
Setelah kegiatan panas yang mereka lakukan, Indra pun merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Dan meletakkan kepala sang istri dalam dekapannya.
"Capek??" tanya Indra.
Kinan pun mengangguk.
"Boleh Mas minta sekali lagi sayang??" goda Indra.
Seketika mata Kinan menatap tajam sang suami.
"Iya, iya. Nggak. Mas cuma bercanda kok." ucap Indra.
Sebenarnya dia masih ingin melakukannya, namun Indra tak tega jika harus menguras tenaga sang istri. Karena kelihatannya sang istri masih menahan rasa sakitnya.
"Terima kasih ya sayang, Mas sudah jadi yang pertama buat Adek." ucap Indra membelai sang istri yang mulai memejamkan matanya.
Saat mata Indra akan ikut terpejam, dia lupa akan sesuatu.
"Astaghfirullah. Lupa." ucap Indra.
Dia pun langsung mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Dia menghidupkan ponsel itu.
Ternyata dari tadi Indra memang sengaja mematikan ponselnya, agar tak ada yang mengganggu acara berbuka puasanya.
Terlihat banyak notifikasi pesan dan telpon dari layar ponselnya.
Untung aja aku matikan. Kalo nggak, pasti gagal lagi deh.
Dia pun kemudian memencet sebuah tombol untuk menelpon seseorang.
[Assalamuallaikum, Pak.]
[Waallaikumsalam, Nak. Kamu dimana?? Kok nggak turun turun sih??] ucap Bapak.
[Maaf Pak, kami tidak bisa ikut gabung makan malam. Istriku lagi tertidur pulas, aku nggak tega mau banguninnya, Pak.]
[Ohh, ya udah kalo gitu nggak apa apa. Ini makanannya mau di anterin ke kamarmu apa gimana??] saran Bapak.
[Mau di anter juga nggak apa apa, Pak. Maaf merepotkan.]
[Ya udah nanti Bapak suruh pelayan yang nganter makanan kalian.] ucap Bapak.
[Terima kasih ya, Pak.]
Dia pun menutup telponnya kembali. Mungkin mereka sudah paham apa yang pengantin baru lakukan, sehingga tak ada yang mempermasalahkan hal tersebut.
Tak beberapa lama kemudian, pintu kamar Indra kembali di ketuk. Dengan perlahan Indr memindahkan kepala sang istri.
Dia pun bergegas menuju pintu kamar, tak lupa dia mengenakan sarung untuk menutupi bagian bawahnya yang telanjang bulat. Ternyata seorang pelayan mengantar makanan pesanan mereka.
"Terima kasih ya Mbak." ucap Indra.
Dia pun kembali masuk dan meletakkan makanan itu di meja.
Indra perlahan membangunkan sang istri.
"Sayang, bangun. Kita makan dulu yukk." ucap Indra lembut membangunkan sang istri.
"Ehmm, Adek nggak lapar Mas." jawab Kinan dengan mata yang masih berat untuk terbuka.
"Sedikit aja sayang, Adek kan belum makan dari tadi. Mas suapin ya??" tawar Indra.
"Badannya Adek sakit semua Mas."
"Iya, nanti Mas pijitin deh." goda Indra.
Mata Kinan kembali menatap tajam sang suami itu. Indra pun hanya tersenyum.
"Auwhh?!!" pekik Kinan saat berusaha duduk.
"Masih sakit ya sayang??" tanya Indra kuatir. Kinan hanya mengangguk.
Indra pun kemudian membantu sang istri untuk duduk di atas ranjang, menutupi tubuhnya dengan selimut yang sudah di sediakan oleh hotel.
__ADS_1
Indra membawakan makanan ke atas ranjang. Dengan perlahan dia menyuapi sang istri. Sosok suami yang sangat mencintai istrinya.
Adegan saling suap bak film romance pun terjadi pada mereka.
Setelah selesai makan, Kinan pun kembali membaringkan tubuhnya. Dan Indra masih tetap setia memeluk tubuh istrinya itu.
"Apa masih sakit?? Apa perlu Mas belikan obat pereda nyeri??" tanya Indra kuatir.
