
Bulan demi bulan pun cepat berlalu. Hingga tibalah waktunya Kinan hendak melahirkan. Sejak pagi hari dia mengalami kontraksi, namun dia masih tenang dan beraktifitas seperti biasanya. Bahkan dia masih masuk kerja. Kontraksi yang dia rasakan masih di rasa belum kuat, jadi dia tidak panik. Toh semua barang barang untuk persiapan melahirkan pun sudah dia sediakan.
"Dokter, udah mulai kontraksi ya??" tanya Ana khawatir saat melihat Kinan duduk sambil mengusap perutnya, seperti seseorang yang sedang menahan sakit.
"Iya. Tapi cuma kontraksi biasa aja kok, masih belum terlalu kuat."
"Mending Dokter istirahat di ruang bersalain aja deh."
"Nggak deh, nanti saja kalo udah sakit banget baru aku kesana. Kalo aku kesana sekarang, bisa stress aku nungguin sampe pembukaan lengkap."
"Emang Dokter udah ada pembukaan??"
"Ya, nggak tau juga sih. Aku kan belum periksa." jawab Kinan nyengir.
"Ya udah sini aku periksa aja, Dokter." ucap ana menawarkan diri.
"Ahh, nggak usah deh." tolak Kinan malu karena teman sendiri.
"Nggak usah malu, Dokter. Apa Dokter Kinan maunya di periksa sama Dokter Adam ya??" goda Ana.
"Ihh, apaan sih. Nggak ahh. Pokoknya aku nggak mau kalo nanti ada Dokter Adam saat aku lahiran." ucap tegas Kinan.
"Lah Dokter Adam kan Dokter Kandungannya."
"Ya, tapi kan dia tetap aja lelaki."
"Ya elah Dokter, bukan cuma Dokter Kinan saja perempuan yang dia tolong. Banyak. Tenang aja. Lagian nanti aku pasti dampingi kok." Ana memberikan semangat.
"Terima kasih ya." ucap Kinan seraya tersenyum.
Di tempat lain, terlihat Indra sedang beristirahat di tenda sembari memandangi foto istri dan calon bayinya.
"Di lihatin terus tuh foto." celetuk Wahyu.
"Kangen, Bro." jawab Indra tersenyum.
"Ye elahh, sabar. Tinggal beberapa bulan lagi kita udah balik kok. Sabar ya, calon Ayah." goda Wahyu.
Indra hanya membalas dengan tersenyum.
"Ngomong ngomong, perkiraan istrimu lahiran bulan ini ya??" tanya Wahyu penasaran.
"Iya."
"Pantesan dari tadi pagi mukamu kusut. Khawatir toh rupanya."
"Nanti kalo kamu udah jadi seorang suami, kamu pasti akan merasakan hal yang sama denganku." sahut Indra.
"Iya, iya deh. Untung aja aku belum punya istri. Jadi masih bisa senang senang." balas Wahyu.
Indra hanya nyengir.
"Oh iya, tadi kita ada perintah." Wahyu baru ingat akan sesuatu.
"Perintah apaan??"
"Perintah di suruh ngantar pasokan makanan ke desa sebelah."
"Ohh, ya udah ayo."
Mereka pun berangkat bersama mengendarai sebuah truk, perlengkapan persenjataan pun tak mungkin jauh dari mereka. Saat tak sedang melayani Komandan, posisi para ajudan fleksibel. Kadang mereka membantu memasok makanan dari pusat ke daerah daerah rawan, kadang mereka juga membantu mengevakuasi korban korban ke klinik kesehatan.
"Syukurlah kita ke desa sebelah. Jadi nggak terlalu khawatir deh." ucap Wahyu yang sedang duduk di samping kemudi.
__ADS_1
"Kenapa emangnya??" tanya Indra yang sedang fokus menyetir.
"Ya kan kalo desa sebelah minim konflik, jadi aman. Yang terakhir kali kita ngantar makanan, behh hampir kena peluru nyasar kita. Untung aja nggak kena, kalo kena bisa nggak jadi kawin aku."
