
Saat dalam perjalanan, ada sebuah pesan yang masuk ke ponsel Kinan. Pesan itu dari Dokter Adam.
...Jika tidak ada lelaki di dekatmu, itu berarti aku masih punya kesempatan untuk mendekatimu....
Terlihat wajah Kinan langsung berubah saat membaca pesan itu. Entah strategi apa yang sedang dia pikirkan untuk menhaub dari Dokter Adam. Namun Kinan berkali kali menghela napas dan memijit keningnya.
.
Sesampainya di taman bermain.
"Hahh?? Udah lama nggak ke taman bermain. Its time to fun." ucap Kinan gembira.
Namun langkahnya terhenti saat melihat Indra masih berdiri terpaku di dekat mobil.
"Ngapain Om?? Ayoo masuk." ajak Kinan.
"Nggak Mbak. Saya nunggu disini saja." tolak Indra.
"Kenapa?? Jangan jangan Om takut wahana yang menguji adrenalin ya??"
"Nggak kok Mbak. Malahan saya suka wahana seperti itu."
"Terus kenapa nggak mau masuk??"
"Saya nggak enak Mbak."
"Nggak enak kenapa lagi?? Lebih nggak enak lagi kalo aku main sendirian, kayak orang hilang aja. Ayoo buruan masuk." Kinan menarik lengan baju Indra.
"Iyy..iyya Mbak." Indra gugup saat lengan bajunya di tarik Kinan. Ada perasaan berdebar dalam hatinya.
Saat akan membeli tiket.
"Dua ya mbak." ucap Kinan pada petugas karcis.
"Biar saya bayar sendiri aja Mbak." ucap Indra saat mengeluarkan uang dari dompetnya.
"Nggak usah. Ini kan aku yang ngajak. Jadi ya udah, santai aja." Kinan tersenyum.
"Tapi Mbak....."
Indra berusaha menolak. Namun Kinan langsung menggelengkan kepalanya sebagai tanda jika dia tidak menerima penolakan Indra. Indra pun hanya bisa terdiam.
"Ayo masuk Om." ajak Kinan bersemangat.
Mereka pun masuk ke dalam sebuah area gedung yang menunjukkan tradisi dan ke aneka ragaman adat budaya seluruh Indonesia. Kinan yang baru pertama kali kesana pun tidak melewatkan kesempatan itu. Dia mengambil beberapa foto. Terkadang Kinan meminta bantuan Indra untuk mengambil fotonya. Kebetulan saat itu Kinan membawa tripod, jadi mudah bagi Indra untuk mengambil foto.
"Sini ya Om." ucap Kinan sambil berpose di depan miniatur salah satu rumah adat.
Indra yang melihat itu pun tersenyum dan kembali fokus untuk mengambil foto.
"Bagus nggak Om?" tanya Kinan seraya mendekat ke Indra.
__ADS_1
Kinan pun melihat hasil jepretan Indra. Jarak mereka yang sangat dekat, membuat detak jantung Indra berbunyi tidak teratur. Nafasnya pun seakan sesak. Baru kali ini dia begitu dekat dengan gadis cantik berhijab itu.
"Ayo Om, aku fotoin Om juga." tawar Kinan.
"Ngg..nggak usah Mbak. Saya fotoin Mbak aja."
"Udah, nggak usah sungkan. Ayo buruan." tawar Kinan.
"Ng..nggak Mbak. Saya nggak enak."
"Udah, enakin aja Om. Anggap saja saya ini sebagai teman." ucap Kinan. "Oh iya panggil nama saja, nggak usah ada kata Mbak. Toh kita seumuran kan?"
Mendengar itu Indra terdiam. Mana mungkin anak seorang Jenderal berteman dengan seorang sopir yang hanya seorang Tamtama?
"Lagian kita kan nggak tau sampai kapan Pak Rachmat bakal balik kerja lagi. Jadi kita harus terbiasa." imbuh Kinan.
"Nggak enak juga kalo di dengar orang kalo Om manggil saya Mbak." Kinan melirik sekitar.
Sejenak Indra terdiam, dia kembali ragu untuk menuruti kata kata Kinan.
"Baik Mbak...Ehh, maksud saya Kinan." Indra agak gugup saat memanggil nama gadis cantik itu.
"Nah gitu dong. Yukk kita senang senang Om." ucap Kinan tersenyum.
"Tapi...apa nggak sebaiknya kita sama sama manggil nama saja??" Indra bernego.
"Hemm?? Panggil Indra gitu maksudnya??"
