
Setelah selesai acara resepsi, mereka pun kembali ke rumah Kinan. Di dalam kamar terlihat Kinan sedang membersihkan wajahnya dari make up dan mengganti bajunya dengan setelan baju tidur. Saat itu Indra tidak ada di kamar, Indra sedang mengobrol dengan keluarga besarnya di ruang tamu. Jadi Kinan bisa bebas mengganti pakaiannya.
"Jadi kapan nih mau boyong istrimu ke Sulawesi, Ndra??" tanya Kak Nanang.
"Nanti kalo aku cuti, kita baru mudik kesana." jawab Indra.
"Pinter juga rupanya kamu cari istri, Ndra. Udah cantik, sholeha, dokter lagi." puji Kak Dodi.
Indra hanya tersenyum.
"Kakak sampe kapan mau disini?? Nggak buru buru pulang kan??"
"Nggak Nak, nanti mereka balik bareng Ibu sama Bapak." sahut Ibu.
"Tapi jangan lama lama juga Bu. Kantor lagi sibuk." celetuk Kak Dodi.
"Iya nih Bu, di tambang juga. Kalo nggak ada saya, takutnya para pekerja malah bermalas malasan." imbuh kak Nanang.
"Iya, iya. Palingan tiga hari kita disini." jawab Ibu.
"Lagian kamu sih, Ndra. Kenapa nggak balik ke Sulawesi aja sih. Ngelolah usahanya Bapak. Ehh, malah milih jadi tentara." celetuk Kak Dodi.
"Kamu kan dari kecil selalu ikut Bapak ke kebun. Dan yang paham akan kebun beserta produksinya kan kamu. Kenapa nggak jadi pengusaha aja sih?? Enak kan. Nggak usah ngikut aturan, kerja bebas. Mau libur, ya libur. Disana kamu malah jadi bos." imbuh Kak Nanang.
"Mungkin memang ini jalanku kak. Mengabdikan diri pada negara." jawab Indra dengan bangga.
"Bapak aja yang dulunya tentara, malah milih jadi pengusaha. Lumayan loh penghasilan sebulan dari kebun, seperti gajimu selama setahun."
"Udah, udah. Jangan paksa Adikmu, biarkan dia memilih jalannya sendiri. Inilah yang dia inginkan." Ibu berusaha membela si anak bungsu.
"Cuma kan sayang Bu, sudah punya dasar berkebun. Bahkan sudah tau jalur untuk ekspor hasil kebun. Kalo aku jadi kamu, mending aku yang gantiin usaha Bapak Ndra." imbuh kak Dodi.
"Udah, biarkan saja Adikmu memilih jalan sendiri. Mungkin memang ini yang sudah Allah gariskan untuknya."
Terlihat di sisi taman belakang, ada Bapak dan Papa yang sedang mengobrol.
"Nggak nyangka juga kita bisa jadi besan ya." ucap Papa.
"Iya. Padahal kita udah lost contact bertahun tahun." sahut Bapak.
Mereka pun larut dalam perbincangan yang panjang.
Saat Indra menuju ke kamar.
Hahhh. Kakak kakak ngobrolnya lama banget sih?? Jadi kelamaan kan. Mudah mudahan aja istriku belum tidur. Gumam Indra dengan wajah yang berbinar binar.
Saat memasuki kamar sang istri, terlihat lampu kamar remang remang. Bau semerbak bunga melati langsung menusuk di hidungnya. Degup jantung Indra sangat cepat saat melihat sang istri terbarimg di atas ranjang. Bayang bayang yang selama ini dia mimpikan akhirnya bisa kesampaian malam itu.
Indra pun perlahan mendekati sang istri. Dia tidur di samping Kinan. Dia melihat wajah cantik sang istri di bawah sinar lampu yang remang. Dia membelai lembut kulit putih nan mulus itu.
"Dek." panggil Indra lembut.
