Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Bab 89


__ADS_3

Setelah melewati banyaknya kesulitan dalam pengajuan, akhirnya semua sudah berakhir.


Keesokan harinya dengan membawa beberapa berkas dan surat pengantar, Indra pun segera pergi ke KUA untuk mendaftarkan pernikahan mereka.


Indra menyerahkan semua berkas yang di minta kepada staf KUA.


"Rencana kapan mau menikah??" tanya staf KUA.


"Secepatnya Pak. Kalo bisa bulan ini." ucap tegas Indra.


"Tanggal berapa ya?? Biar saya tulis di buku register."


"Ehmm, itu....." Indra bingung.


"Apa masih belum ada pembicaraan soal waktu pernikahan??" tanya staf KUA.


"Belum Pak."


"Ya sudah kalo gitu Anda bicarakan dulu saja kapan tanggal menikahnya. Dan berkas berkas ini biar saya bawa dulu."


"Ohh, baik Pak." ucap Indra.


Setelah dari KUA, Indra pun langsung pergi ke rumah Kinan.


"Dek." sapa Indra saat melihat Kinan yang membukakan pintu.


"Iya Mas." sambut Kinan dengan tersenyum. "Mas abis dari mana??"


"Mas dari KUA."


"KUA?? Ngapain??"


"Ya mau daftarin pernikahan kita lah, sayang." jawab Indra.


"Tapi kita kan masih belum bahas itu Mas."


"Itulah kenapa Mas ada disini. Mas mau bicarain pernikahan kita." Indra bersemangat.


"Yang namanya pernikahan itu harus di bahas semua anggota keluarga. Orang tuanya Mas, dan orang tuaku juga." jelas Kinan.


"Ahh, kelamaan Dek. Mending kita aja yang urus semuanya."


"Tapi kan kita juga butuh bantuan mereka."


"Iya, Mas tahu. Tapi setidaknya kita harus bahas tanggal kapan kita akan menikah. Karena udah di tungguin nih sama Pak KUAnya." ucap Indra buru buru.


"Sebentar, Adek panggil Mama dan Papa dulu ya??" pinta Kinan.


"Ehh, nggak usah Dek." Indra menahan tangan Kinan.


"Yang penting tanggal ijab qobulnya dulu. Kalo soal resepsi kan bisa nyusul. Yang penting nikah resminya dulu."


"Mas." Kinan membelai pipi sang suami.


"Sabar. Kita harus bahas masalah ini sama anggota keluarga. Sabar ya??" Ucap Kinan lembut.


Mendengar itu, Indra pun memeluk Kinan.


"Tapi Mas pengennya kita cepet nikah, sayang. Mas nggak mau jauh jauh dari Adek lagi. Mas mau semua orang tau kalo Adek ini miliknya Mas. Biar hubungan kita nggak usah sembunyi sembunyi lagi." jelas Indra.


"Iya, Adek paham. Tapi semua itu kan butuh proses, butuh di bicarain dulu sama dua keluarga. Takutnya ada yang nggak setuju, atau keberatan."


"Mas nggak keberatan." tegas Indra.


"Iya kalo Mas. Gimana sama orang tua kita??"


"Orang tua Mas juga pasti setuju."


"Mas." Panggil Kinan seraya merenggangkan pelukan Indra.


"Lebih baik di bicarain dulu sama orang tua ya?? Biar lebih enak." saran Kinan.


Sejenak Indra berfikir. Akhirnya Indra pun menuruti kemauan sang istri.


Tanpa pikir panjang setelah pulang dari rumah Kinan, Indra pun langsung menelpon orang tuanya untuk segera datang ke Jawa guna membahas pernikahan mereka.


Keesokan sorenya, orang tuanya Indra pun datang ke Jawa dan membahas pernikahan yang akan di gelar.

__ADS_1


"Gimana?? Baiknya tanggal berapa akan di gelar??" tanya Papa Kinan.


"Indra maunya kapan??" tanya Bapak Indra.


"Kalo bisa secepatnya Pak."


"Secepatnya itu kapan?? Apa bulan depan??"


