
Sore harinya saat di rumah sakit. Terlihat Kinan sedang berbaring di sebuah ruangan. Perlahan Kinan pun membuka matanya, dia melihat sosok perempuan yang sangat ia sayangi.
"Mah." panggil Kinan lirih.
"Sayang. Kamu udah bangun Nak??" ucap Mama kuatir. "Gimana kondisimu sekarang?? Apa masih pusing??"
"Udah nggak apa apa kok Mah, udah nggak terlalu pusing." jawab Kinan seraya tersenyum agar tak membuat Mamanya kuatir.
"Mas Indra mana Mah??" tanya Kinan saat melihat sekeliling, namun tak ada sosok yang dia cari.
"Indra??" tanya Mama bingung.
"Iya Mah, mas Indra. Tadi Mama nggak ketemu sama mas Indra??"
"Nggak tuh. Emang tadi dia ada dimana??"
"Tadi dia ada di mall Mah. Sebelum pingsan, aku sempat ketemu sama mas Indra."
"Mama nggak lihat Indra kok sayang. Lagian tadi yang bawa kamu ke rumah sakit itu Niko."
"Ohh." jawab Kinan dingin.
Mas Indra kemana ya??
"Mah, hpku mana??"
"Ini Nak." jawab Mama seraya memberikan ponsel pada Kinan.
Kinan pun segera mengecek ponselnya, ternyata ponselnya mati. Dia jadi tidak bisa menghubungi Indra.
Gimana nih?? Mana nggak bawa charger lagi. Aku kan jadi nggak bisa ngabarin mas Indra. Pasti mas Indra sekarang lagi kuatir.
.
Malam harinya saat di kediaman Komandan. Terlihat Indra baru saja sampai.
"Terima kasih ya, Ndra."
"Siap, sama sama Komandan." tegas Indra.
Setelah memarkir mobil dinas, dia pun buru buru mengambil motornya.
"Kamu mau keluar lagi, Ndra??" tanya Komandan heran.
"Siap, Komandan. Ijin, saya lagi ada urusan penting."
"Ohh pantes dari tadi kamu kayak nggak konsen gitu." tegur sang Komandan. "Ya udah kalo gitu hati hati di jalan Ndra, udah hampir tengah malam ini."
"Siap, Komandan."
Indra pun segera melajukan motornya di tengah malam yang sunyi.
__ADS_1
Padahal sedari pagi Indra sudah harus pergi ke Bandara dan menjemput keluarga sang Komandan. Tengah malam baru pulang ke kediaman. Dan kemudian saat ini dia harus kembali lagi ke Surabaya untuk menjenguk sang kekasih. Betul betul yang namanya kekuatan cinta Indra, sudah tidak bisa di ragukan lagi.
Indra melajukan motor merahnya itu dengan kecepatan tinggi. Hanya butuh satu jam untuk sampai di kota yang dia tuju.
Karena dia tak bisa menghubungi Kinan, dia pun berusaha mencari keberadaan sang kekasih dengan bertanya ke rumah sakit yang terdekat dari mall. Dengan sabar Indra menyusuri satu per satu rumah sakit untuk mencari Kinan.
Hingga dia tiba di salah satu rumah sakit swasta yang cukup terkenal.
"Mbak, mau tanya. Tadi pagi ada nggak pasien yang masuk atas nama Kinan??" tanya Indra.
"Sebentar saya cek dulu ya??" jawab seorang perawat.
Tak beberapa lama kemudian.
"Iya, ada. Dia ada di Ruang Lavender 4." jawab perawat.
Indra pun segera menuju ke ruangan yang di maksud. Menyusuri tiap lorong rumah sakit yang saat itu memang terasa sepi.
Saat ada di depan ruang Lavender 4. Dia pun perlahan hendak membuka pintu kamar itu, namun tangannya terhenti. Dia melihat dari celah pintu, ada sosok Niko disana. Dia sedang mengusap kepala Kinan yang sedang tertidur pulas. Tatapan matanya sangat dalam saat memandangi Kinan.
Sakit hati pun tiba tiba muncul di hati Indra. Rasa cemburunya yang sangat besar, membuat Indra memberanikan diri untuk membuka pintu itu. Sontak Niko pun terkejut, namun dia enggan menarik kembali tangannya. Seakan dia memang sengaja membuat Indra cemburu.
Seketika Indra pun langsung memegang tangan Niko.
"Maaf Bang." ucap Indra.
Niko pun langsung menghempaskan tangan Indra.
"Maaf Bang, tapi dalam waktu dekat kami memang sudah berencana akan menikah." sahut Indra tegas.
"Menikah?? Jangan terlalu bermimpi, Ndra. Apa kamu sudah tahu semua tentang Kinan??"
"Maksudnya Bang??"
