
Di tempat lain di rumah Nenek. Kinan terlihat sibuk menelpon.
"Ma, apa maksud semua ini?? Kenapa nggak ada yang ngajakin aku bahas hal ini??"
"Nak. Mama mau jelasin dulu."
"Jelasin apa lagi Mah?? Sekarang gini ya Mah, yang mau tunangan itu aku. Setidaknya Mama bahas masalah ini sama aku, bukan sama orang tuanya Niko."
"Iya, sayang Mama paham. Cuma Mama mendengar kabar yang nggak enak tentang kalian berdua."
"Mendengar kabar apa lagi??" Kinan semakin kesal.
"Begini, sayang. Ehmm, saat malam kalian berdua menginap di vila bersama Niko. Ada orang yang melihat kalian. Lagian Bu Antok juga nggak mau sesuatu terjadi sama kamu, makanya dia mau secepatnya mengadakan acara ini."
"Siapa yang lihat?? Nggak ada yang lihat. Orang saat itu disana lagi sepi kok Ma. Mungkin aja itu hanya karangan Bu Antok biar kami segera nikah. Lagian nih Ma, aku dan Niko juga nggak lagi ngapa ngapain. Kami cuma nginep di vila karena hujan saja. Nggak ada yang terjadi." jelas Kinan.
"Iya, Mama percaya sama kamu. Tapi bagaiman pun juga orang tua Niko memaksa untuk segera meresmikan hubungan kalian. Mereka hanya takut terjadi sesuatu sama kalian."
"Mah, aku masih punya iman. Nggak mungkin aku ngelakuin hal yang melewati batas." imbuh Kinan.
"Nak, sudahlah sayang. Kamu terima aja lamaran dari Bu Antok. Toh Niko juga sikapnya baik sama kamu. Orang tuanya Niko pun juga sayang sama kamu, menganggap kamu sebagai anaknya sendiri." Bu Rizal berusaha menenangkan anak gadisnya.
Kinan hanya menghela napas.
"Tapi aku belum siap, Mah."
"Sayang, ini kan cuma pertunangan. Bukan pernikahan." ucap Bu Rizal lembut. "Kamu jalani aja dulu ya sayang, biar kamu pun terbiasa akan kehadiran Niko di sampingmu."
Kinan hanya bisa terdian mendengar kata kata Mamanya. Dia tidak berani untuk terlalu menentang orang tuanya. Karena sepertinya, mereka pun sama saja. Mereka berharap jika Niko menjadi suami Kinan.
Siang harinya di rumah sakit.
"Ehh, Dokter. Yang kemarin itu beneran tunangannya Dokter Kinan??" tanya Ana penasaran.
Kinan hanya mengangguk.
"Kapan tunangannya??"
Kinan pun langsung memberikan sebuah surat undangan pada Ana, seraya menghela napas.
"Wahh, gila!!! Dokter Kinan beneran akan tunangan sama cowok kemarin itu??"
"Iya." jawab Kinan malas.
"Kok bisa sih??" Ana semakin heran.
__ADS_1
"Apanya yang bisa??" Kinan bingung arah pertanyaan Ana.
"Ya maksudnya kok bisa mendadak gini. Kayaknya baru kemarin Dokter Kinan ngungkapin kalo lagi pacaran sama Mas Indra. Kenapa sekarang udah mau tunangan sama cowok lain."
"Iya, saat itu aku terpaksa ngomong gitu. Demi menjauh dari Dokter Adam."
"Oohh, pantes." Ana baru paham. "Terus terus??"
"Apanya yang terus??"
"Mas Indranya gimana??"
"Kan dari awal aku udah bilang kalo mas Indra itu cuma temen, kamunya aja yang maksain aku punya hubungan khusus sama dia." celetuk Kinan.
Mendengar omelan Kinan, Ana hanya tersenyum.
"Ya maaf." sesal Ana.
"Tapi kalo beneran Dokter Kinan tunangan sama cowok yang kemarin itu, aku jadi kasian sama mas Indra."
"Kasian kenapa??"
"Ya, kasian aja. Kelihatannya mas Indra itu punya hati yang tulus buat Dokter Kinan." ucap Ana yang membuat Kinan tertegun.
"Dari mana kamu tau??" tanya Kinan heran.