"Nggak usah, Mas. Udah nggak apa apa kok." jawab Kinan berusaha menenangkan hati suaminya.
"Beneran nggak apa apa??"
"He em. Cuma tinggal rasa perih aja, Mas." imbuh Kinan.
"Ohh." ucap Indra yang sedikit kecewa.
"Emangnya kenapa Mas?? Kok jawabnya nggak semangat gitu."
"Ehm, sebenarnya Mas pengen ngelakuin itu lagi Dek. Tapi karena liat Adek masih kesakitan, Mas jadi nggak tega." ucap Indra manja.
"Besok kan masih bisa."
"Iya sih, tapi entah kenapa si dedek dari tadi nggak mau tidur. Kayaknya dia masih kebayang rasa nikmat yang tadi deh sayang." Indra berusaha memberikan alasan.
Kinan pun tersenyum mendengar penjelasan Indra itu. Tapi memang tak di pungkiri, rasa perih dan sakit masih tersisa di inti tubuhnya.
Sejenak Kinan berfikir. Antara menuruti keinginan suami daan melawan rasa perih itu, atau harus menolak sang suami.
Tak lama kemudian, terlihat Kinan menganggukkan kepalanya.
"Mas boleh minta lagi??!!" Indra bersemangat.
Kinan mengangguk.
"Beneran boleh??" tanya Indra memastikan.
"Iya." jawab Kinan singkat.
"Adek beneran nggak apa apa??" tanya Indra kembali.
"Jadi, jadi, jadi lah Dek." ucap Indra seraya membalikkan lagi tubuh sang istri.
"Mas cuma kuatir Adek akan kesakitan lagi, tapi kalo Adek emang memaksa ya nggak apa apa deh. Hayukk??" Indra tersenyum nakal.
"Ihh, siapa juga yang maksa?? Kayaknya tadi ada orang yang merengek minta lagi deh." sindir Kinan.
"Nggak penting siapa yang minta duluan. Yang penting sekarang harus banyak banyak cari pahala dulu deh." ucap Indra.
Dia pun kembali menindih tubuh sang istri. Mengulang kembali aksinya yang tadi.
Kali ini, Indra memperlakukan Kinan sangat lembut hingga membuat Kinan melupakan rasa sakit dan perihnya. Segala gerakan kamasutra yang pernah Indra lihat, dia praktekan pada sang istri. Bahkan bukan hanya sekali, berkali kali Indra mengubah posisinya untuk memuaskan sang istri. Dia ingin sang istri juga merasakan kenikmatan yang di rasakannya. Hingga akhirnya setelah adegan panas itu berlangsung lama, membuat mereka berdua sangat kelelahan. Mereka pun tertidur dengan saling berpelukan. Tak lupa Indra meninggalkan sebuah kecupan manis di dahi sang istri.
.
Kessokan shubuhnya sekitar jam setengah empat.
"Sayang, bangun." Indra membangunkan sang istri yang masih terlelap dalam dekapannya.
Kinan pun perlahan membuka matanya.
"Ehmmmm." Kinan meregangkan tubuhnya.
"Auwhh?!!" Kinan memekik lagi.
"Kenapa sayang?? Masih sakit??" tanya Indra kuatir.
"Nggak terlalu sih, Mas." ucap Kinan berpura pura.
Sebenarnya intinya sudah tidak terlalu sakit, namun kini pinggangnya yang sakit. Bagaimana tidak?? Semalaman Indra benar benar menggempur Kinan dengan segala kekuatannya. Bagaikan perang hingga titik darah penghabisan. Sangat menguras tenaga Kinan.
"Mas siapin air hangatnya dulu ya, sayang?? Adek disini saja." kecupan hangat kembali menyentuh dahi Kinan.
Indra pun segera menuju kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk sang istri di dalam bath up. Indra pernah membaca, jika air hangat akan bisa membantu meredakan nyeri.
__ADS_1
Setelah bath up terisi penuh dengan air hangat, Indra pun menggendong sang istri ala ala bridal. Dan menurunkannya perlahan di dalam kamar mandi.
"Mas bantuin mandi ya??" tawar Indra.
