Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Perkenalan


__ADS_3

"Assalamuallaikum Ibu ibu semuanya. Mohon ijin Ibu, perkenalkan nama saya Dokter Kinan. Saya dari Rumah Sakit Malang."


Mendengar kalimat perkenalan itu, sontak Indra pun berdiri dan melihat sosok yang ada di depan.


"Kinan???" Indra terkejut akan kehadiran Kinan.


Kinan yang melihat Indra berdiri di belakang aula pun melempar senyuman padanya.


Kok dia bisa ada disini?? Perasaan semalam dia nggak bilang kalo mau kesini. Gumam Indra.


"Disini saya akan menyajikan beberapa masalah kesehatan pada organ wanita. Nanti setelah saya memaparkan materi, akan ada sesi tanya jawab. Dan di akhir acara akan ada pemeriksaan Pap Smear di Klinik Batalyon." jelas Kinan.


Kinan pun mulai memaparkan satu demi satu materi yang sudah dia persiapkan. Ibu ibu Persit sangat antusias mendengar pemaparan dari Kinan.


Saat Indra sedang melihat Kinan yang sedang memaparkan materi.


"Ehh, tuh Dokter cantik banget ya?? Berhijab lagi."


"Wihh, idaman ini mah. Bisa nih jadi calon Ibu Persitku."


Ucap beberapa tentara yang berada di dekat Indra. Indra yang mendengar hal itu agak sedikit jengah, sebenarnya dia ingin memperingatkan. Dalam hati, ingin sekali dia berucap 'Dia tuh milik aku'.


Tapi ya sudahlah biarkan saja, dia tidak mau di anggap mengada ngada atau sok menjadi pemilik. Jadi dia berusaha sabar meski banyak mata yang mengagumi kecantikan dan tutur bahasanya yang lembut.


Setelah selesai memaparkan materi dan tanya jawab, Indra pun bergegas mendekati Kinan. Disana sudah ada Ibu Komandan dan Ibu Wakil Komandan yang sedang berbincang pada Kinan. Dia pun berusaha menjaga jarak dengan mereka.


Namun kedatangan Indra itu menyadarkan Ibu Komandan.


"Ehh, Om Indra. Ada apa Om??" tanya Ibu Komandan saat melihat Indra diam diam berada di sekitarnya.


"Ohh, siap. Tidak ada apa apa Ibu." Indra panik.


"Saya nanti balik ke kediaman setelah acara Pap Smear ya Om??" pinta Ibu Komandan.


"Siap, Ibu." jawab Indra tegas.


Namun Indra tak kunjung pergi dari sana, dia masih saja berada di sekitarnya. Kinan yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum.


Akhirnya Ibu Komandan pun menyadari akan maksud kedatangan Indra.


"Om Indra ada perlu ya sama Dokter Kinan??" tanya Ibu Komandan.


"Ehm, siap Ibu."


"Ohh, ngomong dong dari tadi Om." Ibu Komandan tersenyum.


Dia menganggap jika Indra ingin berkenalan dengan Kinan.


"Dokter, kenalan dulu nih sama ajudan sekaligus sopirnya Komandan. Namanya Indra."


Ibu Komandan memperkenalkan Indra. Dia tidak tahu jika mereka sudah saling mengenal.


"Siap Ibu, kami sudah saling kenal." jawab Kinan sopan.


"Lohh, sudah saling kenal toh Om??"


"Siap, Ibu." jawab Indra.


"Hayoo siapa nih Om?? Apa ini yang akan jadi calon Ibu Persitnya Om Indra ya??" gurau Ibu Komandan.


"Siap, In Shaa Allah Ibu."

__ADS_1


"Kalo mau nikah, jangan lama lama ya Om. Keburu saya nanti pindah. Kalo bisa sebelum saya pindah, semua ajudan sudah pada nikah." gurau Ibu Komandan.


"Siap Ibu." Indra tersenyum.


"Ya udah kalo gitu saya tinggal dulu ya Om, Dokter Kinan." pamit Ibu Komandan.


"Siap, Ibu." jawab Indra.


Kinan pun hanya membalas dengan tersenyum.


"Sini Mas bantuin." ucap Indra saat melihat Kinan sedang membawa sebuah tas ransel yang kelihatan berat.


"Nggak usah, ini ringan kok." tolak Kinan.


Mereka pun berjalan bersama menuju klinik Batalyon. Saat mereka berjalan, banyak mata yang tertuju pada mereka berdua.


"Kok nggak bilang kalo mau kesini??" tanya Indra santai.


"Sengaja. Mau bikin surprise." jawab Kinan tersenyum.


"Gitu ya sekarang?? Main surprise surprise an??" canda Indra.


Kinan pun hanya tersenyum.


"Oh iya udah makan belum, kita makan ke kantin dulu yukk." ajak Indra.


"Nggak deh Mas, nanti aja. Aku mau ke klinik Batalyon dulu."


"Ini kan masih jam 10, masih ada satu jam lagi sebelum pelaksanaan Pap Smear." Indra memastikan.


"Iya sih, tapi kan tetap aja harus ada persiapan dulu. Mulai dari alat dan tempatnya." jelas Kinan.


"Ehm gitu, ya udah deh kalo gitu. Mas belikan minuman aja ya??" tawar Indra.


"Adek mau ikut ke kantin apa nunggu di klinik aja??"


