Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Sunrise


__ADS_3

"Mungkin ini jodoh yang sudah Allah tetapkan buatku. Karena aku yakin, yang namanya jodoh itu nggak akan tertukar. Mau nggak mau, suka nggak suka. Jodoh itu akan tetap datang, dan menemukan jalan untuk menemui kita." imbuh Kinan.


Mendengar kata kata Kinan, sejenak Indra terdiam. Sekarang dia paham bagaimana perasaannya Kinan pada Niko.


Selama perjalanan Indra selalu memikirkan kata kata yang tadi Kinan ucapkan, bahwasanya jika jodoh yang sudah di tetapkan tidak akan tertukar.


Benarkah Niko yang akan jadi jodohmu?? Apakah kamu akan bisa menerima Niko, padahal kamu sendiri tak memiliki perasaan apa pun padanya??


Beberapa jam pun berselang, mereka sudah tiba di sebuah masjid di daerah penanjakan. Saat turun dari mobil.


"Hhiiyy." ucap Kinan sambil memasukkan tangannya ke dalam saku jaket. Hawa dingin langsung menusuk ke dalam tubuh Kinan.


"Dingin ya??" tanya Indra khawatir.


Kinan hanya mengangguk, menahan dinginnya kawasan Bromo.


"Adek kan terbiasa dengan ruangan yang ber-AC, masa gini aja udah dingin." sindir Indra.


"AC itu kan paling mentok suhunya 16 derajat, lah ini kayaknya udah mencapai minus deh." celetuk Kinan. Indra hanya menahan tawanya.


"Nanti ambil air wudhunya jangan sampe membeku ya??" gurau Indra.


"Dingin banget ya??" tanya Kinan khawatir.


"Ya... Gak dingin dingin banget sih. Tapi bisa bikin gigi langsung ngilu." canda Indra.


"Ihh, yang bener."


"Iya bener. Coba aja." tantang Indra.


"Ini nggak bisa tayamum dulu nih??" canda Kinan. Indra pun hanya tersenyum.


"Orang sini paling nggak ada yang punya kulkas ya??" ucap Kinan.


"Kenapa bisa??"


"Orang hawanya dingin gini mana ada yag butuh kulkas."


"Siapa bilang?? Dulu waktu saya ikut tradisi Bromo, pernah kok lihat ada orang sekitar sini yang jualan es."


"Masa??" Kinan tak percaya.


"Iya, beneran."


"Waah, tuh orang kayaknya berdarah panas." gurau Kinan.

__ADS_1


"Sekarang coba deh lihat, aku ngomong gini aja udah beruap." Kinan memperhatikan uap yang keluar saat dia berbicara, bagaikan suasana musim dingin di luar negeri.


"Orang sini udah terbiasa dengan cuaca dingin kayak gini. Malahan di saat kita udah pake jaket berlapis lapis, ehh mereka cuma pake baju biasa dan selembar sarung yang dikalungkan di lehernya. Sudah, gitu saja." jelas Indra.


"Ampun deh kalo aku tinggal disini, nggak kuat dinginnya." ucap Kinan sambil menggosok gosokkan kedua tangannya.


Melihat itu, sontak Indra pun ikut membantu menghangatkan tangan Kinan. Dia menggosok gosokkan tangan Kinan. Melihat sikap Indra itu, Kinan sedikit terkejut.


Sejak kapan dia berani nyentuh aku kayak gini?? Kayaknya kemarin kemarin nggak deh.


Kinan pun tiba tiba melepaskan tangannya.


"Kita..., kita... Hemm, sebaiknya kita sholat dulu deh Mas. Biar bisa segera liat sunrise." ajak Kinan. Indra hanya mengangguk dan tersenyum. Senyuman manis yang bikin semua gadis klepek klepek.


Setelah selesai sholat Shubuh, mereka pun melanjutkan perjalanan. Di dalam mobil, Kinan merasa canggung dengan kejadian tadi.


Tak lama berselang, mereka pun tiba di kawasan penanjakan. Disana terdapat banyak orang yang sudah bersiap untuk melihat kemunculan sunrise. Mereka pun turun dari mobil. Namun saat Kinan hendak mendekat ke tepian pembatas, tiba tiba Indra menahannya. Dia memegang pundak Kinan.


"Jangan terlalu dekat. Bahaya." saran Indra.