"Nikah. Bukan kawin."
"Kawin aja. Lebih enakan kawin." balas Wahyu.
Namun saat hampir sampai masuk ke desa yang di maksud, tiba tiba saja
BBOOOMMMM....!!!!
Tak di sangka truk yang di kendarai Indra menginjak granat, membuat truk mereka terbalik dan terbakar. Bahkan suara ledakan itu sampai ke tenda tempat dimana para prajurit sedang beristirahat. Sontak mereka semua pun berlari ke arah ledakan. Sang Komandan yang mendengar hal itu pun juga ikut kuatir.
"Suara apa itu??"
"Siap, ijin Komandan. Sepertinya itu suara granat."
"Granat?? Dari arah mana??"
"Siap, ijin. Sepertinya dari desa sebelah Komandan."
Desa sebelah?? Bukankah tadi Indra ijin mau ngantar pasokan makanan ke desa sebelah?? Apa jangan jangan?? Gumam Komandan.
"Cepat, kita harus kesana. Segera!!!" perintah Komandan.
Beberapa lama kemudian, tibalah pasukan ke tempat kejadian. Terlihat truk itu sudah terbakar, api yang menyala pun semakin besar. Mereka berusaha mendekat dan menyelamatkan teman mereka yang ada di dalam, namun itu tak bisa. Karena apinya semakin besar. Jangankan menyelamatkan, mendekat saja mereka tidak bisa. Sekuat apapun mereka berusaha memadamkan api tersebut, tapi semua hanya sia sia.
Andaikan saat itu ada truk pemadam kebakaran, pasti api tersebut bisa padam dengan sekejap. Tapi mau bagaimana lagi?? Mereka ada di hutan, daerah rawan konflik pula. Ada sungai saja mereka sudah sangat bersyukur.
Kembali ke Malang.
Terlihat Kinan mulai kesakitan. Sesaat yang lalu dia sudah menelpon orang rumah untuk membawakan perlengkapan persalinannya.
"Kamu nggak apa apa??" tanya Dokter Adam.
"Ehh.., Mm, terima kasih Dokter." jawab Kinan canggung.
"Perawat?!! Tolong ambilkan kursi roda, dan bawa Dokter Kinan ke ruang bersalin. Segera!!!" pinta Dokter Adam pada seorang perawat.
Perawat itu pun segera membawa Kinan ke dalam ruang bersalin. Disana sudah banyak bidan yang bersiap, termasuk Ana.
Mereka menempatkan Kinan di salah satu bed. Sang bidan pun mulai memeriksa Kinan, dan ternyata Kinan sudah memasuki pembukaan tujuh.
Kontraksi Kinan semakin kuat. Dalam rasa sakit itu, hanya untaian dzikir dan doa yang Kinan panjatkan di setiap hembusan nafasnya.
Mas, anak kita sudah mau lahiran. Bantu Adek dengan doa ya?? Agar Adek bisa semakin semangat. Gumam Kinan sembari menahan sakit kontraksi.
Tak lama kemudian keluarga Kinan pun datang dengan membawa semua perlengkapan yang di perlukan.
"Ini Mama, Nak. Mama sudah datang. Gimana kondisimu sekarang??" tanya Mama kuatir.
"Kinan, nggak apa apa kok Ma." Kinan berusaha menenangkan sang Mama agar tidak kuatir.
"Sabar ya, Nak. Papa juga sudah nelpon orang tuanya Indra, mereka juga dalam perjalanan menuju kesini." jelas Papa.
"Kamu mau apa, Nak?? Mau makan?? Mau minum??"
"Nggak, Ma. Kinan nggak lapar atau haus." jawab Kinan sopan.
"Tapi yang namanya orang mau lahiran harus banyak makan." saran Mama.
Akhirnya Kinan pun menurut kata kata sang Mama. Meski tak banyak, tapi setidaknya ada beberapa suap yang masuk ke mulutnya.
__ADS_1
Saat muncul kontraksi, sang Mama semakin kuatir.