"Kamu itu mau menikahi Kinan, tapi ternyata kamu sendiri masih belum tahu apa apa tentang dia." Niko sinis.
"Kinan itu punya maag, jadi dia nggak boleh telat makan. Jika sedikit aja dia telat makan, asam lambungnya akan meningkat dan kepalanya akan pusing." jelas Niko seraya memandangi Kinan yang sedang tertidur pulas.
"Dia tidak suka memakan sesuatu yang terlalu manis, seperti coklat." imbuhnya.
Terlihat jelas dari sorot matanya, jika Niko sangat mencintai wanita yang ada di hadapannya itu. Indra yang melihatnya semakin terbakar api cemburu.
Di tambah lagi Niko seakan tahu segalanya tentang Kinan.
"Sedikit demi sedikit kami akan bisa saling mengenal kok Bang."
Mendengar ucapana Indra itu, Niko tersenyum sinis. Dia pun sejenak melihat Indra sebelum akhirnya berlalu. Namun hanya beberapa langkah, tiba tiba Niko berhenti.
"Jaga baik baik Kinan, jika tidak ingin aku merebutnya kembali. Karena mau tidak mau, kami pernah mempunyai hubungan yang serius." ancam Niko.
Niko pun bergegas keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Sepeninggal Niko, Indra mendekati Kinan. Dia duduk di samping Kinan dan memegangi tangannya.
"Dek, udah baikan?? Mas udah ada disini Dek." ucap Indra lirih pada Kinan yang masih tertidur pulas.
"Maaf kalo Mas tadi nggak bisa nemenin kamu di rumah sakit." ucapnya dengan menggenggam erat tangan sang kekasih.
"Kamu nggak akan ninggalin aku kan?? Kamu nggak akan kembali sama Niko kan??" ucap Indra lirih.
"Maaf kalo Mas masih belum paham tentang Adek. Tapi Mas janji akan belajar untuk mengenal Adek lebih dalam."
Perlahan Indra pun mendekatkan bibirnya pada Kinan, dia mengecup lembut kening Kinan.
Tak di sangka perbuatannya itu membuat Kinan terbangun. Indra yang melihat hal itu pun terkejut.
"Maa...maaf Dek." ucap Indra. Namun Kinan hanya membalasnya dengan tersenyum.
"Mas sudah dari tadi disini??"
"Mas barusan datang." jawab Indra mengusap kepala Kinan.
"Maafin Mas ya Dek baru datang. Tadi Mas masih........"
"Nggak apa apa Mas. Nggak usah minta maaf. Aku ngerti kok." ucap Kinan santai. "Sekarang Mas ada disini aja aku udah seneng. Pasti capek ya, harus datang jauh jauh kesini setelah seharian sopiri Komandan."
Ternyata Kinan sudah paham situasi Indra, tanpa harus di jelaskan.
"Seharusnya Mas nggak kesini sekarang pun nggak apa apa kok. Lagian ini kan udah tengah malem."
"Nggak bisa Dek. Seharian ini Mas kepikiran kamu terus. Kalo nggak langsung kesini ngeliat kondisimu langsung, mungkin bisa jadi Mas nggak tidur malam ini." jelas Indra. "Di tambah lagi ponselnya nggak bisa di hubungi."
"Oh iya, ponselku mati Mas. Kehabisan batre." sahut Indra.
"Iya nggak apa apa. Ngeliat kamu bisa tersenyum gini Mas udah seneng." jawab Indra. "Gimana sekarang kondisinya Adek?? Udah enakan?? Apa masih pusing?? Apa perlu Mas buatin makanan??" tanya Indra memberondong Kinan dengan pertanyaannya.
"Buatin?? Emang Mas bisa masak??"
"Ohh, maksudnya beliin." ucap Indra yang salah sebut. Kinan pun kembali tersenyum.
"Alhamdulillah kondisiku udah baikan kok. Cuma pusing biasa aja. Dibuat istirahat sebentar udah enakan Mas." jawab Kinan.
"Adek juga lagi nggak pengen makan. Pengenya tidur, rasanya kayak ngantuk sekali. Kayaknya Adek ini di kasih obat tidur deh." duga Kinan.
"Ya udah kalo gitu Adek tidur aja. Biar Mas yang jagain kamu."
"Mas besok kan masih kerja??"
"Nggak apa apa, besok setelah sholat Shubuh Mas baru balik. Nanti sorenya Mas baru kesini lagi."
"Bukannya Mas akan semakin capek kayak gitu?? Harus bolak balik datang kesini. Belum lagi kalo pagi Mas harus layani Komandan." ucap Kinan kuatir.
"Nggak apa apa, itu kan pengorbanan untuk orang yang tersayang." goda Indra.
__ADS_1