Namun sepertinya sang istri sangat kelelahan, dia sama sekali tak merespon panggilan Indra.
"Dek." panggil Indra seraya sedikit menggoyangkan tubuh istri.
Kinan pun perlahan mengerjapkan matanya. Dia berusaha membuka matanya yang terasa sangat berat.
"Iya Mas." balas Kinan.
"Nggak lupa kan sama kewajibannya??" ucap Indra.
"Kewajiban??" Kinan bingung. Nyawanya belum penuh seutuhnya, karena di bangunkan saat sedang tertidur pulas.
"Iya, kewajiban untuk mengandung anaknya Mas." jelas Indra.
"Ohh." jawab Kinan cuek. "Tapi Adek sekarang nggak bisa Mas. Adek lagi haid."
"Haid?!! Mulai kapan?!! Kok haid sih??!" ucap Indra dengan nada yang sedikit kesal.
Sontak Kinan pun menutup mulut sang suami agar tidak terdengar dari luar.
__ADS_1
"Sstt, jangan berisik Mas."
"Lagian ngapain sih Adek haidnya sekarang?? Kenapa nggak minggu depan aja gitu." protes Indra.
"Ya mana Adek tau Mas. Ini kan siklusnya perempuan tiap bulan. Lagian ini memang udah jadwalnya Adek haid kok." jelas Kinan.
"Hahh, tau gitu mending kita nikahnya minggu depan aja. Nunggu setelah Adek selesai haid." wajah Indra cemberut seperti anak kecil yang kehilangan mainan.
Kinan pun tersenyum melihat wajah suaminya yang sedang cemberut.
"Sabar Mas, sabar. Nanti kan kalo udah selesai haidnya, bisa melakukan kewajiban." ucap Kinan.
"Emang ini sudah hari ke berapa haidnya??"
"Ini sudah hari ke empat kok Mas."
"Biasanya Adek haid berapa hari??"
"Biasanya seminggu sih."
"Berarti kurang tiga hari lagi kan??" selidik Indra.
"Iya Mas. Itu pun kalo seminggu."
"Lah biasanya emang berapa hari??"
"Ya, biasanya sih kadang sepuluh hari. Ada juga yang dua minggu." goda Kinan.
"Gak mau ahh, Dek. Jangan lama lama." protes Indra.
"Hahahahah." Kinan tertawa lepas.
"Suka sekali sih godain suaminya. Seneng ngeliat suaminya puasa terus?? Kapan mau buka puasanya coba??" Indra kesal.
Namun seketika 'Cup'
Sebuah kecupan mendarat di pipi Indra. Sang istri mulai berani menciumnya. Indra yang merasakan itu pun terkejut.
"Boleh nambah sekali lagi??" tawar Indra.
"Ya udah kalo gitu Mas deh yang cium."
"Udah ahh, mau tidur. Udah malam."
Karena malu, Kinan pun langsung berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Namun dengan nakalnya, Indra pun menyelinap ke dalam selimut dan memeluk tubuh sang istri dari belakang.
"Dek." panggil Indra lembut.
"Incip sedikit boleh nggak??"
"Incip apaan??" Kinan tidak paham.
"Ya, incip malam pertamanya. Itung itung buat DP dulu lah. Cash nya nanti kalo Adek udah selesai haidnya." goda Indra.
"Nggak ahh, nggak boleh. Adek kan lagi haid."
"Sedikit aja kok Dek. Ujungnya aja deh." tawar Indra.
Kinan pun berbalik menghadap sang suami.
"Nggak boleh Mas. Nanti ya, sabar. Tiga hari lagi selesai kok." Kinan membelai lembut rambut sang suami.
"Hahh." Indra meletakkan kepalanya di atas pundak Kinan. "Ya udah deh kalo gitu." ucap Indra frustasi.
"Terus mau ngapain sekarang ini??" tanya Indra.
"Ya, tidur." jawab Kinan.
"Masa malam pertamanya cuma di habisin buat tidur aja sih??"