"Aduhh, gimana nih Pa?? Kemana sih Dokter Kandungannya?? Dokter, Dokter. Anak saya kesakitan sekali ini." ucap Mama teriak.
"Ma, sabar. Orang lahiran kan memang seperti ini. Mama dulu ngalamin juga kan??" tanya Papa.
"Tapi Mama nggak tega liat Kinan kayak gini Pa." air mata Mama mulai menetes.
"Pah, Mah. Mending Papa dan Mama di luar aja. Kinan nggak apa apa kok." ucap Kinan.
Bukannya mengusir, Kinan lebih tidak ingin melihat sang Mama semakin kuatir. Dia tak ingin Mama menangis.
"Nggak, Nak. Mama akan selalu disini, di sampingmu. Nemenin kamu lahiran." tolak Mama yang sangat menyayangi sang anak.
"Pah, panggil Dokternya dong. Bilang di kasih suntikan atau obat apa gitu, untuk meredakan rasa sakitnya. Atau kalo nggak, mending langsung operasi aja deh. Mama nggak tega, Pah." jelas Mama.
Namun saat mendengar kata kata Mama, Kinan pun meraih tangannya.
"Mah, Kinan nggak mau operasi. Lagian Kinan tidak ada indikasi untuk di lakukan operasi, jadi lebih baik lahiran normal saja." balas Kinan yang menahan sakit.
Mendengar itu, sang Mama pun hanya bisa dia.
Hampir dua jam pun berlalu, kontraksi Kinan semakin kuat. Bahkan dia mulai meremas bantal yang ada di kepalanya.
Kinan pun merasa ada cairan yang merembes dari ***********. Dia melaporkannya pada Ana, teman yang setia menemaninya.
"Ketubannyak sudah pecah, Dokter. Saya periksa dalam lagi ya??" ijin Ana.
Kinan hanya menganggukkan kepalanya. Dan ternyata saat ini pembukaan Kinan sudah lengkap. Beberapa bidan seketika berada di dekat Kinan.
Dia akan membantu proses persalinan Kinan.
"Atur nafas dulu ya, Dokter."
Kinan menuruti setiap perkataan bidan.
"Nanti setelah saya bilang ambil nafas dalam dalam, langsung tarik nafas panjang kemudian ngejan sekuatnya ya?? Cara ngejannya seperti orang BAB." jelas Ana.
Kinan pun mengangguk.
Saat kontraksi kuat, Ana pun memberikan komando pada Kinan. Kinan menuruti setiap kata kata Ana. Berkali kali Kinan berusaha mengejan.
"Hhhkkkkk!!!!!" Kinan mengejan sekuat tenaga.
"Lagi, Dokter!!!" pinta Ana.
Namun Kinan sudah lemas. Tenaganya di rasa habis karena sedari tadi menahan kontraksi yang menerpanya.
"Sekali ini harus lebih kuat ya, Dokter. Kasian si bayi ingin cepat keluar."
Kinan berkali kali menghela napas. Dia seakan mengumpulkan kembali semua energinya.
Mas, bantu Adek. Kasih tenaga buat Adek. Gumam Kinan.
"Yakk, tarik nafas lagi Dokter." ucap Ana saat merasa ada kontraksi kuat. Kinan pun menurutinya. Sekuat tenaga Kinan mengeluarkan semua sisa sisa energinya.
"Hhhkkkkkkkkk...!!!!!" Kinan mengejan sekuat mungkin.
Ya Allahh....
Oowweekkk... Ooweeeekkk...
Suara seorang bayi pun membuat hati Kinan lega. Kemudian sang bayi itu pun di letakkan di atas dadanya. Dia dekap bayi itu hangat hangat, mengusap dan menciuminya. Tak terasa, air mata Kinan menetes.
__ADS_1
Mas, anak kita sudah lahir. Cepat pulang ya?? Biar dia bisa segera punya nama. Bukannya Mas sendiri yang bilang pengen ngasih dia nama saat Mas pulang nanti. Gumam Kinan berurai air mata.