Mendengar hal itu Kinan hanya terdiam. Dia mengingat hal hal yang pernah mereka lakukan bersama. Bahkan Indra pernah membelikannya pembalut dan itu membuatnya tersenyum.
Jika aku seorang laki laki, nggak mungkin aku mau di suruh untuk membelikan pembalut. Langsung jatuh harga diriku.
Sejenak tiba tiba ada sedikit perasaan yang muncul dalam hatinya. Perasaan rindu akan kehadiran sosok Indra. Namun Kinan berusaha menepisanya.
Ngapain sih aku malah mikirin dia?? Ingat Kinan. Kamu udah punya tunangan, jangan jadi seorang player. Jadilah gadis baik baik.
Sepulang kerja, seperti biasa Niko menjemput Kinan.
"Kita makan dulu yukk, aku laper nih." ajak Niko. Kinan hanya mengangguk.
"Gimana sopir yang baru aku rekrut?? Bagus nggak cara kerjanya?? Apa malah membuatmu mual gara gara cara nyetirnya." tanya Niko penasaran.
"Nggak kok, dia baik."
"Syukur deh kalo gitu. Kalo kamu nggak suka, nanti biar aku cari pengganti yang lain lagi." ucap Niko santai.
"Nggak usah di ganti lagi. Sudah cukup." jawab Kinan kesal. "Lagian kenapa harus di ganti sih?? Kirain kamu mau nyari orang sipil, ehh ternyata sama aja loreng."
__ADS_1
"Tapi setidaknya, dia adalah juniorku di Batalyon. Jadi dia nggak mungkin macem macem."
"Mas Indra juga dulu nggak pernah macem macem." Kinan membela Indra.
"Ya aku kan hanya waspada aja. Aku takut ada yang ngambil tunanganku ini." jawab Niko genit.
Kinan pun langsung memalingkan muka saat mendengar kata kata genit Niko.
Sejak kapan dia mulai belajar genit kayak gitu??
Ternyata setelah Indra diberhentikan jadi sopir pribadi Kinan, ada seorang tentara yang menggantikannya. Niko sendirilah yang memilih sopir itu. Dan dia adalah bawahan Niko, berpangkat Prada (Prajurit Dua) yang juga adik letting Indra.
"Kita mau makan dimana nih??" tanya Niko.
"Terserah kamu aja."
"Kok terserah aku terus?? Sekali kali kamu dong yang nentuin. Aku nurut deh." ucap Niko manja.
"Ya udah, ya udah. Kita makan lalapan aja, aku lagi pengen banget makan sambal." sahut Kinan.
"Hahh?? Kamu lagi ngidam??" gurau Niko.
"Apaan sih??" Kinan kesal.
"Jangan jangan saat malam itu di Batu kita udah ngelakuin kesalahan tanpa kita sadari." imbuh Niko berandai andai.
"Jangan ngaco deh." Kinan melempar sebuah bantal kepala pada Niko.
"Hahahahaha." Niko tertawa lepas. "Tapi kalo memang beneran terjadi, ya nggak apa apa juga sih. Itu berarti kan kamu lagi ngandung anakku."
"Mimpimu terlalu tinggi tau." kesal Kinan.
"Ya nggak apa apa kan mimpi sekarang. Nanti kalo kita udah nikah, jadi kenyataan deh." gurau Niko.
Dia paling senang ngejahilin Kinan. Niko tidak akan puas ngejahilin Kinan hingga terkadang membuat sang tunangan merajuk.
"Gara gara kamu ngomong yang macem macem, akhirnya orang tua kita malah nyuruh segera meresmikan pertunangan ini."
"Ya bagus dong." celetuk Niko. "Kita akan jadi pasangan tunangan yang sah, dan semakin mendekati ke arah halal."
Mendengar gurauan itu, Kinan melirik tajam ke arah Niko.
"Kenapa gitu ngeliatnya?? Emang kata kataku ada yang salah??" Niko berusaha membenarkan kata katanya.
"Emang kamu mau terus terusan ngejalani hubungan yang nggak halal gitu?? Ehh lagian nih ya, yang namanya pernikahan itu menyempurnakan setengah agama kita."
__ADS_1
"Tumben kamu bisa ceramah. Kesambet setan alim dari mana??" gurau Kinan.
"Ya elah nih bocah. Jadi good boy salah, jadi bad boy juga makin salah." celetuk Niko yang di sertai canda tawa mereka berdua.