Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Lagi...Dan Lagi...


__ADS_3

"Siapa itu Indra??" tanya Bu Antok penasaran.


"Dia sopirnya Kinan." jawab Niko.


"Ooh sopir. Tapi dari namanya kelihatannya masih muda ya??" Bu Antok makin penasaran.


Saat Kinan hendak membuka mulutnya, sekali lagi Niko menyela.


"Iya dia masih muda. Dia seorang Tamtama."


"Tamtama?? Maksudnya dia tentara juga??" Pak Antok ikut heran.


"Iya. Dia tentara juga. Dia dinas di Batalyon *****." imbuh Niko. "Katanya sih Om Rizal sendiri yang nyarikan sopir pribadi buat Kinan."


"Loh terus sopirmu yang dulu kemana?? Yang biasanya antar jemput kamu sekolah. Siapa namanya??" Bu Antok semakin menyelidiki.


"Pak Rachmat, Tante. Dia lagi sakit. Jadi sementara Papa nyari sopir pengganti untuk nemenin Kinan pergi."


"Sudah lama sama sopir yang bernama Indra itu??"


"Nggak terlalu lama kok, Tante. Cuma baru beberapa minggu aja."


"Ohh." Bu Antok menganggukkan kepalanya. "Terus berarti kamu sekarang nginep di hotel bareng sama dia gitu??"


"Nggak bareng kok, Tante. Kamar kami terpisah."


"Ya nggak bisa di bilang terpisah juga sih. Kan katanya sebelahan, jadi dekat dong." bu Antok seakan menyudutkan Kinan.


"Iya Nak. Gimana kalo dia berbuat macem macem." timpal pak Antok.


"In Shaa Allah nggak kok Om. Dia orang baik baik." Kinan berusaha membela Indra.


"Mungkin memang akan lebih baik kalo Niko nemenin kamu Nak. Takut terjadi apa apa sama kamu." pinta Bu Antok.


"Nggak usah, Tante. Kinan baik baik aja kok. Lagian mas Indra juga nggak seburuk itu." jelas Kinan seraya tersenyum.


Karena merasa obrolan semakin membuat Kinan tidak nyaman, dia pun segara berpamitan.


"Om, Tante. Maaf. Kinan pulang dulu ya??"


"Loh, kok udah mau pulang Nak?" bu Antok merasa kecewa.


"Iya Tante, ini sudah malam. Kinan mau istirahat. Besok pagi juga masih ada kegiatan." pamit Kinan sambil mencium tangan orang tua Niko itu.


"Assalamuallaikum." ucap Kinan yang terburu buru.


Dia pun segera keluar dari ruangan itu dan di ikuti oleh Niko.


"Kok buru buru banget sih??" tanya Niko.

__ADS_1


"Aku capek, ngantuk." jawab Kinan dengan langkah cepat.


"Iya. Tapi nggak usah buru buru juga jalannya, santai aja lagi."


Namun Kinan tidak menggubris, dia tetap aja berjalan dengan langkah cepat.


"Kamu mau kemana lagi habis ini??" tanya Niko menawarkan.


"Aku nggak pengen kemana mana. Aku pengen pulang."


"Masih jam stengah 7, masih terlalu sore. Kita jalan jalan kemana gitu. Gimana kalo kita ke mall." ajak Niko.


"Nggak ah, aku capek. Kalo kamu mau jalan jalan, ya udah nggak apa apa. Biar aku pulang naik Gr*b saja." jawab Kinan.


"Kok gitu sih jawabnya??" tanya Niko sinis. "Ohh, aku tau. Kamu marah gara gara orang tuaku bahas Indra kan??"


Tiba tiba langkah kaki Kinan yang cepat itu terhenti. Kinan berbalik menatap Niko.


"Kenapa sih harus bahas dia terus?? Dia loh nggak salah apa apa. Dia nggak berbuat apa apa. Dia itu cuma menjalankan tugasnya aja. Tapi kenapa kalian semua seakan menganggap dia bukan orang baik baik." Kinan meluapkan semua kekesalannya.


"Kita hanya mengkhawatirkan kamu."


"Khawatir sih khawatir. Tapi nggak usah sampe berpikiran negatif sama orang lain kan?? Lagian yang milih mas Indra jadi sopirku itu kan Papaku sendiri. Nggak mungkin Papa menempatkan lelaki brengsek di dekatku." jelas Kinan.


