emang kenapa kalo masih muda?" Kinan heran.
"Ya nggak apa apa, aku kan cuma tanya." jawab Sinta agak ketus.
"Ya udah kalo gitu, yukk kita berangkat sekarang Om. Biar nggak terlalu sore nanti pulangnya."
"Baik Mbak."
Selama perjalanan banyak yang mereka bicarakan. Melihat kedekatan antara Indra dan Kinan membuat Sinta curiga. Tatapan Indra ke Kinan terasa berbeda. Dan gadis kecil itu pun memperhatikannya.
Setelah satu jam berlalu. Tibalah mereka di sebuah taman bermain di daerah Batu Malang. Taman bermain yang menyuguhkan berbagai macam wahana permainan.
"Ayo kita turun." ajak Kinan.
"Nggak. Aku nggak mau turun. Aku mau pulang aja." ucap Sinta.
"Loh, kenapa?" Kinan terkejut. "Kita kan sudah sampai. Bukannya kamu sendiri yang minta ke taman bermain??"
"Nggak. Aku udah malas, aku mau pulang aja."
"Kenapa tiba tiba sih? Apa kakak bikin salah? Apa ada kata kata kakak yang menyinggung Sinta??" tanya Kinan heran.
"Pokoknya aku sekarang mau pulang. Antarkan aku pulang sekarang." tegas Sinta dengan wajah yang cemberut.
"Hah?!!" Kinan menghela nafas dan melirik ke arah Indra. Dia pun menaikkan pundaknya dan mengisyaratkan Indra untuk kembali.
Kenapa dia tiba tiba jadi gini? Kenapa sih nih anak?
"Apa Sinta mau makan sesuatu?"
"Nggak. Aku nggak mau makan apa apa. Aku mau pulang saja, aku mau nemuin Papa."
"Papa?? Papa kan masih di rumah sakit."
"Ya udah kalo gitu antar aku ke rumah sakit." jawab Sinta kesal.
Untuk ke sekian kali Kinan menghela napas. Indra yang sedari tadi mendengar kekesalan gadis kecil itu pun ikut bingung. Sikap ceria gadis itu tiba tiba berubah jadi jutek.
Sesampainya di rumah sakit. Sinta tiba tiba langsung keluar dari mobil dan segera masuk ke rumah sakit.
"Hei, Sinta. Tunggu. Jangan lari lari." Kinan berusaha mengejar Sinta. Meninggalkan Indra yang tetap berada di dalam mobil.
Gadis kecil itu berlari dan menaiki lift. Dia menekan angka tiga, tempat dimana ruang kerja sang Papa.
Sesaat setelah lift terbuka, Sinta berlari keluar. Dia menuju sebuah ruangan di ujung. Dia membuka pintu ruangan itu, dia melihat sang Papa sedang duduk dan membuka buka less pasien.
__ADS_1
"Sinta." ucap Papa terkejut.
"Papa." Sinta berlari dan memeluk Papanya.