"Ohh, jangan Pak. Bulan depan itu kelamaan." tolak Indra.


"Terus maunya kapan??"


"Dalam minggu ini aja." jawab tegas Indra.


"Minggu ini?? Apa nggak terlalu terburu buru??" tanya Papa Kinan.


"Siap, tidak." jawab Indra.


"Semua itu kan butuh proses. Belum lagi resepsi yang akan di gelar. Kita masih harus mempersiapkan semuanya. Apa lagi kita juga belum menyiapan undangan." jelas Papa Kinan.


"Siap. Ini yang kita dahulukan nikah resminya dulu, untuk resepsi kan masih bisa nyusul."


"Jangan lah, Nak. Lebih baik di samakan saja acaranya. Toh biar nggak kerja dua kali." saran Ibu.


"Betul, Ndra. Jadi semisal pagi ijab qobul, sorenya baru resepsi." imbuh Mama.


Terlihat Indra menghela napas berkali kali. Melihat hal itu, Kinan yang duduk di sampingnya pun memegang tangan sang suami.


"Sabar ya, Mas. Kita pasti nikah kok." ucap Kinan lembut.


Indra pun menganggukkan kepalanya.


Setelah perbincangan panjang, akhirnya di sepakati jika pernikahan mereka akan di gelar tiga minggu lagi.


Segala persiapan pun segera di lakukan. Dari baju pengantin, dekorasi, catering bahkan kartu undangan. Dan untuk mempersiapkan semuanya itu, orang tua Indra pun harus menginap di rumah Kinan.


Untuk baju pengantin, acara ijab qobul akan di selenggarakan di rumah Kinan dengan memakai gaun berwarna putih. Sedangkan Indra akan memakai jas berwarna hitam.


Dan untuk acara resepsi akan di gelar di sebuah gedung di Kota Malang. Nuansa hijau mint menjadi pilihan baju untuk resepsi dan dekorasi bunga yang akan menghiasi seisi gedung.


Karena adat Jawa yang mengharuskan mereka di pingit, akhirnya mereka pun di larang untuk bertemu sampai hari H. Tapi hak itu membuat Indra frustasi. Bagaimana tidak. Sehari tidak bertemu sang istri saja, Indra sudah seperti ikan yang kehabisan oksigen.


[Itu udah yang ke sepuluh kalinya Mas bilang dalam sehari ini.]


[Dek, Mas serius.]


[Iya, iya. Adek tau.]


[Kita video call ya??]


[Nggak ahh. Itu kan sama aja ketemu.]


[Ya ampun Dek, tega banget sama suaminya sendiri.] celetuk Indra.


Kinan pun hanya tersenyum licik. Dia seakan ingin mengerjai sang suami.


[Kok lama banget sih bisa ketemunya?? Siapa sih yang ngadain adat pingitan kayak gini??]


[Emang mau di apain sama Mas??]


[Pengen Mas datangi, terus Mas marah marahin.]


[Hahahahahah.] Kinan tertawa lepas.


[Lagian dia nggak tau apa, memendam rindu itu susah.] goda Indra.


Di ujung telpon terlihat Kinan senyum senyum mendengar ucapan sang suami.


[Sayang.] suara Indra mendadak serius.


[Iya Mas.]


[Setelah ini kita akan benar benar menjalani bahtera rumah tangga. Jadi kalo ada sesuatu yang nggak enak, tolong Adek ingatkan Mas ya??]


[Iya Mas. Kita sama sama mengingatkan.] imbuh Kinan.


.

__ADS_1


Dan tibalah saatnya hari H yang sangat di nanti oleh mereka semua, terutama untuk Indra. Dari semalan dia tidak bisa tidur, bahkan meski ini bukan ijab qobulnya yang pertama tapi entah kenapa rasanya masih saja deg deg an.


Jam 7 tepat, Indra sudah berada di rumah Kinan beserta keluarga dan beberapa teman dari Batalyon. Bahkan sang Komandan pun turut hadir sebagai saksi pada acara itu.


