Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
28


__ADS_3

"Maaf ya, Mas." kata kata Kinan memecah kesunyian.


"Maaf buat apa??" tanya Indra bingung.


"Maaf karena sudah melibatkan Mas. Maaf sudah berpura pura menjadi kekasihnya Mas." sesal Kinan.


Indra yang sedari tadi senyum senyum sendiri, tiba tiba saja berubah menjadi lesu. Ekspresi wajah Indra tak bisa menutupi kesedihan hatinya. Indra terdiam, dia seakan menata hati dengan perkataan Kinan itu. Dia sadar hal itu tidak mungkin terjadi. Hanya sebuah mimpi jika Kinan tiba tiba menyukainya. Suatu hal yang tidak mungkin terjadi, antara seorang majikan dan bawahannya.


"Iya, nggak apa apa." jawab Indra berusaha untuk berpura pura tetap baik baik saja.


"Habisnya aku bingung. Dokter itu gangguin aku terus."


"Kalo boleh tahu, gangguin gimana ya??" Indra berusaha menjadi pendengar yang baik untuk Kinan. Meski hatinya sakit.


"Ya..., gangguin. Dia meminta aku untuk jadi istrinya, lebih tepatnya memaksa. Bahkan dia sebarin gosip kalo kita saling dekat."


"Berarti dia memang serius suka sama kamu." Indra menarik kesimpulan.


"Tapi aku nggak." jawab tegas Kinan.


"Kenapa nggak mau?? Bukannya dia seorang Dokter, masa depanmu cerah kalo sama dia."


"Masa depan cerah itu bukan di ukur dari seberapa tinggi jabatan calon suamimu dan seberapa kaya calon suamimu. Tapi di ukur dari seberapa besar hati dan kadar keimanannya." jelas Kinan.


"Kalo semisal ada lelaki yang suka sama kamu, namun dia hanyalah orang biasa. Bukan orang yang berpangkat dan bukan juga orang kaya. Apa kamu masih mau??" Indra berusaha memberanikan diri untuk bertanya.


"Why not?? Asalkan hati sama sama menyatu." ucap Kinan sembari tersenyum.


"Maksudnya??" Indra penasaran.


"Maksudnya ya harus saling suka dong. Masa cuma dia aja yang suka, dan aku nggak. Jadi cinta bertepuk sebelah tangan dong." gurau Kinan.


Dia pun bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Saat melihat kepergian Kinan, terlihat Indra yang masih duduk termenung di dalam mobil pun berbicara dalam hati.


Bolehkah aku berharap?? Apa aku beneran boleh mempunyai perasaan sama kamu??


.


Saat malam tiba. Terlihat Indra sedang duduk di depan mess ajudan bersama Erwan dan Aris.


"Tumben kamu di rumah aja Ndra." celetuk Aris.


"Iya. Yang aku layani masuk pagi." jawab Indra.


"Ohh." singkat Aris.


"Denger denger kamu jadi sopir pribadinya anak Jenderal ya??" tanya Erwan.


"Iya Wan."


"Wihh hebat dong. Dulu di Jakarta pernah jadi ajudan Jenderal. Saat sudah pindah ke Batalyon ini, ehh malah di suruh jadi sopir anaknya Jenderal. Memang kamu ini ya?? Jadi favoritnya para Jenderal rupanya." puji Erwan.


"Ya nggak apa apa Wan. Asalkan nggak jadi favoritnya Ibu Jenderal aja." gurau Aris.


"Sialan kamu Ris." umpat Indra.


"Hahahaha."

__ADS_1


Saat mereka sedang bercanda, tiba tiba saja sebuah telpon mengagetkan Indra. Nama kontak yang tampil di layar ponsel, membuat Indra tersenyum.


Tumben sekali dia nelpon.


"Iya. Assalamu'allaikum." ucap Indra sok cool.


"Wa'allaikumsalam." jawab Kinan dari ujung telpon.


"Iya ada apa??"


"Mas, besok pagi minta tolong antar aku ke Semarang ya??"


"Ke Semarang??" Indra terkejut.


"Iya. Barusan aku dapat info kalo selama dua hari di utus untuk mengisi sebagai narasumber di Semarang."


"Kok mendadak sekali??"


"Ya.., mungkin karena sakit hatinya Dokter Adam kali. Yang sebenarnya harus berangkat kan dia, tapi karena katanya dia lagi banyak urusan akhirnya Bu Direktur melimpahkan tugas itu ke aku." jelas Kinan.


