Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Makin Dekat


__ADS_3

Indra pun tersenyum melihat Kinan yang kesal. Dia sebenarnya paham kalau Kinan memang tidak mempunyai pikiran seperti itu, hanya saja itulah satu satunya cara yang terpikirkan agar Kinan tidak lagi berdebat tentang urusan pembayaran saat mereka lagi makan bersama.


Tak lama kemudian makanan mereka pun datang. Mereka menyantap makanan dengan di selingi canda tawa.


"Jadi Mas Indra bukan asli orang sini??"


"Bukan Dek. Mas asli orang Sulawesi."


"Ooh, pantesan logat bicaranya beda." jelas Kinan.


"Terus tiap tahun mesti pulang cuti kesana??"


"Iya, tiap tahun Mas pulang."


"Pasti pulangnya waktu lebaran ya??" Kinan menduga.


"Nggak sih Dek. Kan cuti nggak bisa kita atur sendiri, harus sesuai gelombang."


"Maksudnya??"


"Ya kalo cuti lebaran kan ada gelombang gelombangnya. Ada yang dapat cuti sebelum lebaran, ada juga yang dapat cuti setelah lebaran."


"Ooh gitu. Terus selama ini Mas gimana??"


"Mas biasanya dapat cuti setelah lebaran."


"Enak dong. Bisa anjang sana sini ke rumah keluarga." puji Kinan.


"Iya." Indra tersenyum.


"Jadi pengen kesana." Ucap Kinan berharap.


"Ayo kapan kapan ikut Mas ke Sulawesi." ajak Indra dengan senang hati.


"Ngapain??" Kinan terkejut.


"Katanya pengen main ke Sulawesi." sahut Indra.


"Ehh, kirain mau di kenalin ke keluarganya Mas." gurau Kinan.


"Mau ta?? Kalo mau, nggak usah nunggu cuti. Sekarang pun bisa tak kenalin." canda Indra yang sebenarnya adalah harapan terbesarnya.


"Hahahahaha." Kinan tertawa.


Mereka pun melanjutkan makan. Terlihat Indra curi curi pandang pada Kinan.


Andai apa yang di katakan kamu tadi benar. Pasti aku akan sangat bahagia.


"Ngapain liat liatin aku Mas??" lamunan Indra buyar saat Kinan menegurnya.


"Ehh.., ngg..nggak kok." Indra gugup.


"Emang ada yang salah ya sama wajahku??" tanya Kinan.


"Nggak kok, nggak ada." jawab Indra.


"Kamu cantik." ucap Indra lirih. Tanpa sadar kata kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Bahkan Indra sendiri pun terkejut kenapa bisa mengeluarkan kata kata itu.


"Kenapa Mas??" Kinan penasaran.


"Ngg..,nggak apa apa." Indra kembali gugup.


"Hayoo ngomong apa barusan??" goda Kinan.


"Nggak Dek, aku nggak ngomong apa apa." Indra berusaha santai.


"Beneran??" Kinan makin penasaran.

__ADS_1


Namun obrolan mereka tiba tiba terhenti saat ponsel Kinan berbunyi.


"Assalamuallaikum." sapa Kinan mengangkat telepon.


"Waallaikumsalam. Kamu lagi dimana??" tanya Niko.


"Lagi perjalanan mau ke Semarang."


"Semarang?? Ngapain??"


"Ada tugas dari rumah sakit nyuruh aku ikutan seminar di Semarang. Emang ada apa??"


"Kok nggak bilang sih kalo mau ke Semarang. Aku kan bisa nganter." protes Niko.


"Ngapain mau nganter?? Kamu kan kerja, lagian aku udah ada sopir."


"Sopir?? Ohhh.., yang Tamtama itu ya?? Siapa namanya?? Indra ya??" ejek Niko.


"Nggak usah mulai lagi deh." tegur Kinan.


"Mulai apa sih?? Aku kan cuma nanya." Niko membela diri. "Jadi kamu sekarang sama dia??"


"Iya."


"Dia itu bukan mahrammu loh. Berani sekali kamu perjalanan jauh berdua sama orang yang nggak di kenal." tegur Niko.


"Kamu juga bukan mahramku." balas Kinan.


"Ya tapi kan setidaknya kita sudah saling kenal lama, jadi aku nggak mungkin berbuat macam macam."


"Emang mau berbuat macam macam apa sih?? Pikiranmu itu loh terlalu jauh, terlalu negatif thinking." bela Kinan.


"Bukan negatif thinking, tapi apa salahnya selalu waspada."


"Kewaspadaanmu terlalu berlebihan."


"Lebih baik waspada dari pada sudah terlanjur terjadi sesuatu yang tak di inginkan."


"Kenapa diam??" tanya Niko.


"Nggak apa apa, aku cuma lagi makan." jawab Kinan sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Makan dimana??"


"Ya di rumah makan lah." jawab Kinan sewot.


Mendengar kata kata Kinan yang terdengar kesal, Niko sejenak menghela napas dalam dalam. Dia tidak ingin Kinan makin kesal.


"Ya udah kalo gitu kamu lanjutin aja dulu makannya. Nanti kalo udah makan, aku telpon lagi ya??" ucap Niko sabar.


