
Indra pun mengantar Kinan ke Alfam*rt yang berada tak jauh dari tempat acara.
"Akhirnya bisa terbebas juga." Kinan lega.
"Mbak menghindari cowok cowok disana ya??"
Kinan hanya mengangguk.
"Beberapa tahun nggak pulang, kok cowok cowok disini makin agresif semua ya??" canda Kinan yang mengatur nafasnya.
Saat sedang mengatur nafas, tiba tiba sebuah suara mengagetkan Kinan.
"Ehh, KUTU??!!"
Kinan berbalik, dan mendapati seorang lelaki tampan dan berkulit kuning langsat. Lelaki itu mendekati Kinan. Sejenak Kinan terdiam, berusaha mengingat siapa pria yang ada di hadapannya.
"Baru beberapa tahun di luar negeri aja udah lupa sama aku?? Mentang mentang udah jadi dokter. Dasar KUTU??!!" sindir pria itu.
"Sebentar, sebentar. Yang biasa manggil aku dengan sebutan itu kayaknya cuma satu orang deh." Kinan mencoba mengingat. "Kamu Niko??" tanya Kinan ragu.
"Kenapa?? Kaget ya? Apa karena sekarang aku makin ganteng??" tanya pria itu percaya diri.
"Dihh, bener bener Niko. Dari ke PeDeannya aja udah kelihatan banget kalo kamu itu Niko."
"Yang sopan dikit napa?? Aku kan lebih tua dari kamu, seharusnya panggil aku Abang." ucap Niko tersenyum.
"Abang?? Abang becak apa abang tukang bakso nih." ejek Kinan.
"Enak aja." Niko kesal. Dia pun mengalihkan pandangannya pada Indra yang berada di samping Kinan.
"Siapa tuh?" tanya Niko penasaran.
"Dia temanku, kenapa?? Kepo ya??"
"Teman dari mana?? Kok kayaknya aku nggak pernah liat."
"Nggak semua temanku harus kamu kenal kan??" celetuk Kinan.
Niko pun mengalah dengan apa yang di ucapkan Kinan. Jika bertemu, mereka memang selalu bertengkar. Bagai kucing dan tikus, tapi ujung ujungnya selalu Niko yang mengalah. Mungkin karena umurnya yang lebih tua dua tahun dari Kinan.
"Oh iya ngapain ada disini?? Bukannya di dalam sana."
"Kamu sendiri ngapain disini?? Kinan bertanya balik.
"Cuma pengen hirup udara segar aja."
"Lah... emang di dalam sana nggak ada udara ya??"
"Nggak ada, adanya gas beracun." sahut Niko.
"Hahahaha." Kinan tertawa. "Bilang aja kamu lari kesini karena nggak mau di kenalin sama cewek cewek disana kan?? Ngaku aja deh." sindir Kinan.
"Sok tau kamu. Kamu sendiri juga pasti lagi menghindari cowok cowok disana kan??"
"Nggak tuh, aku memang lagi pengen beli minum." ejek Kinan.
__ADS_1
Terlihat wajah Indra seakan iri dengan kedekatan Kinan dan Niko.
"Ya udah deh, aku beli minum dulu ya." pamit Kinan.
Dia pun berlalu dan masuk ke dalam Alfam*art yang di ikuti oleh Indra. Sebelum masuk, Indra sempat menundukkan kepala saat berpapasan dengan Niko. Karena dia tahu diri, pangkat Niko lebih tinggi darinya.
Kinan sedang memilih milih minuman yang ada di kulkas. Dan kemudian menyerahkannya ke kasir. Saat Indra akan mengeluarkan dompet, tiba tiba saja Niko datang.
"Biar saya saja yang bayar Mbak." ucap Niko pada kasir.
"Nggak usah, aku bayar sendiri aja. Aku juga ada uang kok." tolak Kinan.
"Kamu kan baru balik dari luar negeri, jadi anggap aja ini aku traktir karena udah balik dengan selamat."
"Enak aja kalo ngomomg." celetuk Kinan.
Niko tersenyum.
"Mentang mentang udah jadi abdi negara nih, jadi sombong nih." sindir Kinan.
"Nggak lah, biasa aja."
"Bangga dong pastinya jadi tentara." ucap Kinan.
"Kalo bangga sih pasti, karena bisa jadi bagian untuk melindungi wilayah NKRI."