"Terus Mas mau ngapain??" tanya Kinan balik.
__ADS_1
Indra pun melihat sekeliling kamar.
"Aahh, gimana kalo kita buka kado dari orang orang aja." ucap Indra saat melihat banyak tumpukan kado di sudut kamar Kinan.
Kinan pun menganggukkan kepalanya. Mereka pun turun dari ranjang dan siap membuka satu persatu kado itu.
Kado yang pertama berbentuk kotak yang agak besar.
"Dari siapa itu Mas??" tanya Kinan penasaran.
"Nggak tau juga Dek. Nggak ada namanya. Berat juga nih. Isinya apa ya??" ucap Indra saat mencoba membuka kado itu.
Ternyata di dalamnya ada sebuah magic com. Dan ada tulisan di dalamnya 'Dari Komandan'
"Dari Komandan ini Dek." ucap Indra.
"Wahh, baik banget ya Mas." imbuh Kinan.
"Bisa kita taruh di rumah nih Dek."
"Iya Mas, kebetulan kita memang belum beli magic com. Alhamdulillah dapat rezeki." ucap Kinan senang.
"Kemudian yang ini??" Indra membuka kado yang berbentuk persegi panjang.
Ternyata isi dari kado itu adalah sebuah kompor gas, dan pengirimnya adalah kakak kakaknya Indra.
"Alhamdulillah, bermanfaat ya Dek." ucap Indra.
Mereka pun melanjutkan membuka sebuah kotak yang agak kecil, namun ringan.
"Apa ini??" tanya Indra membuka bungkus itu.
Ternyata di dalamnya hanya ada sebuah bungkusan, dan ada serbuk di dalam bungkusan itu. Serbuk itu berbentuk seperti serbuk kopi berwarna hitam pekat, namun baunya agak aneh. Indra pun membaca pesan dari kado itu.
...Minumnya jangan banyak banyak Ndra. Cukup seperempat sendok saja, khasiatnya bisa merem melem semalaman. Bahkan khasiatnya bisa sampai berhari hari. Jamu khas Madura punya ini....
...Erwan...
Ternyata serbuk itu adalah jamu yang di berikan oleh Erwan.
Kurang ajar banget nih Erwan. Ngasih kayak gini pas istri haid lagi. Nggak apa apa lah besok besok aku coba. Gumam Indra.
"Apa itu Mas??" Kinan penasaran.
"Ohh, nggak. Ini cuma minuman kesehatan aja kok."
"Mau Adek buatkan??"
"Ohh, jangan Dek." tolak Indra.
"Kenapa??"
"Mas, Mas nggak suka minum minuman jamu kayak gini. Nggak enak rasanya pahit." Indra ngeles.
Bisa gawat kalo di buatkan sekarang. Bisa habis sabun di kamar mandi.
Indra pun kemudian membuka bungkusan yang lainnya. Saat membuka bungkusan itu, ternyata di dalamnya adalah Lin*eri*. Baju yang sangat seksi di mata Indra.
Sontak Kinan pun terkejut melihat itu, dia pun merampas baju itu dari tangan Indra.
"Ihh, siapa sih yang ngasih kado ini??" kesal Kinan.
Dia pun membaca surat itu, ternyata itu dari temannya. Ratna dan Ana.
"Bagus tuh Dek bajunya." goda Indra.
"Mas mau Adek pake baju kayak gini??"
"Kalo Mas sih lebih suka Adek nggak pake baju." goda Indra.
"Ihh, mesum tauu." celetuk Kinan.
__ADS_1
"Mesum sama istrinya sendiri kan nggak masalah." sahut Indra.
Mereka pun larut dalam kebahagiaan malam itu. Mereka tidur dalam satu selimut yang sama. Bahkan dengan mesra, Indra menidurkan kepala sang istri di lengannya. Membelai dan sesekali mengecup kening sang istri yang sedang tertidur pulas.