"He em." jawab Kinan yang sudah terlanjur ngambek. Dia pun langsung menutup telponnya.


Kinan pun melanjutkan makannya. Indra yang sedari tadi mendengar percakapan Kinan, paham jika yang menelpon itu adalah Niko. Dia berusaha menahan rasa cemburunya.


Dia bukan milikmu Ndra. Dia bebas berhubungan dengan siapa pun.


Selesai makan, kebetulan hujan pun juga sudah berhenti. Mereka melanjutkan perjalanan. Sebelum pergi, Indra mampir di sebuah minimarket dan membeli beberapa camilan untuk di mobil.


"Ini." ucap Indra seraya memberikan sekantong camilan pada Kinan.


"Wahhh, banyak banget. Mas masih belum kenyang??" ejek Kinan.


"Itu cuma buat camilan di perjalanan aja biar nggak ngantuk." jelas Indra.


Namun Kinan hanya membalas dengan senyuman seakan menyindir Indra.


.

__ADS_1


Beberapa jam pun sudah di lewati. Kini mereka sudah berada di separuh perjalanan. Terlihat Kinan sudah terlelap dalam tidurnya. Indra pun tersenyum saat melihat kepala Kinan harus bolak balik terbentur jendela karena tak bisa menahan kantuknya.


Indra pun menepikan mobilnya. Dengan lembut dia memperbaiki posisi tidur Kinan. Tempat duduk Kinan dia rebahkan, kepalanya pun di ganjal dengan sebuah bantal. Tak lupa Indra menutupi tubuh Kinan dengan sebuah selimut yang ada di bagasi belakang.


Saat melihat wajah cantik Kinan yang sedang tertidur pulas, Indra memperhatikannya dengan seksama. Tiap lekuk wajah dan bibir Kinan. Ingin rasanya mengecup sebentar bibir yang ranum itu.


Perlahan dia mencoba untuk menyentuh bibir Kinan, namun berkali kali ia urungkan niat nakalnya itu.


Sadar Ndra, sadar.


Indra pun kembali menempati tempat duduknya di belakang kemudi dan melanjutkan perjalanan. Sesekali saat kantuk menyerang, Indra mengambil camilan yang tadi dia beli.


Saat sudah memasuk Kota Semarang, perlahan Indra pun membangunkan Kinan.


"Dek, bangun Dek." panggil Indra sambil menepuk lembut bahu Kinan. Mata Indra massih fokus melihat jalan yang ada di depan.


Perlahan Kinan pun bangun dan membuka matanya. Dia sedikit terkejut saat mengetahui yang posisi awalnya duduk, berubah menjadi posisi rebahan. Bahkan ada sebuah selimut yang menutupi tubuhnya.


Kapan dia melakukannya? Apa karena saking ngantuknya sampai aku nggak sadar?


Kinan pun bangun dan menaikkan posisi kursinya.


"Sudah hampir sampai ya Mas?" Kinan berusaha biasa saja.


"Iya, ini sudah masuk Semarang." jawab Indra.


"Ooh ya udah kalo gitu langsung aja ke Hotel *****. Mau check in dulu sekalian sholat Dzuhur Mas." Kinan melihat jam tangannya.


"Sekarang jam setengah satu. Masih ada waktu buat istirahat sebentar sebelum memulai seminar." imbuhnya.


Indra pun langsung melajukan mobilnya ke tempat yang di tuju.


Tak lama berselang mereka tiba di sebuah hotel yang terletak di tengah Kota Semarang. Hotel yang cukup terkenal dengan ornamen lampu kristal di lobinya. Terlihat Indra dan Kinan masuk ke dalam hotel menuju meja resepsionis.


"Selamat Siang Ibu, Bapak." sapa seorang resepsionis seraya mengatupkan kedua tangannya.


"Selamat Siang." jawab Kinan.


"Ada yang bisa saya bantu??"


"Iya, saya mau Check In Mbak. Saya peserta acara seminar."


"Ooh Seminar Dinas Kesehatan Provinsi ya Bu??"


"Iya Mbak."


"Atas nama siapa ya Bu?"


"Kinan, Dokter Kinan. Dari rumah sakit Malang Jawa Timur."


"Oke tunggu sebentar ya Bu Kinan, saya cek dulu kamar yang kosong." ucap si resepsionis sambil melihat layar komputer.


Tak lama kemudian.


"Ibu Kinan, kamar anda nomer 718. Ini kuncinya." si resepsionis memberikan sebuah kartu pada Kinan.


"Lah terus teman saya ini??" tunjuk Kinan pada Indra.


"Ooh ini mau kamar terpisah Bu?" tanya si resepsionis lagi.


"Ya iya lah Mbak. Masa jadi satu kamar, bisa bahaya nanti." protes Kinan.


"Maaf, maaf Ibu. Saya kira mau jadi satu kamar." sesal si resepsionis. "Ini kunci kamarnya untuk Bapak. Nomer 719, kamarnya bersebelahan dengan Ibu Kinan."


"Terima kasih Mbak." jawab Indra.


"Sekali lagi kami minta maaf ya Bu."

__ADS_1


"Iya nggak apa apa." sahut Kinan.


Mereka pun beranjak pergi menuju kamar masing masing.


__ADS_2