Saat pak penghulu mulai menjabat tangan Indra, suasana mulai hening. Beliau pun mulai melafalkan kalimat sakralnya. Seperangkat alat sholat dan sejumlah uang di jadikan mahar untuk sang istri tercinta.


"Sah??"


"SAH!!!!" ucap semua orang yang ada disana.


"ALHAMDULILLAH!!!!"


Pak penghulu mulai membacakan doa untuk kedua mempelai.


Kinan pun keluar dari kamar, menuju tempat pembacaan ijab qobul. Senyum sumringah menghiasi kedua mempelai yang sedang berbahagia. Mereka pun menanda tangani surat nikah yang ada di atas meja.


Selesai sudah seluruh rangkaian acara ijab qobul pagi itu. Mulai dari acara ijab qobul hingga acara sungkeman. Surat nikah pun sudah ada di tangan.


"Istriku??" goda Indra saat makan sepiring berdua dengan Kinan.


"Iya."


Terlihat Kinan dengan sabar menyuapi sang suami.


"Akhirnya setelah lama nggak ketemu, bisa ketemu juga." senyum Indra.


Kinan pun membalas dengan tersenyum.


"Mas kangen Dek."


"Iya, ini kan sudah ketemu." jawab Kinan sembari menyantap makanannya.


Mereka pun larut dalam kemesraan.


Siang harinya saat mereka sedang bersiap untuk acara resepsi. Tanpa di duga Indra masuk ke dalam kamar Kinan yang saat itu sedang bersiap siap.


"Dek." ucap Indra mengintip.


"Mas?!! Kok kesini sih??" sontak Kinan langsung berdiri dan menutupi tubuhnya menggunakan kain jarik.


Perlahan Indra masuk ke dalam kamar. Dia mengenakan setelan baju dinas berwarna hijau, yang biasanya di pakai saat acara resmi saja.


"Mas nggak boleh masuk ke kamar istrinya sendiri??"


"Ya.., ya, boleh. Tapi kan Adek masih harus siap siap dulu."


Wardrobe dan perias pun senyum senyum melihat tingkah mereka berdua.


"Udah, udah. Sana, pergi. Adek mau siap siap dulu nih." Kinan mendorong lembut tubuh sang suami.


"Tapi Mas masih pengen liat hiasan kamar pengantin kita." Indra mencari alasan.


"Iya, nanti kan bisa liat."


Kinan pun langsung menutup pintu kamarnya rapat rapat.


"Dek, Dek. Gitu amat ya sama suami sendiri." ucap Indra dari balik pintu.


"Biarin." jawab Kinan.


Kinan pun melanjutkan persiapannya.


Setelah sama sama siap, mereka berdua segera menuju ke tempat resepsi. Dengan sebuah mobil yang sudah berhias bunga dan rumbai rumbai di kap depannya.


Sesampainya disana. Indra dan Kinan bersiap untuk memulai acara pedang pora. Acara yang biasanya di gelar saat pesta pernikahan. Banyak anggota TNI yang hadir untuk mengikuti acara pedang pora tersebut. Para tamu undangan pun terlihat antusias melihat prosesi pedang pora itu.


Setelah selesai, Indra dan Kinan mulai duduk di kursi pengantin yang sudah di sediakan. Bak raja dan ratu semalam. Di sebelah kanan dan kiri mereka, ada orang tua yang selalu menemani.


Setiap tamu undangan bergiliran satu per satu menyalami mereka. Dari yang mereka kenal, bahkan ada yang tidak mereka kenal sama sekali.


"Kakinya Adek capek Mas." ucap Kinan yang sedari tadi harus berdiri berjam jam untuk menyalami para tamu undangan. Meski pun duduk, tapi itu hanya sebentar.


"Ya udah kalo gitu Adek istirahat aja dulu."


"Istirahat dimana?? Disini??"


"Ya nggak lah, di kamar aja. Sini, Mas temani." goda Indra.

__ADS_1


"Nggak jadi capek deh kalo gitu." Kinan segera berdiri.


Indra yang melihat kelakuan istrinya itu pun tersenyum. Dia seakan hobi mengerjai sang istri.


__ADS_2