"Ehm.., Ng..nggak deh Mas. Biar Adek mandi sendiri saja." tolak Kinan yang sedang menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Nggak apa apa. Mas udah lihat semua kok, jadi nggak usah malu." jelas Indra.
Seketika wajah Kinan kembali memerah.
Perlahan Indra membuka selimut yang menutupi tubuh sang istri. Dan membantunya mandi.
Namun seketika saat Indra menyentuh dan berusaha membasuh sabun pada tubuh Kinan, desiran panas kembali memenuhi tubuhnya. Tubuh Indra serasa ada setrum yang menjalar.
Haduhh, gimana nih?? Kenapa dia malah bangun lagi. Padahal aku sama sekali nggak minum jamu dari Erwan, kenapa malah bikin ketagihan terus sih?? Gumam Indra.
"Mas, kenapa??" tanya Kinan yang membuyarkan lamunan Indra.
"Ohh, Ehm, nggak apa apa Dek." jawab Indra grogi.
Namun tak sengaja Kinan melihat bagian bawah Indra, dan sontak Kinan pun menutup matanya.
"Mas, itu...itu..." Kinan berusaha memalingkan wajahnya.
"Ehh, ini Dek. Anu.., ini...." Indra canggung.
"Apa Mas masih belum puas??" tanya Kinan kuatir. Dia takut sebagai seorang istri, dia tak bisa memuaskan suaminya.
"Ohh, nggak kok sayang. Mas puas. Tapi, nggak tau kenapa dia sepertinya malah ketagihan." sahut Indra.
"Ehmm, Mas... Mas, Ehm.. Apa Mas mau lagi??" tanya Kinan ragu. Dia kasian jika harus melihat sang suami menahan hasratnya itu.
"Adek mau??" tanya Indra mulai bersemangat.
Kinan hanya terdiam. Dia sebenarnya sudah lelah, namun dia tidak mungkin membiarkan suaminya seperti itu terus.
Perlahan Indra mulai mendekatkan tubuhnya pada Kinan. Kinan yang sedari tadi menutup matanya karena malu melihat bagian kekar yang mulai bangun itu.
"Nggak usah di tutup Dek." ucap Indra.
Indra pun kembali melancarkan aksinya di dalam kamar mandi. Gerakan lembutnya membuat Kinan tak bisa menahan suaranya, untung saja ruangan itu kedap suara.
Selesai mandi bersama, mereka pun menunaikan sholat Shubuh berjamaah. Saat hendak berganti pakaian, Indra kembali menggoda sang istri.
"Sayang." panggil Indra manja sembari memeluk sang istri dari belakang.
"Iya, Mas."
"Mas pengen segera punya anak Dek."
"Iya, ini kan juga sudah berusaha."
"Tapi sepertinya usaha kita kurang maksimal deh." ucap Indra berdalih.
"Sudah maksimal kok, Mas."
"Ya belum lah, sayang. Seharusnya tuh tiap waktu harus berusaha, biar benihnya bisa tumbuh subur."
"Mana ada teori kayak gitu?? Malahan kalo tiap hari itu nggak bagus Mas. Harus di selang seling. Jadi semisal dua hari sekali baru melakukan hubungan."
"Dua hari sekali?? Mana bisa kayak gitu??!!" Indra protes.
"Lah gimana dong?? Memang teorinya seperti itu kok."
"Itu kan cuma teori. Tapi kalo prakteknya kan beda." ucap Indra ngeles.
Paham jika suaminya ingin bermain lagi, Kinan pun berusaha mengalihkan.
"Udah, udah. Kita harus buru buru bersiap, orang orang mungkin sudah nunggu di bawah. Bukannya kita mau lihat sunrise??" ucap Kinan mengingatkan.
"Ehmm, ya udah deh kalo gitu." jawab Indra dengan nada lesu. Melihat itu, Kinan hanya tersenyum.
Doyan banget sih, Mas. Nggak tau ya kalo pinggangnya Adek serasa mau lepas nih. Gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Mereka semua pun turun ke lobi hotel. Bersiap menuju ke tempat penanjakan untuk melihat sunrise.
.