"Iya, iya aku tau. Maaf ya." ucap Niko dengan meraih tangan Kinan. Dia mencoba menenangkan Kinan. Namun Kinan menghempas tangan itu.


Niko menghela napas kasar.


"Ya udah kalo itu maumu. Kamu tunggu di depan lobi, aku mau ambil mobil dulu." pamit Niko.


Dia pun segera mengambil mobil dan menjemput Kinan di depan lobi. Selama perjalanan tak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka berdua. Bukan Niko yang tidak mau mengobrol, hanya saja situasi hati Kinan lagi tidak baik baik saja. Maka dari itu Niko tidak berani bersuara. Sekali saja dia bersuara, langsung habis kena amarahnya Kinan. Niko benar benar paham akan sifat Kinan.


Sesampainya di hotel tempat Kinan menginap. Kinan langsung turun dari mobil tanpa mengucapkan salam perpisahan pada Niko.


"Kinan??" panggil Niko. Namun Kinan tetap cuek. Dia melangkah memasuki lobi hotel, Niko pun mengikutinya dan menarik tangannya.


"Kamu kenapa sih??" tanya Niko sambil menarik tangan Kinan.


"Aku capek Nik, aku mau istirahat."


"Tolong jangan marah kayak gini." pinta Niko memelas.


"Aku nggak marah kok."


"Tapi...???" Niko mencoba meneruskan kata kata Kinan.


"Nggak ada tapinya. Aku cuman pengen istirahat. Capek." kesal Kinan.


Sejenak Niko terdiam. Dia seakan berusaha mencari kata kata yang pas untuk di katakan.

__ADS_1


"Oke. Aku tau orang tuaku salah karena sudah menjelek jelekkan Indra, jadi tolong maafin yaa??" Niko berusaha mengambil hati Kinan.


"Kenapa minta maafnya sama aku?? Ya sama mas Indra langsung lah." tegas Kinan.


"Ya nggak mungkin juga lah aku mau langsung minta maaf sama dia. Dia kan nggak tau. Yang tahu kan kamu, dan kamu yang marah." jelas Niko.


Kinan paham betul sifat Niko yang menjunjung tinggi harga diri.


"Ya udah kalo gitu aku mau naik dulu Nik. Aku mau istirahat."


"Tapi janji jangan marah lagi ya??" pinta Niko lembut.


Kinan hanya mengangguk.


"Nah gitu dong." Niko lega.


"Ya udah, aku naik dulu ya??" pamit Kinan.


"Kamu beneran nggak nawarin aku mampir nih??" tanya Niko.


"Ini udah malem. Lagian nggak enak di lihat orang kalo bawa cowok masuk ke kamar." jelas Kinan.


"Ya udah kalo gitu." Niko kecewa.


"Kamu mau langsung pulang, apa nginap di rumah dinasnya Om?" tanya Kinan khawatir.


"Kenapa?? Khawatir ya??" goda Niko.


"Ihh, nggak usah geer deh. Aku cuman nanya aja."


"Kamu maunya gimana?? Aku langsung balik apa nginap disini dulu beberapa hari??" Niko meminta saran.


"Kalo menurutku sih langsung pulang aja, nggak usah disini lama lama." ucap Kinan.


"Ngusir secara halus nih ceritanya??"


"Ya begitulah." Kinan tersenyum. Niko pun ikut tersenyum.


"Ya udah kalo gitu aku pulang dulu ya??" pamit Niko sambil mengusap kepala Kinan.


"Ihh, apaan sih??" Kinan menepis tangan Niko. "Aku ini bukan anak kecil lagi. Aku ini udah besar, udah jadi dokter." canda Kinan.


"Iya Bu Dokter." Niko mencubit pipi Kinan yang chubby.


"Sakit tau!!!" protes Kinan.


Tanpa di duga, ternyata dari arah kejauhan terlihat Indra yang sedang melihat kedekatan antara Niko dan Kinan. Dia bersembunyi di balik dinding lobi. Dia mengamati dengan serius kedekatakan yang terjalin antara mereka.


Sesekali Indra menghela napas kasar dan menutup matanya. Mencoba untuk terus bersabar dan tetap tenang. Antara sakit, sedih menjadi satu dalam hatinya. Ada sesuatu yang patah, namun bukan ranting. Berulang kali dia harus melihat pemandangan yang membuat hatinya sakit.

__ADS_1


__ADS_2