"Aku nunggu di klinik aja ya Mas??"


"Ya udah kalo gitu, nanti Mas bawain minumannya kesana." jawab Indra.


Mereka pun berpisah. Indra menuju kantin, dan Kinan menuju ke klinik Batalyon.


Saat di dalam kantin.


"Bang, minuman yang ini satu sama ini satu ya??" ucap Indra mengambil minuman teh kotak dan sebungkus roti.


"Ini uangnya, Bang." Indra menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan.


"Tadi itu siapa, Ndra?? Kok kayaknya kalian dekat banget??" tanya seorang senior yang sedang duduk santai di kantin.


"Yang mana, Bang??"


"Itu, Dokter cantik yang tadi itu. Siapa namanya tadi??"


"Dokter Kinan." sahut teman yang lain.


"Nah itu dia, Dokter Kinan."


"Ohh Kinan. Dia itu....., pacar saya Bang." Indra memberanikan diri mengungkap identitas sang kekasih.


"Pacar?? Sejak kapan kamu punya pacar seorang Dokter??" sindir mereka.

__ADS_1


Namun Indra hanya membalas dengan tersenyum.


"Ohh aku tau, apa jangan jangan dia itu adalah cewek yang kamu rebut dari seorang perwira di Batalyon ***** itu??"


"Merebut?? Saya nggak ngerebut dari siapa siapa kok, Bang." jawab Indra heran.


"Hallah, nggak usah bohong deh. Semua orang disini udah pada denger berita itu."


"Iya, Ndra. Karena kejadian keributan kemarin, semua orang di Batalyon udah pada tau. Bahkan ada yang nyebut kamu itu Pebinor." sahut tentara yang lain.


"Dia belum nikah kok, Bang." protes Indra.


"Iya, memang belum nikah. Tapi kalo nggak salah mereka itu mau tunangan, dan akhirnya batal karena ada seorang ajudan yang merebutnya." jelas si senior.


Namun Indra hanya terdiam, dia heran dari mana asalnya berita itu sampai beredar.


"Jadi cewek itu yang kamu rebut?? Ya, pantes aja sih. Orang dia cantik kayak gitu, Dokter lagi. Mana ada yang nggak mau, ya nggak??" sindir mereka.


Indra hanya menghela napas. Dia tidak ingin terus berdebat dengan mereka.


"Saya duluan, Bang."


Indra pun bergegas pergi dari kantin, dia tidak ingin berurusan dengan mereka. Indra hanya bisa bersabar mendengar kabar yang mencoreng namanya itu.


Sesampainya di Klinik, Indra pun masuk ke dalam. Langkahnya terhenti saat melihat ada seorang tentara dari klinik kesehatan Batalyon yang mengajak Kinan bicara.


Indra paham pasti mereka sedang membicarakan masalah kesehatan, namun entah kenapa hatinya terasa sakit saat melihat orang yang dia sayangi sedang bersama pria lain.


Sebenarnya mereka tidak hanya berdua, ada beberapa partner Kinan dari Rumah Sakit yang turut serta. Namun sepertinya si tentara seakan mencoba mendekati Kinan dengan mengajaknya bicara masalah kesehatan.


Perlahan Indra pun mendekat.


"Dek, ini minumnya." ucap Indra seraya memberikan minuman yang tadi sudah dia beli.


"Terima kasih, Mas." ucap Kinan lembut.


"Jadi untuk Covid 19 sendiri memang harus dari daya tahan tubuh individunya sendiri ya??" tanya seorang Binkes (Bintara Kesehatan) yang seakan tak menghiraukan kedatangan Indra.


"Iya, Om. Jadi memang harus dari daya tahan tubuh sih. Kalo daya tahan tubuhnya bagus, virus tersebut juga akan bisa mati dengan sendirinya. Tapi ya memang perlu beberapa obat dan multi vitamin untuk mempercepat penyembuhan." jelas Kinan.


"Di rumah sakit Malang sendiri apa masih banyak kasus pasien terkonfirm??"


"Alhamdulillah sekarang kasusnya sudah menurun kok Om, mungkin cuma beberapa lansia yang memang punya penyakit penyerta saja. Kalo hanya rapid positif, namun dia tanpa gejala bisa isoman (isolasi mandiri)." imbuh Kinan.


"Ohh gitu."


Indra seakan jadi obat nyamuk disana. Terlihat jelas jika Binkes itu mencari perhatian pada Kinan. Namun untungnya Kinan tak merespon. Bahkan dia berani menanyakan nomer ponsel Kinan, namun Kinan menjawab.


"Kalo memang ada masalah kesehatan, monggo bisa langsung datang ke rumah sakit Om. Biar sekalian medical check up." tolak Kinan namun masih dengan bahasa yang sopan dan berusaha tidak menyinggung.


Indra yang mendengar hal itu pun tersenyum.


Terima kasih sudah bisa menjaga hati. Pikir Indra.


"Adek mau makan roti?? Ini Mas belikan roti juga." Indra menyela obrolan mereka.


"Terima kasih, Mas." ucap Kinan.


"Kamu kenal sama Dokter Kinan, Ndra??" tanya Binkes penasaran.


"Siap, kenal Bang. Dia pacar saya." jawab Indra tanpa ragu.

__ADS_1


Dia seakan ingin menegaskan status Kinan di depan pria yang ingin mencari perhatian pada sang kekasih.


__ADS_2