"Hahahahahah." Kinan tertawa mendengar penjelasan Indra. "Iya, iya. Nanti orang orang malah mikir kalo Om Indra ini sugar daddynya aku lagi." canda Kinan yang masih menahan tawanya.
"Oke, kalo gitu aku panggil Mas aja ya??"
"Panggil Indra saja." tawar Indra.
"Nggak enak, aku nggak terbiasa langsung panggil nama gitu. Lagian Mas Indra kan emang lebih tua dariku."
"Cuma beda beberapa bulan aja." sahut Indra.
"Ya sama aja kan." Kinan bersikeras.
Melihat sifat keras kepala Kinan itu, membuat Indra tidak sengaja tersenyum.
"Nah itu tersenyum, berarti deal ya?? Aku akan manggil Mas Indra saja." Kinan memutuskan sepihak.
"Kalo gitu ayoo kita menjelajah lagi." ajak Kinan.
Indra pun mengikutinya dari belakang. Dan sesekali mengambil foto Kinan saat di suruh.
"Sini, Mas juga harus foto." Kinan melambai ke Indra.
"Nggak usah, kamu aja yang foto." tolak Indra.
__ADS_1
"Ihh, keras kepala banget sih." ucap Kinan kesal.
Dia pun langsung menarik Indra ke depan sebuah miniatur rumah adat Papua. Kinan memposisikan dirinya ada di belakang Indra. Dan Indra yang memegang kamera berada di depannya.
"'Ayo foto." ucap Kinan yang sudah berpose.
"Berdua aja??"
"Nggak. Ber-Sebelas." gurau Kinan. "Kita ini mau foto, bukan mau main bola. Ngapain foto rame rame."
Indra pun tersenyum. Entah karena celetukan Kinan itu, atau karena dia bahagia berfoto berdua dengan Kinan. Tapi yang jelas saat itu hati Indra sedang berbunga bunga. Detak jantungnya mulai berpacu tak menentu.
Saat sudah puas mengambil foto di area rumah adat, mereka pun melanjutkan perjalanannya. Terlihat mereka sering bergurau. Sejenak mereka hanyut dalam suasana kegembiraan. Tak ada lagi perbedaan status di antara mereka.
Sesampainya di sebuah area yang menyajikan miniatur berbagai peristiwa bersejarah demi merebut Indonesia dari tangan penjajah.
"Ohh, jadi gini ya kejadiannya." ucap Kinan saat melihat satu persatu miniatur itu.
"Kamu tahu sejarah ini??" tanya Indra menunjuk peristiwa bersejarah di Surabaya.
"Tahu. Kalo nggak salah itu kan peristiwa Bung Tomo yang merobak bendera penjajah kan??"
"Betul." Indra mengacungkan dua jempol ke arah Kinan. "Merubah bendera penjajah itu menjadi merah putih." imbuh Indra.
Saat Kinan sedang fokus melihat peristiwa bersejarah itu, Indra pun menyalakan kamera mode Video. Dia mengarahkannya ke Kinan. Merekam aktifitas Kinan yang sedang seksama mengamati satu per satu peristiwa yang di sajikan dalam sebuah etalase.
Kinan yang menyadari hal itu, tiba tiba berpose di depan kamera. Dia mengira jika Indra hendak memotret.
"Lagi video ini." sahut Indra.
"Ehh, kirain mau foto." Kinan pun mulai bergaya ala ala youtuber papan atas.
"Hai gess, ketemu lagi dengan saya Kinan. Kita lagi ada di Taman Bermain nih sekarang. Di kota mana nih Mas?" tanya Kinan di tengah tengah ngevlog.
"Di Batu Malang." jawab Indra dari belakang kamera.
"Ya itu dia, di Batu Malang. Sekarang ini kita lagi berada di tempat yang menyajikan berbagai peristiwa bersejarah di negeri tercinta. Bagi kalian kalian yang penasaran dengan tempat ini, monggo hayukk datang kesini langsung. Informasi lokasi akan saya tulis di kolom deskripsi ya??" jelas Kinan yang mengundang tawa Indra. Indra pun mematikan kameranya.
"Bagus nggak Mas??" Kinan penasaran.
"Bagus." jawab Indra sembari tersenyum.
"Cocok nggak jadi youtuber??"
"Cocok."
"Lebih cocok mana. Jadi youtuber apa jadi dokter?"
"Lebih cocok jadi dokter."
"Ihh, tetap aja dong." jawab Kinan yang tak henti hentinya tersenyum.
__ADS_1