"Ciee, ngomongnya kayak orang mau Pemilu aja Pak." gurau Kinan.
Ada perasaan tidak enak di hati Indra saat melihat mereka sedekat itu.
"Ohh mau masuk?? Ayo barengan aja kalo gitu, aku juga mau masuk."
"Aku juga mau ikut masuk." ucap Niko.
"Nggak usah, kamu disini aja. Jagain jalan." canda Kinan.
"Enak aja. Emang aku ini PM apa??" sahut Niko.
Mereka pun bersama sama masuk ke area gedung, namun saat akan masuk ke lobi.
"Saya ke mobil dulu Mbak." pamit Indra.
"Nggak ikut masuk??" tanya Kinan.
"Nggak Mbak." jawab Indra sopan.
"Ohh, ya udah kalo gitu."
Kinan dan Niko pun masuk. Terlihat Indra masih menatap jauh ke arah Kinan, entah apa yang saat itu ia pikirkan.
"Dia bukan tamu??" tanya Niko penasaran.
"Bukan." jawab Kinan singkat
"Teruss??"
__ADS_1
"Dia temanku."
"Teman dari mana sih??"
"Udah ahh nggak usah tanya lagi, berisik tau." Kinan kesal.
"Kalo dia bukan tamu, berarti dia hanya sopir atau ajudan dong. Kalo nggak salah tadi dia bilang Komandan kan??" Niko makin penasaran. Tiba tiba Kinan pun berhenti dan menatap ke arah Niko.
"Mau dia sopir, mau dia ajudan, mau dia tukang sapu pun nggak ada urusannya sama kamu. Jadi udahlah, nggak perlu kepo sama kehidupan orang lain." nasihat Kinan.
Dengan rasa kesal, Kinan pun beranjak pergi dari Niko. Kinan paling tidak suka ada orang yang meremehkan pekerjaan orang lain. Apalagi sampai menyinggungnya.
"Ehh, Kinan. Niko. Kalian udah saling ketemu ternyata." ucap Bu Antok yang tiba tiba memberhentikan langkah kaki Kinan. Kinan hanya tersenyum.
"Kok buru buru?? Kamu mau kemana?? Kalian kan sudah lama tidak ketemu, seharusnya ngobrol lebih lama."
"Maaf, tante. Aku harus segera pulang." ucap Kinan. "Permisi, tante."
Kinan pergi menjauh meninggalkan Ibu dan anak itu. Dia mencari Papa dan Mamanya yang ternyata masih asyik mengobrol dengan tamu yang lain.
"Maa, ayo pulang." bisik Kinan pada Mamanya.
"Buru buru sekali. Sebentar lagi ya."
"Aku capek Ma, lagian aku juga belum sholat Isya." ucap Kinan lirih.
"Sebentar sayang, ini loh Papamu masih ngobrol."
"Ya udah kalo gitu aku mau pulang naik taksi online aja." Kinan kesal.
"Aduhh, nih anak. Ya udah, ya udah. Kamu tunggu di mobil aja dulu, sebentar lagi Mama ajak Papa pulang." pinta Mama.
Kinan pun bergegas pergi ke dalam mobil dan menyandarkan tubuhnya.
("Aku emang nggak pantes datang ke acara acara kayak gini.") batin Kinan.
.
Di lain sisi terlihat Indra yang sedang duduk melamun.
"Kenapa mas Bro??" Wahyu tiba tiba datang menepuk pundak Indra.
"Nggak apa apa."
"Kalo ada masalah, ngomong aja." ucap Wahyu.
Namun Indra hanya bisa terdiam.
"Kayaknya memang ada apa apa deh." tebak Wahyu. "Terus tadi ngapain kamu tiba tiba lari dan ngilang gitu aja?? Habis ngejar bidadari kah??" gurau Wahyu.
"Iya, bidadari yang nggak bisa di gapai." sahut Indra.
"Wihh, bahasanya mas Bro. Sejauh apa sih sampai nggak bisa di gapai gitu. Terlalu tinggi kah terbangnya??" canda Wahyu.
"Kalo memang dia terbang terlalu tinggi, patahkan saja sayapnya biar dia nggak bisa terbang tinggi lagi." nasihat Wahyu yang terdengar seperti gurauan, namun mengandung banyak arti.
__ADS_1