Melihat tindakan Indra itu, Kinan pun semakin canggung. Dia berusaha mengalihkan pandangannya.


Setelah lama menunggu, seberkas cahaya pun sedikit demi sedikit muncul dari ufuk timur. Cahaya itu muncul dari balik gunung. Sontak Kinan pun senang bukan kepalang.


"Itu, itu muncul Mas." ucap Kinan sambil menepuk Indra. Wajah Kinan seketika tersenyum bahagia.


Melihat Kinan yang tersenyum, Indra pun merasa bahagia.


Syukurlah aku bisa membuatnya tersenyum lebar seperti ini. Aku harap selamanya kamu akan tetap tersenyum ya, Kinan. Apa aku bisa menjadi pemilik senyuman itu??


"Ayo foto Mas." ajak Kinan.


Dia pun langsung berpose di dekat pagar pembatas dengan sunrise sebagai background. Siluet tubuhnya pun terlihat indah bak foto model.


"Ayo sini, Mas Indra juga harus foto."


"Saya nggak usah deh." tolak Indra.


"Udah, ayoo buruan." tanpa sadar Kinan menarik tangan Indra, membuat hati Indra berbunga bunga.


"Mengabadikan momen. Jarang jarang kan kita datang kesini, karena keseharian mas Indra juga pasti sangat sibuk." sahut Kinan.


"Ayo pose." ajak Kinan gembira.


Mereka pun berfoto bersama. Tak jarang Indra meminta bantuan orang sekitar untuk mengambil foto mereka berdua.

__ADS_1


Aku ingin selamanya seperti ini. Dekat denganmu. Tidak, bukan hanya seperti ini yang aku mau. Aku mau kamu lebih dari ini. Bolehkah aku berharap??


Setelah puas berfoto bersama dan melihat sunrise. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kawasan Gunung Bromo.


"Nanti turun ke lautan pasir kita harus jalan kaki." ucap Indra.


"Jalan kaki??" Kinan terkejut.


"Nggak bisa naik mobol aja nih??"


"Ya nggak bisa lah. Mobil ini kan bukan mobil offroad, jadi bannya pasti akan terjebak di lautan pasir."


"Tau gitu tadi pinjem mobil dinesnya Papa." sesal Kinan.


"Ya udah kalo gitu nggak usah naik ke Bromo aja." ucap Indra.


"Ehh jangan. Udah jauh jauh kesini masa nggak sampai ke Bromo sih??" celetuk Kinan.


"Jauh nggak jalannya sampai ke kawah Bromo??" tanya Kinan penasaran.


"Ya, nggak terlalu jauh. Dari parkiran, kita masih harus nurunin jalan menuju lautan pasir. Setelah itu harus menaiki anak tangga untuk bisa mencapai kawah Bromo."


"Itu sih jauh namanya." sahut Kinan.


"Nggak jauh kok. Nanti kalo capek, biar aku gendong." gurau Indra.


"Ishh, kayak anak kecil aja." balas Kinan.


Setelah beberapa saat, mobil mereka pun berhenti di kawasan parkiran Bromo. Meski saat itu masih pagi, namun sudah banyak mobil yang berjajar disana.


Mereka pun turun dari mobil dan bersiap turun ke lautan pasir. Namun tiba tiba saja.


"Tunggu sebentar." Indra menarik tangan Kinan.


Seketika Indra pun mengalungkan sebuah syal di leher Kinan. Syal yang berwarna hijau. Kinan yang melihat sikap Indra itu semakin canggung.


"Nggak usah Mas, Mas aja yang pake." tolak Kinan seraya hendak melepas syal itu. Namun Indra mencegah, dia menahan tangan Kinan.


"Nggak usah, kamu pake aja. Disini udaranya makin dingin, kalo nggak pake syal bisa bisa kamu kenal flu." jelas Kinan.


"Ohh, ehmm. Terima kasih Mas." jawab Kinan canggung.


"Kamu bawa sarung tangan??" tanya Indra khawatir.


Kinan perlahan menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Ini, pake punyaku saja." dia menyodorkan sepasang sarung tangan berwarna hitam.


Awalnya Kinan menolak, namun sekali lagi Indra tak menerima penolakan Kinan itu. Dia tetap memaksa Kinan untuk memakai sarung tangannya.


__ADS_2