"Ohh, gitu." Indra baru paham.


"Orang patah hati itu ngeri juga ya??" Kinan merasa heran.


Mendengar itu Indra hanya tersenyum.


"Oke kalo gitu Mas juga haru beres beres keperluan selama dua hari disana."


"Saya juga ikut nginap??"


"Ya nggak juga." jawab Indra sedikit canggung.


"Aku sudah pesan satu kamar juga buat Mas, jadi nggak usah kuatir." imbuh Kinan.


Tanpa dia sadari, kedua temannya sedari tadi melihat keanehan Indra.


"Kenapa tuh anak? Senyum senyum sendiri." tanya Aris.


"Entahlah. Kayak lagi telponan sama pacarnya."


"Emang yang nelpon itu pacarnya??" Aris penasaran.


"Bukan kayaknya." Erwan menyimpulkan.


Setelah selesai menelpon.


"Siapa itu Ndra??" Aris penasaran.


"Anaknya Jenderal."


"Anaknya Jenderal itu cewek??" tanya Aris terkejut.


"He em." jawab Indra malas.


"Gila kamu Ndra." umpat Aris.


"Gila kenapa??" Indra heran.

__ADS_1


"Kamu suka sama anaknya Jenderal??" tanya Aris memojokkan Indra.


"Siapa yang suka?? Emang aku bilang kalo aku suka sama dia??" Indra berusaha tenang menjawab pertanyaan Aris yang begitu mendadak.


"Nenek nenek bau tanah aja bakal tau kalo kamu lagi kasmaran. Ngeliat ekspresi wajahmu aja kayak gitu."


"Emang kenapa wajahku?? Ganteng ya??" gurau Indra dengan senyum yang masih mengembang.


"Ehh, nih orang di bilangin." Erwan Kesal.


"Kalo kamu memang suka sama dia, mending kamu urungkan deh Ndra. Kita sama dia itu berbeda, bagai langit dan bumi."


"Yang punya perasaan itu aku, bukan kamu. Ngapain kamu ngatur ngatur kehidupanku??" Indra mulai kesal.


"Aku bukan ngatur, aku cuma mengingatkan." ucap Aris merendah agar Indra tak sampai emosi.


"Katakanlah cewek itu juga suka sama kamu, apa kamu pikir Bapak Jenderal akan setuju??" Aris berusaha membuka pikiran Indra.


"Kita yang hanya seorang Tamtama." imbuh Aris. "Ibarat kata bagai pungguk merindukan bulan."


"'Bagai Beauty and The Beast." imbuh Erwan.


"Ngarang aja. Aku jadi Beastnya gitu." ucap Indra tak terima. Indra terdiam sejenak. Dia tak mau terlalu menggubris kata kata temannya itu. Namun apa yang di katakan temannya itu memang benar. Tidak seharusnya dia memiliki perasaan pada Kinan. Dia itu siapa?? Dia hanya seorang ajudan. Hanya seorang Tamtama yang bermimpi untuk menjadi pendamping seorang putri.


"Kamu udah sayang banget ya sama dia??" tanya Aris yang merasa kasihan.


Indra terdiam.


"Apa kamu pernah mencoba untuk mengalihkan pikiranmu ke wanita lain??"


"Sudah."


"Terus??"


"Ya begitulah." jawab Indra pasrah.


Aris dan Erwan sudah tahu apa maksud Indra. Dia tetap tidak bisa mengalihkan perasaannya pada Kinan. Mereka pun terlihat menghela napas kasar.


"Orangnya yang mana sih?? Aku jadi penasaran, kamu punya fotonya nggak??" tanya Erwan.


"Kalian sudah ketemu sama dia."


"Kapan?? Kayaknya kamu nggak pernah ngenalin cewek sama kita."


"Itu yang dulu pernah ketemu di warung lalapan dekat mess."


"Cewek yang berhijab itu??"


"Iya." jawab Indra singkat.


"Ohh yang itu. Ya jelas memang cantik kalo itu." celetuk Erwan. "Pantes aja kamu tergila gila sama dia."


"Berarti kalian sudah lama dekat??"


"Nggak bisa di bilang dekat juga sih."


"Nah itu kamu bisa jalan bareng. Naik motor, berduaan lagi. Pdahal kan saat itu kamu masih belum jadi sopir pribadinya kan??" tanya Aris penasaran.

__ADS_1


__ADS_2